2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Queasy


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Cakra sampai di ruangan kantornya. Berjalan dari lobby sampai ke ruangannya yang berada di tingkat atas membuat tubuhnya terasa panas. Ia membuka jas navy yang digunakannya dan menyampirkannya di sandaran kursi kerja. Tidak hanya itu, saking panasnya ia juga melonggarkan dasi dan membuka dua kancing kemeja teratasnya. Padahal, tidak perlu seribet itu, ia hanya harus menaikkan suhu pendingin ruangan dan panas pun akan hilang.


Tok... tok... tok...


Baru saja mendaratkan tubuh di kursi kebesarannya, suara ketukan pintu terdengar. "Masuk!" titah Cakra. Ia tahu jika yang datang adalah sekretarisnya, Dhika, oleh sebab itu, ia tidak memperbaiki penampilannya saat ini.


"Pak, isi dari Email semalam sudah saya print out, tinggal ditandatangani saja." Dhika menyerahkan sebuah dokumen ke hadapan bosnya.


Membacanya sekilas, baru setelah itu Cakra membubuhkan tanda tangan di atas kertas yang diberikan sekretarisnya tersebut.


"Terima kasih, Pak." Dhika mengambil kembali dokumen yang telah ditandatangani Cakra. "Kalau begitu saya permisi," pamitnya.


Cakra mengangguk. "Oh ya, tolong perintahkan OB untuk membawakanku segelas es jeruk dengan es yang banyak. Entah kenapa pagi ini terasa sangat panas," pinta Cakra sembari mengimbas kerah kemejanya.


Gerakan yang dilakukan Cakra, membuat Dhika terdiam. Ia meneliti penampilan sang bos yang sedikit berantakan. Biasanya sang bos akan selalu terlihat rapi di pagi hari, tapi kini... Pria dengan anak satu itu kemudian tersenyum begitu menyadari ada sesuatu yang berbeda pada bosnya. Di sepanjang leher putih pria itu terdapat banyak tanda merah bekas gigitan. Oh, Dhika sebagai seorang pria yang telah menikah, tahu betul itu tanda apa.


"Baik, Pak. Kalau begitu saya undur diri."


.......


Seminggu setelah menonton video mendiang putranya, Fadhil mengajak seluruh keluarganya untuk berkunjung ke kota di mana Disa menetap. Selain untuk bersilaturrahmi, mereka juga ingin berziarah ke makam sang anak.


Waktu pergi menemui Disa di kontrakannya saat itu, Maya juga sekalian meminta alamat rumah wanita itu di kota M. Dan sekarang di sinilah mereka berada, di depan sebuah rumah bertingkat satu yang terlihat sangat asri. Ada banyak pohon dan bunga yang tumbuh di sekitarnya. Jauh sekali dari hiruk pikuk kehidupan perkotaan.


Disa dan keluarga sedikit kaget dengan kedatangan tamu dari Ibu Kota tersebut, namun mereka tetap menyambutnya dengan baik. Kei dan Aqilla sangat bahagia ketika bertemu, padahal baru seminggu berpisah. Dua anak gadis itu memisahkan diri dari para orang dewasa untuk bisa bermain di dalam kamar. Tak lupa Kei juga mengajak serta adiknya.


Hari itu, Fadhil dan Disa memilih berdamai. Semua masa lalu kelam sudah mereka kubur bersama jasad sang anak. Kini, keduanya hanya akan menatap masa depan bersama keluarga masing-masing.


"Sa, bawa aku ke makam Haikal!" pinta Fadhil.


"Iya, Mas. Mari kita pergi bersama-sama."


Di pemakaman, air mata semua orang jatuh saat mendengar suara sedih bercampur tangis Fadhil yang mencoba mengajak jasad putranya yang sudah terkubur di dalam tanah, berbicara. Sembari memeluk nisan Haikal, Fadhil terus mengucapkan betapa sayang dan cintanya ia pada mendiang putranya itu.


"Mas, sudah, ya... yang sabar. Haikal pasti sedih melihat ayahnya menangis. Berdo'alah untuknya, agar di atas sana, ia bisa tersenyum bahagia." Maya setia berada di samping suaminya, menguatkan.


Selesai bertangis ria, mereka memanjatkan do'a yang dipimpin oleh Fadhil. Semuanya tampak khusyuk, berharap do'a itu sampai pada Haikal yang sudah bahagia di sisi Tuhan.


.......


"Sayang, bangun! Ini sudah pagi!"


Tidur Maya terusik saat mendengar bisikan Fadhil yang membangunkannya dari tidur.


"5 menit lagi, ya..." lirih Maya yang masih terpejam. Bukannya bangun, ia justru menarik selimut untuk menutupi wajahnya.


"Hei, ini sudah jam 7. Tak biasanya kau bangun terlambat." Fadhil menarik selimut yang menyembunyikan muka bantal istrinya.


"Ck..." Maya berdecak kesal. "Aku masih mengantuk loh, Mas. Ini juga salahmu karena semalam tidak membiarkanku tidur, jadi... biarkan aku tidur,


sekarang, please!"


Fadhil terkekeh. "Baiklah, terserahmu saja, sayang." Ia mengecup pipi istrinya, lalu segera keluar kamar untuk sarapan.


Meja makan...


"Loh, di mana Maya?" tanya Bu Maryam yang sedang menyiapkan sarapan. Biasanya, sang menantu sudah akan sibuk di jam seperti ini.

__ADS_1


"Tidur, Bu. Sepertinya kelelahan," jawab Fadhil. Pria itu mendekati kedua anaknya yang sudah anteng di kursi masing-masing. Ia menciumi keningnya satu persatu-satu. "Pagi anak-anak, Papa..." sapanya.


"Pagi, Papa..." balas Kei dengan senyuman secerah Matahari.


"Bbaa...baa..." Sementara Lingga hanya bisa berceloteh tidak jelas.


"Ya sudah, sekarang kita mulai sarapannya." Bu Maryam menyuguhkan sarapan untuk ketiganya. Fadhil dan Kei diberikannya sepiring nasi goreng, sementara Lingga, sebotol susu dan juga biskuit bayi.


.......


Jam sebelas, Maya baru keluar dari kamar. Ia melihat suaminya sedang bermain dengan kedua anaknya di ruang tamu. Mereka bernyanyi dan menari mengikuti alunan lagu anak-anak yang sedang diputar di televisi.


"Mama, ayo kita bernyanyi bersama..." sorak Kei begitu melihat kemunculan Maya.


"Mma...mma...." Lingga pun ikut memanggilnya.


Maya tersenyum dan menghampiri tiga orang yang sangat disayanginya itu.


"Huekk... " Baru saja ia duduk di samping sang suami, Maya langsung mual. Ia lekas berdiri dan menjauh.


"Kenapa, sayang?" Fadhil yang khawatir segera menghampiri Maya.


"Huek... huek..." Maya menutup hidung. "Jangan mendekat, Mas!" peringatnya.


Fadhil tercengang. "Loh, memangnya kenapa? Ada apa denganmu?" Tak menghiraukan peringatan istrinya, Fadhil malah semakin mendekat.


"Huek... baumu busuk sekali, Mas... Huek." Maya langsung berlari ke kamar mandi.


Melihat itu, Fadhil mengejarnya istrinya ke kamar mandi, sementara Kei yang juga khawatir hanya bisa tetap di tempat karena tidak ingin meninggalkan sang adik.


"Loh, papamu di mana, Nak?" tanya Maryam yang datang dari dapur membawa camilan.


"Muntah? Kenapa mamamu muntah, Nak? Apa dia sakit?" Bu Maryam ikut khawatir.


Kei menggeleng. "Kata mama, bau papa busuk, makanya mama muntah. Padahal tadi Kei cium, papa wangi kok, Nek. Kenapa mama bilang busuk, ya?" pikir gadis kecil itu heran.


Mendengar penjelasan cucunya, senyum bahagia terbit di wajah tua Bu Maryam. "Aku punya cucu lagi..." pekiknya girang. Wanita tua itu segera meminta sopirnya untuk membelikan testpack di apotek terdekat.


Di kamar mandi...


"Huekk... huekk..." Maya memuntahkan cairan bening ke wastafel. Ia merasa sangat mual setelah mencium aroma tubuh suaminya.


"Sayang, kau kenapa?" Fadhil ada di belakang Maya, mengusap-usap punggung wanita itu.


"Menjauh, Mas. Menjauh!" jerit Maya. "Huekk... baumu membuat perutku mual, huekk..."


Fadhil sontak menjauh. Ia segera membaui aroma tubuhnya. "Tidak bau..." pikirnya.


Setelah Fadhil menjauh, baru Maya merasa lega. Ia menatap tajam suaminya. "Mas belum mandi, ya?" tuduhnya.


"Enak saja. Pagi-Pagi sekali mas sudah mandi, ya," sanggah Fadhil tak terima. Lagi pula, mana mungkin dia tidak mandi karena semalam sudah mengeluarkan keringat berliter-liter, pasti asem.


Mata Maya menyipit. "Kalau begitu, ini pasti karena parfum yang mas pakai. Aromanya sama sekali tidak enak!"


Fadhil mengernyit. "Mas tidak pakai parfum, kok. Cuma pakai deodoran saja."


Maya tidak percaya, ia sedikit melangkah mendekati Fadhil. "Huekk..." Lagi-lagi, ia merasakan mual yang tak tertahankan. "Busuk, Mas. Baumu seperti baju yang direndam selama seminggu!" protes Maya.


Sudut bibir Fadhil berkedut. Enak saja baunya dibilang seperti cucian yang direndam seminggu. "Sayang, ayo kita ke dokter THT. Ku rasa ada yang salah dengan indra penciumanmu." Pria itu mendekat.

__ADS_1


"Huek... huek..."


"Ya ampun..." Fadhil menjauh seraya mengurut pelipisnya, pusing.


Tak lama kemudian, Bu Maryam masuk. "May, segera lakukan tes!" Disodorkannya beberapa testpack berbeda merk.


Fadhil dan Maya saling berpandangan.


"Ya Tuhan..." pekik Maya. "Aku sudah telat selama sebulan!"


"Cepat tes, May!" pinta Bu Maryam tak sabar.


"Iya, Bu." Maya mengambil testpack tersebut, sementara Fadhil dan ibunya keluar kamar mandi.


Keduanya menunggu dengan harap-harap cemas.


"Bu, apa aku akan memiliki anak lagi?" tanya Fadhil gugup.


"Semoga, Nak. Berdo'alah!"


Cklekk


Maya keluar dari kamar mandi dengan bersimbah air mata. "Mas Fadhil, Ibu..." isaknya.


"Bagaimana hasilnya, May?" Bu Maryam mendekat. Fadhil yang ikut melangkah segera dihentikan ibunya. "Jangan! Nanti istrimu mual lagi."


Fadhil pasrah, hanya bisa melihat dari jarak dua meter.


Bu Maryam merebut semua testpack dari tangan Maya. Wajah tua itu langsung sumringah. "Alhamdulillah, cucu ibu akan bertambah, Dhil!" pekiknya senang.


Fadhil yang mendengarnya langsung sujud syukur. "Terima kasih, ya Tuhan."


"Segera bawa istrimu ke dokter kandungan untuk diperiksa. Ibu tidak ingin terjadi apa-apa dengan calon cucu ibu!" titah Bu Maryam.


"Iya, Bu..." angguk Fadhil.


"Mas, mau peluk!" rengek Maya.


"Tapi..." Fadhil ragu, takut Maya akan mual lagi mencium baunya.


"Peluk, Mas!" Maya langsung menerjang tubuh suaminya.


Fahdil terdiam, melihat Maya yang tidak protes, ia pun membalas pelukan istrinya tak kalah erat. "Terima kasih ya, sayang..."


"Hm..." Maya menyembunyikan wajah di dada suaminya. "Tubuh mas harum, aku suka..." Dipeluknya semakin erat.


What the....?


Fadhil shock.


...To be Continued...


No Edit


Kayaknya tinggal beberapa bab lagi aja deh...


Jangan lupa like, vote and comment


Terima kasih sudah membaca🙏🏻😊

__ADS_1


__ADS_2