2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Blessing


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Di dalam mobil, Cakra memeluk tubuh kekasihnya dengan erat. Setelah berziarah ke makam kedua orang tuanya, Ajeng tak henti menangis. Hampir setahun lebih ia tidak mengunjungi makam dan mendo'akan mendiang kedua orang tuanya, ia merasa bersalah. Dan kini, setelah melakukannya, Ajeng merasa benar-benar merindukan mereka berdua.


"Tenanglah, sayang! Sekarang kau tidak sendiri lagi, ada aku, Dira, ayah dan ibu. Kami semua menyayangimu," bisik Cakra.


"Iya, Mas. Terima kasih. Entah apa yang akan terjadi padaku jika di dunia ini hanya hidup seorang diri," isak Ajeng.


"Sudah, tenang. Sekarang kita pulang, kasihan gadis kecilku ditinggal terlalu lama," bujuk Cakra.


"Iya, Mas." Ajeng melepas pelukan dan membersihkan sisa air mata yang membasahi pipinya. Ia harus kuat, karema masih memiliki seorang putri cantik yang membutuhkan kasih sayang darinya.


Mobil Cakra perlahan bergerak meninggalkan area pemakaman.


.......


Siang ini Rina dan sang anak akhirnya sampai di ibu kota, untung saja kondisi Reyhan semakin membaik, jadi tidak terlalu masalah ketika dibawa dalam perjalan jauh.


Rina sangat bersyukur memiliki majikan baik hati seperti Radi. Pria itu mengirimkan seseorang untuk menjemputnya ke kampung. Hal ini sangat menguntungkan karena Rina tidak harus naik bus dan berdesak-desakan dengan penumpang lain, apalagi di dalam bus itu udaranya pengap dan panas, Reyhan yang baru pertama kali dibawa pergi jauh, pasti tidak akan nyaman.


"Sayang, sekarang kita akan tinggal di sini." Rina menggendong sang anak masuk ke dalam rumah besar milik Radi.


"Buna, umah agus..." ucap Reyhan. Matanya berbinar melihat isi dalam rumah Radi yang dipenuhi dengan perabotan mahal. (Bunda, rumah bagus)


"Iya, sayang. Sekarang kita ke kamar, ya. Reyhan mau bobok?" tanya Rina. Kakinya perlahan melangkah menuju kamarnya.


"Aus, Buna..." ucapnya. (Haus, Bunda)


"Iya, Nak. Ayo kita ambil minum dulu di dapur." Rina berbelok, sebelum ke kamar ia ingin mengambil air minum dulu untuk anaknya yang haus.


Sampainya di dalam kamar, Rina menurunkan Reyhan di atas tempat tidur yang empuk. Walaupun di rumah ini ia bekerja sebagai pembantu, tapi Radi memberikannya sebuah kamar yang bagus, tidak seperti di sinetron yang mana seorang pembantu akan mendapatkan kamar kecil, pengap dan berdebu.


Rumah besar milik Radi memiliki banyak kamar, jadi pria itu tidak masalah jika harus menempatkan asisten rumah tangganya di salah satu kamar bagus yang ada di sana. Hitung-hitung sebagai fasilitas untuk sang ART agar betah bekerja dengannya.


Rina tersenyum melihat Reyhan yang sudah lelap tidur dengan kepala beralaskan bantal empuk. Ia merasa bahagia karena Reyhan bisa merasakan kenyamanan seperti ini, soalnya di kampung hidup mereka serba kekurangan.


"Bunda menyayangimu, Nak." Rina mengecup kening sang anak.


Terkadang, terbesit rasa sedih dalam hati Rina karena Reyhan tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Jangankan merasakan perasaan itu, melihat sosok pria yang disebut ayah itu saja dia tidak pernah. Kasihan sekali anaknya. Sejak di dalam kandungan sudah ditinggal pergi oleh ayahnya yang memilih pergi merantau ke ibu kota.


"Mas Deni, apakah kau tidak merindukan anakmu ini?" lirih Rina, teringat akan mantan suaminya yang telah berkhianat.


Satu setengah tahun yang lalu, saat Reyhan masih berumur enam bulan. Rina datang ke kota untuk mencari keberadaan suaminya yang tidak pernah kembali lagi ke kampung. Ia menanyai semua teman Deni, tentang di mana keberadaan suaminya itu. Dan, di saat Rina sudah putus asa karena tak kunjung mendapatkan kabar, datanglah seorang teman Deni dan memberitahukan alamat pria itu di kota.


Berbekal uang seadanya, Rina pergi ke alamat yang dituju. Sampai di sana, ia menemukan suaminya bekerja di sebuah warung makan kecil di pinggir jalan. Rina langsung menghampiri dan memeluk pria yang sangat dirindukannya itu. Namun, tanpa disangka, seorang wanita datang dan melepas paksa pelukannya.


Rina marah dan bertanya kenapa wanita itu lancang melepas pelukan rindunya pada sanh suami. Namun, apa yang didengarnya kemudian sungguh membuatnya mati berdiri. Ternyata, wanita itu adalah pemilik warung dan merupakan istri kedua suaminya. Belakangan diketahui jika wanita itu adalah janda beranak dua.


Saat itu Rina sangat marah, ia mengamuk Deni dan istri mudanya itu. Dua orang yang mendapatkan kemarahannya hanya bisa terdiam malu, karena beberapa pengunjung di warung menyaksikan pertengkaran mereka. Deni yang tak sanggup lagi menahan malu, memilih untuk menalak Rina didukung dengan hasutan istri mudanya yang terlihat sedikit lebih tua dari mereka. Saat itu perasaan Rina hancur lebur, ia kembali ke kampung dengan hati yang tak lagi utuh. Karena separuh hatinya sudah ia berikan kepada Deni, si pengkhianat.

__ADS_1


"Sudahlah, Rina! Jangan pikirkan pengkhianat itu lagi. Saat ini kau harus fokus bekerja dan membesarkan Reyhan agar kelak ia menjadi pria baik dan sukses."


.......


Sore ini setelah pulang dari kantor, Radi mengunjungi rumah Ajeng. Ia rindu ingin bermain dengan putrinya. Sebelum ke sana, pria itu terlebih dahulu mampir ke toko mainan dan membeli banyak maianan.


"Selamat sore, Jeng..." sapa Radi. Pria itu kemudian melirik sejenak pada Cakra yang duduk di sebelah Ajeng, sedang memangku Dira. "Kenapa pria ini selalu stand by di samping Ajeng, apa dia tidak punya pekerjaan lain?" Dalam hati Radi mendongkol.


"Hai, Bro!" Mau tak mau, Radi menyapa Cakra. Ia duduk setelah dipersilakan tuan rumah.


"Dira sama ayah dulu, ya..." Cakra yang paham langsung menyerahkan Dira pada Radi.


"Hai, anak ayah yang paling cantik." Radi mengecup kedua pipi gadis kecilnya dengan sayang. Ia kemudian menjangkau bungkus mainan yang dibawanya tadi. "Lihat ayah bawa apa untukmu!" Radi menunjukkan sebuah boneka kelinci yang berwarna pink ke hadapan anaknya.


"Hai, Dira. Aku Rabbit..." ucap Radi dengan suara yang dibuat seimut mungkin.


Dira tersenyum, tangan kecilnya berusaha menggapai boneka tersebut.


Ajeng dan Cakra yang melihat itu ikut tersenyum.


"Aku ke belakang sebentar, ya?" pamit Ajeng. Meninggalkan dua pria dewasa dan seorang bayi di ruang tengah tersebut.


.......


Dira sudah tidur di kamar, kini saatnya bagi tiga orang dewasa itu untuk berbicara serius. Ajeng dan Cakra memutuskan untuk menberitahu Radi mengenai pertunangan mereka bulan depan. Bagaimanapun juga, terlepas dari masa lalu keduanya, Radi tetaplah kakak Ajeng.


"Kak, aku dan Cakra akan bertunangan bulan depan."


Radi kaget mendengarnya, tapi walaupun begitu, ia sudah menyiapkan diri dari jauh-jauh hari akan datangnya hari ini.


"Ya, sebagai kakaknya Ajeng, aku ingin meminta restumu untuk bisa mempersunting kekasih hatiku." Cakra menambahkan.


Radi terdiam, ia merasakan sakit di hatinya, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Bukankah sekarang, kebahagiaan Ajeng adalah kebahagiaannya juga. Jadi tak ada alasan untuk tidak memberi restu.


"Iya, aku merestui kalian. Semoga berbahagia..." ucap Radi tulus. Ia berusaha keras menyingkirkan perasaan sakit yang menyesakkan dadanya.


"Terima kasih, Kak." Ajeng memeluk Radi dengan erat.


"Apapun untuk adikku yang tersayang..." balasnya.


.......


Radi sampai di rumahnya tepat pada pukul delapan malam. Rina menyambut kedatangannya.


"Selamat malam, Tuan."


"Malam." Radi berjalan masuk. Saat melewati ruang makan, ia melihat jika di atas meja sudah tersaji makan malam.


"Oh, ya. Di mana putramu?" tanya Radi.

__ADS_1


"Dia sedang bermain di kamar, Tuan." Jawaban Rina membuat Radi teringat sesuatu.


"Ambil ini!" Radi menyerahkan kunci mobilnya.


Rina menerima kunci itu dengan kening berkerut. "Untuk apa kunci ini, Tuan?"


"Kau bisa membuka mobil, kan?" tanya Radi dan dibalas anggukkan Rina.


"Ada sebuah bungkusan di atas kursi penumpang. Ambil itu untuk anakmu!" katanya lantas pergi.


Rina masih terdiam mencoba mencerna apa yang dikatakan majikannya.


"Oh ya..." Radi berbalik. "Aku sudah makan malam di luar. Makanan di atas meja kau makan saja bersama dengan anakmu!"


.......


Rina menyuapi Reyhan di dapur. Anaknya itu sangat senang sekali karena mendapatkan hadiah berupa mobil-mobilan dan juga robot dari Radi, kini dia tengah memainkannya dengan gembira.


"Buna, obil au ewat..." Reyhan menjalankan mobilnya di lantai vinyl. Ia bergerak ke sana kemari. (Bunda, mobil mau lewat)


Wanita itu sungguh terharu, ia tidak pernah melihat anaknya sebahagia ini.


"Buka mulutnya dulu sayang?" Rina menyendokkan nasi beserta daging ayam ke mulut Reyhan. Makanan yang sangat jarang sekali dinikmati anaknya.


"Enak, Buna..." katanya. (Enak, Bunda)


"Iya, Nak. Makan yang banyak ya, agar Reyhan cepat sehat."


"Ya..." Balita itu mengangguk dan melanjutkan mainnya.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Radi yang akan mengambil minum di dapur, heran melihat Rina yang duduk lesehan di lantai dapur.


"Saya sedang makan, Tuan."


Reyhan yang melihat kedatangan Radi langsung bersembunyi di balik punggung sang ibu. Ia takut bertemu dengan orang baru.


"Lain kali makanlah di meja makan!" kata Radi. Ia mengambil sebotol air mineral di dalam kulkas lalu membawanya pergi.


"I-iya, Tuan."


"Buna, oom tu syapa?" tanya Reyhan begitu Radi telah pergi. (Bunda, om itu siapa?)


"Om itu adalah majikan bunda, sayang. Reyhan harus memanggilnya tuan, ya?" Rina mengajarkan.


"Uan..." ucapnya. (Tuan)


"Ya sudah, ayo kita makan lagi."


...Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like & Comment


Terima kasih😊


__ADS_2