
Sesuai dengan perkataan Dihyan semalam, Rima dibutuhkan esok pagi. Dan wanita itupun tiba lebih awal di Rumah sakit dengan bekal sarapan pagi untuk semuanya. Tak lupa mempersiapkan pakaian kerja untuk sang suami.
"Bu?" Sapanya terlebih dahulu pada wanita paruh baya yang gagal jadi mertuanya.
Ibu hanya tersenyum dengan mata sayu. Kurang tidur, belum lagi ia yang sempat meneteskan air mata saat melihat kondisi sang suami yang tak berdaya di atas ranjang rumah sakit.
Tangan Rima bergerak di belakang punggung ibu, memberikan kekuatan di sana. Memandang pada gadis yang pernah ia temui bersama Reno berada di samping ibu. Kedua tangannya kini terbuka demi merengkuh sang gadis.
"Kamu yang sabar yah!" Ucap Rima pelan.
Dira menganggukkan kepala, bibir berupaya untuk tetap tersenyum sambil membalas dekapan Rima.
Wanita yang pernah dicintai kakaknya. Dalam hatinya berpikir, seandainya saja wanita ini yang menjadi kakak iparnya, mungkin mereka berdua akan akrab.
Mengingat dulu, bahkan mereka pernah membuat janji menonton berdua, bolehkan ia menangihnya meski keadaan telah berbeda.
Ah, begini saja, sudah mampu menghangatkan hatinya.
Tak kan ada drama cemburu, t@mp@ran dan saling menjaga jarak. Mereka akan akur bertiga. Dirinya, Kak Reno dan wanita ini.
Dalam hati melahirkan sebuah rasa penasaran. Bagaimana bisa Reno berpisah dengan wanita ini?
Melepaskan pelukan, Rima kini beralih mendekati sang suami, menyisakan pandangan dua wanita yang baru saja ia sapa.
Ah, seandainya?
" Gimana?" Tanyanya pada DIhyan yang menghabiskan sisa malamnya bersama keluarga Diandra di sini.
__ADS_1
Wajah pucat itu tak dapat menyembunyikan kelelahannya akibat semalam.
Dihyan hanya menggelengkan kepala, lalu bersandar pada pundak sang istri yang baru saja menempatkan tubuh tepat di sampingnya. Bagaimana tidak, semalam tidurnya hanya ada sekitar tiga jam.
"Mau pesan hotel?"
"Ngapain?" Pria itu langsung menegakkan tubuhnya, bibir pun terlihat tersenyum, senyum yang aneh.
Diotaknya mungkin istrinya ini hendak memberinya jasa pijat plus-plus.
" Buat tidur, sekalian mandi juga, ck!" Melihat tatapan aneh dari sang suami ia telah bisa menebak jalan pikiran Dihyan. Dasar nger3s!
" Boleh deh!"
Bangkit lalu beranjak, tak lupa memohon diri sebelum menginggalkan Diandra dan keluarga Reno. Ia memang butuh istirahat sedikit saja sebelum kembali mulai bekerja.
Dengan kondisi bapak yang seperti ini, sepertinya ia harus segera menemukan Reno.
Pengecvt!
Tak bertanggung jawab!
Umpatan demi umpatan hanya mampu Dihyan teriakkan dalam hatinya.
Tak menutup kemungkinan jika nanti bertemu dengan Reno ia akan lebih dulu menyambutnya dengan bogem mentah. Iya, harus. Ia ingin melatih kepalan tangannya terlebih dahulu sebelum bertemu dengan pria itu.
Bekal yang Rima bawa, ditinggalkan untuk mereka yang menunggu di sana.
__ADS_1
Masih ada sekitar satu jam, menemani suaminya beristirahat di hotel terdekat dari sana. Ingat hanya beristirahat.
Ia tak tahu bagaimana perasaannya saat ini.
Ada kecewa saat tahu Reno ternyata benar-benar meninggalkan Diandra hanya untuk bersamanya.
Ia tak tahupun harus bersikap bagaimana di depan mantan sahabatnya itu. Ia tak pernah berharap menjadi orang ketiga, meski yang ada ia selalu dihadapkan dengan situasi seperti ini. Ia hanya berharap semua berjalan sebagaimana mestinya. Tak lagi membuat ayah dan seluruh keluarga kecewa padanya.
Rima hanya terdiam di samping sang suami yang kini telah terbaring di ranjang hotel. Suara dengkuran itu menandakan pria itu telah tertidur dengan lelapnya.
Tak lupa mengabarkan seluruh keluarga tentang kondisi mertua Diandra itu seperti yang Dihyan perintahkan tadi.
Hingga di sana, kini telah ramai oleh papa, mama dan juga ayahnya yang datang untuk menjenguk, meski tanpa mereka.
\======
"Menurutmu apa tingkatan tertinggi dalam mencintai?"Dihyan.
Diandra tak menjawab hanya menunggu penjelasan dari kakaknya. Ia tak bisa menjawab sebab tak tahu opsinya.
Yang ia tahu mencintai adalah memiliki.
Dihyan mengulurkan tangan, meraih tangan sang adik, menggenggam, tak lupa pijatan-pijatan kecil di sana.
Memberi kekuatan dan dukungan, mungkin penuturan yang akan ia sampaikan, akan melukai hati sang adik.
" Kalau menurutku, tingkatan tertinggi dalam mencintai adalah dengan melihatnya bahagia, meskipun tak harus memiliki."
__ADS_1
" Rima dan Reno saling mencintai."