Tolong Ubah Takdirku!

Tolong Ubah Takdirku!
Di Antara Mereka


__ADS_3

"Reno, coba cek keadaan pabrik di Makassar!" Perintah pak Cakra saat baru saja tiba di kantor.


"Semalam ada laporang tentang kecelakaan kerja di gudang baru. trouble mesin katanya." Lanjutnya.


"Baik pak!"


"Satu korban meninggal dunia, dan tujuh lainnya di telah di rawat di rumah sakit." Ucapnya membacakan laporan yang baru saja ia terima.


"Kamu siap-siap berangkat ke sana. Jenguk korban dan jangan lupa beri santunan. Dan untuk keluarga korban yang meninggal dunia, tawarkan lowongan pekerjaan untuk pada mereka agar bisa kembali melanjutkan hidup dengan baik." Perintah Pak Cakra ia tanam dalam otaknya.


“Hari Jum’at pagi aku berangkat, moga-moga bisa masuk kantor hari seninnya,” Reno, sesaat setelah mengecek jadwal pesawat beserta agendanya.


"Santai saja, tak usah memaksakan diri." Pak Cakra. "Saya bisa kok, masih ada Gea yang membantu."


Tahu dengan kerisauan asistennya itu.


Dihyan masih menikmati libur panjang yang entah kapan akan berakhir.


Dan di sinilah Reno berada saat ini.


Ia baru saja mendaratkan kakinya menginjakkan kakinya yang baru saja keluar dari pesawat.


Di ujung kota Makassar, sebuah kota dengan kesibukan yang lumayan ramai.


Kota yang cuacanya sedikit lebih panas dari pada ibu kota.


Dengan berbagai macam perumahan-perumahan dan hunian yang terletak di sekitar daerah ini.


Banyak orang yang bekerja di tengah kota tetapi lebih memilih untuk tinggal di daerah ini karena udaranya masih


sedikit bersih daripada di pusat kota.


Tempat Bandara Internasional Sultan Hasanuddin berada.


Daerah ini sangat terkenal dengan sembonyan, “Harus pakai visa jika ingin ke sini”. Padahal sudah jelas-jelas daerah itu masih masuk dalam garis kota Makassar, yang juga masih negara Indonesia.


Alasannya karena letaknya sedikit lebih jauh dari pusat kota. Itu saja.


Keluar dari bandara ia telah dijemput oleh sopir utusan perusahaan yang langsung membawanya menuju ke


Rumah Sakit di mana korban berada.


Ditemani oleh salah satu penanggung jawab pabrik, ia langsung menghampiri para korban dan mengucapkan


bela sungkawa dan memberikan beberapa titipan dari Pak Cakra.


Sambil memainkan ponsel Reno berjalan ringan di lorong RS, sesekali kepala terangkat demi memastikan jalan yang ia lalui benar adanya.


Ia tercengang dengan pandangan mata lurus ke depan hampir tak berkedip. Jantung bertalu nan bergedub kencang.


Antara tak percaya dengan apa yang ia lihat.


Leher semakin di panjangkan, kepala semakin menengadah, mata menyipit demi menajamkan pandangan.


Paras itu?


Gadis itu?

__ADS_1


Mirip dengan sosok yang sempat mengetuk hatinya. Hanya terlihat bagian kepalanya saja, membuat ia sempat meragu.


"RIMA." Suara teriakan tertahan saat menyadari keberadaannya kini. Beberapa pasang mata memandangnya, mungkin menegur suara yang lantang itu.


Hehehe, Mengangguk sopan sambil menyumbangkan senyuman manis perdamaian.


Ia kelabakan saat sosok itu tenggelam di kerumunan orang-orang.


"Rima," Bertutur lirih pada diri sendiri.


Otaknya pun tengah berpikir, apakah mungkin keberadaan gadis itu di sini.


Rima seorang dokter, dan tempat ini adalah sarangnya dokter.


Tapi?


Makassar, cukup jauh untuk RIma melarikan diri. Mengapa harus menyeberangi lautan sejauh ini?


Pantas saja, tak ketemu.


"Bapak cari siapa?" Pak Makmur, pria yang sejak tadi menemani langkahnya semenjak tiba di sini.


Tangan Reno terangkat, yang artinya saat ini ia tak ingin di gangu. Mungkin hendak fokus pada pemikirannya sendiri tentang apa yang tadi ia lihat.


Melangkah semakin cepat, berupaya mengejar lautan manusia berseragam di sana.


Rasa penasaran terasa semakin membuncah saja.


Getaran ponsel yang masih di tangan membuatnya terlonjak.


Belumpun mata menangkap nama sang penghubung, ponsel telah berada di dekat telinga.


"Halo, Reno."


Suara ini?


Oh ya ampun.


Otaknya tiba-tiba terasa penuh demi mendengar suara itu. Sang bos besar.


Menjatuhkan tangan tepat di samping tubuh, menutup mata sambil menghirup udara perlahan.


Mengembalikan konsenterasi pada tujuan mengapa ia berada di sini.


"Halo pak." Ucapnya membalas.


"Bagaimana?'


"Emm, ... " Berpikir sejenak.


"Korban jiwa bertambah menjadi dua orang."


"Saya sudah menawarkan pekerjaan pada keluarga korban, tapi mereka sedikit bingung pak."


"Anak korban masih kuliah, dan istri korban masih memiliki bayi yang belum bisa ditinggalkan ibunya."


Laporan lancar sentosa, meski hati masih penasaran dengan pemandangan barusan.

__ADS_1


Mata kembali menatap ke aras sana, tempat yang sempat membuatnya terpaku.


Mungkin berharap pandangan itu kembali datang seperti tadi.


Kembali menelusuri jalan lorong RS. Harusnya ia berjalan keluar RS menuju ke pabrik. Kembali bekerja, mengurusi kerugian yang di timbulkan karena kecelakaan kerja itu.


Namun otaknya tidak tepat untuk digunakan berkonsenterasi mengurus pekerjaan sementara hatinya masih saja penasaran.


Menoleh ke setiap ruangan yang ia lalui, mencari sosok yang mirip RIma.


Kembali merogoh saku celana, Memandang pada benda komunikasi miliknya.


Tak ada apa-apa di sana. Hanya saja pikirannya kembali pada sang penelpon terakhir yang menghubunginya.


Pak Cakra.


Apakah pak Cakra tahu tentang keberadaan Rima?


Apakah Pak Cakra sengaja mengutusnya ke sini guna menyamarkan pencarian RIma?


Menimang-nimang ponsel, hendak bertanya namun ragu.


Apakah ini termasuk rencana keluarga Dihyan, atau memang keberuntungan dirinya.


Pertemuan ini terlalu dini untuk di katakan kebetulan. Belumpun ia merasakan malam di kota daeng ini.


Ia kembali tercengang saat mengangkat kepala, pandangan lurus ke depan.


Wanita yang sejak tadi ia cari kini berdiri di ujung sana, tengah berbicara dengan beberapa orang sambil sesekali tersenyum, manis sekali.


Jantung lagi-lagi bertalu tak menentu.


Hati turut rusuh saat gadis itu mengarahkan kepala lurus, membalas pandangannya.


Sesaat waktu serasa benar-benar berhenti saat ini juga.


Gadis itu turut terdiam kaku sama sepertinya.


Keyakinan kini seratus satu persen. Gadis yang berdiri di sana benarlah Rima.


Pandangan saling terkunci antara dua insan itu.


Hiruk-pikuk di antara mereka bagaikan koloni semut yang berbaris rapi, kecil dan tak bersuara.


Seolah tempat ini hanya ada mereka berdua yang saling bertatapan.


Setelah sekian purnama, akhirnya bersua jua.


"RIMA." Panggilnya tanpa ragu, saat wanita itu terlihat memilih berbalik badan menjauh darinya.


Seseorang terlihat menarik pergelangan tangan RIma.


Beberapa kali Rima terlihat menoleh ke arahnya, sambil terus melangkah ke mana arah tarikan tangan membawa tubuh.


"RIMA." Sekali lagi ia memanggil. Kali ini kaki yang tadinya seperti terpaku di tempat kini mulai dipergunakan dengan baik. Melangkah lebar mengikuti jejak perjalanan RIma di koridor Rumah Sakit.


Kepala kembali celingukan, saat sosok itu tak lagi berada dalam pandangan matanya.

__ADS_1


Dalam sekejap saja, gadis itu kembali menghilang tepat di hadapannya.


__ADS_2