
...🌷Selamat Membaca🌷...
"Semoga benihku cepat tumbuh di dalam sini." Cakra mengusap pelan permukaan perut Ajeng yang tidak ditutupi oleh apapun. Pria itu baru saja selesai menyemburkan benihnya pada rahim sang istri.
Ajeng menatap sendu ke arah Cakra yang sudah berpindah posisi dari atasnya menjadi tidur di sampingnya. Wanita itu melihat jika ada harapan yang sangat besar pada diri Cakra untuk segera mendapatkan keturunan. Ajeng merasa tidak tega untuk mengatakan jika ia belum siap untuk hamil kembali. Bukan berniat menunda, hanya saja lima bulan lalu ia baru saja menjalani operasi sesar, dan setahunya akan sangat beresiko jika ia hamil kembali dalam waktu yang dekat.
"Kau memikirkan apa, hm?" tanya Cakra setelah menyadari keterdiaman istrinya.
"Mas, apa kau keberatan jika kita konsultasikan terlebih dahulu pada dokter mengenai rencana kehamilan itu?" Ajeng memilih untuk mendiskusikan masalah itu pada Cakra, ia tidak mungkin mengambil keputusan seorang diri karena sekarang dirinya sudah bersuami, dan sebagai pasangan yang baik ia harus terbuka, membicarakan semua masalah atau hal yang tengah dipikirkan, agar bisa mencari jalan keluarnya bersama-sama.
Cakra tersenyum. "Tentu. Besok kita akan ke rumah sakit. Lebih cepat, lebih baik. Aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu mengingat jika lima bulan lalu kau baru saja melakukan operasi sesar."
"Terima kasih, Mas." Ajeng tersenyum haru. Ia bersyukur mendapatkan suami yang bijak dan penuh perhatian seperti Cakra.
"Sama-sama, sayang." Cakra mengelus kepala Ajeng. Ia juga merapikan rambut wanita itu yang acak-acakan setelah pergulatan panas mereka. "Sekarang tidur, kalau tidak tidur, aku akan mengajakmu bergulat lagi," ancam pria itu.
"Capek, Mas!" Ajeng memukul pelan dada polos Cakra.
"Ya sudah, istirahatlah! Sini peluk aku!" Cakra menarik tubuh Ajeng ke dalam pelukannya. "Sekarang tidur, apa kau mau aku nyanyikan?" Ia menawarkan.
"Boleh, apa Mas bisa bernyanyi?" tanya Ajeng yang kepalanya sudah menyusup di dada sang suami.
"Jangan remehkan suamimu yang multi talenta ini!" seru Cakra.
"Sombong!" ejek Ajeng. "Ya sudah, kalau begitu bernyanyilah, Mas. Aku ingin melihat seberapa bagus suara suamiku yang multi talenta ini," pintanya.
"Ok." Setelah mengucapkan kesanggupannya, Cakra pun bersiap mengambil napas. Sementara Ajeng masih setia bersandar di dada Cakra sembari tangannya melingkar di pinggang suaminya itu.
"Selamat tidur kekasih gelapku..." Suara Cakra mulai mengalun merdu. "Semoga cepat kau lupakan aku..." Pria itu membawakan lagu Sephia dari Sheila on 7.
Ajeng yang mulanya terlena karena suara merdu sang suami, langsung saja mencubit pinggang pria yang dipeluknya itu begitu tersadar dengan lirik yang tengah dinyanyikan.
"Aw..." Cakra merintih merasakan cubitan maut Ajeng. "Kenapa dicubit sih, sayang?" protesnya.
"Lagu lain, lagu tadi tidak enak didengar. Aku merasa seperti kekasih gelapmu yang sedang dininabobokan," sungut Ajeng.
Cakra terkekeh. Ia pikir lagu itu cukup bagus karena ada kata selamat tidurnya, tapi ternyata istrinya tidak suka. Kalau begitu, ia harus memikirkan lagu lain. "Baiklah, aku akan menyanyikan lagu barat saja. Omong-omong, kau bisa bahasa inggris atau tidak, sayang?" tanya Cakra.
PLAKK
Kali ini Ajeng menampar b*kong Cakra, membuat pria itu kembali mengaduh. "Aw, baru dua hari jadi istriku, kau sudah melakukan kekerasan saja, sayang! Dan juga, tindakanmu tadi telah berhasil membuat benda yang menggantung di bawah sana bereaksi," jelasnya.
Ajeng melotot dan langsung melepaskan pelukannya. "Ya ampun, Mas. Kau kok jadi mesum seperti ini? Padahal sebelum kita menikah kau tidak begitu," tanyanya heran.
Cakra tertawa melihat wajah istrinya yang keheranan. "Ya 'kan beda, sayang. Waktu itu kita belum halal, jadi aku berusaha membatasi diri agar tidak bertindak kurang ajar. Kalau sekarang kau sudah sah menjadi istriku, jadi aku bebas melakukan apapun."
__ADS_1
Ajeng mengangguk saja. "Oh begitu, jadi nyanyi tidak, nih?"
"Jadi, sini masuk lagi dalam pelukanku!" Cakra menarik Ajeng kembali ke dalam pelukannya.
"Tunggu!" Ajeng menahan tangan Cakra. "Pastikan yang di bawah sana tidur dulu!" katanya sembari pandangan mengarah pada tubuh bagian bawah Cakra yang tertutupi selimut.
"Dia sudah lelah, sayang. Jadi aman."
"Baiklah." Ajeng langsung menghambur dalam dekapan nyaman suaminya. "Bernyanyilah, Mas!"
"Sebelum itu, jawab dulu pertanyaanku!" pinta Cakra.
"Pertanyaan yang mana?"
"Itu, yang kau bisa bahasa Inggris atau tidak?" perjelas Cakra.
"Kau terlalu meremehkan istrimu ini, Mas. Aku menguasai tiga bahasa asal kau tahu. Inggris, Jerman dan Mandarin," balas Ajeng bangga.
"Wah, sama dong. Aku juga bisa bahasa Mandarin, tapi tidak dengan Jerman. Sebagai gantinya aku bisa bahasa Jepang."
Ajeng memutar bola mata bosan. "Sekarang kau mau nyanyi atau mau pamer, Mas?"
Cakra terbahak. "Ok, sayang."
Cup
...There's a calm surrender to the rush of day...
...Ada kepasrahan yang tenang pada hiruk pikuk hari...
...When the heat of a rolling wind can be turned away...
...Di saat panasnya angin beliung bisa dijauhkan...
...An enchanted moment, and it sees me through...
...Saat yang terkesima, dan itu membiusku...
...It's enough for this restless warrior just to be with you...
...Cukuplah sudah bagi pejuang yang gelisah ini untuk bersamamu...
...And can you feel the love tonight?...
...Dan bisakah kau rasakan cinta malam ini?...
__ADS_1
...It is where we are...
...Cinta ada di sekeliling kita...
...It's enough for this wide-eyed wanderer...
...Cukuplah sudah bagi pengembara bermata lebar ini...
...That we got this far...
...Bahwa kita sudah sejauh ini...
...And can you feel the love tonight?...
...Dan bisakah kau rasakan cinta malam ini?...
...How it's laid to rest...
...Bagaimana ia dibaringkan...
...It's enough to make kings and vagabonds...
...Cukuplah sudah membuat para raja dan pengembara...
...Believe the very best...
...Percayalah pada yang terbaik...
Tak lama Cakra bersenandung, terdengarlah bunyi napas Ajeng yang teratur, pertanda jika saat ini wanita itu sudah berpindah ke alam mimpi.
"Tidurlah, sayang. Aku mencintaimu..."
Cup
Setelah mengecup kening istrinya, Cakra pun menyusul ke alam mimpi. Pergulatan mereka malam ini cukup membuatnya lelah.
.......
Berbeda dengan pasangan suami istri berbahagia kita yakninya Ajeng dan Cakra. Di tempat lain ada pasangan lainnya yang kurang berbahagia. Mereka adalah Maya dan Fadhil.
Rumah tangga yang telah dijalani selama beberapa minggu itu tampak tidak mengalami kemajuan. Keduanya masih enggan untuk membuka diri, walaupun Maya sudah berusaha melakukannya, tapi dirinya langsung menyerah saat Fadhil tak terlalu menggubrisnya.
"Mas, kenapa kau selalu memunggungiku saat tidur. Apakah aku sama sekali tidak menarik bagimu, atau justru kau jijik dengan wanita yang memiliki masa lalu buruk sepertiku?" lirih Maya. Menatap punggung lebar suaminya yang tidur membelakangi dirinya.
...Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa Like & Comment
Terima kasih😊