2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Season 2 - 36. Keberuntungan


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Hari ini Dira tidak ada jadwal kuliah, jadi ia menemani sang nenek pergi ke rumah sakit. Pagi tadi ia sudah diberitahu oleh ayahnya jika sang ibu sudah siuman, jadi sudah dirasa aman untuk membawa neneknya bertemu cucu mungilnya. Sedangkan Eya dan si kembar akan menyusul nanti sepulang sekolah.


Sesampainya di rumah sakit, Tyas langsung menghadiahi menantunya dengan pelukan hangat. Ia sangat bahagia memiliki menantu seperti Ajeng, yang telah memberikan lima orang cucu untuknya. Hari tuanya pasti tak akan sepi walau tidak ada pendamping hidup.


"Menggendong bayimu mengingatkan ibu ketika pertama kali menggendongmu," ucap Tyas sembari menatap putranya.


"Iya, Bu. Setelah ku perhatikan, jika dibandingkan dengan anak-anakku yang lain, bayi ini wajahnya persis sekali denganku, bak pinang dibelah dua," balas Cakra yang berniat memanas-manasi Ajeng.


Benar saja, Ajeng langsung cemberut mendengar penuturan sang suami. "Kita yang membawanya selama sembilan bulan di perut, eh... pas keluar ternyata malah mirip bapaknya. Kenapa bisa begitu ya, Bu?" tanya Ajeng pada mertuanya.


Tyas terkekeh. "Bagus dong kalau mirip bapaknya, daripada mirip bapak anaknya tetangga, kan bisa gawat..." kelakar Tyas membuat Cakra tertawa sementara Ajeng semakin cemberut.


"Ih, ibu ini... berarti maksudnya aku selingkuh sama suaminya tetangga dong..." balasnya tergelak.


Mendengar kata selingkuh, Cakra langsung mendelik. "Awas aja kalau berani ngelirik suami tetangga!" peringatnya.


"Nggak usah cemburu, udah tua!" ejek Ajeng.

__ADS_1


"Biarin tua, tapi masih tampan dan gagah..." ucapnya pongah.


"Apanya yang gagah, perut mas aja udah buncit, nggak kekar lagi kayak dulu!" balas Ajeng.


Tyas tersenyum melihat perdebatan mesra antara suami istri itu, tiba-tiba ia teringat dengan mendiang suaminya, Guntur. Dulu mereka juga sering berdebat untuk hal-hal kecil, tapi hal itulah yang membuat cinta di keduanya semakin kuat. "Aku merindukanmu, Mas..." batin Tyas sedih. Namun, nenek tujuh orang cucu itu segera menjauhkan kesedihan yang menggelayuti hatinya karena hari ini saatnya berbahagia karena kehadiran anggota baru di keluarga besar Adibrata.


"Oh ya, siapa nama cucuku yang tampan ini?" tanya Tyas.


"Bu, kami belum menamainya. Kami ingin ibu yang memberikannya nama," jawab Ajeng.


Tyas tersenyum haru. Semalam ia tidak tidur demi memikirkan nama untuk cucu barunya. Dan ternyata perjuangannya itu tidak sia-sia. Nama yang sudah ia tentukan ternyata akan terpakai juga.


"Iya, Bu. Apa ibu sudah menemukan nama yang cocok?" Giliran Cakra yang bertanya.


"Siapa namanya, Bu?" sahut Ajeng tak sabaran.


"Atharrazka, yang memiliki makna keberuntungan."


"Nama yang bagus. Nanti kita bisa memanggilnya Athar," ucap Cakra.

__ADS_1


"Tapi panggilan Azka juga bagus loh, Mas..." pungkas Ajeng.


"Lebih bagus Athar daripada Azka, sayang..." jelas Cakra tak sependapat.


"Aku mau panggil dia Azka aja..." Ajeng tetap pada keputusannya.


"Ya udah, kamu panggil Azka, mas panggil Athar..." putus Cakra.


"Ok..." Ajeng setuju.


"Kalian ini, nama panggilan saja mesti diperdebatkan. Terserah mau memanggilnya apa, asal panggilannya tetap berasal dari namanya..." Tyas menengahi. Ia sedikit heran melihat tingkah Cakra yang tidak ingin mengalah dari istrinya, padahal dulu dia begitu penurut.


"Oek... oek...".


Athar yang berada di gendongan neneknya pun menangis, mungkin terganggu karena kebisingan yang dibuat oleh kedua orang tuanya.


"Athar sepertinya haus, sebaiknya kamu beri ASI dulu, Nak..." Tyas menyerahkan Athar pada ibunya.


...Bersambung...

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca😊


Jangan lupa tinggalkan jejak ya, bisa dengan vote, Comment dan juga like. 🙏🏻


__ADS_2