
...🌷Selamat Membaca🌷...
Radi segera melepas tangannya dari wajah Rina. Mereka berdua menoleh ke asal suara dan menemukan Reyhan berdiri tak jauh dari sana sambil menenteng robot-robotannya.
"Buna ma Om Adi napain?" tanya Reyhan bingung. Kaki kecilnya melangkah menghampiri dua orang dewasa yang terlihat kikuk itu. (Bunda sama Om Radi ngapain)
"Bunda sama om nggak ngapa-ngapain kok, sayang," jawab Rina.
"Kemarilah, jagoan!" Radi menggendong tubuh Reyhan dan mendudukkannya di tengah-tengah mereka.
Radi menatap Rina sekilas, kemudian kembali pada bocah yang duduk anteng di tengah mereka.
"Jagoan, mau punya ayah, tidak?" tanya Radi.
Deg
Rina terbelalak. "Tu-tuan..." protesnya.
"Au, api ata buna ayah Lehan dauh, ladi kelja..." jawab Reyhan polos. (Mau, tapi kata bunda, ayah Reyhan jauh, lagi kerja)
Radi menatap kekasihnya, tajam. Sejak kapan ayah kandungnya Reyhan bekerja? Bukankah pria tak bertanggung jawab itu sudah kabur dan memilih menikah lagi dengan seorang janda di kota. Cih... menjandakan istri demi janda.
"Ayah Reyhan ada di sini kok, Nak. Dia sudah pulang," ucap Radi, merujuk pada dirinya sendiri.
Rina menganga, kenapa majikannya itu bisa berkata demikian. Bagaimana kalau nanti Reyhan menanyakannya.
"Ana, Om?" Benar saja, bocah itu langsung bertanya di mana keberadaan ayahya. (Mana, Om)
"Di sini." Radi menunjuk dirinya. "Reyhan mau tidak kalau om yang jadi ayahnya Reyhan?" tanya Radi.
Bocah itu terdiam. "Om Adi tan ayah na dedek Dila, butan ayah Lehan," ucapnya. (Om Radi kan ayahnya dedek Dira, bukan ayahnya Reyhan)
"Iya, om memang ayahnya dedek Dira, tapi om juga mau kok jadi ayahnya Reyhan. Memangnya Reyhan tidak mau punya ayah kayak om?"
"Au, Lehan au puna ayah tayak Om Adi." Reyhan mengangguk penuh suka cita. (Mau, Reyhan mau punya ayah kayak Om Radi)
"Jadi sekarang tidak boleh panggil om lagi, ya? Harus panggil ayah! Reyhan paham?"
"Iya, ayah..." jawab batita itu dengan mata berkaca-kaca.
"Sini jagoan, peluk ayah!" Radi merentangkan tangannya
__ADS_1
Reyhan langsung menyurukkan kepalanya di leher Radi. "Ayah, Lehan tanen sama ayah..." isaknya. Bocah itu belum mengerti kalau Radi bukanlah ayahnya yang sesungguhnya, tapi ia bahagia karena sekarang memiliki orang yang dipanggil dengan sebutan ayah. (Ayah, Reyhan kangen sama ayah)
Radi mengelus punggung kecil itu sayang, sementara matanya menatap ke arah Rina yang juga tengah menangis. Tangis bahagia karena kini putranya bisa merasakan kasih sayang dari sosok seorang ayah, walau bukan ayah kandung.
Sebelah tangan Radi yang bebas terulur dan menggenggam tangan Rina. Ditariknya tubuh mungil itu mendekat. Ketiganya berpelukan hangat sampai matahari benar-benar kembali ke peraduannya.
"Aku berjanji akan membahagiakan kalian berdua..." batin Radi
... ....
Sebulan kemudian...
"Papa....." Kei bersorak riang saat melihat kemunculan ayahnya yang sudah tiga hari ini ke luar kota mengikuti pelatihan.
Maya langsung bangkit dan menghampiri suaminya. Tak lupa ia menyalami tangan Fadhil, dan dihadiahi sebuah kecupan singkat di kening dari suaminya itu.
"Sini tasnya, Mas." Maya mengambil ransel Fadhil dan meletakkannya di atas sofa. Wanita itu langsung ke dapur membuatkan minum untuk suaminya yang baru saja kembali dari perjalanan jauh.
"Bagaimana pelatihannya, Dhil. Lancar?" tanya Bu Maryam sesaat setelah mencium tangan ibunya.
"Alhamdulillah... lancar, Bu." Fadhil mendudukkan dirinya di sofa. Tepat di tengah-tengah kedua buah hatinya. Tangan lebarnya memeluk kedua tubuh bocah mungil tersebut.
"Apa kabar anak-anak papa?" tanya Fadhil, menatap Kei dan Lingga bergantian.
"Lingga bagaimana? Tidak nakal 'kan selama papa tinggal?" Kini Fadhil beralih pada Lingga yang sibuk dengan biskuit bayinya.
"Bba...babaa..." racau Lingga tak jelas. Ia masih berumur 14 bulan, tentu belum bisa menanggapi apa yang ditanyakan oleh orang dewasa padanya.
Fadhil tersenyum melihat mulut Lingga yang berlepotan biskuit, pria itu kemudian meraih tisu basah di atas meja dan membersihkan mulut putranya.
Bu Maryam yang melihat pemandangan itu tak berhenti bersyukur. Ia tak menyesal karena malam itu telah memberikan obat perangsang, hingga kini pernikahan anak dan menantunya terlihat sangat harmonis.
.......
"Mas, air mandinya sudah ku siapkan. Mandilah!" kata Maya yang baru keluar dari dalam kamar mandi.
"Ya..." Fadhil yang semula sibuk dengan ponselnya, memutuskan untuk meletakkan benda canggih itu di atas nakas. Pria itu langsung membuka kemejanya, menyisakan singlet berwarna putih.
"Ayo!" Fadhil langsung menarik tangan Maya untuk masuk ke dalam kamar mandi.
"Eh? Ayo ke mana, Mas? Aku sudah mandi sore tadi," elak Maya sembari menahan tangannya yang ditarik Fadhil.
__ADS_1
Fadhil tersenyum dan menatap istrinya dengan tatapan penuh minat. "Mandikan mas, sayang..."
Deg
Maya melotot. "Ish, Mas! Nanti bukannya mandi malah aneh-aneh. Mas 'kan capek, mending rilekskan diri saja dulu sembari berendam di bathtub, baru setelah itu aku kasih jatah..." kata Maya blak-blakan.
Fadhil terkekeh. "Mas tidak mau yang aneh-aneh, kok. Mas cuma mau kamu menggosok punggung, Mas. Beberapa hari di sana rasanya mas mandi tidak cukup bersih, mungkin daki mas sudah menumpuk," ucap Fadhil yang langsung menuai tawa Maya.
"Ya sudah, mari kita lihat sudah setebal apa dakimu, Mas." Gantian Maya yang menarik tangan Fadhil untuk segera memasuki kamar mandi.
Seperti yang sudah diduga Maya sebelumnya, di kamar mandi, wanita itu tidak hanya membantu menggosok badan suaminya, tapi juga melayani hasrat sang suami yang sudah libur selama tiga hari ini. Pria itu memang tidak ada capeknya.
.......
Ajeng menyandarkan kepala di dada bidang suaminya. Seperti biasa, mereka baru saja melewati malam yang membahagiakan.
"Mas!" panggil Ajeng.
"Hm...?" Cakra hanya berdehem. Mata pria itu terpejam sejenak, demi mengurangi rasa lelah yang mendera tubuhnya sesaat habis bertarung.
"Bulan ini aku belum datang bulan," aku Ajeng.
Sonfak mata Cakra terbuka lebar. Ia mengingat jika sudah sebulan ini jatahnya lancar jaya. "Apakah kau hamil?" tanya Cakra.
Ajeng mengangkat bahu. "Aku belum mengeceknya, Mas. Haruskah besok pagi ku tes?"
"Coba saja, biar kita tahu..." Pikiran Cakra berkecamuk. Ini baru delapan bulan, apakah Ajeng benar-benar hamil? Kalau memang benar, apa yang harus ia lakukan, bukankah dokter menyarankan agar kehamilan berikutnya menunggu waktu dua tahun dari kelahiran pertama., untuk menghindari resiko yang tidak diinginkan.
"Sayang, kalau kau benar-benar hamil bagaimana? Maafkan, Mas, ya. Mungkin pernah sekali mas telat mengeluarkannya hingga benih mas tumbuh di rahimmu," ucap Cakra bersalah.
Ajeng tertawa. "Mas, kalau kita diberi anugerah, harusnya bersyukur. Jika memang benihmu sudah tumbuh di rahimku, maka aku akan merasa sangat senang. Bukankah mas juga sudah lama memimpikan hal ini?"
"Iya, tapi mas khawatir. Dokter bilang akan banyak resiko jika jarak kehamilannya dekat dari yang pertama. Mas hanya tidak ingin kau kenapa-napa, sayang."
"Ya sudah, besok kita pastikan terlebih dahulu. Jika benar aku hamil, kita akan langsung berkonsultasi ke dokter."
"Baiklah, semoga semuanya baik-baik saja," harap Cakra.
...Bersambung...
Jangan lupa Like & Comment
__ADS_1
Terima kasih banyak sudah membaca😊