
...🌷Selamat Membaca🌷...
Tepat pada pukul sepuluh malam, Cakra menyudahi aktifitasnya di ruang kerja. Ia bangkit dari kursi dan melakukan sedikit peregangan. Tubuhnya kaku karena cukup lama duduk.
"Apa Ajeng masih marah, ya?" gumam Cakra. Beberapa jam yang lalu, ada sedikit perdebatan yang terjadi antara dirinya dan sang istri, tepatnya di sebuah warung bakso yang sedang ramai pengunjung. Wanita hamil itu mengidamkan bakso sebagai pengganti makan malamnya. Cakra yang tak ingin anaknya ileran, mau tak mau harus menuruti acara ngidam sang istri.
"Bang, baksonya dua mangkuk, ya!" pinta Ajeng begitu memasuki sebuah warung bakso yang berada di perempatan jalan menuju rumahnya.
Sementara Ajeng memesan, Cakra memilih untuk mencari tempat duduk. Untung saja ada satu meja yang kosong di antara semua meja yang penuh pengunjung. Saat akan duduk, tiba-tiba dari arah samping ada dua orang remaja laki-laki yang menyerobot dan langsung duduk di tempat tersebut.
"Siapa cepat, dia dapat!" ucap salah seorang remaja tersebut sambil tersenyum penuh kemenangan.
Rahang Cakra mengeras, ia merasa kesal karena telah diremehkan oleh dua orang bocah bau kencur tersebut. Namun, bukan Cakra namanya jika ia tidak bisa mengusir kedua remaja itu.
"Ambil ini!" Cakra membuka dompet dan mengeluarkan empat lembar uang dengan pecahan terbesar, ia menyodorkannya tepat di muka kedua bocah yang langsung berbinar matanya saat melihat uang. "Carilah tempat makan yang lain! Dengan uang ini kalian bisa nongkrong di Starb*cks ataupun McDon*ld."
Tidak menyia-nyiakan uang di depan mata, kedua bocah tersebut langsung merebut uang dari tangan Cakra. "Terima kasih, Om. Kalau begitu, silakan duduk!" Mereka bangkit dan segera pamit pergi.
Cakra tersenyum dan duduk di bangkunya. Tak berselang lama, Ajeng pun datang dan duduk di bangku yang berhadapan dengan suaminya.
"Apa semuanya harus diselesaikan dengan uang, Mas?" tanya Ajeng. Tadi ia menyaksikan Cakra yang tengah menyongok kedua remaja yang telah menyerobot tempat duduk yang suaminya itu incar.
"Ayolah, sayang. Mereka berdua itu tengil, masalah tidak akan selesai hanya dengan berdebat, lebih baik mengusir mereka secara halus. Lagi pula tidak akan ada yang bisa menolak uang, apalagi remaja puber seperti mereka," jawab Cakra enteng.
Ajeng menghela napas lelah. "Sakarepmu lah, Mas!"
Keheningan terjadi beberapa saat sampai kemudian bakso yang mereka pesan datang. Ajeng menatap dua mangkuk bakso dengan asap mengepul itu dengan mulut sedikit menganga. Rasanya sudah tidak sabar memasukkan bulatan kenyal itu ke dalam mulut.
"Sayang, ada lalat terbang ke dalam mulutmu," ucap Cakra.
Mendengar itu, seketika Ajeng mengatup mulutnya rapat agar lalat yang dimaksud tidak masuk.
"Hahaha..." Tawa Cakra menyembur. Ekspresi Ajeng sungguh membuatnya terhibur. Wanita itu terlihat lucu saat menatap bakso yang datang, saking tidak sabarnya untuk makan sampai mulutnya menganga. Ide jahil muncul dan tak disangka jika istrinya itu malah termakan oleh kebohongan yang diciptakannya.
"Tidak lucu!" Ajeng yang sadar jika Cakra telah mempermainkannya, hanya bisa merengut sebal. Namun, itu tidak berlangsung lama, karena ada hal yang lebih penting untuk dilakukan, yakninya... menyantap bakso lezat di hadapan.
"Maaf, sayangku..." Cakra tersenyum sembari mencubit gemas kedua pipi bulat sang istri. Diawal kehamilan seperti ini, berat badan Ajeng meningkat cukup cepat, terlebih wanita itu suka sekali makan dan juga tidak mengalami morning sickness sehingga semua yang dimakannya diserap dengan baik oleh tubuh. Cakra sangat suka dengan perubahan tubuh sang istri, apalagi di bagian dada dan pinggul. Ah... membayangkannya saja mampu membangkitkan singa kelaparan di tubuhnya.
"Singkirkan tanganmu, Mas! Aku mau makan," pinta Ajeng sambil berusaha melepaskan tangan Cakra dari pipinya.
"Baiklah, aku juga mau makan." Cakra menarik salah satu mangkuk bakso untuk dimakannya, tapi dengan sigap Ajeng langsung menahan tangan suaminya itu.
"Kenapa?" tanya Cakra heran.
"Kau mau apa, Mas?" Ajeng balik bertanya dengan wajah serius.
"Ya makan bakso, memangnya mau apa lagi?" jawab Cakra yang semakin heran.
"Bukannya tadi di mobil Mas bilang tidak mau, ya? Soalnya, 'Mas takut berat badan mas naik dan mas tidak sixpack lagi. Nanti bisa-bisa sayangnya mas berpindah ke lain hati'," ucap Ajeng menirukan gaya bicara Cakra saat tadi ditawarinya makan bakso.
Wajah Cakra memerah mendengar ledekan sang istri. "La-lalu kenapa kau sampai memesan dua mangkuk?"
"Ya untukku lah, Mas." Ajeng mendekatkan kedua mangkuk itu semakin rapat ke arahnya, seakan takut jika nanti Cakra akan mengambilnya lagi. "Kalau mas mau, pesan saja sendiri!" tambahnya.
__ADS_1
"A-apa?" Cakra melotot mendengar ucapan sang istri. Bisa-bisanya wanita itu lebih memilih semangkuk bakso daripada suaminya sendiri. "Tega sekali," lirihnya.
Ajeng tidak memedulikan lagi bagaimana pendapat suaminya, ia kini bersiap untuk memakan makanan di hadapannya. Sementara Cakra hanya bisa memerhatikan semua itu dalam diam, ia terlalu gengsi untuk memesan bakso setelah tadi Ajeng meledeknya.
"Eits, mau apa?" tanya Cakra ketika melihat Ajeng menyendok sesendok cabai merah giling dan hendak memasukkannya ke dalam mangkuk bakso.
Ajeng tersenyum manis. "Boleh ya, Mas?" rayunya. Ia tahu pasti Cakra akan membatasi dirinya untuk mengonsumsi cabai, apalagi dalam keadaan hamil seperti ini.
"Tidak!" Cakra menggeleng.
Ajeng yang bandel tidak mau mendengarkan peringatan suaminya. Tangannya dengan cepat memasukkan cabai di sendok ke dalam mangkuk.
"Ya ampun. Sudah mas bilang tidak boleh, masih saja dilakukan," gerutu Cakra.
"Ini cuma sedikit, Mas. Tidak akan berasa apa-apa," ucap Ajeng.
"Sedikit? Itu satu sendok penuh loh, sayang. Nanti perutmu sakit!" Cakra menjulurkan tangannya dan meraih sendok di mangkuk Ajeng. Ia membuang sebagian cabai yang masih teronggok di atas bakso yang belum sempat diaduk. Dan sebagian sisanya, ia bagi dua pula untuk satu mangkuk yang tersisa. "Itu sudah lebih dari cukup. Sekarang makanlah!"
Ajeng yang merupakan pecinta pedas hanya bisa mengerucutkan bibir melihat betapa pelitnya sang suami. Namun, hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk makan. Ia langsung melahap makanan berkuah itu dengan semangat. Beberapa kali Cakra terlihat menelan air ludah saat melihat Ajeng makan, ia ingin tapi gengsi untuk meminta satu suap saja.
Di dalam mobil saat perjalan pulang, Ajeng tidak mengacuhkan suaminya. Beberapa kali pria itu bertanya, hanya ditanggapi dengan deheman olehnya. Cakra sadar jika istrinya tengah merajuk karena masalah cabai, bukannya merasa bersalah, ia justru merasa kalau istrinya saat ini terlihat sangat lucu.
Cup
Cakra memperlambat laju kendaraannya, kemudian mencuri satu kecupan di pipi sang istri. "Jangan merajuk seperti itu, kau membuat mas ingin memakanmu."
Ajeng mendelik kesal, lalu dengan kasar ia menghapus bekas kecupan sang suami di pipinya. "Jangan cium-cium, aku lagi marah!" ucapnya ketus.
"Main saja sendiri, dasar mesum!" balas Ajeng.
Sampai di rumah, Cakra yang ingin membujuk Ajeng agar tidak marah lagi, hanya bisa menghembuskan napas kasar ketika mendapatkan telepon dari sekretarisnya yang mengatakan bahwa ada beberapa email yang perlu diperiksa secepatnya. Niatnya ingin berduaan dengan sang istri harus ditunda dulu.
... . ...
Cakra membuka pelan pintu kamar. Ia pikir Ajeng sudah tidur, tapi ternyata wanita itu malah asyik duduk dan melakukan perawatan wajah di depan meja rias. Ajeng meliriknya sekilas, kemudian melanjutkan kembali kegiatannya.
Pria itu tak langsung menghampiri sang istri, ia memilih menuju boks putrinya. Bayi gendut itu tampak tidur pulas, Cakra tersenyum melihatnya.
"Selamat malam, sayang. Tidur yang nyenyak anak papa yang paling cantik..." bisik Cakra kemudian memberikan satu kecupan sayang di kening Dira.
Setelah mengucapkan selamat malam untuk Dira, baru Cakra menghampiri Ajeng. Ia memeluk tubuh sintal itu dari belakang. "Ayo, sayang..." bisiknya.
Ajeng mendengus, ia melepaskan tangan Cakra dari tubuhnya dan bangkit berdiri. Memerhatikan sejenak penampilannya di cermin, setelah itu Ajeng membuka jubah dari gaun malam yang digunakannya.
Cakra tersenyum sumringah. Walau dalam keadaan marah, Ajeng masih sedia untuk melayani dirinya. Cakra teringat pada sebuah kalimat yang pernah ia dengar, bahwa masalah yang dihadapi pasangan suami istri dapat terselesaikan dengan berhubungan intim. Benarkah? Entah... author masih single.
Ajeng menatap suaminya dengan tatapan nakal, senyuman miring turut tersungging di bibirnya yang sensual. Perlahan ia mendekat, saat jarak tak lagi bermakna, ia mendorong tubuh kekar itu hingga jatuh terlentang di tempat tidur.
"Ah... sudah tidak sabar sekali dirimu, sayang." Mata Cakra menggelap melihat tampilan Ajeng yang begitu seksi.
Ajeng naik ke atas kasur dan mengungkung tubuh suaminya. "Hm, bersiaplah untuk hukumanmu, Mas!" bisik wanita itu tepat di telinga suaminya.
Tubuh Cakra bergetar hebat, bisikan menggoda itu membuat hasrat dalam dirinya melambung naik. Ia hendak membalik keadaan, namun dengan cepat Ajeng menahannya.
__ADS_1
"Tetap di bawah, Mas! Jangan coba-coba untuk menukar posisi kita!" peringat Ajeng.
"Huh..." Cakra mengangguk pasrah.
Ajeng tersenyum menang. Ia perlahan mendekatkan wajah mereka dan menempelkan bibir. Hanya menempel, saat Cakra ingin mel*mat bibir ranum tersebut, Ajeng langsung mengangkat kepala dan menjauhkan wajahnya.
Cakra mengerang kesal. "Kenapa?" tanyanya dengan suara berat.
"Bukankah tadi aku bilang akan menghukummu, Mas?" Ajeng tersenyum manis.
"Huh..." Cakra menghela napas pasrah.
Kembali Ajeng mendekatkan wajah mereka dan mencium bibir manyun suaminya. Dipagutnya bibir itu dengan lembut, tapi lagi dan lagi, saat Cakra akan membalasnya, Ajeng segera menjauhkan wajah.
"Ayolah, sayang..." pinta Cakra, memelas.
Untuk kesekian kalinya, Ajeng tersenyum. "Ayo apa, Mas?" tanyanya jahil.
Cakra merengut. "Cium aku, please!"
Ajeng mengangguk dan mencium suaminya. Namun, hal yang sama kembali terulang, begitu Cakra akan membalas, Ajeng menjauhkan wajah.
"Sayang..." Cakra yang sudah tak sabar, langsung menahan kepala istrinya dengan kedua tangan. Ia menciumnya paksa, tapi hal itu terhenti saat sesuatu yang menegang di bawah sana dengan sengaja digesek oleh lutut Ajeng.
"Ahh..." Cakra mengerang. "Jangan menyiksaku, sayang!" mohonnya.
"Memohonlah lebih banyak! Aku suka melihatmu tak berdaya!" bisik Ajeng.
Mata Cakra menatap wajah cantik istrinya yang sedang tersenyum miring. Entah setan apa yang merasuki istrinya hingga menghukumnya dengan sangat berat seperti ini. Satu hal yang Cakra pelajari dari kejadian ini, ia tidak akan membuat istrinya marah lagi. Jika tidak, hukuman seperti ini pasti menanti dirinya. Dan itu sangat menyiksa.
"Memohonlah, Mas!" Ajeng kembali menggerakkan lututnya di bawah sana.
"Ahh... Sayang, Mas mohon." Wajah pria itu begitu memelas.
"Lebih keras!"
"Mas mohon, lakukan!"
"Baiklah." Ajeng perlahan bangkit dan menuju ke lemari. Ia mengambil sebuah dasi dari dalam sana dan kembali ke ranjang.
"Mau apa?" tanya Cakra saat Ajeng meletakkan kedua tangannya ke atas lalu mengikatnya dengan dasi yang tadi diambilnya.
"Husst..." Ajeng menutup mulut Cakra dengan jari telunjuknya. "Hukumannya masih berlanjut, sayang..."
Silakan berfantasi sendiri... 🤭
...To be Continued......
Yang kangen Cakra-Ajeng, sudah terobati ya rindunya di part khusu mereka ini.
Jangan lupa Like, Vote and Comment
Terima kasih🙏😊
__ADS_1