2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Season 2 - 14. Dilarang Pacaran


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Tiga hari berlalu, selama itu Dira terus mencoba menghindar dari Lingga. Ia merasa gugup bertemu cowok itu dan juga belum mempunyai balasan pasti atas pernyataan cintanya waktu itu.


"Lo kenapa sih, Ra? Kayak orang yang ingin ditagih hutang aja, ngumpet sambil celingak-celinguk kayak gitu?" Hanna heran melihat tingkah lain dari sahabatnya yang tidak biasa.


"Eh? Nggak apa-apa, kok. Kita kembali ke kelas aja, yuk? Gue nggak bisa lama-lama berada di sini!" ajaknya.


Hanna dan Luna saling berpandangan. Tumben sekali Dira tidak betah berada di kantin, padahal kantin adalah tempat mereka biasa bersantai sembari menikmati jajanan.


"Ayo!" Dira terlihat buru-buru. Sesekali gadis itu melirik ke pintu masuk kantin, takut-takut orang yang tidak diharapkannya melewati pintu itu.


Luna dan Hanna mengiyakan. Mereka mengikuti langkah Dira yang sudah berjalan terlebih dahulu.


"Dira kenapa, sih? Aneh banget!" bisik Luna.


"Gue nggak tahu, udah tiga hari ini tingkahnya aneh. Persisnya sih setelah dia bertemu dan bicara dengan Lingga waktu itu." Hanna menjawab dengan bisikan agar tidak terdengar oleh Dira yang berjalan di depan mereka.


"Hm... apa ada sesuatu yang terjadi pada mereka?" celetuk Luna.


"Mungkin aja..."


Sementara Dira terus berjalan dengan langkah cepat menuju kelasnya. Ia menoleh ke kanan dan kiri dengan awas.


"Dira!"


Deg


Tubuh Dira menegang. Keasyikan menengok kanan dan kiri, ia tidak sadar jika sosok yang dihindarinya justru datang dari depan.


"Kabur!" pekiknya dalam hati. Tanpa menghiraukan si pemanggil dan dua sahabatnya, Dira langsung melesat kencang pergi entah ke mana.


Lingga menatap kepergian Dira dengan wajah murung, sementara Hanna dan Luna malah melongo. Sekarang kedua gadis itu yakin bahwa Dira sedang menghindari Lingga. Apa penyebabnya, mereka tidak tahu.


Hanna menyikut lengan Luna. "Kita tanya Lingga, yuk!" bisiknya.


Akhirnya, dua sahabat Dira itu menghampiri Lingga yang masih berdiri mematung di tempatnya.


"Kenapa nggak Lo kejar, Ngga?" tanya Luna.


Lingga menggeleng. "Mungkin Dira nggak mau ketemu gue, makanya dia kabur. Kalau gini jadinya, mending nggak usah gue nembak dia waktu itu." Cowok itu menghela napas berat.


Hanna dan Luna melotot. "Lo nembak Dira?" pekik keduanya.


Lingga hanya mengangguk. "Kalau gitu gue duluan, ya." Ia berlalu dari sana. Ingin menenangkan hati yang sedikit terluka.


Hanna dan Luna menatap sedih ke arah Lingga yang tampak tak bersemangat. Lihat saja, punggung yang biasanya berdiri tegap, kini justru membungkuk layu.


"Kasihan Lingga di PHP-in..." gumam Hanna.


"Eh? Mending sekarang kita nyusul Dira. Entah ke mana tuh anak kaburnya."


...----------------...

__ADS_1


Sekarang Dira berada di ruang UKS. Entah kenapa, ia malah kabur ke ruangan kesehatan itu. Di salah satu bilik yang ditutupi tirai, ia bersembunyi.


"Semoga Lingga nggak ngejar gue sampai ke sini..." pikirnya.


Kadang Dira merasa aneh dengan dirinya sendiri. Seperti bocah yang main kabur-kaburan dan tak berani menghadapi masalah. Sampai kapan ia harus main kucing-kucingan seperti ini dengan Lingga. Kasihan cowok itu yang tengah menanti jawaban darinya.


"Eh? Gue kesel banget tahu, nggak!"


Sayup-sayup Dira mendengar suara yang mendekat.


"Lo kesel kenapa, Fan?" Suara lainnya menjawab.


"Lo tahu 'kan, kalau gue suka sama Lingga? Tapi saat gue nembak dia tiga hari yang lalu, gue ditolak dong..." Terdengar nada kesal dalam suara cewek yang dipanggil Fan oleh temannya.


Dira tersentak begitu nama Lingga disebut oleh orang yang ada di luar biliknya.


"Bukannya Lo udah punya pacar, ya? Lo lagi LDR-an 'kan sama pacar Lo?"


"Ya nggak apa-apa. Lagi pula Lingga itu ganteng, pintar dan gue rasa dia berasal dari keluarga yang kaya, sayang dong kalau nggak bisa dipacarin. Rencananya sih, kalau dia nerima gue, gue bakal putusin pacar gue yang sekarang."


"Cewek freak!" Dira mengumpat dalam hati. Sekarang ia yakin jika cewek yang berada di luar sana adalah Fanny, cewek berkacamata yang suka menempel pada Lingga.


"Gue rasa, Lingga nolak gue karena cewek IPA itu, deh." Pembicaraan itu masih berlanjut, dan Dira masih setia mendengarkan.


"Cewek IPA yang Lo maksud itu adalah gue, asal Lo tahu!" sorak Dira dalam hati.


"Biarin aja, sih. Lo bertahan aja sama cowok Lo yang sekarang. Nggak baik tahu selingkuh!"


"Eh, udah ketemu belum minyak kayu putihnya?" tanya Fanny.


"Udah."


Beberapa detik kemudian, terdengar suara langkah yang menjauh. Dira langsung menghembuskan napas lega dan bertepatan dengan bel masuk yang berbunyi.


"Pasti Sekarang Lingga sudah masuk kelas, jadi gue nggak akan ketemu dia di lorong." Dira pun memutuskan untuk masuk ke kelas.


...****************...


Ajeng, Cakra, Dira dan si kembar saat ini sedang duduk bersantai di ruang tengah. Mereka semua tengah menonton film Disney terbaru.


Semua terlihat antusias, sementara Dira hanya duduk termenung dengan pikiran entah ke mana.


"Kamu kenapa, Kak?" Cakra yang menyadari hal itu, langsung bertanya.


"Eh? Aku nggak apa-apa kok, Pa." Dira tersenyum meyakinkan.


"Kenapa, sayang? Kalau ada yang sedang mengganggu pikiranmu, ceritakan saja pada papa dan mama, mana tahu setelah bercerita, hatimu bisa menjadi tenang." Ajeng menambahkan.


Si kembar yang duduk lesehan di karpet terlihat begitu asyik dengan layar televisi hingga tak menghiraukan perbincangan di sofa belakangnya.


Dira terdiam dan mulai berpikir. Orang tuanya tidak mengizinkan ia untuk berpacaran karena masalah waktu itu. Lalu, bagaimana caranya ia bisa menerima Lingga menjadi kekasihnya. Jika orang tuanya tidak ridho, maka hubungannya pun pasti tidak akan mulus. Haruskah ia meminta izin untuk diperbolehkan berpacaran dengan Lingga? Eh... tunggu! Apakah ia telah yakin untuk menerima cinta Lingga? Hm... jujur saja, Dira mulia menaruh perhatian pada cowok itu.


"Nak!" Cakra menepuk bahu Dira yang termenung.

__ADS_1


Dira terperanjat. "Y-ya, Pa?"


Cakra dan Ajeng menatap putri sulungnya heran. "Kok melamun?" tanya Ajeng.


"Pa... Ma... aku..."


Dira menatap kedua orang tuanya bergantian...


Haruskah ia meminta izin?


Bagaimana jika tidak diizinkan? Berarti ia harus menolak Lingga, dong? Kenapa rasanya tidak rela ya, jika harus menolak cinta Lingga.


"Ma, Pa... apa aku boleh pacaran?" Dira memejamkan mata setelah mengutarakan pertanyaannya. Itu ia lakukan karena tidak siap melihat reaksi kedua orang tuanya.


Deg


"Apa? Pacaran lagi?" Ajeng memekik kaget dan hal itu mengundang perhatian si kembar. Mereka berdua menoleh ke belakang dan melihat ketegangan di sana.


Dira merutuki kebodohannya, seharusnya ia tidak bertanya karena sedari awal ia sendiri sudah tahu jika akan begini akhirnya.


"Enggak ya, Kak. Tidak ada yang namanya pacar-pacaran. Mama nggak mau kamu sakit hati lagi kayak yang kemarin itu." Dengan tegas Ajeng menolak permintaan anaknya.


"Sabar, sayang..." Cakra mengelus lengan istrinya yang tampak sedikit emosi.


"Kalian juga, nggak ada yang boleh pacaran! Mama akan izinkan kalian pacaran jika sudah mendapatkan gelar sarjana. Paham!" Ajeng memberikan ultimatum. Itu berlaku untuk semua anak-anaknya.


Arsha dan Arsyi yang tidak tahu duduk masalahnya hanya bisa menelan ludah susah payah. Baru kali ini mereka melihat sang ibu bertingkah seperti ini. Cukup mengerikan.


Cakra menatap anak-anaknya satu persatu, ia memberikan kode agar mereka semua mengangguk, mengiyakan perkataan Ajeng.


"I-iya Ma..." Akhirnya dengan kompak ketiga anak itu bersuara.


"Bagus! Kalau begitu cepat masuk ke kamar kalian dan tidur!" titahnya.


Dira, Arsha dan Arsyi langsung melesat ke kamar masing-masing meninggalkan Cakra dan Ajeng yang masih duduk di sofa ruang tengah.


"Kamu lagi kedatangan tamu bulanan ya, sayang? Sensian banget, kasihan lho anak-anak dimarahi kayak gitu?" ucap Cakra.


Ajeng mendelik. "Tamu bulanan? Kamu mulai pikun ya, Mas? Nggak ingat kejadian sore tadi di kamar mandi?" tanyanya ketus.


Cakra cengengesan. "Ingat dong, sayang. Masa momen mengasyikkan itu bisa mas lupakan begitu saja. Rencananya malam ini mas mau minta lagi..."


"Nggak ada, aku capek, ngantuk, mau tidur!" Ajeng bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam kamar.


"Gagal, deh..." Cakra mendesah kecewa.


...Bersambung...


Jangan lupa Like, Vote & Comment


Terima kasih sudah membaca 🙏🏻😊


Maaf ya, kalau ceritanya mulai membosankan. Bagi ya masih setia membaca, ku ucapkan terima kasih banyak.🙂

__ADS_1


__ADS_2