
...๐ทSelamat Membaca๐ท...
Silvia sampai di sebuah restoran tempat ia dan Cakra janji bertemu. Wanita itu lantas memilih satu meja kosong untuk diduduki.
"Maaf aku terlambat." Cakra datang dan langsung mengambil tempat duduk tepat di hadapan calon mantan istrinya.
"Tidak apa, aku juga baru datang."
"Sebaiknya kita makan siang dulu," kata Cakra. Pria itu hendak memanggil pelayan tapi dihentikan oleh Silvia.
"Aku sudah memesan makanan untuk kita," beritahu wanita itu.
"Oh..."
Tak lama kemudian, pesanan mereka datang. Cakra sedikit takjub karena Silvia memesankan makanan kesukaannya. Rupanya wanita itu masih ingat.
"Selamat makan."
Mereka menikmati makan siang dalam diam. Beberapa kali Cakra melirik calon mantan istrinya, wanita cantik itu terlihat tidak berselera, hanya mengaduk-aduk makanannya kemudian menyuapnya sedikit demi sedikit.
"Apa kau baik-baik saja?" Cakra tak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya. Kebetulan makanannya juga sudah habis.
Silvia menggeser piringnya ke tengah, tampaknya wanita itu sudah menyerah dengan makanan di depannya. Lantas, mata itu itu menatap Cakra sendu.
"Aku sepertinya mencintai Satria..."
"Hn?" Pengakuan macam apa ini, pikir Cakra.
"Walaupun aku tahu jika dia adalah pria brengsek tapi aku tetap mencintainya."
Cakra menelan ludah getir. Bagaimana caranya memberitahu Silvia tentang hubungan Satria dengan Maya, jika kondisi wanita itu tidak memungkinkan untuk menerima kabar yang bisa dibilang akan melukai hatinya. Cakra jadi bimbang.
"Satria sudah punya anak dari wanita lain."
Deg
"Apa?" Cakra terperanjat. Kabar yang ia dengar ini justru lebih besar dari kabar yang akan ia sampaikan. "Siapa wanita itu?" tanyanya penasaran.
"Dia adalah mantan kekasih Satria. Semalam kami tidak sengaja bertemu dan mengobrol. Wanita itu bersama dengan pria yang ternyata adalah sepupu Satria sendiri. Kau mengenal pria itu, Mas."
Cakra semakin penasaran. "Katakan siapa namanya?" Ia menuntut.
"Radi Nugraha."
"Hah? Jadi maksudmu mantan kekasih Satria itu adalah wanita yang bernama Maya itu?"
"Kau kenal si Maya-maya itu?" selidik Silvia.
Cakra bingung, apa yang harus ia katakan. Jika jujur, pasti hubungannya dengan Ajeng akan diketahui oleh Silvia. Ia tidak ingin calon mantan istrinya itu tahu, takut jika nanti Ajeng turut disalahkan.
"Mas!"
"Ah ya, aku mendengar gosip saat mengadakan rapat di perusahaan Winata. Katanya, Radi dan Istrinya berpisah karena orang ketiga, yaitu Maya. Dia ternyata adalah adiknya Dhika," jelas Cakra yang tidak sepenuhnya berbohong.
Silvia yang mengenal Dhika karena pernah bertemu di kantor pun jadi kaget. Ia tidak menyangka jika semuanya akan saling berkaitan seperti ini.
"Tadi kau mengatakan jika Satria dan Maya memiliki anak, tapi setahuku Maya memiliki anak juga dengan Radi." Cakra kembali berucap.
"Itu dia masalahnya. Semalam aku bertanya dan Maya mengaku jika bayi yang dibawanya itu adalah anaknya dengan Radi. Namun, saat aku perhatikan bayi itu dengan seksama, wajahnya tidak mirip sedikit pun dengan Radi, melainkan duplikat Satria. Rambut, mata, hidung, bahkan bibir pun, semua mirip Satria."
"Berarti Radi sudah ditipu oleh Maya," ucap Cakra.
"Ku rasa begitu. Wanita murahan itu hamil dengan siapa, tapi meminta tanggung jawab pada siapa. Sifatnya lebih buruk dari padaku," ejek Silvia.
Cakra hanya diam. Menurutnya kedua wanita itu sama saja. Tidak ada wanita yang sebaik Ajeng.
"Oh ya, aku punya sesuatu yang bisa menjadi bukti jika anak Maya itu sebenarnya adalah anak Satria bukan anaknya Radi."
__ADS_1
"Apa itu?"
Silvia mengeluarkan dua benda dari dalam tasnya. Kotak berisi testpack juga sebuah album foto.
"Aku menemukan ini di apartemen Satria." Disodorkannya dua barang itu ke hadapan Cakra.
Pria itu membuka kotak persegi panjang terlebih dahulu.
"Ini..."
"Ya, itu adalah testpack. Ku rasa itu milik Maya."
Cakra menutup kembali kotaknya dan beralih pada album foto.
"Aku tidak sanggup melihat isi album itu. Foto-foto mereka membuat hatiku terbakar cemburu." Silvia membuang wajahnya ke samping.
Cakra geleng-geleng kepala melihat pose mesra sampai pose tidak senonoh antara Satria dan Maya. Ia merasa jijik, kenapa ada wanita murahan dan pria bejat seperti mereka berdua di dunia ini. Lekas ditutupnya kembali album itu.
"Kasihan Dhika, ia pasti merasa gagal menjadi kakak karena tidak bisa menjaga adik perempuannya," batin Cakra miris.
"Aku jadi lupa tujuan pertemuan ini, apa yang ingin kau bicarakan, Mas?" tanya Silvia setelah mengingatnya.
"Hanya ingin menyerahkan surat cerai yang harus kau tanda tangani." Cakra mengeluarkan sebuah map dari tas kerjanya dan menyerahkannya pada Silvia.
Silvia mengambil map itu dan menatapnya sebentar. "Apa kau benar-benar ingin bercerai denganku?" tanyanya sendu.
"Ingat, saat ini kau sedang mengandung anak Satria. Jangan mencoba untuk memperlambat prosesnya. Kita harus segera bercerai agar kau dapat menikah dengan pria itu sebelum perutmu itu bertambah besar!" peringat Cakra.
"Huh...." Silvia mendesah. "Aku bodoh sekali ya, menyia-nyiakan pria baik sepertimu demi pria brengsek macam Satria," lirihnya penuh sesal.
"Hm. Kau tidak cukup pintar untuk memilih selingkuhan." Cakra terkekeh. Melihat wajah menderita Silvia ia merasa lucu.
Wanita itu akhirnya menandatangani surat cerai dari Cakra. "Apa kau sudah punya penggantiku?" tanya Silvia sembari menyodorkan kembali map pada calon mantan suaminya.
Cakra menatap Silvia dan tersenyum. Dari ekspresinya, bisa wanita itu tebak jika pria yang pernah dicintainya sudah memiliki pengganti dirinya.
"Semoga dia wanita yang baik dan sayang padamu," ucap Silvia tulus.
Pasutri yang sebentar lagi akan berpisah itu mengakhiri perjumpaan mereka.
...๐ ๐ ๐...
Radi tengah bermain dengan anaknya di dalam kamar. Tiba-tiba perkataan Silvia malam itu kembali terngiang di telinganya.
"Anak ini lebih mirip Satria dari pada pak Radi."
Diperhatikannya Lingga dengan seksama. Mulai dari kepala, warna rambut Lingga yang sedikit kecoklatan memang mirip seperti dirinya, tapi Satria pun memiliki warna rambut yang sama. Ayah Radi dan ibu Satria adalah kakak beradik dan mereka sama-sama memiliki rambut kecoklatan.
Lanjut ke mata. Lingga memiliki lensa mata berwarna coklat madu yang indah sementara lensa Radi berwarna coklat tua. Sekali lagi Radi perhatikan wajah sang putra dengan seksama, tiba-tiba bayangan wajah Satria terlintas begitu saja.
Deg
Jantung pria itu berdetak tak karuan. Sekarang ia menjadi yakin dengan ucapan Silvia. Memang benar, Lingga lebih mirip Satria dari pada dirinya. Apakah...? Pikiran buruk mulai menggerayangi benaknya.
"Mas, ayo makan siang!" Maya masuk ke dalam kamar dan mengajaknya makan siang. "Biar Lingga dijaga oleh Rina."
Radi bangkit dan mengekori Maya menuju ruang makan. Setelah duduk, wanita itu langsung menyiapkan makanan untuknya.
"Sudah lama kau mengenal Satria?"
Pertanyaan Radi membuat gerakan Maya yang menyendok nasi jadi terhenti. Wanita itu menatap Radi dengan tatapan horor. "Kenapa kau menanyakan ini saat kita akan makan?" Jelas ada nada tidak suka dari suara Maya.
Respon Maya membuat Radi curiga, ia menjadi semakin ingin memancing lebih dalam lagi. "Ada hubungan apa kau dengan Satria di masa lalu?"
Maya yang kesal langsung membanting sendok di tangannya hingga mengenai piring dan menimbulkan bunyi yang cukup nyaring. "Kenapa kau harus merusak acara makan siang ini dengan pertanyaan tak berbobot seperti itu!" Maya berkata sengit sembari menatap tajam pada Radi.
"Kenapa marah? Aku hanya bertanya." Radi mengambil piring dan menyendok makanannya sendiri. Ia memilih mengisi perut terlebih dahulu sebelum berperang.
__ADS_1
Maya yang mendapati Radi tak lagi bertanya akhirnya diam juga. Ia menikmati makannya dengan tenang. Namun tidak dengan hatinya saat ini, gelisah dirasa karena takut jika Radi kembali bertanya mengenai Satria, mantan kekasihnya.
Sial sekali hidupnya karena kembali dipertemukan dengan pria brengsek itu, dan yang lebih parah, ternyata Radi dan Satria bersepupu. Habis sudah ia setelah ini jika semuanya terbongkar.
Radi menggeser piring kotornya ke tepi meja. Ia memperhatikan Maya yang masih makan.
Diperhatikan seintens itu membuat nafsu makan Maya hilang. Akhirnya, ia menyudahi makannya walau masih banyak tersisa di piring.
"Apa kau yakin jika Lingga benar-benar anakku?"
Deg
Maya yang sedang membereskan piring makan terkejut setengah mati mendengar pertanyaan Radi kali ini.
"Ja-jangan mulai lagi!" peringatnya.
"Aku jadi ragu jika Lingga adalah darah dagingku."
"Tega sekali kau!" Maya jatuh terduduk. Matanya mulai berair.
"Coba kau pikir kenapa Lingga lebih mirip Satria daripada aku?" tanya Radi tenang.
"A-aku..." Maya tergagap, tak bisa menjawab.
"Apa kau pernah tidur dengan Satria?" Pertanyaan Radi yang frontal membuat Maya kalang kabut.
"Ti-tidak," elaknya. Namun, Radi tidak percaya begitu saja.
"Apa Satria adalah ayah Lingga yang sebenarnya?"
"Bu-bukan."
"Ok, baiklah." Radi pun bangkit dari kursinya. "Aku sudah mendapatkan jawaban darimu, sekarang aku akan bertanya langsung pada Satria." Ia melangkah meninggalkan Maya.
"Mas Radi!" Maya mengejar dan mencegat langkah pria itu.
"Minggir!" pinta Radi dingin.Ia mendorong tubuh Maya yang menghalangi jalannya.
"Tidak. Jangan temui Satria, aku mohon."
"Kenapa?"
"Dia itu brengsek, hiks."
"Jika kau berkata yang sejujurnya maka aku tidak akan menemui Satria."
Maya menatap Radi yang juga menatapnya serius.
"Aku mencintaimu..."
"Bukan itu yang aku tanyakan," sergah Radi.
Tubuh Maya bergetar, mulutnya terkatup rapat.
"Ok, aku akan menemui Satria."
"Tidak!"
"Jadi?" Radi menuntut.
"Maafkan aku. Lingga bu-bukan anakmu tapi anaknya Satria." Karena terus ditekan Maya akhirnya mengungkapkan kebenarannya.
PLAKKK
"WANITA SIALAN!"
...Bersambung...
__ADS_1
...Jangan lupa Like & Comment... ๐๐ป๐...
...Terima kasih...