
...🌷Selamat Membaca🌷...
Tiga hari kemudian, Cakra ditemani Ajeng pergi ke rumah sakit untuk melihat hasil Ct-scan yang sudah dilakukan Cakra beberapa hari lalu. Dokter menjelaskan jika tidak ada hal serius yang terjadi di kepala Cakra akibat benturan saat kecelakaan itu. Semuanya baik-baik saja, hanya terdapat luka luar yang tidak terlalu parah. Baik Cakra maupun Ajeng sama-sama lega mendengar semua itu.
"Mas, ayo kita jemput Dira. Aku sudah tidak sabar untuk membawanya pulang," ucap Ajeng semangat.
"Iya, ayo!" Cakra menggenggam tangan Ajeng, dan mereka jalan beriringan menuju ruang NICU.
Di sana seorang perawat sudah stand by, dia telah merapikan semua peralatan Dira yang selama ini digunakan. Putri mungil itupun sudah diganti baju dan bedung yang baru, seakan ia siap untuk dibawa pulang ke rumah.
"Dira sayang, mama kangen." Ajeng langsung mengambil alih tubuh sang putri dari tangan perawat. Ia menciumi gemas pipi Dira yang mulai gembil itu bertubi-tubi.
"Dia terlihat semakin cantik, persis sepertimu," ucap Cakra saat ia memperhatikan wajah Dira yang tengah kebingungan menatap mereka.
"Mas, ayo kita bawa Dira pulang." Ajeng sudah tak betah lama-lama berada di rumah sakit, ia bosan.
"Ayo, sayang." Cakra menjinjing perlengkapan Dira.
Setelah berterima kasih, Ajeng dan Cakra pamit pada perawat yang selama ini sudah setia menjaga dan merawat Dira.
.......
Radi terlambat, ia sampai di rumah sakit saat Ajeng dan Cakra baru saja pergi. Padahal ia sangat ingin melihat keadaan putrinya.
"Apa aku ke rumahnya saja?" pikir Radi. Selain melihat Dira, Radi juga ingin membahas suatu hal dengan Ajeng. Tak lama kemudian, pria itu pun pergi.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 20 menit, Radi sampai di kediaman Winata. Rumah yang dulu menjadi saksi bisu kisah cintanya bersama Ajeng. Kini, semua itu hanya tinggal kenangan.
Menarik dan menghembuskan napas sejenak, baru setelah itu Radi memberanikan diri untuk memencet bel. Pria itu merasa sedikit aneh, biasanya ia akan masuk begitu saja ke rumah megah ini, tapi kini ia seperti orang asing yang bertamu. Rasanya cukup menyakitkan ternyata.
Tak lama berselang, seorang pelayan datang dan membukakan pintu utuknya.
"Tuan Radi," sapa si pelayan hormat.
"Bi, apa Ajeng sudah sampai?" tanya Radi.
__ADS_1
Pelayan senior itu mengangguk. "Sudah Tuan, Nona Ajeng kembali bersama nona muda. Silakan masuk, Tuan." Kemudian ia mempersilakan suami majikannya itu untuk masuk.
"Terima kasih, Bi." Radi baru melangkah masuk setelah dipersilakan. Ia benar-benar merasa seperti tamu di rumah yang sudah ditempatinya selama 10 tahun tersebut.
Pelayan senior yang sudah bekerja di rumah itu semenjak pertama kali rumah didirikan hanya bisa melihat Radi dengan pandangan sendu. Wanita tua itu merasa sedih menyaksikan rumah tangga majikannya yang tak bisa dipertahankan lagi. Walaupun tak ada yang memberitahunya, tapi ia bisa melihat semua itu. Beberapa bulan ini adalah masa yang sangat buruk bagi keluarga yang dilayaninya. Namun, di samping semua duka yang terjadi, ada suka yang datang yakni kehadiran malaikat kecil yang akan menceriakan rumah besar ini dengan tangis dan tawanya.
"Tuan, Nyonya, berbahagialah di atas sana. Sekarang kalian sudah memiliki cucu yang sangat cantik. Semoga Tuhan selalu melindungi keluarga ini dari keburukan," harapnya.
.... ...
"Dira sayang, lihat mama, Nak!" Ajeng mengajak bicara bayinya yang berada dalam gendongan Cakra. Mata bulat bayi itu menatap Ajeng dengan polosnya.
"Senang ya, digendong sama papa?" tanya Ajeng.
Mendengar kata papa yang ditujukan untuknya, Cakra langsung menoleh dan menatap Ajeng penuh haru.
"Mas mau kan jadi papanya Dira?" tanya Ajeng saat melihat Cakra terdiam menatapnya. Mata pria itu berkaca-kaca.
"Mau, sangat mau. Terima kasih, Jeng." Cakra tersenyum bahagia. Impiannya untuk memiliki putri yang cantik akhirnya terkabulkan juga. Walaupun bukan darah dagingnya, tapi ia tetap menyayangi bayi itu sepenuh hati.
"Dia senyum, Mas." Ajeng berujar takjub.
"Iya, cantik sekali senyuman anak papa ini." Cakra yang gemas langsung menciup lembut pipi kemerahan putrinya.
Deg
Di belakang sana, tanpa mereka berdua sadari, ada Radi yang sedari tadi memperhatikan momen bahagia itu. Pria itu memukul-mukul dadanya yang tetiba sesak, penyesalan itu kembali menggerayangi setiap bagian dari tubuhnya.
"Seharusnya aku yang ada di sana. Tertawa bahagia bersama anak dan istriku. Ya Tuhan... kenapa takdir ini begitu kejam," batinnya menangis pilu.
"Tuan, kenapa berdiri di sini. Silakan duduk, itu Nona Ajeng ada di sana." Pelayan tua tadi datang kembali, ia sudah membawa nampan berisi beberapa minuman juga camilan.
"I-iya, Bi." Radi segera menguasai hatinya agar tidak cemburu melihat kebahagian Ajeng dan Cakra. Pria itu pun tersenyum dan berjalan menghampiri orang-orang yang duduk nyaman di sofa ruang tengah.
"Mas Radi!" sapa Ajeng. Wanita itu cukup terkejut melihat kedatangan suaminya yang tiba-tiba.
__ADS_1
"Apa aku mengganggu waktu santai kalian?" tanya Radi tak enak.
"Tidak kok, Mas." Ajeng tersenyum ramah. "Silakan duduk!"
Radi pun duduk di sofa single yang berseberangan dengan pasangan berbahagia itu. Kemudian matanya melirik Dira yang ada dalam gendongan Cakra.
"Sepertinya Dira yang cantik ini mau digendong sama ayah," celetuk Cakra. Pria itu mengerti situasi, ia yakin kedatangan Radi pasti karena ingin melihat putrinya. Ia bangkit dan menyerahkan bayi mungil itu ke tangan ayah kandungnya.
Radi sungguh terharu, ia tak menyangka jika Cakra akan berbaik hati padanya. Ia pikir pria itu akan egois dengan merebut Dira sepenuhnya, tapi dugaannya salah. Cakra pria yang baik, dan Ajeng beruntung bisa memilikinya.
"Ayah sangat merindukanmu, Nak." Radi memandang wajah cantik putri kecilnya. Kalau dilihat sekilas, Dira adalah versi bayinya dari Ajeng. Namun, kalau diperhatikan secara seksama, terdapat perbedaan antara keduanya. Alis Dira lebat dan hitam seperti Radi, di bibir bawahnya juga terdapat belahan seperti sang ayah. Bentuk telinga dan warna rambut pun sama. Radi bersyukur karena masih ada cirinya melekat pada sang anak.
Ajeng menatap Cakra, wanita itu mengucapkan terima kasih dengan gerak bibirnya. Ia merasa bersyukur memiliki pasangan yang pengertian seperti Cakra. Di dunia ini tak ada lagi yang ia butuhkan, selain berkumpul bersama dengan orang-orang yang disayanginya.
Setelah puas bermain dengan Dira, Radi menyerahkan sang putri kembali ke tangan ibunya. Sepertinya bayi itu lapar, karena mulai menjulur-julurkan lidah kecilnya.
"Aku mau menyusui Dira dulu," pamit Ajeng. Ia pergi meninggalkan dua pria dewasa itu si ruang tengah.
Hening...
Cakra yang merasa bosan berada dalam keheningan, mulai membuka suara.
"Bagaimana perkembangan kasusnya Maya?* tanyanya.
"Ya, aku juga ingin menyampaikan kabar mengenai kasus itu. Besok sidang pertama akan digelar. Kalau bisa, Ajeng hadir sebagai saksi," kata Radi.
"Baiklah, nanti aku akan memberitahu Ajeng masalah ini."
"Terima kasih, kalau begitu aku pamit. Masih ada sedikit pekerjaan yang harus diselesaikan," pamitnya.
"Tentu, hati-hati di jalan."
Cakra memandang kepergian Radi. Ia tak menyangka jika akan memiliki hubungan baik dengan calon mantan suami dari wanita yang dicintainya. Namun ia lega karena tidak ada dendam di antara mereka, jadi Dira tidak akan kekurangan kasih sayang dari orang tuanya. Ia beruntung memiliki seorang ibu dan dua ayah yang begitu menyayanginya.
...Bersambung...
__ADS_1