
...🌷Selamat Membaca🌷...
Cakra berlari di sepanjang koridor rumah sakit. Baru saja ia mendapatkan kabar bahwa Ajeng mengalami pendarahan dan dilarikan ke rumah sakit. Orang yang menghubunginya tadi mengatakan jika wanita itu berada di unit gawat darurat. Kini, sampailah ia di sana.
"Bagaimana keadaan wanita yang tadi pendarahan, Dok?" buru Cakra begitu melihat wanita berseragam putih keluar dari ruang tempat Ajeng diperiksa.
Dokter wanita itu menatap Cakra menelisik. "Apakah anda suaminya?" tanya si dokter.
"I-iya." Cakra mengangguk. "Jadi bagaimana keadaannya?" tanyanya panik.
"Buruk. Pendarahannya cukup sulit dihentikan, tapi kami sudah berhasil menanganinya. Untuk itu, kami membutuhkan persetujuan anda sebagai suaminya untuk segera menjalani operasi. Bayi itu harus segera dikeluarkan sekarang demi keselamatan keduanya," jelas sang dokter.
Jantung Cakra berdetak cepat. "Tapi, kandungannya belum cukup bulan, Dok. Apa bayinya bisa selamat?"
"Banyak berdo'a saja, Pak. Semoga ibu dan bayinya selamat. Kami akan segera menjadwalkan operasi sesarnya. Permisi." Dokter berlalu meninggalkan Cakra.
Cakra berinisiatif untuk menghubungi Radi, bagaimanapun juga pria itu berhak tahu, karena ini menyangkut istri dan anaknya.
.......
Cakra masih duduk di depan ruang UGD. Sedari tadi mulutnya terus komat kamit merapalkan do'a untuk keselamatan Ajeng dan bayinya.
"Bagaimana keadaannya?"
Cakra dikagetkan dengan suara yang tiba-tiba muncul. Pria itu mendongak dan menemukan Radi dengan kondisi yang bisa dibilang berantakan. Rambutnya acak-acakan, pakaiannya kusut dan wajahnya dibanjiri oleh keringat. Sepertinya suami Ajeng itu berlari sampai ke sini.
"Masih di dalam. Ajeng akan segera di operasi karena dia mengalami pendarahan." Cakra menjelaskan dengan nada pelan. Tenaga pria itu serasa dikuras habis oleh rasa cemas, hingga kini tubuhnya tak lagi berenergi, lemas.
Radi menjatuhkan bobot tubuhnya di samping Cakra. Pria itu terlihat sama cemasnya dengan kekasih istrinya.
"Permisi."
Di tengah kegelisahan yang melanda, mereka dikejutkan dengan kehadiran seorang pemuda yang menggunakan seragam kerja salah satu supermarket yang ada di kawasan itu. Baik Cakra maupun Radi serentak berdiri.
"Ya, ada apa?" Radi yang bertanya.
Pemuda itu memperhatikan Radi dan Cakra bergantian. "Siapa di antara kalian yang bernama Cakra?" tanyanya kemudian.
"Saya." Cakra langsung menjawab. "Ada apa?" Ia ingat, suara pemuda ini persis seperti suara orang yang menghubunginya tadi.
"Ini!" Pemuda itu menyodorkan sebuah ponsel ke hadapan Cakra.
"Ini milik Ajeng," gumamnya. "Kau yang menghubungiku tadi, kan?"
"Iya." Pemuda itu mengangguk. "Saya adalah salah satu pramuniaga di tempat istri anda tadi berbelanja."
"Dia istriku," sahut Radi tidak terima. Bagaimanapun juga Ajeng masih sah menjadi istrinya, surat cerai belum ia tanda tangani dan tak akan pernah ia tanda tangani. Ia akan berusaha agar Ajeng kembali padanya.
Pemuda yang mendengar ucapan Radi itu tampak kikuk. "Maaf, saya kira Pak Cakra adalah suami nona itu. Soalnya, saat kejadian, nona Ajeng berulang kali memanggil nama Pak Cakra," jelasnya.
Cakra merasa terharu karena Ajeng selalu mengingat dirinya, berbeda dengan Radi, pria itu tampak tak senang.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Radi mengalihkan rasa kecewanya dengan bertanya kembali.
"Lebih baik kalian lihat video ini!" Pemuda itu mengangsurkan ponsel miliknya pada Radi karena ia rasa pria itu lebih berhak karena merupakan suami dari korban.
"Video apa?" Cakra ikutan menelisik pada ponsel yang sudah berada dalam genggaman Radi.
"Salah satu rekan kerja saya mengirimkan rekaman CCTV kejadian tadi. Mungkin, video ini bisa membantu."
Cakra dan Radi menyaksikan video itu dengan seksama. Terlihat Ajeng sedang berjalan menuju rak susu, wanita itu melihat-lihat sebentar sebelum mengambil satu kotak susu. Lalu, dari arah sampingnya datang seorang wanita yang menggendong bayi ala kangguru, menyapanya.
"Maya?" gumam Radi.
Cakra hanya diam menyaksikan, ia tidak ingin kelewatan sedetik momen pun.
Sekarang, Ajeng dan Maya nampak adu mulut. Walau tidak bisa mendengar suaranya, tapi dari gestur dan ekspresi, mereka jelas sedang bersitegang.
Lama video itu hanya memperlihatkan perdebatan antara dua wanita, sampai pada suatu momen di mana Maya mendorong Ajeng dengan kuat hingga punggung wanita hamil itu terhempas ke rak besi di belakangnya lalu jatuh terduduk di lantai yang dingin. Nampak senyum tersungging di bibir Maya sebelum dia pergi meninggalkan Ajeng yang menjerit kesakitan memegangi perutnya.
Napas Radi memburu melihat rekaman tersebut. Ia bersumpah akan membuat Maya membayar semua kejahatan yang sudah dia lakukan.
"Tolong kirim rekaman ini ke ponselku!" pinta Radi pada si pemuda.
Berbeda dengan kemarahan yang ditunjukkan Radi, Cakra hanya bisa terdiam. Hatinya sakit membayangkan di saat Ajeng menghadapi kesakitannya seorang diri. Seharusnya ia tidak meninggalkan Ajeng, ia sungguh menyesal karena tak mampu menjaga wanita yang dicintainya itu.
"Cakra, aku akan keluar sebentar. Tolong jaga Ajeng untukku." Setelah mendapatkan rekaman itu di ponselnya, Radi hendak pergi melabrak Maya, tapi pergerakannya ditahan oleh Cakra.
"Keselamatan Ajeng dan anaknya lebih penting untuk saat ini. Bisakah kau kesampingkan dahulu masalah dengan wanita iblis itu?" kata Cakra dingin.
"Terima kasih karena telah membantu Ajeng," ucap Cakra pada si pemuda yang masih setia berada di sana.
"Sama-sama Tuan, sebagai sesama manusia kita memang wajib untuk saling membantu. Saya do'akan semoga nona Ajeng dan bayinya selamat."
"Terima kasih." Cakra mengeluarkan dompet dan mengambil beberapa lembar uang dengan nominal tertinggi, lalu menyerahkannya ke tangan si pemuda.
"Apa ini, Tuan?" Si pemuda merasa tak enak. Ia membantu dengan niat yang tulus tanpa mengharapkan imbalan apapun.
"Terimalah, saya akan marah jika kau menolaknya."
Dengan terpaksa si pemuda menerima uang yang diberikan Cakra. "Terima kasih banyak, Tuan. Kalau begitu saya mohon pamit. Selamat siang."
Selepas si pemuda pergi, Radi dan Cakra kembali dalam mode cemasnya. Pasalnya, sedari tadi mereka menunggu, Ajeng belum juga keluar dari ruang UGD. Menurut penuturan salah seorang perawat yang tadi ia tanyai, saat ini Ajeng sedang menambah darah. Perlu tiga kantong darah untuk kembali mengisi tubuh wanita itu yang sempat kehilangan banyak darah.
Setengah jam kemudian, dokter yang tadi ditemui Cakra kembali masuk ke ruang UGD. Selanjutnya dia dan beberapa perawat membawa tubuh Ajeng yang terbaring lemah di atas brankar menuju ruang operasi. Dua pria itu mengikutinya.
"Mas Cakra..." Ajeng membuka matanya dan memanggil nama sang kekasih.
"Iya sayang, aku di sini." Cakra berjalan di samping brankar yang bergerak membawa tubuh Ajeng, tangannya menggenggam tangan kekasihnya itu erat.
"A-ku takut..." lirih wanita itu.
"Jangan takut. Aku akan selalu mendampingimu."
__ADS_1
"Temani aku, ya?" pintanya berharap.
Cakra melirik dokter yang juga berjalan di samping brankar Ajeng, namun berseberangan dengannya.
"Tentu. Anda suaminya, jadi anda boleh menemaninya di dalam."
"Kau dengar, aku akan menemanimu. Jadi jangan takut, ya. Berdo'a pada Tuhan agar bayi kita selamat." Cakra berbisik.
Radi? Jangan ditanyakan lagi bagaimana perasaan pria itu. Dia yang merupakan suami sah Ajeng sekaligus ayah kandung dari si bayi, merasa tersisihkan. Keberadaannya sama sekali tidak dianggap oleh Ajeng. Seharusnya ia yang berada di sana, menemani istrinya yang akan berjuang untuk melahirkan anak mereka, tapi semuanya, berubah. Buktinya, Cakra yang ada di sana, menggantikan perannya.
Ajeng sudah masuk ke dalam ruang operasi begitu juga dengan Cakra. Sementara Radi hanya mematung berdiri di luarnya. Menatap pintu tertutup itu dengan nanar.
"Pa, Ma. Maafkan aku. Maaf karena telah lalai dengan janjiku untuk menjaga putri kesayangan kalian," gumam Radi pedih.
"Jika sampai sesuatu yang buruk terjadi pada Ajeng dan calon anakku, maka aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri."
.......
Saat jam makan siang, Silvia mengunjungi kantor Cakra. Ia sudah menghubungi calon mantan suaminya itu, tapi tidak ada satu pun panggilannya yang diangkat. Makanya ia menyusulnya ke kantor.
"Selamat siang, Dhika?" sapa Silvia begitu bertemu dengan sekretaris Cakra di depan ruangannya.
"Bu Silvia..." Dhika menyapa balik.
"Tidak usah seformal itu padaku karena aku bukan istri bosmu lagi, panggil saja aku Silvia..."
Walau penasaran kenapa istri bosnya mengatakan hal seperti itu, tapi Dhika hanya bisa menyimpannya dalam hati.
"Aku dan Cakra sudah bercerai, walau belum ada keputusan dari pengadilan, sih." Silvia melihat wajah bingung dan penasaran Dhika, jadi ia beritahu saja.
"Oh, i-iya." Dhika jadi kikuk.
"Di mana mas Cakra?" tanya Silvia kemudian.
"Pak Cakra pergi keluar. Tadi saat mendapatkan telepon dia langsung buru-buru pergi," jawab Dhika.
"Ada apa, ya?" pikir wanita itu. Namun, dia tidak ingin terlalu memusingkan kemana Cakra pergi. Sebenarnya tujuannya ke kantor ini adalah untuk menemui Dhika.
"Kau sudah makan?" tanya Silvia lagi.
"Belum."
"Kalau begitu, ayo kita makan siang. Ada hal penting yang ingin ku katakan padamu."
Dhika menuruti saja permintaan mantan istri atasannya itu. Dalam hati, ia bertanya-tanya apa gerangan yang akan diberitahukan oleh Silvia. Hal itu membuatnya penasaran, semoga yang akan dikatakan wanita itu bukan sesuatu yang buruk. Sedikit banyaknya ia merasa trauma dipanggil dadakan seperti ini.
...Bersambung...
...Jangan lupa Like & Comment... 🙏🏻😊...
...Terima kasih...
__ADS_1