2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Season 2 - 15. Melanggar Aturan


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Di sekolah, Dira lebih sering melamun. Pikirannya dipenuhi oleh Lingga, tentang bagaimana cara ia akan menjawab perasaan cowok itu sementara ibunya sendiri sudah melarang keras dirinya untuk berpacaran.


Melihat sahabat mereka yang tidak bersemangat, Hanna dan Luna merencanakan jalan-jalan akhir pekan ini, sekalian untuk refreshing dan juga menenangkan pikiran. Sebulan lagi mereka akan melaksanakan ujian akhir, jadi tidak ada salahnya untuk berlibur sejenak, menghilangkan suntuk karena aktivitas sekolah yang lumayan padat belakangan ini.


"Ra, hari minggu besok kita jalan-jalan, yuk!" Hanna segera mengutarakan niatnya.


Dira menoleh. "Hm... mau ke mana?" tanyanya dengan wajah tak terlalu tertarik.


"Ke pantai, gimana?" usul Luna. "Nanti gue ajak Yovan dan Hanna ajak Gio. Lebih rame, lebih asyik."


Mendengar usulan Luna, Dira langsung mendelik sebal. "Bagus, kalian berdua bisa bermesraan sama pasangan masing-masing sementara gue? Gue bakal merana seorang diri menyaksikan kemesraan kalian. Huh... nggak deh, skip gue." Dira menolak usulan dari kedua sahabatnya. Bukannya bersenang-senang, yang ada nanti ia akan makan hati.


"Ya udah, deh. Gimana kalau kita ke mall aja? Shopping sekalian nyalon atau ke spa gitu?" Kali ini Hanna yang mengusulkan.


"Ok, deh." Dira merasa jika ide itu tidak terlalu buruk. Sudah lama ia tidak ke spa, dan sepertinya tubuhnya perlu sedikit relaksasi.


......................


Saat jam istirahat, Dira memilih berdiam diri di dalam kelas, sementara kedua temannya pergi ke kantin dengan pasangan masing-masing. Beginilah jadinya jika tidak punya pacar, kesepian, tidak ada yang menemani maupun mengajak makan. Tiba-tiba, Dira jadi teringat pada Alvin. Rasanya sudah lama ia tidak bertemu dengan mantannya itu. Biasanya, mereka sering menghabiskan waktu istirahat sekolah bersama. Apakah itu di kantin untuk makan, atau di taman sekedar berbincang ringan. Huh... Dira jadi merindukan masa-masa seperti itu. Bukan rindu pada Alvin, tapi pada momennya. Andaikan ia boleh pacaran, pasti saat ini ia tidak akan merasa kesepian di kelas seorang diri.


Suntuk, Dira memutuskan untuk keluar kelas. Ia akan berjalan-jalan sebentar di sekitar taman. Cuaca tidak terlalu terik hingga banyak siswa-siswi yang duduk bersantai di taman.


Deg


Dira menghentikan langkah ketika ia melihat sosok yang dikenalinya duduk di salah satu bangku, seorang diri. Tampak sekali cowok tampan itu tengah serius dengan buku yang dibacanya.


"Ah, jika sedang serius seperti itu, dia terlihat semakin tampan," gumam Dira, terpesona.


Cukup lama memandang si cowok, tiba-tiba seseorang datang merusak pemandangan. Dia adalah Fanny, yang muncul dan duduk seenaknya di samping si cowok yang tak lain adalah Lingga. Kelihatan sekali cewek centil itu berusaha mendekatkan diri pada Lingga dan mengambil perhatiannya.


"Playgirl, udah tahu punya cowok, masih aja deketin cowok lain!" gerutu Dira. Ia masih mengingat jelas perbincangan Fanny dan temannya saat di UKS kemarin.


Dira masih memperhatikan interaksi dua orang itu. Ia tersenyum puas saat melihat Lingga tidak terlalu menggubris kehadiran Fanny, terbukti dengan atensinya yang tidak teralihkan dari buku yang dibacanya.


Deg


Mata Dira melotot ketika melihat tangan Fanny sudah bertenger di pundak Lingga. Wajah cewek itu pun perlahan mendekat. Dia terlihat ingin mengecup Lingga tepat di pipinya. Dira yang merasa kesal, tanpa sadar berjalan mendekati dua orang tersebut. Ia tidak ingin jika niat busuk Fanny sampai kejadian. Sedikit lagi... Dira mempercepat langkahnya.


"Lingga!" serunya lantang.


Si cowok yang merasa terpanggil langsung menoleh, apalagi ia begitu mengenali suara itu.


"Dira!" Lingga bangkit dari duduknya dan segera melangkah mendekati Dira yang berdiri tidak jauh darinya.


Dira bisa melihat dengan jelas jika saat ini wajah Fanny memberengut. Dia pasti sangat kesal karena niat tidak baiknya pada Lingga telah digagalkan.


"Dira, ada apa? Kok kamu tahu aku ada di sini?" tanya Lingga dengan suara lembut. Buku yang semula dibacanya pun sudah ditutup.


Melihat wajah tampan Lingga dari dekat, dada Dira mulai berdebar. Ia telah menyadari jika dirinya menyukai cowok di depannya ini, tapi... larangan Ajeng membuatnya dilema. Apakah ia harus menentang aturan ibunya dan menerima cinta Lingga?


"Ra! Kamu kenapa?" tanya Lingga saat melihat Dira hanyut dalam pikirannya.


"Hm, aku nggak apa-apa kok, Ngga." Dira menggeleng, pertanda jika ia baik-baik saja.

__ADS_1


Hening, baik Lingga maupun Dira hanya diam di tempat. Sementara Fanny sudah berlalu pergi karena malas melihat kedekatan mereka.


"Ra, maafkan aku." Lingga berucap setelah sekian lama.


Dira mengangkat kepala dan menatap Lingga. "Maaf buat apa, Ngga? Kamu 'kan nggak punya salah apapun padaku," balasnya.


Lingga tertunduk. "Pernyataan cintaku waktu itu, pasti telah membebanimu. Jika kamu merasa terganggu, lebih baik kamu lupakan saja. Aku tidak ingin kamu menjauhiku karena hal itu. Lebih baik seperti ini saja, asal bisa dekat denganmu, aku sudah bahagia," jelasnya.


Dira terenyuh, ia tidak menyangka jika Lingga benar-benar memikirkan tentang dirinya. "Ngga, aku..." Ia sangat ingin mengatakan jika dirinya sama sekali tidak terganggu, justru ia senang dengan pengakuan cinta Lingga, tapi kenapa lidahnya terasa kelu dan tak bisa melanjutkan kata-kata.


"Mungkin benar katamu, kita sepupu dan sebaiknya tetap seperti itu," ucap Lingga lirih.


Deg


Dada Dira berdenyut nyeri mendengar kepasrahan Lingga. Ia merasa sedih sekaligus kecewa.


"Kalau begitu, aku pergi dulu. Mulai besok, jangan menghindariku lagi. Aku harap kita bisa seperti dulu."


Lingga berbalik dan bersiap pergi, tapi dengan cepat tangan Dira menahan lengannya. "Tunggu, Ngga!"


"Ada apa lagi, Ra?" tanya Lingga tanpa berbalik.


"Kamu mau pergi? Kamu bahkan belum mendengar jawabanku," ucap Dira sendu.


"Bukankah semuanya sudah jelas, kamu sama sekali tidak memiliki perasaan padaku."


Dira menggeleng. "Kamu salah, Ngga. A-aku menyukaimu. Beberapa hari ini aku telah memikirkannya. Sekarang aku sadar kalau aku juga memiliki perasaan yang sama padamu. Aku menyukaimu, Lingga!"


Lingga yang membelakangi Dira langsung mengembangkan senyum begitu mendengar penuturan gadis di belakangnya. Tidak sia-sia dirinya yang sedikit berakting untuk membuat Dira mau mengakui perasaannya. Lagi pula, seorang Lingga tidak akan menyerah dengan cintanya.


Deg


Dira yang tertunduk tiba-tiba dikagetkan dengan sebuah pelukan erat pada tubuhnya. Matanya membola ketika menyadari jika Lingga lah yang saat ini tengah mendekapnya.


"Ngga..."


"Makasih, Ra. Mulai saat ini aku akan menjaga dan menyayangimu."


Dira tersenyum dengan mata berkaca-kaca. "Ya, aku sayang kamu, Ngga."


"Aku lebih sayang kamu..."


Di balik pohon, empat pasang mata menyaksikan momen penyatuan cinta tersebut.


"Akhirnya, semoga Dira nggak galau lagi. Pusing gue lihatnya," celetuk Hanna.


"Hm, jadi minggu ini kita bisa ke pantai, dong? Secara Dira 'kan udah ada gandengannya," tanya Luna.


"Nggak, Beb. Lebih baik ke pantainya setelah ujian selesai. Nanti kita bisa menyewa resort dan berlibur lebih lama," sanggah Yovan.


"Benar kata Yovan, kalau sekarang lebih baik kita fokus belajar untuk ujian nanti," tambah Gio.


"Baiklah, ide bagus." Hanna dan Luna pun menyetujui.


......................

__ADS_1


Siang ini Cakra memutuskan untuk pulang ke rumah sekalian untuk makan siang bersama sang istri. Kebetulan pekerjaan di kantor tidak terlalu banyak jadi ia bisa sedikit bersantai.


"Di mana istriku, Bi?" tanya Cakra pada pelayan sepuh di rumah itu.


"Nyonya ada di kamar, Tuan. Sedang istirahat karena tadi nyonya mengeluh pusing dan juga mual."


Mendengar jawaban si pelayan, Cakra segera berlari memasuki kamar. Ia mendadak cemas, takut terjadi sesuatu pada istrinya.


Cklekk


Pintu terbuka. Cakra melihat Ajeng terbaring di atas tempat tidur. Wajah wanita itu terlihat pucat.


"Sayang..." Cakra sampai di samping tubuh Ajeng. Ia mengelus pelan kepala wanitanya.


Perlahan Ajeng membuka mata. "Kamu sudah pulang, Mas?" tanyanya dengan suara lemah.


"Iya, sayang."


"Berarti udah sore ya, Mas. Aku kelamaan tidur." Ajeng bangkit dan duduk bersandar di kepala tempat tidur. Kepalanya masih pusing dan tubuhnya semakin lemas saja, padahal sudah istirahat cukup lama.


"Belum, sayang. Ini masih pukul 12. Kamu kenapa, apanya yang sakit?" tanya Cakra lembut.


Ajeng memejamkan mata. Pusing di kepala membuat matanya berat untuk dibuka. "Pusing, Mas. Tadi pagi juga mual-mual. Perutku rasanya nggak enak," kadu Ajeng.


"Kita ke dokter, ya?" ajak Cakra.


Ajeng mengangguk. Rasanya ia memang butuh dokter.


"Tunggu sebentar, mas ambil baju ganti untukmu dulu." Cakra bergegas ke lemari dan mengambil sebuah midi dress simple berlengan panjang untuk Ajeng. Ia tidak ingin membawa Ajeng ke rumah sakit dengan memakai daster rumahan yang cukup terbuka seperti sekarang ini.


Dengan telaten, Cakra menggantikan baju Ajeng. Ia juga menyisir rambut istrinya yang sedikit kusut.


"Ayo, sayang." Setelah semua selesai, Cakra langsung menggendong Ajeng menuju mobil.


......................


Ajeng dibawa ke dokter umum. Ia berbaring di brankar untuk diperiksa. Sambil diperiksa, dokter juga bertanya beberapa pertanyaan menyangkut keluhan yang dirasakan wanita itu.


"Kalau boleh tahu, kapan terakhir kali Bu Ajeng datang bulan?" tanya si dokter.


Ajeng memejamkan mata sejenak seraya berpikir. "Hm, seingat saya bulan ini belum, Dok. Biasanya datang di awal bulan, tapi sekarang sudah akhir bulan."


Cakra hanya menyimak dalam diam. Matanya tak lepas menatap sang istri yang masih terlihat lemah.


Dokter tersebut menghentikan pemeriksaan dan beralih menatap Cakra. "Pak, sebaiknya Bu Ajeng dibawa ke dokter kandungan. Karena menurut saya, saat ini istri anda tengah mengandung."


Cakra melotot tak percaya, sementara mata Ajeng yang semula terpejam kini terbuka lebar.


"Apa, Dok?" seru mereka, serentak.


...Bersambung...


Jangan lupa Like, Vote dan Comment


Terima kasih sudah membaca 🙏🏻😊

__ADS_1


Maaf, lama banget baru update😣


__ADS_2