
"Kamu sudah bangun?"
Suara dari kamar mama menyapanya terlebih dahulu, itu adalah suara sang suami.
Rima muncul dengan wajah lembabnya, ia hanya membasuh dengan air sekedar saja hanya demi menghilangkan wajah bantalnya sebelum bertemu dengan seluruh keluarga suaminya.
" Kondisi mama gimana?" Tanyanya dengan berbisik.
" Udah baikan, kamu jenguk sebentar baru kita pulang, udah malam." DIhyan bergeser ke samping memberikan ruang pada sang istri.
Pulang ke rumah, demi keamanan dan ketenangan semuanya.
Dihyan tak bisa terlalu berani mengambil resiko karena terlalu lama membuat istrinya berada dalam satu lokasi dengan Reno dan Diandra.
Mama Cinta tersenyum menyambut sang menantu. Baginya Rima tak salah apa-apa, anak-anaknya lah yang harus dilimpahkan seluruh kesalahan itu. Dan gadis itu sudah terlalu banyak menanggung derita.
"Gimana kondisi mama?" Ucapnya lembut.
" Udah baikan." Dengan senyum dan tangan yang bergerak menyapu lengan Rima. " Terima kasih udah mengkhawatirkan mama."
" Mah, kita mau pamit pulang dulu, AKu sama Rima gak bawa persiapan buat nginap. Besok ke sini lagi deh!" Dihyan berkata dari balik punggung sang istri.
Mama menganggukkan kepala, menyetujui. Rasanya memang belum tepat menempatkan keluarga mereka dalam satu ruang. Masing-masing mereka butuh ketenangan.
Sementara di seberang sana, Reno menatap dalam pada wanita yang tengah duduk di pinggiran tempat tidur itu. Matanya hampir tak berkedip demi memandang sang pujaan hati. Berharap Rima mengankat sedikit kepalanya demi melihat sosoknya, namun harapan itu pupus dengan sendirinya kala Rima bahkan berbalik badan setelah berpamitan pada semuanya, kecuali dirinya.
Hanya seperti ini saja, namun mampu mencubit hatinya yang memang sangatlah rapuh karena wanita itu.
Andaikan rasa dihati tak sedalam ini, mungkin sejak dulu ia meninggalkan Rima yang telah menjadi milik orang lain. Namun semuanya tak semudah itu, hingga ia rela merasakan sakit dan perih kala harus melihat Rima bersama dengan pria lain, pria yang memang lebih berhak darinya. Seluruh hatinya mungkin telah ia serahkan pada sosok cantik itu tanpa tersisa sedikitpun.
Tidak!
Rima mungkin hanya butuh waktu dan ruang tersendiri untuk mereka berdua. Bukan di sini, di mana seluruh keluarga itu berada.
__ADS_1
Dan lagi langkah kaki pria itu membawanya hendak menemui Rima.
Di rumah sakit tempat Rima bekerja, menghabiskan harinya.
Reno kembali mendatangi wanita itu dengan kedua tangan yang menenteng masing-masing barang yang berbeda.
Kantong berisikan makan siang di sebelah kanan, dan setangkai bunga mawar kebanggaan di sebelah kiri.
Setangkai mawar yang ia yakini sebagai lambang hubungan mereka berdua.
Mengetuk pintu ruang pemeriksaan Rima dengan perasaan yang sama menggebu seperti dulu kala.
"Hai!" Sapanya seperti sedia kala, sebelum segala peristiwa tak mengenakkan terjadi diantara mereka.
"Kak!" Pekik Rima tak percaya saat mendapati Reno berdiri di depan ruangannya.
Tak perlu diperjelas, Rima telah tahu maksud kedatangan Reno, hendak mengulang atau menjaling kembali hubungan terlarang yang pernah terjadi diantara mereka.
Rima menggelengkan kepalanya dengan mata yang terpejam. Bagaimana lagi harus menjelaskan pada pria ini jika ia ingin mengakhiri hubungan indah ini.
"Rima."
Pria ini sadar dengan ekspresi Rima. Tak terima, wanita ini tak terima kehadiran dirinya. Dan itu sangatlah menyakitkan.
"Kak, kumohon hentikan!"
Kembali memejamkan mata dengan sangat rapatnya menandakan permohonan yang teramat sangat.
"Tapi kenapa Rima? Aku masih sangat mencintaimu Rima."
"Aku tulus, benar-benar tulus!"
Iya, Rima tahu tentang itu.
__ADS_1
Namun kini mereka bukan hanya berbicara tentang ketulusan dan perasaan semata. Masih ada yang lain yang harus mereka pikirkan.
Apalah arti dua perasaan yang tersakiti demi banyak hati yang bahagia.
Ia pernah mendengar tentang, "Korbankan cinta kecil demi meraih cinta besar."
Anggap saja cinta mereka berdua ini adalah cinta kecil, dan seluruh keluarga adalah cinta besar.
"Kak, mari akhiri semuanya!" Rima hendak mempertegas, meski ia akui dalam dada terasa begitu sakit.
Jika ditanya tentang perasaan, ia juga sama, masih mencintai Reno.
" Mari hidup dengan baik dengan pasangan masing-masing."
" Kita telah melewati banyak hal, namun hingga kini tak ada kesempatan untuk kita saling bersatu, bahkan alam juga ikut memisahkan kita. Itu artinya kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama. Kita tak berjodoh"
Semoga panjang lebar kalimat ini mampu membuat pria tampan ini mengerti.
" Rima, apa kamu tidak terlalu kejam berbicara seperti itu denganku?"
" Kamu tau perasaanku padamu sangat besar, dan aku juga tau kamu juga sangat mencintaiku kan?" Pertanyaan menuntut dari Reno tak mampu Rima jawab dengan jujur, wanita itu lagi-lagi menggelengkan kepala dengan mata yang terpejam.
Ini bukan hanya masalah cinta semata, tapi juga tentang keluarga dan lainnya.
" Kak, bagaimana perasaan Diandra ketika tahu jika suaminya sedang mengg0da wanita lain yang ternyata adalah iparnya sendiri? Pasti Andra akan sakit hati dan kecewa padaku."
" Lalu bagaiman dengan keluarga kita, sama, mereka juga akan kecewa dengan kita, dan aku gak mau itu."
Reno hanya mampu menghembuskan napas kasarnya, Rima lebih memikirkan perasaan orang lain dari pada perasaan mereka berdua.
" Rima, ayo pergi, ikutlah denganku!" Ajaknya dengan begitu mantap.
" Kita tinggalkan keluarga Pratama!" Dengan raut wajah serius, ia pun tak main-main.
__ADS_1
Jika memang harus pergi demi meraih cinta mereka, tak apa bagi Reno namun tidak bagi Rima, ia masih memikirkan sang ayah yang turut akan kecewa jika ia mengambil keputusan yang salah.