
"Nindy."
Berdiri tepat di hadapan bingkai foto pengantin ukuran besar di kamarnya. Kedua tangan menempel pada kaca bingkai. Ia ingin mengadu.
"Kamu lihat! Semua orang pergi nin."
"Aku benar-benar sendiri Nin." Ucapnya di sela-sela isak tangis.
"RIma pergi, bahkan mereka yang makan dari uangkupun lebih memilih pergi dari pada bertahan dengan aku."
"Mereka tak mau hidup bersamaku Nin."
"Tak ada yang mau hidup di dekatku Nin."
"AKu iblis." Kepala kini telah menunduk, dengan satu tangan berada di dada, menggenggam baju. Rasa sesak belumlah hilang, Semakin bertambah saat untaian kata hati terucap berbaur dengan tangisannya.
"Sayang, tolong bantu aku!" Kembali mendongak, memandang gambar mendiang sang istri tercinta.
"Bawa Rima kembali ke rumah ini."
"Aku janji tak kan menyakiti dia lagi."
"Sayang, kamu juga pasti marahkan sama aku? Kamu pasti kecewa sama aku kan? Maaf!"
"Aku nyakitin dia Nin, Maaf." Kepala kembali tertunduk. Kini kedua tangan telah menempel di kaca bingkai, menahan bobot tubuh yang entah mengapa terasa semakin berat.
"Nin, anakku,... " Kalimatnya terhenti.
Tak dapat ia lanjutkan. Terlalu sakit jika harus mengingat semuanya kembali.
Betapa bodohnya ia. Menanam benih dan tak tahu sampai bertunas, justru dirinya sendirilah yang mencabut hingga ke akar-akarnya.
Anak?
Rima?
Jika boleh memohon, inginnya ia memutar kembali waktu.
Memberikan Rima yang terbaik. Apalagi saat tahu jika wanita itu tengah mengandung anaknya.
Ia akan mengikuti segala pinta ibu hamil yang katanya aneh-aneh itu.
Memberikan semua yang diinginkan saat ngidam.
Meski harus mendaki gunung sekalipun.
Hal yang mustahil yang ia pinta.
Mungkin begitulah yang namanya angan.
Janji tak kan menyakiti wanita itu.
Janji!
Namun apakah semua masih berlaku?
Janjinya?
\============
Bi Titi and the gang ternyata tak mampu meninggalkan keluarga itu begitu saja.
Tuntutan hidup membawa mereka menghadap pada papa dan mama pak Dihyan hanya untuk mengaharap belas kasih. Semoga bisa diterima bekerja di rumah itu.
Hembusan napas terdengar, seiring otak yang diputar guna mencari solusi.
__ADS_1
"Ya udah gini aja." Mama CInta pada ke empat insan yang masih berdiri menunduk di hadapannya itu.
Setelah mereka keluar dari rumah Dihyan, meski ragu namun kaki telah menapak di rumah orang tua mantan majikannya itu.
"Kita rolling deh!"
"Biar Bi Lia sama Bi Ninis di rumah Dihyan. BI Sumi sama Bi Titi di rumah ini."
Senyum langsung terpancar di wajah mereka.
"Tapi bu, anu, emmm, ... " Bi Titi kembali bersuara meski ragu.
"Apa pak Dihyan gak pa-pa ditinggal sendiri. Kasihan bu gak ada yang jagain. Kalo rollingnya mulai hari ini gimana bu?" Masih ada rasa cemas pada majikannya yang satu itu.
"Maap bu. Maap!" Kembali menundukkan wajah, malu juga takut jika dikatakan ia mengatur majikan. Padahal benar rasa khawatirnya sangat besar.
"Iya bi. Iya."
Memutuskan mengantar sendiri para petugas baru, sekaligus ingin melihat keadaan rumah sang putra.
" Astagfirullah!" Saat mendapati meja kaca yang berada di ruang tengah pecah menjadi dua.
"Iyyan mana?" Bertanya sendiri. Terus berjalan dengan kepala menoleh kiri kanan menyusuri seluruh ruang mencari keberadaan anaknya.
Kaki terus melangkah menuju Singgasana Sang putra. Mengetuk perlahan beberapa kali namun tak ada jawaban. Rasa khawatir membuat tangan menekan handle pintu.
Kondisi Kamar masih aman sentosa, tak ada kekacauan sedikitpun.
Hanya sang penghuni kamar yang duduk bersimpuh di lantai dengan kepala bersandar menghadap ke ranjang. Tangan terbentang di atas tempat tidur.
"Iyyan." Panggil mama lembut, perlahan menapaki kaki mendekati Sang putra.
"Dihyan." Panggilnya lagi, namun masih tetap sama tak ada jawaban. Mungkin pria itu tertidur dengan posisi seperti itu.
"Iyyan pindah ke ranjang ya!" Masih dengan sapuan lembut di pundak.
Mama Cinta turut mensejajarkan diri, berjongkok tepat di sisi Dihyan demi memastikan kondisi anaknya.
Mata terbuka, wajah terlihat tenang meski mengandung kesedihan.
Ternyata Dihyan tak tidur seperti perkiraannya.
Kembali sapuan lembut Ia berikan di pundak, namun kali ini nafasnya terdengar menghembus keras.
"Pindah ke atas ya!" Ucapnya lagi. Namun lagi-lagi tak ada jawaban dari pria itu.
Hening.
Sangat hening.
Hening yang rasanya tak wajar.
Hingga rasa takut menghampiri Mama cinta.
"Iyyaannn." Panggilnya lagi, namun kali ini tangan lentiknya mengguncang tubuh kokoh itu.
"Paaah ...." Kali ini Mama Cinta Memanggil orang lain dengan suara yang sangat keras.
"Papa!" Lagi wanita itu berteriak.
Yang dipanggil ternyata tengah mengarahkan para art membersihkan ruang tengah.
Gelagapan saat mendengar teriakan istrinya. Mengambil langkah seribu menuju ke arah suara.
"Kenapa Mah?" Tanyanya saat tepat berada di pintu.
__ADS_1
"Iyyan paaah." Mama.
"Iyyan kenapa?" Papa menghampiri.
"Yan, Iyyan." Sama seperti istrinya, memanggil dengan guncangan di pundak.
Tak ada respon meski kedua mata terbuka.
Egggh, keluh Papa saat merangkul kedua bahu sang putra demi membantunya berdiri.
" Berat banget." Lagi keluhnya saat Dihyan telah berhasil Ia dudukkan di ranjang.
Dihyan masih diam, meski orang tuanya telah bersusah payah memindahkan tubuhnya ke ranjang empuk.
Menyandarkan tubuh pada headboard, mata itu masih terbuka. Namun wajah dan tubuh masih belum bereaksi.
"DIhyan, Kamu kenapa nak?" Mama Cinta yang mulai frustasi saat sapaannya tak pernah terbalaskan.
Menggenggam tangan sang putra dengan beberapa kali guncangan kecil hingga besar.
"Jangan seperti ini nak." Ucapnya lagi.
Mata mulai berembun saat tak mendapatkan tanda-tanda reaksi berbalas.
Menyatukan kedua pasang tangan dalam satu gengaman, "Istigfar nak! Istigfar! Kamu gak boleh seperti ini!"
Perlahan Dihyan menarik tangannya sendiri membebaskan dari genggaman sang ibu, membuat mama dan papa terjaga dengan mata terbuka menanti reaksi apa yang akan ditunjukkan sang putra.
"Mah, tangan ini." Dihyan berkata memandang kedua tangan yang bergantung di udara.
"Tangan ini sudah membunuh darah dagingnya sendiri." Ucapnya lirih, masih memandang tangan sendiri hampir tak berkedip.
"P0t0ng saja dia!" Ucapnya lagi sambil menyodorkan ke depan, masih dengan memandang tangannya sendiri.
Wajah datar tanpa ekpresi. Mata yang hanya sesekali berkedip itu seolah menyiratkan kepedihan yang teramat dalam.
Terpukul dengan semua keadaan yang tercipta karena ulahnya.
Tak kuasa, mama langsung mengahambur memeluk Dihyan, tak lagi ada reaksi dari Dihyan setelah itu. Menerima begitu saja pelukan sang bunda.
"Jangan seperti ini sayang! Mama mohon!" Air mata telah meleleh begitu saja.
"Mama takut liat kamu kayak gini!"
"Kamu harus kuat sayang!"
Papa turut maju, mengulurkan tangan menyapu lembut pundak sang istri.
Terus mengamati interaksi keduanya.
Tak bisa mengambil kesimpulan sendiri dengan dari reaksi yang diperlihatkan anaknya.
Dalam hati bertanya, mungkinkan Dihyan depresi?
Dalam hati turut terpukul saat melihat keadaan sang putra.
Namun ia tak boleh rapuh. Siapa lagi yang bisa diharapkan oleh keluarganya saat ini jika bukan dirinya.
Kepala harus tetap tegak, meski beban menghantam.
Berdoa dalam hati semoga jawabannya tidak.
To Be Continued Lagi.
Maaf ya, cuma bisa nulis sedikit-sedikit.
__ADS_1