2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Season 2 - 46. Ancaman


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Cakra dan Arsy memasuki rumah dengan menentang banyak sekali bungkus makanan. Semua sudah menanti di ruang tamu kecuali Tyas, karena saat ini wanita lanjut usia itu menginap di rumah anak sulungnya.


"Banyak banget jajanannya, Mas, apa bakalan habis?" tanya Ajeng takjub.


"Tenang, ini juga ada jatah si mbok dan si mamang..." balas Cakra. Ia sengaja melebihkan makanan untuk para pekerja di rumahnya.


"Oh, gitu..." Ajeng mengangguk paham. "Sateku mana, Mas?" tanyanya kemudian.


"Ini, sayang..." Cakra menyerah satu bungkusan dengan beberapa lidi yang mencuat.


"Seblak pesanan aku, Pa?" pinta Eya yang juga sudah tidak sabar memakan makanan favoritnya itu.


"Ini, ambil sendiri pesanan kalian..." Cakra meletakkan semua bungkusan di atas meja. Semua langsung berebut mengambil makanan pesanan mereka.


"Hm... enak banget martabaknya, daging duriannya terasa banget..." Dira berdecak kagum setelah satu potong martabak rasa durian berhasil masuk ke mulutnya.


"Mau dong, Kak..." Arsha meminta.


"Habiskan dulu makanan di tangan. Satu aja belum habis, udah minta yang lain aja!" tegur Arsy. Pasalnya di tangan dan mulut Arsha masih ada corndog yang tersisa. Sebaiknya dihabiskan dulu, baru lanjut makan yang lainnya.


"Iya, bawel banget lo, kayak emak-emak!" protes Arsha. Ia memakan corndognya dengan cepat agar bisa segera makan martabak durian.


"Aleeya!" Ajeng yang sedang menikmati satenya melotot tajam ketika melihat putri keduanya sedang berusaha menuangkan bubuk cabe ke dalam mangkuk seblak.

__ADS_1


"Sedikit aja, Ma..." rengek Eya ketika dirinya yang doyan pedas dilarang makan cabe.


Ajeng menggeleng tegas. "Kalau mama bilang tidak, ya tidak. Jangan membantah! Mama nggak mau kamu diare lagi hanya karena makan cabe terlalu banyak. Paham?" peringatnya.


Eya hanya bisa menghela napas kecewa. Ia segera menyingkirkan botol bubuk cabe yang tak jadi digunakannya itu.


"Persis kamu, doyan cabe..." celetuk Cakra pada sang istri.


"Ya iyalah, Mas. Namanya juga anakku..." sahut Ajeng sekenanya.


Semua orang kembali sibuk menyantap makanannya.


"Nak, tolong berikan ini pada si mbok dan mamang, ya?" suruh Cakra pada Arsha. Ia hampir saja lupa memberikan makanan itu pada para pekerjanya.


"Kok aku sih, Pa? Arsy aja tuh..." tolak Arsha.


"Lo aja pergi sana, gue lagi makan soalnya..." elak Arsha malas.


"Ogah! Lo nggak lihat kalau gue juga lagi makan," balas Arsy.


Dira yang bosan mendengar perdebatan adik-adiknya pun turun tangan. "Biar aku aja, Pa." Ia bangkit berdiri dan meraih beberapa bungkus makanan dan membawanya pergi.


"Kalian payah!" ledek Eya pada si kembar.


"Arsha! Arsy!" panggil Cakra. Sepertinya ia harus memberikan sedikit ancaman pada dua anak nakal itu agar tidak lagi bertengkar.

__ADS_1


"I-iya, Pa..." Arsha dan Arsy menyahut serentak. Wajah kedua anak kembar tidak identik itu berubah pucat setelah mendengar suara tegas sang ayah yang terdengar marah di telinga mereka.


"Setelah lulus SMP, papa akan mendaftarkan kalian ke sekolah asrama. Biar kalian terpisah dan tidak ribut melulu..." ucap Cakra.


Deg


Baik Arhsa maupun Arsy begitu shock mendengar ucapan ayah mereka.


"Aku nggak mau, Pa..." Arsy menggeleng hebat. Yang benar saja, ia tidak akan pernah mau hidup di asrama.


"Aku minta maaf, Pa. Aku janji nggak akan bertengkar dan ribut lagi sama Arsy, tapi tolong jangan masukkan kami ke asrama..." mohon Arsha.


Ajeng hanya diam memerhatikan interaksi suami dan anak-anaknya. Ia menyerahkan pengasuhan si kembar pada ayahnya karena memang sangat sulit untuk membuat kedua anak itu menjadi akur.


"Iya, Pa... aku janji nggak akan berantem lagi sama Arsha..." Arsy ikut memohon dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Cakra sebenarnya tidak tega melihat kedua anaknya memohon seperti itu, tapi jika tidak diancam, maka keduanya tidak akan pernah berubah. "Baiklah, papa pegang janji kalian. Jika papa masih melihat kalian berdebat, bertengkar dan menyalahkan satu sama lain, maka bersiaplah untuk masuk sekolah berasrama."


"Iya, Pa. Kami janji..." Arsha dan Arsy mengangguk patuh. Mereka saling bertatapan dalam diam.


Sementara di ruang tamu suasanannya sedikit tegang, di dapur Dira justru tertawa bahagia mendapat telepon dari sang kekasih.


...Bersambung...


Jangan lupa like, vote dan comment 🙏🏻

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca 🤗


__ADS_2