2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Season 2 - 21. Syarat Dari Ayah


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Malam harinya di kediaman Adibrata, Cakra dan Ajeng memanggil Dira untuk membahas rencana liburannya si sulung itu. Dira duduk di hadapan kedua orang tuanya, seperti tersangka yang akan diinterogasi. Sofa lembut dan empuk itu tiba-tiba berubah panas setelah Dira duduki. Sungguh, ia takut jika Cakra tidak mengizinkannya pergi liburan, padahal semua rencana sudah tersusun dengan matang. Dan, apa pula tanggapan sahabat-sahabatnya nanti jika ia tidak jadi pergi.


"Mama sudah bilang sama papa, katanya kamu mau pergi liburan bersama teman-teman, benar itu, Nak?" tanya Cakra memulai obrolan.


Dira mengangguk seraya berucap. "I-iya, Pa."


"Rencananya mau ke mana?" Kali ini giliran Ajeng yang bertanya.


"La-labuan Bajo, Ma..." cicit Dira.


"Labuan Bajo di NTT, kan? Jauh juga ya... memangnya tidak ada tempat liburan menarik yang lebih dekat?" tanya Cakra. Berat jika harus melepaskan putrinya pergi jauh tanpa pengawasan darinya.


Dira terdiam, merasa sedikit kecewa atas reaksi Cakra. Sampai disini ia sanksi jika papanya itu akan mengizinkannya pergi.


Melihat wajah murung sang putri, Cakra jadi tidak tega. Pria itu menghela napas sebentar. "Berapa orang yang akan pergi?" tanyanya kemudian.


Dira mengangkat wajah, sedikit antusias. Semoga diizinkan, begitu harapnya. "Enam orang, Pa."


"Bagaimana, sayang?" Cakra melirik sang istri, minta persetujuan.


Ajeng mengangguk. Ia tidak bisa terus-terusan mengurung Dira. Putrinya sudah besar, dan pasti bisa bertanggungjawab dan melindungi dirinya sendiri. Sebagai seorang ibu, ia harus percaya.


"Baiklah, mama izinkan kamu pergi. Tapi satu pesan mama, jaga dirimu baik-baik. Selalu bersama dengan teman-temanmu. Jangan pergi sendirian, dan jangan percaya begitu saja dengan orang yang baru kamu temui." Ajeng berpesan.


"I-iya, Ma." Dira merasa seperti anak SD yang baru pertama kali dilepas main ke luar.


"Karena mama sudah mengizinkan, maka papa juga akan mengizinkan kamu pergi," kata Cakra.


Dalam hati, Dira sudah bersorak senang.


"Tapi..."


Mendengar kata tapi keluar dari mulut sang ayah sambung, kegirangan Dira tertahan sejenak.


"Kamu boleh pergi setelah mendapatkan izin dari Ayah Radi," sambung Cakra.


"Apa?" Dira melotot. Apalagi ini? Ayah Radi bahkan lebih protektif daripada Papa Cakra.


"Hubungi ayahmu, dan beritahu papa jika sudah mendapatkan izinnya," ucap Cakra.


"Baik, Pa. Kalau begitu aku ke kamar dulu, aku akan menghubungi ayah." Dira berjalan lesu menuju kamarnya.


"Apa Kak Radi akan mengizinkannya, Mas?" tanya Ajeng.

__ADS_1


Cakra tersenyum. "Dia akan mengizinkannya, tapi tentu saja dengan syarat lainnya."


Setelah Ajeng memberitahukan bahwa Dira akan pergi berlibur sore tadi, Cakra langsung menghubungi Radi. Kedua bapak-bapak itu berbincang cukup lama di telepon.


...****************...


Dira menatap layar ponselnya yang sudah menampilkan nomor sang ayah. Sebelum menelepon, gadis itu terlebih dahulu menyusun kata-kata yang nanti akan disampaikannya.


"Ok, sekarang saatnya."


Dira langsung mendial nomor sang ayah. Dengan hati berdebar, ia menanti jawaban di seberang sana.


"Halo, sayang..." Akhirnya panggilannya di jawab.


"Ayah..." sapa Dira.


"Iya, Nak. Kenapa?" Di seberang sana, Radi pura-pura tidak tahu apa yang akan dikatakan putrinya. Padahal, ia sudah merencanakan semuanya dengan Cakra.


"Aku mau minta izin, Yah. Aku dan teman-teman akan pergi liburan ke Labuan Bajo. Papa dan Mama sudah mengizinkan, sekarang aku mau minta izin ayah. Hm... apa aku boleh pergi, Yah?" tanya Dira to the point. Ia tidak menanyakan kabar ayahnya terlebih dahulu, karena lusa kamarin ia sudah menginap di rumah sang ayah. Jadi, ia tahu kalau ayahnya itu saat ini baik-baik saja.


"Boleh, sayang..."


Deg


Dira menganga tak percaya. Semudah itu, pikirnya.


"Iya, Nak. Tapi dengan satu syarat..."


"Sudah kuduga..." batin Dira menjerit. Ayah dan papa sama saja, semuanya harus pakai syarat.


"Syaratnya apa, Yah?"


"Harus ada anggota keluarga yang menemani," ucap Radi.


Dira merengut sebal. "Tapi, Yah... aku liburan bersama teman-teman, malu dong kalau harus ditemani orang tua. Nanti bakal dikira anak manja."


"Tenanglah! Yang akan menemanimu nanti bukan orang tua, tapi masmu, Reyhan. Kebetulan, masmu itu lagi libur. Jadi jika ingin tetap pergi, maka masmu harus ikut. Bagaimana?" tawar Radi.


"Semua orang berpasangan, jika Mas Reyhan ikut, dia akan jadi obat nyamuk, dong. Bagaimana kalau dia tahu kalau aku dan Lingga pacaran? Lalu memberitahu ayah? Ah... kan jadi panjang urusannya..." Dira mendumel dalam hati.


"Bagaimana, sayang?" Radi meminta kepastian.


"Baiklah, Ayah." Mau tak mau, Dira harus menyetujui syarat yang diajukan.


"Kalau begitu ayah akan memberitahukan ini dulu pada Reyhan. Nanti akan ayah minta dia hubungi kamu langsung."

__ADS_1


"Iya. Terima kasih ya, Ayah."


"Sama-sama, sayang."


...****************...


Hari keberangkatan pun tiba. Semuanya sudah berkumpul di bandara. Hanya Reyhan yang belum tampak batang hidungnya.


"Kakak lo kok belum datang, Ra?" tanya Luna.


"Tadi gue chat, katanya hampir sampai."


Setelah menerima syarat dari sang ayah malam itu. Dira langsung menghubungi teman-temannya dan mengatakan jika kakaknya akan ikut bersama mereka. Bukannya terganggu, justru teman-teman Dira merasa sangat senang, karena liburan mereka akan semakin ramai.


"Ra, itu kakak lo, bukan?" Hanna menunjuk arah pintu masuk bandara.


Enam pasang mata yang ada di sana langsung tertuju ke arah yang ditunjuk Hanna. Dan benar saja, mereka melihat Reyhan berjalan sembari menarik koper. Namun, ada yang menjadi perhatian mereka semua, yakni seorang perempuan cantik yang berjalan di samping Reyhan.


"Siapa yang bersama kakak lo itu, Ra?" tanya Hanna.


Dira yang tidak tahu jika kakaknya akan membawa teman, diam saja.


"Eh, itu 'kan kakak kamu, By?" Luna langsung menyikut lengan kekasihnya.


Yovan menajamkan penglihatannya. "Lah, iya. Itu Kak Yura." Ia membenarkan.


Semuanya diam saat Reyhan dan perempuan yang ternyata adalah kakaknya Yovan itu datang menghampiri.


"Maaf, sudah membuat kalian menunggu..." ucap Reyhan.


"Nggak apa-apa kok, Mas. Kami juga belum lama." Dira menjawab, mewakili yang lainnya.


"Yovan, kamu di sini juga?" Perempuan yang bersama Reyhan, yang tak lain adalah kakaknya Yovan, bernama Yura, sedikit kaget melihat keberadaan adiknya.


"Iya, Kak. Jadi, kakak ikut liburan bareng kami? Bukannya waktu itu kakak izin sama mami dan papi kalau kakak akan pergi liburan bersama teman-teman kakak?" tanya Yovan.


Yura yang menerima pertanyaan seperti itu langsung kicep, tak bisa menjawab.


"Yura benar, dia pergi bersama saya. Saya temannya Yura." Reyhan menggantikan Yura untuk menjawab.


"Oh, begitu. Hahahaha. Daripada lama-lama berdiri di sini, sebaiknya kita langsung check in saja." Luna yang merasakan jika suasana berubah canggung, langsung saja mengajak semuanya untuk bergegas karena jadwal keberangkatan mereka sebentar lagi.


Dira menatap Reyhan yang jalan terlebih dahulu bersama dengan Yura. "Syukurlah, ku pikir Mas Reyhan bakal jadi obat nyamuk. Ternyata sudah punya gandengan," pikirnya.


...Bersambung...

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca 😊


Jangan lupa Vote, Comment dan Follow 🙏🏻


__ADS_2