2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Longing (Fadhil-Maya)


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


"Tante Maya..." igau bocah perempuan yang sedang tidur gelisah di tempat tidurnya. Wajahnya terlihat merah dengan kening yang ditempel plester penurun panas.


Bu Maryam mengusap kepala cucunya itu agar tenang dan tak lagi mengigau. Terbesit rasa bersalah di hati wanita tua itu, seandainya ia tidak sesumbar dengan mengatakan jika Maya akan menjadi ibunya Kei, pasti cucunya itu tidak akan terus kepikiran hingga menyebabkannya jatuh sakit seperti ini. Memang seminggu ini Kei malas makan karena tidak diizinkan oleh Fadhil untuk menemui Maya. Ayah satu anak itu merasa sudah tidak punya muka lagi bertemu wanita yang sudah menolaknya.


"Tante Maya, hiks... hiks." Igauan itu masih berlanjut, kali ini diiringi oleh isakan pilu. Bu Maryam semakin sedih melihat kondisi cucunya.


"Bu, dokternya sudah datang..." Fadhil berlari masuk ke dalam kamar si buah hati. Seorang dokter ikut bersamanya.


Bu Maryam bangkit dari sisi tempat tidur yang didudukinya agar dokter bisa memeriksa keadaan Kei.


Dokter wanita yang cukup berumur itu mulai memeriksa kondisi Kei.


"Nak, sedari tadi Kei terus mengigau memanggil nama Maya. Sepertinya putrimu itu merindukan Maya, sudah seminggu lebih mereka tidak bertemu," bisik Bu Maryam yang berdiri di samping putra sematawayangnya.


Fadhil menyentak napas kasar. "Bu, jangan bilang kalau aku harus membawa Maya kemari dan mempertemukan mereka?" tanya pria itu frustasi.


"Harusnya memang seperti itu, Nak. Mana tahu setelah bertemu Maya nanti, Kei bisa sehat."


Fadhil menggeleng, ia sama sekali tidak setuju dengan pemikiran sang ibu. "Ini lebih baik, Bu. Lambat laun Kei pasti akan melupakan Maya. Jika kita pertemukan mereka sekarang, maka Kei tidak akan bisa berhenti berharap bahwa Maya akan menjadi ibunya."


Bu Maryam hanya bisa menghela napas pasrah, sulit meyakinkan anaknya yang keras kepala itu. "Terserah kau saja!"


Bu Maryam menghampiri dokter yang sudah selesai memeriksa Kei.


"Bagaimana cucu saya, Dok?" tanya wanita itu.


"Panasnya cukup tinggi. Apa belakangan ini cucu ibu malas makan? Saya menemukan jika perutnya cekung," tanya si dokter.


"I-iya, Dok. Sudah beberapa hari ini Kei malas makan," jawab Bu Maryam.


"Anak menjadi malas makan pasti ada penyebabnya. Dan ya, tadi saya mendengar jika si kecil terus mengigau memanggil nama seseorag. Sepertinya dia sangat merindukan orang tersebut, karena tak kesampaian, ia menjadi tertekan. Itulah yang menyebabkannya malas makan. Kalau bisa, pertemukanlah mereka agar kegelisahan si kecil hilang dan dia bisa ceria seperti sedia kala," jelas si dokter.


Mendengar itu, Bu Maya langsung mendelik pada Fadhil.


"Saya sudah membuatkan resep obat untuk menurunkan panas dan meningkatkan nafsu makan anak. Silakan di tebua di apotik." Dokter itu menyerahkan secarik kertas dengan tulisan cakar ayam di atasnya.


"Iya, Dok. Terima kasih."


"Kalau begitu saya permisi dulu," pamit si dokter.


"Bu, aku antar dokter dulu." Fadhil mengantarkan dokter sampai ke halaman, tak lupa ia mengucapkan terima kasih dan juga membayar jasa dokter wanita itu.


"Ingat, Pak! Jauhkan hal-hal yang bisa membuat anak tertekan. Kalau gitu saya permisi!" Sebelum pergi, dokter itu kembali memperingatkan.


"Iya, Dok." Fadhil mengangguk.


Mobil si dokter sudah keluar dari gerbang rumah. Fadhil yang hendak masuk ke dalam rumah, tiba-tiba dikagetkan dengan kehadiran sang ibu di belakangnya.


"I-ibu..." ucapnya terkejut.


"Nih, tebus obatnya!" Bu Maryam menyodorkan kertas resep yang diberikan dokter tadi. Wajahnya terlihat tidak bersahabat. "Pertahankan saja ego tinggimu itu jika tak ingin anakmu sembuh," ketus wanita tua itu, dan berlalu pergi.


Fadhil terdiam, ia merasa sangat frustasi. Anaknya sakit dan kini ibunya malah marah. "Argghh..." erangnya.


Pria itu berjalan menuju sofa dan duduk sejenak, mencoba menenangkan pikirannya agar dapat segera mengambil tindakan tepat. Ia merasa gagal menjadi ayah karena tidak bisa memenuhi keinginan putrinya.


"Aku harus segera menebus obatnya Kei." Pria itu bangkit dan menyambar kunci mobil di atas meja.


.......


Fadhil menghembuskan napasnya berulang kali, saat ini ia sudah berdiri di depan pintu rumah Maya. Tak ada cara lain yang terpikirkan olehnya saat ini, selain mempertemukan Kei dengan Maya. Berharap dengan pertemuan itu, anaknya bisa kembali sehat dan ceria seperti biasa. Lagi pula, orang tua mana yang tega melihat buah hatinya terbaring tak berdaya di tempat tidur.


Tok... tok... tok...


Akhirnya Fadhil memberanikan diri mengetuk pintu rumah Maya. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, sebenarnya ia merasa sungkan, tapi tak ada pilihan lain.


Cklek


Pintu terbuka, Maya muncul dari baliknya.


"Pak Fadhil?" serunya kaget.


"Malam, May. Maaf jika kedatanganku mengganggu waktumu," ucap Fadhil.


"Ti-tidak apa-apa, kok. Ada apa ya, Pak?" tanya Maya. Ia menduga jika kedatangan Fadhil kali ini pasti ada maksudnya. Tiba-tiba lamaran pria itu minggu lalu, teringat kembali. Maya jadi gelisah, tidak mungkin 'kan jika kedatangan Fadhil ke rumahnya dengan niat menemui orang tuanya untuk melamar. Ah... kau terlalu percaya diri, May! Ia merutuk di dalam hati.


"May, aku butuh bantuanmu!" pinta Fadhil, memohon.


"Bantuan apa ya, Pak?" tanya Maya. Ia bersyukur jika kedatangan pria itu bukan untuk membahas lamarannya yang telah ditolak.


"Kei sakit, dia terus memanggil-manggil namamu. Maukah kau datang ke rumahku dan menemuinya?"

__ADS_1


"A-apa? Kei sakit? Bagaimana bisa, Pak?" Suara Maya terdengar panik.


"Belakangan ini dia selalu menanyakanmu, karena tak aku hiraukan, ia jadi malas makan hingga jatuh sakit. Kata dokter ia tertekan karena merindukanmu tapi tak bisa bertemu," jelas Fadhil jujur. Dengan kejujurannya, Fadhil berharap Maya tergerak hatinya untuk membantu. Kasihan putrinya yang sedang sakit di rumah.


"Iya, Pak. Aku bersiap-siap dulu!" Maya masuk ke dalam rumah, meninggalkan Fadhil sendirian di depan pintu. Ia lupa untuk mempersilakan pria itu masuk.


Tak sampai sepuluh menit, Maya kembali. Ia sudah berganti baju dari yang sebelumnya hanya memakai piama.


"Saya membawa Lingga, tidak apa-apa 'kan, Pak?" tanya Maya.


Fadhil menatap anak Maya yang sedang menggigit mainannya. "Iya, tentu saja tidak apa-apa."


Mereka berdua langsung masuk ke dalam mobil. Sebelum ke rumah, Fadhil singgah sebentar di apotek untuk membeli obat anaknya.


.......


Bu Maryam masih setia menemani cucunya yang tertidur. Sesekali masih terdengar igauan Kei yang memanggil nama Maya. Wanita itu merasa sedih melihat cucunya yang tak kunjung membaik.


"Kemana si Fadhil itu, Kei harus segera minum obat!" gerutu Bu Maryam. Sudah hampir satu jam Fadhil pergi, tapi belum balik juga. Padahal apotek letaknya tidak terlalu jauh dari rumah mereka.


"Ibu!" Tiba-tiba terdengar suara Fadhil memanggil.


Bu Maryam balik badan, ia ingin mengomeli putranya yang lama sekali pergi membeli obat, tapi baru saja mulutnya terbuka ingin memulai omelannya, kemunculan Maya di belakang punggung sang anak, seketika menghentikan aksinya.


"Maya!" Bu Maryam langsung menghampiri Maya dan melewati Fadhil begitu saja.


"I-iya, Bu."


"Akhirnya kau datang juga, May. Lihatlah Kei! Dia sakit karena merindukanmu..." Bu Maryam mulai mendrama untuk menarik simpatik dari wanita yang sangat ingin dijadikannya sebagai calon menantu itu.


Fadhil memutar bola mata jengah, ibunya ini terlalu mendramatisir keadaan. Pria itu lupa kalau tadi ia juga melakukan hal yang sama.


"Iya, Bu." Maya berjalan menghampiri tempat tidur Kei yang beralaskan seprai bergambar kartun princess, khas anak perempuan.


"Biar Lingga ibu yang gendong," kata Bu Maryam. Ia langsung saja mengambil alih Lingga dari gendongan ibunya.


Maya duduk di samping tubuh Kei yang terbaring, diusapnya wajah gadis kecil itu yang memerah. "Panas sekali," gumamnya. Ia pernah berada di posisi seperti ini, yaitu saat Lingga demam, dan rasanya sedih sekali melihat buah hati yang kita cintai, terbaring lemah tak berdaya.


"Kei..." Maya mendekatkan wajah, ia berbisik tepat di telinga Kei.


Perlahan kelopak mata yang dihiasi oleh bulu lentik itu terbuka. Walaupun pandangannya sedikit kabur, tapi Kei bisa melihat sosok Maya di hadapannya.


"Tante Maya..." sapa Kei lirih. Lihat! Untuk bersuara saja ia merasa lemas.


"Kei rindu tante, tapi papa jahat. Papa tidak mau mengantarkan Kei bertemu tante, hiks... hiks..." kadu Kei diiringi tangisan.


Bu Maryam melirik sinis pada putranya, senyuman miring turut ia persembahkan. "Rasakan itu!" Seperti itulah kira-kira arti tatapannya.


Fadhil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia sadar kalau di sini ia lah yang bersalah, jadi tak perlu membantah.


"Kei sudah makan belum?" tanya Maya. Kini gadis kecil itu sudah berada di pangkuannya. Dia memeluk Maya dan menyandarkan kepala dengan nyaman di dada wanita itu.


"Belum, Kei lapar, tapi mau disuap tante Maya..." pintanya.


"Baiklah, sayang..."


"May, biar ibu buatkan dulu bubur untuk Kei. Kau tunggu saja di sini, ya!" kata Bu Maryam. Kemudian ia berjalan menghampiri Fadhil.


"Saat ini ibunya Lingga sedang dipinjam oleh putrimu. Jadi kau harus membayarnya. Ini, kau gendong calon anakmu!" bisik Bu Maryam yang langsung menyerahkan tubuh Lingga pada Fadhil. Wanita berjilbab instan itu langsung melenggang pergi.


"Hehe..." Lingga menyengir saat menatap wajah Fadhil yang melongo.


"Apa yang kau tertawakan pria kecil?" tanya Fadhil. Ia menatap wajah tampan Lingga yang menggemaskan. "Ku makan juga nanti pipi bakpaomu!" candanya.


Lingga tertawa, ia menepuk-nepuk wajah Fadhil dengan tangan mungilnya.


Maya yang melihat hal tersebut merasa haru, ia bersyukur karena anaknya sangat mudah untuk dekat dengan orang lain.


.......


Kei sudah makan dan meminum obat, tapi ia masih rebahan manja di pangkuan Maya, membuat wanita itu tak bisa bergerak.


"Maaf ya, May..." kata Fadhil.


"I-iya, tidak apa-apa, Pak." Maya mengusap-usap punggung Kei agar gadis kecil itu cepat tidur.


Lima belas menit kemudian, terdengar hembusan napas Kei mulai teratur, pertanda jika dia telah tidur. Maya membaringkan tubuh Kei dengan hati-hati agar tidak membangunkannya.


"Terima kasih ya, May..." ucap Bu Maryam. Ia senang karena kini panas Kei sudah mulai turun. Cucunya itu tadi juga makan dengan lahapnya.


"Sama-sama, Bu." Maya berjalan ke sisi tempat tidur di mana Lingga terbaring lelap. Setengah jam yang lalu, putranya itu tertidur di gendongan Fadhil.


"Fadhil, antarkan Maya pulang!" titah Bu Maryam.

__ADS_1


"Iya, Bu. Ayo, May!"


Maya menggendong tubuh putranya, dan berjalan menghampiri Bu Maryam. "Aku pamit ya, Bu."


"Iya, Nak. Hati-hati. Sekali lagi terima kasih, ya."


"Sama-sama, Bu."


Fadhil dan Maya meninggalkan kamar Kei.


.......


Mobil Fadhil sampai di depan rumah Maya. Wanita itu melotot saat melihat ayah dan ibunya sedang duduk di teras, pasti tengah menanti dirinya yang pergi tiba-tiba. Sore tadi kedua orang tuanya pergi memenuhi undangan dari keluarga besan yang mengadakan pesta pernikahan, dan Maya menolak ikut karena tidak ingin mendengar gunjingan tentangnya. Ia juga lupa memberitahu bahwa ia akan keluar pada orang tuanya, baik itu lewat telepon ataupun pesan.


"Kenapa, May?" tanya Fadhil.


"Ti-tidak apa-apa kok, Pak. Kalau begitu saya keluar dulu. Terima kasih sudah mengantar saya pulang."


"Iya, terima kasih juga atas bantuanmu, May. Aku yakin besok Kei pasti sudah ceria lagi," ucap Fadhil tulus.


"Semoga ya, Pak."


Maya keluar dari mobil dan menghampiri kedua orang tuanya. Pak Indra langsung bangkit begitu melihat kemunculan Maya.


"Ibu, Ayah..."


"Dari mana saja kau!" Pak Indra langsung membentak Maya.


"Aku da-dari rumah teman, Yah..." jawab Maya takut-takut.


"Teman?" Mata Pak Indra melirik ke arah mobil Fadhil yang masih belum beranjak. "Teman laki-lakimu? Apa kau baru saja keluar untuk menjual diri dan membawa serta anakmu."


Deg


Maya terperanjat, ia terluka mendengar tuduhan ayahnya.


"Bu, bawa Lingga masuk!" pinta pak Indra pada istrinya.


Kini hanya tinggal dua orang itu. "Jawab, May! Apa benar kau baru saja menjual dirimu pada laki-laki yang berada di mobil itu!" tunjuknya pada mobil Fadhil.


"Ti-tidak, Yah. A-aku tadi itu-"


"Cukup! Kau memang tidak pernah berubah ya, May! Apa kau tidak pernah belajar dari kesalahan?" Pak Indra mengusap wajahnya frustasi. Ia merasa trauma dengan sikap Maya yang telah membuat malu keluarga, di pesta tadi saja, ia dan istrinya mendapat cemooh karena Maya yang memiliki anak di luar nikah. Jadi, rasanya sulit percaya jika anaknya itu akan berubah.


Air mata Maya berderai. Hatinya sakit mendengar penuturan sang ayah. Padahal ia sudah belajar untuk menjadi orang yang lebih baik, tapi tak ada satu pun yang percaya. Semua orang hanya bisa melihatnya dari masa lalunya saja.


"Yah, aku tidak pernah menjual diri. Tadi itu aku pergi membantu temanku. Aku sungguh lupa untuk izin terlebih dahulu pada kalian." Maya mencoba menjelaskan.


"Membantu apa sampai jam segini, ha?" tanya Pak Indra.


"Percayalah, Yah!"


Fadhil yang melihat pertengkaran itu pun memilih keluar. Ia merasa jika saat ini Maya berada dalam masalah.


"Woah... ini dia temanmu itu? Kau menjual diri padanya?"


Deg


Fadhil yang mendengar itu kaget. Sementara Maya hanya bisa memejamkan mata, ia malu.


"Maaf, Pak. Sepertinya di sini ada kesalahpahaman," sanggah Fadhil.


"Salah paham? Aku melihatnya sendiri. Kalian berdua keluar malam-malam untuk apa? Bersenang-senang?"


"Bukan, Pak. Kami-"


"Alah... jangan membela diri! Aku tahu kalau kali-,"


"Cukup, Pak!" Sela Fadhil, keras. Ia sudah muak mendengar ocehan pak Indra yang tidak ada habisnya.


"Saya tadi membawa Maya ke rumah saya-,"


"Benar 'kan dugaanku..." potong pak Indra


"Jangan di potong dulu, Pak. Saya membawa Maya ke rumah saya untuk memperkenalkannya pada ibu saya. Saya berniat untuk melamar anak bapak!"


Deg


"Pak Fadhil!" Maya melotot tak percaya, apa barusan yang telah dikatakan oleh pria itu, pikirnya.


...Bersambung...


Jangan lupa Like & Comment

__ADS_1


Terima kasih sudah baca😊


__ADS_2