
Semua berkumpul di ke rumah ayah untuk makan malam, tak terkecuali Abang dan keluarga kecilnya. Anggap saja ini menyambut kedatangan tamu dari kota.
Menu spesial, ayam bakar kecap dengan sambal tomat terasi lengkap dengan lalapan telah tersaji di meja.
"Kita makan di sana ya?" Istri Abang sambil menunjukkan ruang tengah.
"Jangan tersinggung ya Iyyan, rempong masalahnya kalau makan di meja."
Sebagian menu yang telah dipisahkan di bawahnya menuju ke depan TV.
Dihyan hanya tersenyum dan mengangguk maklum. Meja makan mungkin tak menampung jikakeluarga kecil itu turut bergabung.
Di sana telah ada abang dengan tiga bocah yang dengan umur yang seperti tingkatan anak tangga, mungkin hanya selisih satu tahunan di antara mereka. Dan semuanya adalah anak Abang.
Menu telah berpindah ke piring masing-masing, santap malam telah dimulai.
Dihyan terdiam, tangan belum bergerak menyuapi. Pandangan ke arah sana, pada keluarga kecil itu.
Suasana di sana lebih riuh daripada di meja makan.
Di mana sang wanita telah sibuk menyuapi ketiga bocah itu, butiran nasi berserakan di atas lantai.
"Ayah aku mau pake kecap." Tutur satu bocah.
"Kan ayamnya udah pake kecap dek, tambah manis nanti." Si sulung.
"Sttt, kalau makan nggak boleh berisik!" Si ibu.
Namun sang ayah tetap saja berdiri, demi ketenangan bersama.
"Ssssttt, pedes. Yah tolong pedesssss." Kembali suara si sulung meringis.
"Sambalnya jangan kebanyakan kak." Lagi si ibu mencoba menasehati.
Abang kembali berdiri, melangkah ke dapur demi menambah air minum untuk anak sulungnya tadi.
Ibunya masih sibuk menyuapi anak bungsu. Riuh sekali.
Suapan abang terulur ke hadapan sang istri yang belum sempat menikmati santapan karena sibuk melayani anak-anak mereka. Kemudian menyuapi dirinya sendiri, sepasang suami istri itu ternyata makan sepiring berdua.
Anak yang paling kecil, kini telah berada dalam pangkuan sang ibu, membuat wanita itu sedikit kepayahan.
Tangan Abang kembali terulur di kepala sang istri, berusaha memperbaiki sinkronisasi letak jilbab istrinya.
__ADS_1
Entah mengapa Pemandangan itu justru menyayat hati Dihyan.
Ada perasaan iri pada keluarga kecil itu.
Kapan ada waktu, Ia disibukkan dengan anak kecil seperti keadaan di sana.
Ia tak terlalu yakin, jika Tuhan masih memberikan kesempatan itu.
Namun jika bisa, bolehkan ia bermimpi terlebih dahulu.
...****************...
DUK
“Awwwww,” Ucap sang wanita yang baru saja mendarat di permukaan matras biru.
“Sudah.” Kata yang ia dengar barusan sangatlah melegakan baginya.
Mulai mengangkat tubuh yang rasanya hampir patah di beberapa titik. Masuk ke rumah lewat dengan pintu samping, di susul seorang wanita dengan postur tubuh tinggi tegap.
Bahkan bahunya wanita itu pun terlihat lebih lebar dari pada wanita lain pada umumnya. Wanita itu lebih cocok jadi pengawal pribadi dari pada pelatih bela diri.
“Kenapa dek?” Tanya seorang pria dengan kening berlipat saat melihatnya berjalan dengan sedikit merangkak.
“Bi, bikinin es jeruk!” Teriaknya sebelum benar-benar mendaratkan tubuh ke sofa.
“Jangan minum air es.” Teguran baru saja ia dapatkan dari wanita yang tadi membanting tubuhnya tanpa segan.
Dialah Leli.
“Kamu jangan nyiksa adikku seperti itu. Kami gak pernah memperlakukan dia kasar loh!” Kakaknya membela,
meski dirasa sedikit terlambat.
“Lalu apa jadinya?” Lirikan mata wanita itu tak mampu dilawan oleh kakak lelakinya itu. “Dia jadi lemahkan? Selalu ditindas.”
Perkataan wanita itu memang benar, tapi tidak begini juga kali. Ini sama saja dirinya kembali ditindas dengan alasan latihan.
Rima, kini berbeda.
Jangan mengharapkan kulit mulus putih bersih, yang ada sekarang adalah, beberapa titik tubuhnya menjadi lebam
karena terkena pukulan atau tendangan.
__ADS_1
Dan di sinilah Rima sekarang mengabdikan dirinya. Membantu setiap orang yang tengah di landa ujian Tuhan
dengan memberikan penyakit pada mereka.
Di temani Leli sang teman yang selama ini selalu mendampingi dirinya. Tempatnya mencurahkan segala unek-unek
dalam hidupnya.
Bukan tanpa alasan, Leli adalah seorang pendamping yang dikirimkan oleh mama Cinta untuk mendampingi dan menjaga Rima. Meskipun masih ada Romi yang rela meninggalkan ayahnya hanya untuk menemani sang adik.
Leli mengajarkannya ilmu bela diri, setidaknya mampu melindungi dirinya sendiri.
Perempuan yang perperawakan tinggi tegap itu hampir saja menyiksanya dengan latihan-latihan fisik yang
sungguh sangat melelahkan. Bisa dikatakan Leli adalah pendamping sekaligus guru yang paling kejam di dunia.
Jika Leli di sandingkan dengan Romi, tinggi badan mereka hampir sejajar.
Saat Rima mengeluh dengan berbagai jenis pelatihan yang diterimanya, Leli hanya selalu mengatakan, “Bisa saja aku tak ada di sampingmu saat ada yang menjahilimu. Dan salah satu alasan kita bisa kalah adalah kita kalah jumlah!”
Bahkan saat Leli mengetahui jika Dihyan masih mencarinya, pelatihan yang akan diterima semakin membabi buta.
Ditambah dengan latihan menembak, membuat waktunya yang tersisa hanya untuk istirahat dan mengikuti terapi.
Terapi untuk bisa kembali bertemu dengan yang namanya darah.
Saat menemukan dirinya yang bersimpah darah setelah jatuh dari tangga, dan mengetahui bahwa darah itu berasal dari kehidupan lain dari dalam tubuhnya yang tak bisa bertahan menyisakan lubang besar pada masa depannya.
Masa depan yang telah berhasil ia daki, namun harus terhempas hingga ke dalam perut bumi yang terdalam.
Membuat cita-citanya mundur ke belakang. Karena sangat tidak mungkin jika seorang dokter memiliki trauma terhadap darah bukan? Bahkan sangat miris untuk seorang dokter.
Membuang jauh kepercayaan dirinya terhadap gelar yang telah ia sandang, mendampingi namanya tak dapat ia pergunakan dengan semestinya.
Barulah beberapa bulan yang lalu, ia bisa kembali normal menjadi seorang dokter setelah menjalani terapi segala macam bentuk dan sistem.
Tak ingin terus terjerumus dalam luka dan lubang dalam yang tak berkesudahan.
Ia punya hidup, punya masa depan yang harus di raih.
Ia harus bangkit meskipun sulit. Kembali memanjat tebing curam dan dalam.
Ia harus bangkit.
__ADS_1
Memaksakan diri untuk menerima pekerjaannya yang kadang menyaksikan warna merah kental yang keluar dari dalam tubuh.