
...Penting!!!...
Karena terlalu banyak pemain dalam cerita ini, jadi aku ingin membuat daftarnya. Sebagai pengingat😅
💠Cakra & Ajeng
🔹Nadira (Radi & Ajeng)
🔹Aleeya
🔹Twin : Arshaka, Arsyila
💠Radi & Rina
🔹Reyhan (Rina & Ex)
🔹Rayyan
💠 Satria & Silvia
🔹Sakala
💠 Fadhil & Maya
🔹Keinnara (Fadhil & Ex)
🔹Lingga (Satria & Maya)
🔹Aulian (Fadhil & Maya)
💠 Bagas & Tania
🔹Arkana
🔹Shakila
💠 Rama & Sinta (Rama : Kakaknya Cakra)
🔹Twin : Arjuna & Anjani
Semoga dapat mempermudah🙏🏻
...****************...
...🌷Selamat Membaca🌷...
Kantin SMA Garda Satya
"Boleh aku duduk di sini? Soalnya meja yang lain sudah penuh semua." Dengan nampan di tangan, Lingga menghampiri tempat duduk Dira dan kedua temannya. Saat ini adalah jam istirahat dan semua siswa memenuhi setiap sudut kantin. Hingga sulit menemukan tempat yang kosong.
Dira, Hanna dan Luna saling berpandangan. Mereka seperti membuat suatu keputusan melalui tatapan mata.
__ADS_1
"Boleh, duduk aja." Dira akhirnya mempersilakan. Kebetulan di meja mereka masih tersisa satu bangku kosong.
"Makasih." Lingga langsung duduk di bangku kosong yang kebetulan tepat berada di depan Dira dan ia mulai menyantap makanannya.
Dira memandang Lingga, ia teringat pertemuan mereka beberapa hari yang lalu.
Luna dan Hanna saling menyikut, mereka terheran melihat Dira yang memerhatikan cowok yang duduk bersama mereka dengan lekat.
"Hm... apa ada sesuatu di wajahku?" Lingga yang sadar jika dirinya diperhatikan pun lantas bertanya. Ia menatap Dira.
Putri sulung Ajeng itu langsung salah tingkah karena ketahuan sedang memerhatikan Lingga. "Eh? Nggak ada apa-apa, kok. Maaf."
"Nggak perlu minta maaf. Kita memiliki mata jadi tak salah kalau suka memerhatikan seseorang," sahut Lingga.
Dira melongo, sementara kedua temannya menahan tawa.
"Ah... iya, kau benar." Dira tertunduk malu. Ia menatap piringnya yang masih tersisa nasi goreng. Tiba-tiba, nafsu makannya jadi hilang.
Di dalam hati, Lingga merasa gemas melihat tingkah Dira. Gadis itu terlihat sangat lucu kalau tengah malu-malu seperti ini. Untung saja tadi ia memberanikan diri untuk bergabung duduk bersama Dira, kalau tidak maka ia tidak akan mendapatkan momen langka seperti ini.
Kalau tadi Dira yang memerhatikan, sekarang gantian Lingga yang melakukannya. Kapan lagi ia bisa menatap wajah gadis pujaannya dari dekat.
Hanna dan Luna menyaksikan tingkah aneh kedua orang itu. Mereka merasa jika ada sesuatu yang terjadi diantara keduanya.
"Bang!"
Deg
Suara itu membuat Lingga terperanjat kaget. Ia menoleh dan lagi-lagi mendapati sang adik mengganggu kesenangannya.
"Ini gue mau balikin kunci motor lo. Makasih banyak, berkat lo, kencan gue sukses." Saka menyerahkan kunci motor Lingga.
"Oh, ok." Lingga mengambil kunci motornya dan memasukkannya ke dalam saku seragamnya.
Saka masih berdiri di sana. Mungkin karena perutnya yang merasa lapar, ia menatap penuh minat pada mi ayam yang ada di hadapan saudaranya.
"Itu, Lo nggak habisin?" tanyanya sembari menunjuk ke arah mangkuk mi ayam.
Lingga melihat mi ayamnya yang masih banyak, tidak habis-habis karena dirinya yang sibuk memerhatikan Dira.
"Kenapa? Lo mau?" tawar Lingga.
"Tentu saja. Gue lapar dan malas mesen. Punya lo buat gue aja, ya?" pintanya.
"Ya udah, nih makan!" Lingga menyodorkan mangkuk mi ayamnya ke hadapan Saka.
"Asyik..." Saka menarik salah satu kursi yang ada di meja sebelah dan duduk tepat di samping saudaranya. Ia dengan lahap langsung menyantap makanannya.
Perbincangan antar saudara itu tak luput dari perhatian Dira, Luna dan Hanna.
"Lo kayak orang yang nggak makan tiga hari tau, nggak!" ejek Dira begitu melihat cara makan Saka yang tidak ada elit-elitnya.
__ADS_1
"Eh? Ada Kak Dira yang cantik jelita, maaf ya... baru kelihatan," sapa Saka dengan mulut penuh makanan.
"Jorok! Telan itu dulu makanan yang ada di mulut!" Dira bergidik melihat tingkah Saka yang sangat kekanak-kanakan.
Setelah makanan turun melewati kerongkongannya, Saka pun bertanya. "Tumben lo berdua duduk dalam satu meja, nggak biasanya?" Ditatapnya Lingga dan Dira bergantian.
Lingga yang merasa jika Saka pasti akan mengatakan hal yang aneh-aneh, langsung menjawabnya. "Tadi semua meja penuh, makanya gue ikut gabung di sini," jawabnya.
"Oh... seru ya lihat anak IPA dan IPS nyampur gini," celetuk Saka.
"Apaan? Biasa aja kali." Hanna menjawab. Lagi pula di sekolah mereka anak IPA atau IPS sama saja, tidak ada yang diistimewakan. Semuanya akur, cuma memang jarang membaur saja.
Dira dan teman-temannya adalah anak IPA sementara Lingga dan Saka mengambil jurusan IPS. Semuanya kelas tiga, kecuali Saka, masih duduk di kelas dua.
"Kenyangnya..." ucap Saka. Cowok itu bersendawa cukup keras setelah menghabiskan mi ayam beserta kuah-kuahnya.
"Lo nggak sopan banget, sendawa di depan orang gini!" protes Hanna.
"Biasa aja kali. Bukan sesuatu yang harus dipermasalahkan." Saka menyahut santai.
Dira geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah sepupunya. "Setahu gue Om Satria orangnya perfeksionis, tapi kok anaknya kayak Lo gini, sih. Urakan!" ledeknya.
Jika melihat penampilan Saka sekarang, semua orang pasti berpikir jika cowok itu terlihat urakan dan sedikit berantakan. Lihat saja, rambutnya yang dibiarkan panjang, lalu dua kancing atas baju seragam yang dibiarkan lepas, baju yang tidak dimasukkan ke dalam ditambah dengan banyaknya gelang yang melingkar dipergelangan tangannya. Dira heran, kenapa siswa macam Saka tidak kena razia oleh guru.
"Kalau Lo mau lihat turunan Daddy gue yang paling sempurna, ini nih orangnya!" Saka menepuk pelan pundak abangnya.
"Dari segi wajah, perawakan dan perfeksionisme, itu semua ada pada saudara gue yang tampan ini. Ya kan, Bang?" Saka mengedip jahil pada Lingga.
"Apaan sih, Lo!" Lingga menjauhkan tangan Saka dari tubuhnya. Ia merasa malu dengan tingkah Saka yang terlalu blak-blakan.
"Memang benar, lo lebih mirip sama Daddy, Bang. Tapi semoga saja playboynya Daddy nggak nurun ke lo. Biar ke gue aja, hehe ..." tambah Saka.
"Cih, playboy kok bangga!" sungut Luna.
"Syirik aja lo!" Saka mencibir ke arah Luna.
Dira menatap Saka dan Lingga bergantian. Pantas saja waktu itu ia merasa tidak asing dengan wajah Lingga. Ternyata, mereka adalah saudara sepupu. Dirinya juga ingat kalau omnya Satria memiliki anak dari wanita lain selain Tante Silvia.
Kehidupan orang dewasa itu memang rumit. Contohnya seperti keluarganya sendiri. Setelah ia lahir, mama dan ayahnya bercerai dan mereka menikah lagi dengan pasangan yang baru. Walaupun Cakra bukan ayah kandungnya, tapi beliaulah yang selalu berada di sampingnya sedari kecil. Baik itu papa Cakra maupun ayah Radi, Dira menyayangi keduanya sama banyak. Namun, ada satu hal yang selalu membuatnya penasaran, apa yang menjadi penyebab orang tuanya bercerai. Ia penasaran, tapi sungkan untuk bertanya, takut akan membuka kembali cerita lama yang mungkin tak ingin lagi diingat oleh para orang tua.
Deg
Jantung Dira berdegup kencang saat matanya bertemu dengan mata tajam milik Lingga. Cowok itu terus melihatnya lekat dengan pandangan lurus.
"Kenapa dia melihatku seperti itu?" pikir Dira. Bukannya ia terlalu percaya diri, namun Dira sadar jika tatapan Lingga bukanlah tatapan seperti biasa orang melihatnya, tapi lebih kepada tatapan mengagumi.
"Nggak mungkin!" Gadis itu menggelengkan kepala ketika terbesit sebuah kemungkinan jika Lingga menyukainya. "Kami sepupu, nggak mungkin ada perasaan yang seperti itu," batinnya mengelak.
"Semakin dekat denganmu, membuatku rasa cintaku semakin dalam." Lingga tersenyum manis pada Dira yang juga tengah menatapnya. Ia ingin gadis itu sadar dengan keberadaannya dan juga cinta yang bertumbuh di hatinya.
...Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like, comment dan vote
Terima kasih sudah membaca🙏🏻😊