Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Gagal Bertahan


__ADS_3

Rima terbangun dipagi hari saat mendengarkan suara pintu yang bergeser.


Terlihat Dihyan keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil yang digesek-gesekkan di kepalanya demi mengeringkan rambut basahnya.


Ia tak tahu sejak kapan matanya terpejam. Entah itu tidur atau pingsan, yang pasti terakhir matanya terbuka saat Dihyan masih berada di atasnya, beraksi.


Kesakitan yang ia rasakan semalam tak bisa ia tahan lagi. Benar jika ia tak mampu mengimbangi Dihyan yang memang telah berpengalaman dalam urusan seperti itu.


Terlebih lagi Dihyan yang baru kembali mendapat surga setelah hampir setahun. Mungkin itu pula yang membuat Dihyan seperti hilang kendali.


"Aku tidak akan menyentuhmu," Dihyan melupakan perkataannya dulu.


Tak ada interaksi dari kedua insan ini. Rima merapikan baju yang masih melekat di tubuhnya meskipun tak lagi


sesuai dengan tempat yang semestinya. Sementara bawahannya telah tergeletak di samping ranjang. Segera ia menjemput dan mengenakannya.


Seluruh tubuh terasa pegal. Sakit dan nyeri terasa di bawah sana.


Setelah mengenakan pakaiannya, Rima keluar dari kamar Dihyan tanpa sepatah katapun, begitu sang pemilik kamar yang hanya tersenyum sinis penuh kemenangan.


Ingin menangis, tidak tahan dulu Rima!


Bahkan saat ini, ia memaksakan diri untuk hanya sekedar berjalan.


Rima berjalan melewati kamar Andra yang berada di antara kamar Dihyan dan kamarnya. Sialnya Andra baru saja


keluar dari kamarnya untuk bersiap ke RS. Andra terkejut melihatnya dengan penampilan yang sangat kacau.


Ternyata ujian yang dihadapi Rima belum selesai.


Pandangan Andra berganti dari sosok Rima dan kembali ke arah di mana pintu kamar Dihyan begitu seterusnya


hingga beberapa kali. Seolah membenarkan bahwa Rima keluar dari kamar Dihyan dengan keadaan seperti itu.


Memikirkan tentang apa saja yang telah terjadi antara Rima dan Dihyan. Rima sangat kacau dan keluar dari kamar


Dihyan sepagi ini?


Sudah bisa dipastikan Rima akan mendapatkan hukumannya terlebih dahulu.


“Kamu dari mana?” Andra mendorong tubuhnya namun dia hanya menggeleng tanpa bersuara.


“Apa yang kamu lakukan?” Andra terus mendesak tubuhnya yang telah terbentur dengan dinding.


“Aku capek ndra, aku lelah,” Rima lirih dan nampak benar-benar letih.


“Kamu menggoda kakakku hah?” Emosinya semakin meluncur naik ke ubun-ubun.


“Kamu gak malu?” Andra masih terus mendorongkan tubuhnya hingga terhimpit di antara dinding dengan tubuh


Andra. “Oh iya, inikan yang kamu mau? Kamu sengaja menggoda kakakku dan mengambil hartanya kan?” Suaranya melengking tinggi.


“Lepaskan dia Andra dia capek. Biarkan dia istirahat!” Suara dari belakang dengan santainya.


“Kak, apa yang kakak lakukan?” Andra melepaskan Rima dan berjalan mendekati Dihyan.

__ADS_1


Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Rima untuk cepat masuk ke kamarnya. Bertemu dengan salah satu dari mereka sama saja dengan menyerahkan diri untuk di siksa, apalagi jika harus bertemu dengan keduanya.


“Kenapa?” Dihyan acuh mulai melangkahkan kaki.


“Kakak menyentuhnya?” Andra.


“Wajar dong, diakan istriku. Lalu siapa yang akan menyentuhnya? Reno?” Dihyan dengan nada jengkel.


“Kakak bisa jatuh cinta sama dia,” Andra.


“Gak mungkin,” Dihyan pedenya.


“Kakak yakin gak akan jatuh cinta setelah menyentuhnya?” Dihyan mengangguk dengan yakinnya.


Mereka menuruni anak tangga dan berjalan menuju ke ruang makan.


“Kakak lupa kalau dia yang.....” Andra.


“Kamu tenang saja, itu sebagai hukuman untuknya sudah bermesraan dengan lelaki lain di rumahku.”


“Kak tolong, ini yang pertama dan terakhir,” Pinta Andra.


Tanpa berniat membalas perkataan adiknya Dihyan justru memasukkan roti polos ke mulutnya Andra berharap itu bisa membuatnya diam.


“Makan!” Dihyan.


Dan tinggalkan mereka yang sedang menikmati sarapan pagi dengan nikmatnya.


Di balik pintu kamar, Rima berdiri terdiam untuk beberapa saat lamanya.


Sajadahnya tak terbentang tadi subuh, Ia lalai.


Berjalan tertatih lalu menghempaskan tubuhnya di ranjang, membenamkan kepalanya di bantal.


Setitik air bening berasa asin meluncur bebas dari pelupuk matanya. Titik-titik bening itu semakin bertambah, membasahi bantal.


Ia menangis menyalurkan rasa sakit dari sisa-sisa semalam.


Bayangan ia akan menikah dengan pria yang dia cintai dan mencintainya dengan tulus. Membangun rumah tangga yang sangat bahagia, menjalani hari-hari mereka dengan senyuman tanpa air mata. Tapi semua itu telah terbang tinggi menjauh darinya.


“Aku gagal bertahan!”


Hari-harinya yang penuh emosi yang terpendam. Semakin sakit karena sesuatu yang sedari dulu dipertahankan


telah terenggut oleh manusia yang ia benci dan membencinya.


Mengapa harus berbuat jauh seperi itu, jika mereka memang saling membenci?


Siapa lagi yang mau menerimanya setelah kejadian semalam. Kalaupun suatu saat Dihyan menceraikannya seperti


janjinya dulu, itupun sudah percuma. Karena dia akan menjadi janda yang benar-benar janda.


Sudahlah! Tidurlah! Berhenti menangis!


Mungkin tidurmu akan membawamu pada ketenangan.

__ADS_1


Tok.


Tok.


Tok.


Suara ketukan pintu dari luar, namun tak mendapat jawaban. Karena takut terjadi sesuatu pada yang punya kamar


bi Titi masuk ke kamar Rima tanpa dipersilahkan. Matanya tertuju pada sosok yang tengah duduk bersimpuh menggunakan mukena di atas sebuah sajadah panjang.


Terdengar suara tangisan lirih namun sangat mengiris hati. Bi Titi mencoba mendekatinya, nampak gadis itu


tengah menengadahkan tangannya. Tetes-tetes itu kini terlihat membasahi kain putih pembungkus tubuhnya.


Bi titi ikut bersimpuh di dekatnya, memberikan diri untuk memeluknya. Memberikan kekuatan pada Rima.


Menyadari ada yang memeluknya ia merasa mendapatkan tumpuan untuk bersandar justru tangisannya semakin pecah. Bukan lagi tangisan lirih namun terdengar sangat jelas memenuhi kamarnya.


“Sabar ya non!” Kalimat itu justru semakin membuatnya merasakan sakit. Sakit yang mampu menembus sudut


rongga hatinya.


Namun ia masih memaksakan bibirnya untuk tersenyum dan menganggukan kepalanya, seolah ingin berkata bahwa ia baik-baik saja. Tapi air matanya berkata lain.


“Non, makan yah! Sejak tadi pagi gak sarapan."


Ah pantas saja perut terasa melilit, ternyata hari telah siang.


Bukan tadi siang, lebih tepatnya sejak semalam tak ada yang masuk untuk mengganjal perutnya.


"Mau bibisuapin?”


Rima mengangguk.


Saat ini seolah dirinya memang ingin ditemani oleh seorang ibu, meskipun itu hanya berupa titisan.


Menikmati makanan dari suapan demi suapan sang bibi yang ingin sekali ia pandang sebagai ibu untuk hari ini saja.


Di kantor.


Reno masuk ke ruangan Dihyan seperti biasa, seolah tak terjadi apa-apa diantara mereke. Tapi kenyataanya,


perang dingin sedang terjadi. Sangat profesional antara atasan dengan bawahan.


“Ren, tolong siapkan makan siangku! Aku makan di sini saja.”


“Aku lelah, pasti Rima juga sangat lelah. Kami hampir saja begadang sampai pagi!” Sambil melenguh, merentangkan kedua tangan, merenggangkan otot-otot.


Sepertinya pria itu telah memamerkan rasa letihnya


kata demi kata sengaja ia pilih hanya untuk membakar hati sang asisten. Dan benar saja, Reno terlihat memejamkan matanya sangat erat dengan mengepalkan kedua tangan di samping badannya.


Marah, kesal bahkan cemburu mendobrak dadanya, tapi ia tetap menjalankan perintah sang bos.


Membayangkan apa yang terjadi semalam antara Rima dengan Dihyan, sungguh tak masuk ke dalam otaknya.

__ADS_1


__ADS_2