2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
The Tricky Problem


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Cakra menghempas napas kasar berulang kali, permasalahan kali ini ternyata lebih pelik dari yang ia bayangkan. Masalah dirinya, Ajeng, Silvia, Radi, Maya, Satria, semuanya saling berkaitan. Bingung, langkah apa yang harus ia ambil saat ini. Haruskah ia kumpulkan semua orang untuk berdiskusi mencari jalan keluar, haha... konyol sekali pemikirannya ini.


"Besok saja ku pikirkan, aku butuh istirahat."


Cakra langsung merebahkan tubuh penatnya di tempat tidur, tak lama kemudian ia terlelap.


...πŸ€ πŸ€ πŸ€...


Selesai sarapan, Ajeng bingung harus melakukan apa. Tak ada satu pun yang bisa ia kerjakan di vila besar milik Cakra.


"Nona, ada tamu mencari anda." Perawat yang menemani Ajeng selama di vila berdiri di ambang pintu dan memberitahu jika ada orang yang mencarinya.


Ajeng terdiam, saat ini ia sedang memikirkan tentang tamu itu. Siapa gerangan yang datang, soalnya tak banyak orang yang tahu keberadaannya.


"Apa kau menanyakan siapa namanya?" Ajeng menjadi was-was. Ia takut jika tamu yang datang itu adalah seseorang yang tidak diharapkannya.


Si perawat menggeleng. "Saya tidak sempat bertanya, Nona. Namun, yang jelas dia seorang pria dengan umur sekitar 35 tahunan."


Senyum cerah langsung terbit di bibir Ajeng. Robi datang mengunjunginya, akhirnya ia tak akan merasa kesepian lagi hari ini, karena ada teman mengobrol. Buru-buru ia pergi menemui asisten yang sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri itu.


"Selamat pagi, Nona." Robi menyapa begitu melihat kemunculan Ajeng.


"Pagi, Bang Robi."


Mereka berdua duduk di ruang tengah sambil menikmati suguhan yang ada di atas meja. "Ada apa gerangan, pagi-pagi sudah kemari. Apa ada suatu hal yang penting?" tanya Ajeng.


"Kapan anda kembali ke Jakarta, Nona?" Pertanyaan balik Robi membuat Ajeng tersentak.


"Kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi hingga mengharuskanku kembali ke Jakarta?" Tanpa menjawab, ia justru bertanya kembali.


"Saat ini perusahaan sedang kosong kepemimpinan. Pak Radi telah diberhentikan sementara dari jabatannya karena melakukan kelalaian hingga menyebabkan beberapa masalah muncul dalam perusahaan. Waktu itu proyek yang dikerjakannya dengan Pak Cakra juga sempat mengalami kendala, tapi dapat teratasi karena kecerdasan dari pak Cakra juga kemampuannya yang mumpuni," Jelas Robi. Dalam kata-katanya ia sama sekali tidak berniat merendahkan Radi maupun meninggikan Cakra, tapi memang seperti itulah kenyataannya.


Ajeng termenung. Ia tak menyangka jika Radi telah lalai dengan tanggung jawabnya di perusahaan. Ajeng merasa sangat kecewa, bagaimana jika perusahaan yang sudah dirintis dan dibesarkan susah payah oleh mendiang ayahnya menjadi bangkrut.Ia pasti tidak akan bisa menerimanya.


"Jadi apa yang harus ku lakukan?" tanya Ajeng. Akan ia lakukan apapun untuk mempertahankan usaha ayahnya itu.


"Anda dan pemegang saham lainnya harus berunding. Apakah jabatan pak Radi yang saat ini sedang ditangguhkan akan dicabut atau justru dikuatkan. Jika anda memilih opsi kedua, tentu saja secepatnya kita harus mencari direktur pengganti."


"Apa aku wajib mengikuti proses itu?" tanya Ajeng. Jujur, ia masih enggan jika harus bertemu dengan Radi. Di perusahaan nanti, mau tidak mau mereka pasti akan bertemu.


"Wajib karena saat ini anda adalah pemegang saham terbesar di perusahaan."


Ajeng menghela napas pelan. Jika sudah begini, terpaksa ia harus melakukannya. "Baiklah, mungkin minggu depan aku akan kembali ke Jakarta. Aku akan membahasnya dulu dengan mas Cakra."


"Tentu, Nona."


"Silakan dicicipi dulu teh dan kuenya, Bang."


Robi mengangguk, setelah itu meraih cangkir di atas meja dan menyesap isinya dengan perlahan. Ajeng sendiri juga melakukan hal yang sama.


Tiba-tiba terlintas suatu pertanyaan di benak Ajeng tentang bagaimana keadaan Radi sepeninggal dirinya. "Apakah pria itu baik-baik saja?" Pertanyaan itu segera terlontar dari mulut Ajeng.


Robi menatap atasannya. Ia tahu jika pria yang dimaksud Ajeng tak lain adalah Radi, suaminya sendiri.


"Ya, dia baik-baik saja. Sudah satu bulan ini dia tinggal bersama wanita itu di sebuah rumah besar yang terletak di kawasan cukup elit. Ia juga tidak pernah lagi datang ke kantor maupun pulang ke kediaman Winata." Robi menceritakan apa adanya. Ia tidak ingin membuat nonanya berharap lagi pada manusia busuk seperti Radi.


Mendengar kejujuran Robi, tak pelak membuat hati Ajeng berdenyut nyeri. Sebegitu cintanya 'kah Radi pada Maya hingga membuat pria itu meninggalkan tanggung jawabnya di kantor. Ia benci pria itu, tapi kenangan indah yang sudah mereka lalui selama sepuluh tahun ini, terus menjadi bayangan menyesakkan yang menghantui langkahnya.


"Nona!" sentak Robi kala menyaksikan Ajeng yang termenung cukup lama.


"Ah, i-iya. Kenapa?"

__ADS_1


"Saya sudah mendengar langsung dari pak Cakara jika saat ini kalian tengah menjalin hubungan. Pertanyaan saya, apa yang akan anda lakukan setelah ini?" Persis seperti yang ditanyakannya pada Cakra, Robi pun menanyakan pertanyaan yang sama pada Ajeng.


"Maksudmu?"


"Hubungan anda dan pak Cakra tidak mungkin akan berjalan di tempat seperti ini untuk selamanya. Jadi apakah anda sudah memutuskan untuk mengakhiri rumah tangga anda dengan pak Radi?"


Deg


Jantung Ajeng berdetak cepat. Pertanyaan Robi seakan menariknya keluar dari zona nyaman yang sudah ia diami selama beberapa bulan ini. Ia seakan lupa jika statusnya saat ini masih menggantung. Benar kata pria itu, hubungan yang tengah dijalinnya dengan Cakra tentu tidak mungkin akan berjalan di tempat seperti ini untuk selamanya. Bagaimana pun juga, mereka harus menyelesaikan urusan rumah tangga masing-masing, baru setelah itu bisa melangkah ke tahap selanjutnya.


"A-aku akan membicarakan masalah ini dulu dengan mas Cakra," putus Ajeng.


"Pak Cakra sudah melayangkan surat gugatan cerainya untuk nona Silvia," sahut Robi cepat.


"Huh? Da-dari mana kau tahu?" Ajeng sungguh terkejut.


"Selama ini aku selalu memantau semua orang yang sedang dekat denganmu, Nona."


Ajeng bergidik, "Kau begitu menakutkan!"


"Terima kasih, Nona."


"Itu bukan pujian!"


"Saya tahu."


Ajeng mendesah pelan, masalah sedang menunggunya di luar sana. "Do'akan mama agar tetap kuat ya, Nak." Diusapnya sayang perut buncitnya.


"Jika anda sudah memutuskan, segera hubungi saya. Saya akan langsung mengurus surat perceraian anda dengan pak Radi."


Deg


"Kenapa kau ingin sekali aku berpisah dengan suamiku?" tanya Ajeng tak habis pikir.


Entahlah, Ajeng tidak tahu harus bagaimana untuk menggambarkan rasa hatinya saat ini. Semuanya campur aduk dan sangat memusingkan.


"Saya harus kembali ke Jakarta. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Jika anda butuh bantuan, segera hubungi saya." Robi pun pamit.


"Ya, terima kasih."


Ajeng menyandarkan tubuhnya di sofa. "Kalau hanya ingin mengatakan itu, kenapa mesti repot datang jauh kemari. Padahal bisa mengatakannya lewat telepon." Kadang Ajeng tidak mengerti dengan perangai asistennya itu, sangat misterius.


...🌻 🌻 🌻...


Silvia sampai di apartemen Satria. Ia pulang lebih dulu daripada kekasihnya itu. Sebenarnya Silvia bisa saja menunggu Satria dan mereka pulang bersama. Namun, ada satu hal yang harus ia selidiki dan pria itu tidak boleh tahu.


Silvia menutup pelan pintu kamar Satria dan tak lupa menguncinya. Setelah itu ia membuka lemari dan mencari sebuah petunjuk di sana. Sebuah petunjuk akan hubungan Satria dengan wanita bernama Maya yang mereka temui semalam.


Sudah semua tempat Silvia geledah, tapi tak ada satu pun bukti yang menunjukkan adanya hubungan yang pernah terjalin antara Satria dan Maya, minimal sebuah foto mereka berdua.


"Apa benar mereka hanya kenalan biasa?" pikirnya. "Tapi, bagaimana dengan anak itu. Ia memiliki hampir 90 persen ciri fisik mirip Satria?"


Drrtt... drrttt.... drrttt....


Ponsel Silvia yang ada di dalam saku celananya bergetar. Ia segera mengambil benda canggih itu.


PRAKKK


Tak sengaja ia malah menjatuhkan ponselnya ke lantai. "Sial."


Silvia berjongkok dan memungut ponselnya yang saat ini sedang menyala menampakkan nama Cakra tertera pada layarnya sebagai si pemanggil. "Ada apa dia menelpon?"


Silvia baru saja akan mengangkat panggilan itu saat matanya menangkap kotak mencurigakan yang ada di kolong tempat tidur.

__ADS_1


Diabaikannya panggilan si mantan suami dan lebih memilih menyelidiki kotak tersebut.


"Apa isi kotak ini?" katanya setelah berhasil meraih kotak tersebut keluar dari kolong.


Tak menunggu waktu lama, ia langsung membukanya. Bisa dilihatnya banyak sekali benda yang berada di dalam sana. Mulai dari baju pasangan, satu set perhiasan, album foto dan juga sebuah kotak kecil persegi panjang yang tidak ia tahu apa isinya. Silvia memutuskan untuk membuka kotak itu terlebih dahulu.


Deg


Matanya membulat saat melihat sebuah alat tes kehamilan yang menunjukkan dua garis merah. "Punya siapa ini?"


Tak ingin menghabiskan waktunya dengan berpikir, Silvia lanjut membuka album foto yang ada di sana. Siapa tahu ia bisa menemukan gambar dari sosok pemilik testpack.


Deg


Baru halaman pertama, mata Silvia langsung disuguhi oleh foto-foto mesra Satria dengan seorang wanita berambut panjang. Halaman selanjutnya, kembali matanya dibuat terbelalak saat menemukan foto kekasihnya dengan wanita yang sama berada di atas tempat tidur dengan tubuh polos yang hanya ditutupi selimut.


Tidak tahan berlama-lama melihat foto mesra itu, Silvia langsung menutup albumnya. Walau itu semua hanyalah bagian dari masa lalu Satria, tapi hati Silvia tetap tidak sanggup melihatnya.


"Via, kau sudah pulang?" Terdengar suara dari luar kamar.


Silvia gelagapan, ia memasukkan kembali barang-barang tersebut ke dalam kotak dan menyimpannya ke tempat semula, kecuali testpack dan album foto. Dua benda itu ia sembunyikan di dalam tasnya.


"Via!" Satria mengetuk pintu kamar. "Apa yang kau lakukan di dalam, kenapa pintunya dikunci?"


"I-iya, tunggu sebentar." Silvka membuka pakaian yang dikenakannya dan menyisakan pakaian dalam saja. Lalu, bergegas ia membuka pintu.


"Apa yang kau lakukan, kenapa pintunya dikunci?" semprot Satria begitu pintu terbuka.


"Ta-tadi aku mau mandi," jawab Silvia.


"Kenapa pintunya pakai dikunci segala?" Pria itu masuk dan melempar tas kerjanya ke atas kasur.


"Tidak apa-apa, jaga-jaga saja. Aku sendirian di rumah soalnya." Alasan Satria hanya diangguki dengan malas oleh Satria.


"Baiklah, kalau begitu aku mandi dulu."


"Sekalian saja kita mandi bersama."


Satria mendorong tubuh Silvia masuk ke kamar mandi, tentu saja di dalam nanti mereka tidak cuma mandi, tapi juga bercinta. Pria maniak itu sangat tidak bisa melihat wanita telanjang di hadapannya.


.......


Satu jam kemudian, pasangan itu baru keluar dari dalam kamar mandi. Satria terlihat segar sementara Silvia justru terlihat letih.


"Aku akan menyiapkan makan malam." Setelah berganti baju, Satria langsung menuju dapur.


Silvia mengangguk, wanita itu lantas membaringkan tubuhnya di tempat tidur untuk beristirahat sejenak. Kehamilannya membuat ia cepat lelah.


Wanita berambut pendek itu menerawang, selama permainan panas mereka tadi, wajah Maya dan Satria yang bercumbu di dalam foto terus menghantuinya. Sungguh, ia tidak menikmati sedikit pun percintaan mereka, yang ada hanya rasa cemburu yang berkuasa di dalam hatinya. Terlebih, jika mengingat bayi Maya yang kemungkinan besar adalah anaknya Satria.


"Aku tak akan membiarkan kalian kembali bersama!"


.......


Cakra berdecak kesal, sedari tadi dihubunginnya nomor Silvia, tapi tak satu pun dari panggilannya yang diangkat. Entah sesibuk apa wanita itu saat ini.


Rencananya Cakra akan memberikan surat gugatan cerai untuk ditandatangani, tapi kalau begini kejadiannya, sebaiknya besok saja ia berikan, sekaligus ia juga ingin membahas sesuatu yang berhubungan dengan Satria pada calon mantan istrinya itu.


...Bersambung...


...Jangan lupa Like & Comment... πŸ™πŸ»πŸ˜Š...


...Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2