2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Season 2 - 39. Saingan


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Arsha dan Arsy berlarian di koridor rumah sakit. Mereka berlomba mencari siapa yang paling dulu sampai di ruangan Ajeng.


"Adik-adik, jangan berlari di koridor rumah sakit, ya!" Salah seorang perawat yang mereka lewati, menasehati. Alhasil, si kembar terpaksa berhenti berlari dan berganti dengan jalan cepat.


"Aku sampai lebih dulu!"


Brakk


"MAMA!" Arsha tanpa basa-basi langsung membuka pintu kamar inap ibunya.


"Oek... oek... oek..."


Si kecil Azka yang baru saja tidur usai diberikan ASI oleh Ajeng pun terlonjak kaget dan menangis sejadi-jadinya.


"Arsha..." ucap Cakra berusaha menekan rasa kesal karena kelakuan bar-bar putra pertamanya.


"Maaf, Pa..." balas Arsha cengengesan.


"Gara-gara lo adik bayi jadi nangis. Dasar!" protes Arsy berlalu melewati Arsha yang masih berdiri di depan pintu.


Arsy menghampiri kedua orang tuanya dan menyalaminya dengan takzim. "Bagaimana keadaan mama?" tanyanya kemudian.


"Mama sudah lebih baik, Nak. Ini semua berkat do'a anak-anak mama..." jawab Ajeng.

__ADS_1


Arsyi tersenyum. Ia melirik sekitar ruangan sejenak. "Nenek dan Kak Dira di mana, Pa?" tanya Arsyi.


"Pulang. Nenek merasa lelah, jadi butuh istirahat." Ajeng yang menjawab. Kini tangannya sibuk mengayun-ayunkan Azka agar tertidur kembali.


"Mama..." Arsha yang melihat ibunya sudah kembali sehat merasa sangat bersyukur. Matanya sudah berkaca-kaca saking bahagianya karena masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk merasakan kasih sayang seorang ibu.


"Mas, tolong letakkan Azka di ranjangnya!" pinta Ajeng sembari menyerahkan bayi merah itu pada ayahnya. Pelan-pelan Cakra menidurkan Azka di ranjang bayinya.


"Arsha..." Kini Ajeng beralih pada putra sulungnya. Sedikit banyak, ia sudah mendengar dari suaminya tentang betapa terpuruknya Arsha saat ia kritis. "Sini, Nak... peluk mama!" Wanita berumur 40an itu meretangkan tangannya.


Air mata Arsha jatuh dan ia langsung menghambur memeluk Ajeng. "Arsha takut, Ma. Arsha takut mama pergi. Arsha sayang mama..." isak remaja itu.


Ajeng terharu memiliki putra yang sangat menyayanginya. Dielusnya lembut kepala bersurai hitam lebat itu. "Mama juga sayang Arsha. Tuhan masih memberikan mama kesempatan dan mama berdo'a agar Tuhan memberikan mama umur panjang sehingga bisa menemani Arsha dan anak-anak mama yang lainnya sampai kalian sukses nanti dan memiliki keluarga masing-masing," ucap Ajeng.


"Arsha mau sama mama aja..." rengek Arsha.


"Apa sih, Lo? Syirik aja!" Arsha mencibir.


"Kayak monyet lo mencibir gitu!" ejek Arsy tak henti-hentinya.


"Kalian ini, sudahi berdebatnya, nanti adik kalian bangun lagi!" perintah Cakra.


"Iya, Pa..." ll


Arsha dan Arsyi berdiri memandangi sang adik yang perlahan kembali memejamkan mata.

__ADS_1


"Adik bayi tampan sekali..." puji Arsyi gemas. Rasanya ia ingin menciumi pipi merah dan gembul adiknya itu.


"Lebih tampan gue sedikit, sih..." ujar Arsha membanggakan diri.


"Apa sih, sama adik sendiri tidak mau kalah. Kekanakan!" Arsy mendelik pada kembarannya.


"Oh ya, siapa nama adik bayi? Kalau tidak salah dengar, tadi mama menyebutkan nama Azka?" tanya Arsy.


"Iya. Nenek memberikan nama Atharrazka untuk adik kamu. Jadi mama memanggilnya Azka..." jawab Ajeng.


"Nama yang bagus, tapi kenapa panggilannya tidak Athar saja, Ma? Ku rasa Athar lebih enak didengar," protes Arsy.


Cakra tersenyum menang. Sekarang ia punya sekutu.


"Bagusan Azka, lah. Kalau Athar itu kesannya agak tua, sedangkan Azka lebih terdengar imut..." Seperti biasa, di antara dua anak kembar itu, selalu berbeda pendapat.


"Terserah lo, deh. Gue mau manggil Athar aja. Jadi jangan larang-larang gue..." Arsy melirik sinis.


"Suka-suka lo, sih. Nggak penting juga buat gue!" Arsha membalas tak kalwh sinis.


Ajeng dan Cakra hanya geleng-geleng kepala melihat putra-putri kembar mereka yang tidak pernah akur.


...Bersambung...


Jangan lupa Like, Vote dan comment 🙏🏻

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca 😊


.


__ADS_2