Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Kata Kunci


__ADS_3

Kini Rima telah berbaring kaku di atas ranjang pemeriksaan. Beberapa kali terhentak saat bagian tubuhnya disentuh guna pemeriksaan.


Ada ketakutan tersendiri yang ia sembunyikan.


Bagaimana jika seandainya,…?


Ah terlalu banyak kata tanya di otaknya saat ini. Biarlah, bagaimana itu nanti saja. Mencoba menenangkan diri sendiri, namun tetap tak bisa.


Masih dengan wajah tegang dan kaku, kini Rima telah duduk tepat di depan sang dokter dengan Dihyan yang masih setia menggenggam tangannya tak lupa memberikan sapuan-satuan lembut menenangkan.


"Bagaimana dok?" Dihyan pun tak mampu menyembunyikan rasa takutnya.


Dokter wanita itu tersenyum, bingung sebenarnya harus menjelaskan ini mulai dari mana. Tapi Ia harus Jujur, terlepas dari seorang istri yang menyembunyikan sesuatu pada suaminya.


" Apakah kalian benar-benar menginginkan anak-anak?" Wanita itu masih tersenyum dengan manis dan ramah.


" Iya dok."


Wanita itu mengangguk masih tersenyum saat menerima jawaban dari si suami pasien. Kini pandangan tertuju pada Rima yang justru menunduk. Memiringkan kepala menanti Jawaban jujur dari wanita itu.


"Rima!" Sapa Dihyan yang melihat Rima tertunduk dalam diamnya. Di sini Dihyan semakin yakin jika ada sesuatu yang disembunyikan Rima.


" Ibu yakin tidak melakukan pencegahan kehamilan?"


Rima masih saja menunduk, jika boleh ia ingin segera pergi dari tempat ini.


"Rima!"


Raut wajah Rima yang ketakutan kini tak bisa lagi disembunyikan. Seperti terpergok tengah melakukan perbuatan kriminal.


"Dokter memang menyuruhku menunda kehamilan setelah keguguran waktu itu." Suara Rima yang lirih justru terdengar seperti gemuruh petir yang menyambar hingga ke palung hati terdalam Dihyan.


Mengapa Rima harus menyembunyikan kenyataan pahit ini padanya?


" Kamu KB?" Dihyan turut berbicara dengan nada rendah namun terdengar penuh penekanan.

__ADS_1


Rima lagi diam membisu tak menjawab. Sudah cukup diamnya menandakan kata iya sebagai jawaban.


"KB apa?"


Dihyan bukanlah orang yang bodoh-bodoh amat tentang alat kontrasepsi itu. Tapi di mana, dan sejak kapan Rima menggunakannya? Jika harus rutin membeli di apotek, siapa yang membelikannya? Bibi kah? Bukankah semua di art-nya kini berpihak pada Rima.


Dan diamnya rima justru semakin membuat amarah meledak.


BRAAKKKK.


Dihyan menghempas tangan di atas meja, menimbulkan bunyi keras dan membuat penghuni di sana terkejut karena aksinya. Tak terkecuali Dokter wanita itu.


Rima bahkan terlonjak kaget, dan segera berdiri mundur beberapa langkah menjauh dari jangkauan suaminya. Rasa takutnya pada Dihyan kembali mencuat.


"Kenapa kamu nggak ngomong sama aku?"


Amarah kini berada di ubun-ubun. Lalu buat apa rasa takut yang sejak semalam bertandang di hatinya? Bahkan tidurpun rasanya sulit. Sementara Rima, dengan entengnya mengucapkan itu setelah ia lelah berpikir. Ia merasa dibodohi oleh Rima.


Perawat wanita yang menjadi asisten dokter itu kini telah berdiri di dekat pintu masuk sambil memeluk papan laporannya. Ia juga takut akan kemarahan pria di sana.


" Harusnya kamu konfirmasi dulu sama aku! Bukan ambil keputusan sendiri." Turut berdiri, kedua tangan menggenggam menahan emosi yang meluap-luap.


"Tapi itu sudah lama sekali Rimaaaaa. Sudah hampir setahun sejak kamu keguguran."


Terhitung sejak kejadian waktu itu, Dihyan harus mencari keberadaan Rima selama enam bulan lamanya. Dan mereka baru bersama selama tiga bulan belakangan ini.


"Kamu pasang apa?" Dihyan.


Pasang suami istri itu berbicara sambil berdiri, dengan nada yang sedikit tinggi. Sama-sama tak bisa menekan amarah meski bukan pada tempatnya.


" IUD?"


" Apa itu?" Dihyan mengerutkan kening, ilmunya tak sampai di sana? Bukankah mereka tengah membicarakan alat kontrasepsi yang digunakan Rima?


"IUD adalah alat kontrasepsi yang berbentuk T berukuran tiga cm dan dipasangkan dalam rahim untuk mencegah kehamilan dengan menghentikan sp3rm@ untuk mencapai dan membuahi sel telur." Sang dokter membantu menjawab pertanyaan Dihyan.

__ADS_1


"Kenapa kamu nggak bilang dulu sama aku?"Dihyan.


Pikiran Dihyan tentang alat kontrasepsi adalah pil atau semacamnya yang dibeli di apotek dan dikonsumsi secara rutin. Makanya sedikit bingung saat ternyata Rima menggunakan alat kontrasepsi sementara wanita itu tak pernah sekalipun terlepas dari pengawasannya.


"Aku bilang aku telah masang saat keguguran dulu. Waktu kita mau bercerai dulu!" Rima telah berani membuka suara. Ini juga semua karena pria itu yang pernah melepaskan tangan sewaktu mereka di tangga hingga membuatnya keguguran.


BRAAAKKK.


Lagi Dihyan kembali menggebrak meja di hadapannya. Membuat mereka yang di sana sama terhentaknya.


"Aku nggak mau tahu! ... " Suaranya menggelengar dalam ruangan dan menggema.


"Tolong untuk tetap menjaga ketenangan di rumah sakit."


Dihyan menarik napas dalam dengan kedua mata yang terpejam erat. Sebisanya menenangkan diri meski hati masih terbakar emosi. "OK!"


"Apapun itu, atau apapun namanya, yang jelas kamu harus berhenti dan melepaskan alat itu, se-ka-rang!"


"Satu hal yang harus dijaga oleh suami adalah kondisi mental sang istri, jangan sampai stres. Sebab stres berlebihan dapat menyebabkan gagal ovulasi sehingga hal ini menyebabkan seorang wanita sulit hamil. Stres juga mempengaruhi kadar hormon testosteron dan sp3rm@ pada pria."


" Jika benar ingin merencanakan program kehamilan maka Hormon di dalam tubuh harus seimbang. Sementara jika mengalami stres berlebihan maka akan membuat hormon dalam tubuh menjadi tidak seimbang."


Dokter wanita itu kembali berkata, saat melihat ketakutan yang ditunjukkan oleh Rima, iapun takut sih sebenarnya.


Juga raut amarah yang belum pun reda dari Dihyan. Sepasang suami istri ini dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Tak ingin terlalu mencari tahu tentang keadaan rumah tangga pasangan ini. Ia hanya ingin melihat yang terbaik untuk pasien-pasiennya.


Dihyan maju langkah mencoba mendekati istrinya. Kedua tangan direnggangkan membawa Rima masuk ke dalam dekapannya," Maafkan Aku!" Ucapnya Lirih.


Jika menuruti kata hati ia masih ingin marah, bahkan marah sekali. Namun saat mendengar petuah dokter itu, Ia takut semua akan menjadi nyata. Rima telah berada di dekatnya selama ini, itu pun sesuatu hal yang lebih baginya.


Rima mungkin stres berada dalam kekangannya. Ditambah lagi dengan peristiwa ini. Ia tahu jika saat ini Rima merasa takut padanya. Tak ingin rasa takut itu berlanjut hingga kembali menjadi jurang pemisah antara mereka berdua. Luruhlah pertahananya. Kini ia harus berusaha untuk membawa Rima pada perasaan nyaman dan bahagia, setidaknya tidak stress seperti kata dokter tadi.


" Aku tahu aku salah. Aku ingin kita baik-baik saja dan melanjutkan rumah tangga ini. Tapi aku mau kita juga punya anak. Kejadian dulu Tolong dilupakan! Ayah menginginkan rumah tangga kita selalu harmonis, dan ayah juga menginginkan seorang cucu."


" Kamu kan hamil lagi?"

__ADS_1


Jelas saja Rima mengangguk.


Kata ayah menjadi kuncinya.


__ADS_2