
"Aku dihukum karena apa, hah? Memangnya Apa salahku?"
Rima langsung memberondong Dihyan dengan pertanyaan. Rasanya ia tak terima dihukum oleh Dihyan dengan tinggal di apartemen ini, ia merasa hidup seperti seorang diri di sini. Apalagi saat Dihyan harus berangkat kerja pagi-pagi dan pulang menjelang malam.
"Stop! Aku sudah wudhu!"Dihyan dengan mengulurkan tangan tepat di hadapan Rima.
Bukannya berhenti,Rima justru terus maju dengan senyummu menyerigai di wajahnya.
"Rimaaaa," Dihyan memundurkan langkah. Wajah gadis itu terlihat sedikit menyeramkan, seperti ada maksud tertentu di balik senyumannya.
"Kenapa? Aku cuma mau tanya kenapa aku dihukum?" Rima.
"Kamu nanye? Kamu bertenye-tenye?" Bukannya menjawab pertanyaan Rima, Dihyan justru kembali bertanya dengan menyeme- menye. Membuat orang yang kesal itu justru semakin kesal dibuatnya.
"Dihyan Pratamaaaaaa."
Rima semakin maju menyerang, Dihyan turut mengundurkan langkah mengikuti jalur penyerangan Rima.
Dihyan tahu jika saat ini Rima tak menyerangnya dengan betul-betul dan menggunakan tenaga, tidak seperti dulu saatRima melayangkan bogem mentah di wajahnya.
Ah batal sudah wudhu yang ia jaga sedari tadi. Hingga betis belakangnya menabrak sisi tempat tidur, membuat tubuh keduanya jatuh dengan Rima yang berada di atas masih menyerang Dihyan dengan pukulan-pukulan pelan namun membabi buta.
Dihyan justru menggulum bibir demi menahan tawa yang siap meledak, menggunakan tangan sebagai tameng tubuh. Meski saat Rima naik di atas tubuhnya, lalu menutup wajahnya dengan bantal. Dihyan memiringkan kepala agar bisa menghirup oksigen masuk ke tubuhnya.
"Duh Rima, udah, udah!" Di balik bantal itu ia masih tersenyum. Mendapati Rima mengeluarkan jati diri yang sesungguhnya dihadapan Dihyan membuat pria itu berpikir jika Rima mulai menerima dirinya. Dan itu merupakan satu kebahagiaan tersendiri baginya.
"Rima, capek ini."
"Kamu mau bikin aku mati?"
"Iya. Biar aku jadi janda trus bisa cari pengganti cowok lain yang lebih tampan."
Jawaban Rima mampu membuat senyum itu menguar begitu saja. Berganti wajah murung di balik bantal itu.
Segitu tidak inginnya Rima hidup bersamanya?
" Iya aku nanya, makanya kamu harus jawab!"
Rima mulai mengankat bantal yang menutupi wajah Dihyan. Terpana saat melihat raut wajah yang tadi bahagia saat mereka tengah bersenda gurau kini telah berganti murung.
Marahkan Dihyan?
"Udah! Aku mau shalat." Sedikit tenaga saja sudah mampu membuat tubuh Rima berpindah dari atas tubuhnya ke samping.
__ADS_1
Dihyan mulai berdiri dan melangkah kembali ke kamar mandi meninggalkan Rima dengan rasa bersalah.
Padahal bahagia baru ia rasa semenit yang lalu.
Rima sadar jika Dihyan mungkin tersinggung dengan kata-katanya. Hanya mampu menatap punggung suaminya dengan diam. Ingin meminta maaf namun gengsi masih merajai.
Hingga akhirnya, mereka masih saling diam meski malam telah menjempu mimpi.
Membawa mereka yang terlelap dengan saling membelakangi. Tak ada lagi percakapan basa-basi sebelum tidur, atau apa.
BUkan hanya semalam atau sehari, ini bahkan telah beberapa hari. Dihyan masih mendiami Rima.
Sementara Rima hanya mampu menjalani hari-hari bagai dipenjara. Bagaimana tidak, hidup di balik tembok dengan penghuni lain yang enggan menyapa.
"Dokter bilang istri tidak boleh stress jika ingin segera hamil."
Kalimat itu ia lontarkan demi menyinggung sang suami yang masih melakukan semua pekerjaannya sendiri tanpa mau meliriknya sedekitpun.
Menarik napas dalam, hembuskan secara perlahan. Rima tengah berpikir keras, bagaimana mau hamil, Dihyan melirik saja tidak, apalagi menyentuhnya.
Tak bisa dipungkiri ada rasa rindu pada pria itu. Rasa ingin disentuh kadang datang tak tahu diri. Tapi tak mungkin jika ia harus memohon dan meminta sementara pria itu kini bersikap dingin padanya.
Baju haram?
Dan setelah Dihyan memberinya uang untuk belanja, semua baju tidurnya memanglah seperti itu.
Tapi?
Apakah benar Dihyan tak pernah merasa kegerahan saat harus melihat Rima berpakaian seperti itu dan tidur telentang tepat di sampingnya?
Ya pasti panaslah!
Tapi ditahannya demi memberikan hukuman pada Rima.
Jika baju haram tak mampu menggoyah iman Dihyan, mungkin polos memang harus gadis itu lakukan.
Dihyan telah berbaring di tempatnya, saat RIma justru mondar-mandir tak tentu arah ke sana-ke mari.
Lampu masih menyala, memperlihatkan kegiatan Rima yang entah dengan balutan handuk lima jengkal yang terpasang di tubuh.
Mengoles body lotion ke seluruh tubuhnya. Beberapa kali tangan mengusap pelan kulit dengan gerakan lambat. Dari ujung jari tangan menjalar naik ke lengan, langsung ke depan dada, lalu ke belakang mengusap tengkuk. Semua gerak dilakukan dengan sangat lembut, pelan dan penuh penghayatan. Bahkan beberapa kali menutup mata juga dengan perlahan demi menambah kesan ****!.
Rambut telah dicepol naik semakin menampakkan kulit mulus dan ****! di bagian lehernya. Handuk sengaja dikendorkan sedikit demi mengusap bagian pundak belakang, lalu tangan kembali ke depan dada. Sengaja berlama-lama di daerah ini, biar pria di sana semakin kepanasan.
__ADS_1
Sementar Dihyan mengamati dari balik lengan yang sengaja ia letakkan di depan wajah demi menyamarkan pengintipan. Menggulum bibir agar tawa tak pecah.
Rima masih berpikir bagaimana agar posisinya lebih dekat dengan DIhyan.
Berpikir jika aksinya tak terlihat oleh pria itu, padahal yang di sana sudah tegang sedari tadi.
Menjatuhkan lotionnya ke lantai, lalu menendangnya ke arah tempat tidur. Mulai berjalan dengan anggun dan berbungkuk demi mengambil botol lotionnya. Jelas saja membuat handuknya naik, hingga menampakkan sebagian belahan bagian belakangnya.
Biar rasa penasaran semakin menjadi.
Kembali membaluri lotion ke tubuh, kali ini bagian bawah.
Gadis itu mulai mengangkat kaki diletakkan di sisi samping Dihyan, bertumpu pada ranjang. Menutup botol dengan keras hingga menimbulkan bunyi yang lumayan harusnya mampu menyentak, namun tidak untuk pria itu.
Masih dengan gerakan lambat, Rima mulai mengusap dari ujung kaki naik ke betis hingga pahanya. Semua masih dilakukan dengan gerakan lambat dan penuh kelembutan.
Ia masih berpikir, gerakan-gerakan apa lagi yang belum ia praktekkan?
Pria di sana belum menunjukkan ketertarikannya.
Errrrgggghhh, rasa geram justru menghampiri.
Ia tak tahu lagi bagaimana membujuk Dihyan agar mau menyentuhnya.
Ini bukan masalah anak atau semacamnya. Namun pengalaman mendapatkan sentuhan lembut nan indah membuat ia harus menyimpan muka di belakang demi kata kepuasan.
Rima mulai kehilangan akal, sementara pria itu masih anteng dengan tidurnya.
Dengan menarik keras handuknya hingga lepas dari tubuh. Polos hanya tinggal segitiga keramat yang menempel.
Naik ke atas tubuh Dihyan dengan menyentak.
Dihyan ternganga saat memandang wanita yang berada di atas perutnya itu.
"Kamu, hahahahaha. Ngapain?" Ia sudah tak mampu lagi menahan diri untuk tak tertawa.
"Eggh," Rima mulai melayangkan pukulan pada Dihyan. Lagi-lagi membuat pria itu tertawa sambil menggunakan tangannya sebagai tameng diri.
"Kamu ngeselin. Menjengkelkan. Awas nanti kamu minta aku gak akan kasih!" Ancamnya.
Nyatanya diantara perang mereka, Dihyanlah pemenangnya.
Sementara pria itu masih tertawa meski mendapatkan tekanan di perutnya.
__ADS_1