
...🌷Selamat Membaca🌷...
Waktu dua bulan berlalu dengan cepat, tak terasa kini kandungan Ajeng sudah berumur tujuh bulan. Anak-anaknya yang lain pun sudah sekolah ke tingkat yang lebih tinggi. Dira di bangku perkuliahan, Eya naik kelas 2 SMA dan si kembar, kelas tiga SMP.
Satu minggu lagi Dira akan berkuliah. Ia berada di kampus yang sama dengan Hanna, Luna, Gio dan Yovan. Meski berada di satu universitas, mereka berlima mengambil jurusan yang berbeda. Dira di kedokteran, Hanna mengambil jurusan teknik sipil, Luna akuntansi, Yovan di managemen bisnis dan Gio di Teknik Informatika. Dengan jurusan yang berbeda, otomatis mereka akan memiliki teman-teman baru juga nantinya.
Ada hal yang membuat Dira sedih hari ini, yakni ia harus melepas Lingga untuk melanjutkan pendidikannya ke Semarang. Dira dan semua teman-temannya sudah ada di bandara siang ini. Tak hanya mereka, orang tua Lingga, dan juga kakak adiknya ada di sana mengantarkan.
"Hati-hati di sana ya, Nak. Makan yang teratur dan jangan lupa minum vitamin. Belajar yang rajin, jangan bergaul dengan orang yang tidak benar, terus..."
"Sudah, sayang. Anak kita sudah besar, dia pasti tahu apa yang terbaik untuknya." Fadhil menghentikan Maya yang terus bicara.
"Mas nggak akan mengerti bagaimana perasaanku. Aku ini seorang ibu yang akan berpisah dengan anaknya untuk pertama kali..." protes Maya.
"Iya, Mas tahu. Tapi Lingga 'kan cuma ke Semarang, dekat kok. Kita bisa mengunjunginya saat kangen," balas Fadhil.
"Pendidikan polisi itu nggak gampang loh, Mas. Bagaimana kalau nanti Lingga sakit dan terluka? Aku di sini nggak akan bisa tenang, Mas. Apa sebaiknya kita pindah saja ke Semarang?" usul Maya tak masuk akal.
"Ma..." Mendengar perdebatan orang tuanya, Lingga pun menengahi. Jika terlalu lama ditahan seperti ini, bisa-bisa ia terlambat, belum lagi ia juga ingin berpamitan pada kekasih dan teman-temannya.
"Ma, aku akan mengingat semua pesan yang mama berikan. Kalau mama mengkhawatirkan aku, jika diizinkan aku akan mencoba menghubungi mama setiap hari." Lingga menggenggam tangan Maya dengan erat, seolah meyakinkan jika ia mampu hidup terpisah dari orang tuanya.
"Baiklah, mama tunggu..." Walau tak rela, Maya hanya bisa mengangguk.
"Semangat, Nak. Do'a papa selalu menyertaimu. Jika butuh sesuatu, langsung kabari papa dan mama." Giliran Fadhil yang mengucapkan salam perpisahan.
"Pasti, Pa." Lingga tersenyum, ia sangat bahagia memiliki papa sambung yang perhatian dan bijak seperti Fadhil.
Sekarang gikiran Kei dan Lian. Tiga bersaudara itu saling berpelukan. Mereka selama ini tidak pernah berpisah, dan sekarang harus berpisah untuk pertama kalinya.
"Kakak pasti akan sangat merindukanmu..." ucap Kei. Walau mereka tak memiliki hubungan darah, tapi Kei sangat menyayangi Lingga seperti adik kandungnya sendiri.
"Aku juga pasti akan merindukan kakak dan semuanya..." Mendadak Lingga menjadi sedih.
"Aku tidak akan punya teman main PS lagi, deh..." lirih Lian. Biasanya Lingga akan menemaninya bermain PS di setiap waktu luang.
__ADS_1
"Jangan main PS terus! Belajar yang rajin agar kelak bisa menyusul abang ke Semarang," goda Lingga.
"Nggak mau, aku mau kuliah di sini aja, nggak mau pisah dari papa dan mama..." rajuknya sembari memeluk Maya.
"Si bungsu yang manja!" ledek Kei.
"Biarin, wek!" Lian mencibir.
Mereka tertawa. Tak berselang lama, muncul lagi tiga orang yang juga ingin melepas kepergian Lingga untuk menempuh pendidikannya.
"Maaf, kami terlambat. Apa penerbanganmu masih lama?" tanya Satria yang baru sampai
"Masih ada sisa waktu kok, Dad..." Lingga senang karena ayah kandungnya juga turut hadir.
Satria pun memberikan wejangan pada putra sulungnya itu, disusul oleh Silvia. Terakhir, Saka menghampiri saudaranya dan berbisik.
"Bang, selama lo kuliah, berarti motor lo nganggur, kan? Kalau motor gue disita lagi, gue pinjam motor lo, ya?" pintanya.
Lingga berdecak. "Mulai sekarang belajarlah yang serius, jangan pacaran mulu!" nasihatnya.
'Terserah lo, deh..." Lingga memutar mata malas.
"Sayang, kita melipir sebentar, yuk! Lihatlah, teman-teman Lingga juga ingin berpamitan padanya," ajak Fadhil.
"Iya, Mas."
Semua keluarga bergerak mundur dan membiarkan Dira dan teman-temannya untuk berbicara dengan Lingga.
"Kalau liburan, kita ngumpul-ngumpul lagi ya, Bro!" ucap Gio.
"Pasti..." jawab Lingga.
"Yang semangat belajarnya, biar cepat lulus dan jadi Pak Polisi, terus bisa halalin Dira," kelakar Yovan.
"Rencanaku juga seperti itu..." Lingga mengiyakan, membuat Dira jadi malu.
__ADS_1
"Hati-hati lo di sana, jangan genit-genit sama cewek lain," peringat Hanna.
"Jika lo sakitin sahabat kita, awas aja lo, gue masukin penjara walau lo polisi sekalipun!" lanjut Luna, mengancam.
"Iya, tenang aja."
Kini giliran Dira. Melihat kedua orang itu yang hanya diam sambil bertatapan. Keempat teman mereka memilih untuk menjauh.
"Bee, aku pasti bakalan kangen kamu..." lirih Dira sendu.
Lingga mendekat dan memeluk Dira dengan erat. "Sama, Bee. Rasanya berat untuk meninggalkan kamu."
Keduanya berpelukan cukup lama, dan tentu saja itu membuat kedua orang tua Lingga sedikit curiga akan hubungan keduanya.
"Itu Dira anaknya Radi dan Ajeng, kan?" celetuk Silvia kala menyadari siapa gadis yang tengah dipeluk anak tirinya.
"Iya, aku baru sadar kalau dia ada di sana," sahut Satria.
"Dira anaknya Mas Radi dan Ajeng?" batin Maya. Ia memerhatikan Lingga dan Dira dengan seksama. "Ada hubungan apa mereka? Kok, kelihatannya dekat sekali, sampai berpelukan segala."
Deg
Mata Maya melotot saat melihat putranya mencium kening Dira. Kalau begitu, bisa dipastikan jika hubungan keduanya bukanlah sebatas teman biasa.
"Sayang, sepertinya putra kita sudah punya kekasih..." bisik Fadhil yang berdiri di samping Maya.
Maya tercenung...
Kenapa harus dengan anaknya Radi dan Ajeng...
Dari sekian banyaknya gadis di dunia ini, kenapa harus putri dari Radi dan Ajeng yang dicintai putranya...
"Ya Tuhan, bagaimana ini?" pikir Maya nelangsa.
...Bersambung...
__ADS_1
Bagaimana, ya? Apakah Maya akan meminta Lingga untuk meninggalkan Dira? Terus nantikan kelanjutannya...