
...🌷Selamat Membaca🌷...
Cakra baru saja mengurus surat gugatan cerai untuk Silvia melalui pengacaranya. Ini merupakan langkah awal baginya untuk bisa bersatu dengan Ajeng. Seluruh keluarga besarnya juga sudah tahu mengenai hal itu dan mereka mendukung penuh segala keputusan yang dibuatnya.
Malam ini, Cakra tengah bersantai di ruang tengah sembari melakukan video call dengan pujaan hatinya yang jauh di sana. Baru dua hari berpisah dan ia sudah sangat merindukan Ajeng. Rindu mengelus perut buncit wanita itu dan rindu mengajak bicara anak di dalamnya. Entah kenapa, walau bukan berasal dari benih miliknya, tapi ia merasakan perasaan sayang pada anak itu.
Cakra tersenyum saat melihat Ajeng yang beberapa kali menguap dengan mata yang sudah terlihat berat. Kekasihnya itu telah mengantuk rupanya.
"Jeng, jangan paksakan dirimu. Lebih baik tidur sekarang," kata Cakra.
Pipi gembil milik wanita di dalam layar itu menggembung, "Aku masih ingin melihat wajahmu," ucapnya dibarengi dengan rengekan manja.
Pria itu terkekeh. "Baiklah, tapi sekarang kau harus tiduran di kasur ya, biar lebih nyaman."
Videonya sedikit bergoyang karena Ajeng yang berpindah posisi. Ponsel disandarkan wanita itu pada sebuah bantal hingga hanya menyorot wajahnya saja. Setelah selesai mengatur posisi kamera pada ponselnya, mereka kembali mengobrol.
Tiga puluh menit kemudian, Cakra bisa melihat jika Ajeng sudah tertidur pulas. Ditatapnya wajah damai itu dengan seksama. Tak pernah terpikirkan oleh dirinya jika Ajeng, istri dari rekan bisnisnya, akan menjadi kekasihnya saat ini. Semua berawal dari kunjungan makan malam, lalu berlanjut pada ia yang selalu datang menolong wanita itu, dan akhirnya mereka dekat dan saling menyukai. Cakra sadar, jika hancurnya rumah tangganya bersama Silvia, bukan hanya karena salah istrinya itu sendiri, tapi ia turut andil di dalamnya. Andai ia tidak jatuh hati pada wanita lain, andai ia tidak mengabaikan istrinya itu, pasti semuanya masih bisa diperbaiki, tapi apa mau dikata, mungkin memang jodohnya dengan Silvia hanya sampai di sini saja.
"Tuan, ada nyonya Silvia di depan." Asisten rumah tangga Cakra datang dan memberitahunya hal tersebut. Baru saja dipikirkan, wanita itu sudah muncul saja.
"Mau apa lagi dia kemari?" gumamnya. Pria itu meletakkan ponsel di atas meja setelah mematikan sambungan video callnya, lalu pergi menemui calon mantan istrinya itu.
"Mau apa lagi?" tanya Cakra bosan begitu melihat kehadiran Silvia dan juga Satria yang sudah duduk anteng di ruang tamu rumahnya.
"Ck, ketus sekali cara bicaramu itu. Bagaimana pun juga aku ini masih istrimu, berbaik hatilah sedikit," omel wanita itu.
"Jadi?" Cakra mengabaikan ocehan Silvia.
Wanita yang masih berstatus sebagai istrinya Cakra itu mendengus kesal lalu berucap. "Aku kemari ingin mengambil semua barang-barangku. Aku akan tinggal bersama Satria mulai saat ini."
"Oh, bagus kalau begitu. Silakan ambil barang-barangmu di kamar. Sudah ku suruh pelayan untuk mengepaknya," ucap Cakra santai.
Silvia segera berlalu meninggalkan dua pria yang kini mulai saling melemparkan tatapan tajam.
"Ku harap kau tidak menghindari tanggung jawabmu." Cakra mengingatkan Satria.
"Karenamu aku harus menikahi Silvia," desis Satria kesal.
Cakra tertawa geli mendengar penuturan Satria. "Kau yang bersenang-senang, kau yang menikmati, kenapa aku yang kau salahkan?"
"Ah... sudahlah, tidak penting juga untuk dibahas," kilah Satria yang sebenarnya sudah sangat malu.
"Sebentar lagi surat cerai akan ku kirimkan pada Silvia, setelah kami resmi bercerai, kau harus segera menikahinya."
"Jangan mendikteku! Aku tahu apa yang harus ku lakukan," hardik pria berwajah tampan dan berprofesi sebagai dokter itu.
Cakra mengangguk dengan tampang sedikit mengejek. "Syukurlah," sahutnya.
Satria benar-benar geram menghadapi sikap menyebalkan Cakra. Pantas saja Silvia berpaling, ternyata suaminya seperti ini.
Cakra membantu Silvia memasukkan barang-barangnya ke dalam bagasi mobil Satria. Tidak hanya bagasi yang penuh, bangku penumpang pun penuh dengan barang wanita itu yang bisa dikatakan tidak sedikit. Atap mobil pun tak ketinggalan. Satria mengeluh melihat banyaknya barang Silvia, Range Rover 4M-nya harus di service setelah ini.
"Akan ku kirimkan surat cerai secepatnya," ucap Cakra sebelum Silvia memasuki mobilnya.
"Ya," sahut wanita itu malas.
"Ku harap kau tidak memperlambat prosesnya. Aku ingin segera bebas," peringat Cakra.
"Baiklah, akan ku buat mudah asalkan harta gono-gininya sesuai." Silvia mengedipkan sebelah mata lalu masuk ke dalam mobil Satria. Mobil pun melaju perlahan meninggalkan kediaman Cakra yang sebentar lagi akan menjadi duda.
"Dasar mata duitan! Harta gono-gini apa, semua ini adalah milikku."
...🌺 🌺 🌺 ...
"Wow, ini semua kau yang memasak?" tanya Silvia takjub melihat di meja makan sudah terhidang sarapan.
"Apa kau melihat ada pembantu di sini?" balas Satria sewot.
Silvia mencebik, lalu menggeser sebuah kursi dan duduk di atasnya. "Kau ini kenapa sih, dulu begitu manis kepadaku, sekarang? Suka marah-marah." Ia memulai omelan di pagi harinya.
"Sudah makan saja, aku pagi ini ada operasi. Tidak ada waktu untuk mendengar omelanmu."
__ADS_1
Satria mulai menyantap makanannya dengan tenang begitu juga dengan Silvia.
"Hei, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Silvia.
"Hm?" Satria yang sedang mengunyah makanannya hanya bisa bergumam sebagai bentuk responnya atas pertanyaan Silvia.
"Apa kau mencintaiku?"
Satria tidak melanjutkan makannya, ia kini menatap Silvia dan meliti wajah wanita cantik itu.
"Tubuhmu? Ya."
Jawaban Satria membuat Silvia sakit hati. Jadi, selama ini pria itu hanya menginginkan tubuhnya saja. Awalnya ia juga berpikiran hal yang sama, tapi seiring berjalannya waktu, perasaan cinta dan sayang, tumbuh di hatinya untuk pria yang merupakan rekan kerjanya sebagai dokter itu.
"Terima kasih atas makanannya," ucap Silvia datar. Ia bangkit dari duduknya, menyambar tas dan pergi meninggalkan meja makan.
"Tunggu aku, Via!" sorak Satria. Ia menyendok sisa makanan di piringnya sampai habis lalu setelahnya berlari mengejar Silvia.
"Hei, kau mau kemana?" tanya Satria saat melihat kekasihnya berjalan menuju jalan raya.
"Mencari taksi," jawab wanita itu.
"Kenapa tidak naik mobilku saja? Kita kan satu rumah sakit."
"Malas."
Silvia langsung menaiki taksi yang disetopnya, lagi-lagi ia meninggalkan pria itu sendirian dengan tampang bodohnya.
"Sensitif sekali ibu hamil satu itu," gumam Satria.
.......
Cakra duduk termangu di kursi kebesarannya. Ia tidak menyangka jika dugaannya beberapa hari ini ternyata benar adanya. Setengah jam yang lalu ia baru saja mendapatkan e-mail dari orang suruhan yang dimintanya mencari data-data mengenai keluarga Dhika. Hasilnya, sungguh membuat ia melongo.
Berulang kali dicobanya untuk mencocokkan wajah wanita dalam video di ponsel Ajeng dengan wajah wanita pada foto yang dikirimkan oleh Yogi, dan hasilnya adalah sama. Wanita itu bernama Maya Apriliani, adik Dhika yang sudah lama tidak diketahui keberadaannya.
Menurut informasi yang diberikan Yogi, wanita bernama Maya itu memilih meninggalkan rumah karena cintanya pada seorang pria yang entah siapa, tidak direstui oleh kedua orang tuanya. Ia lebih memilih si pria dan minggat dari rumah.
"Apa aku harus memberitahu masalah ini pada Dhika dan keluarganya?" Pikir pria itu.
Setelah menimbang segala baik buruknya, Cakra pada akhirnya memilih untuk memberitahukan perihal Maya pada keluarganya. Ia yakin, keluarga wanita itu pasti juga mencemaskan keadaan putri mereka itu. Ia segera bergegas pergi ke rumah sakit untuk menjenguk istri Dhika yang habis melahirkan sekaligus memberitahukan masalah Maya.
.......
"Mas, persediaan bahan makanan di kulkas sudah habis. Kita tidak punya apa-apa lagi untuk di makan malam ini," beritahu Maya sore itu.
Radi yang sibuk dengan laptop, entah apa yang sedang dilakukannya, pun menoleh.
"Baiklah, kita akan pergi berbelanja."
"Apa aku boleh membawa Lingga?"
"Bawalah, lagian dia sudah cukup besar untuk dibawa keluar."
"Oh ya, Mas... apa kau punya uang untung nanti kita berbelanja?" tanya Maya.
Radi mendelik. "Jika aku tidak punya, aku tidak akan mengajakmu berbelanja!"
.......
Hari ini tugas Satria di rumah sakit selesai lebih awal, sebelum pulang ia menyambangi ruangan Silvia.
Tanpa diketuk, ia langsung membuka pintu ruangan wanita itu. Terlihat jika Silvia sedang membereskan meja kerjanya.
"Sudah selesai?" tanya Satria sembari masuk.
"Hm."
Satria berpikir jika mood Silvia saat ini sangat buruk. Ia akan mencoba untuk mengembalikan mood baik wanita itu.
"Ayo berbelanja!" ajaknya.
__ADS_1
"Malas," jawab Silvia.
Satria memutar otak cerdasnya. "Bahan di kulkas sudah mulai menipis, dan juga, kita belum membeli susu hamil untuk dirimu. Aku tidak ingin ya, nanti anakku kurang gizi," bujuknya.
Mendengar Satria yang perhatian pada calon anak mereka, membuat kedongkolan Silvia lenyap. "Ayo-ayo..." Kini malah ia yang terlihat bersemangat.
"Ayo!"
"Gampang sekali dibujuknya." Satria terkekeh. Kadang ia merasa senang menghabiskan waktu bersama Silvia. Wanita itu sedikit keras kepala, pembangkang, agresif dan juga cerewet. Harinya terasa berwarna. Semoga keputusannya untuk menikahi wanita itu tidaklah sia-sia, walau jujur saja ia masih terpaksa melakukannya.
.......
Troli belanjaan Maya sudah penuh dengan berbagai macam makanan juga barang. Saat ini ia tengah memilih susu untuk ibu menyusui, agar asinya lancar. Radi sendiri, berjalan di samping Maya sembari mendorong stroller yang ada Lingga duduk di dalamnya.
Saat sedang asyik memilih susu, tak sengaja Maya menjatuhkan beberapa kotak susu. Ia lantas memungutnya.
"Biar ku bantu." Seorang wanita membantunya untuk memunguti kotak tersebut dan menaruhnya kembali ke rak.
"Terima kasih banyak," ucap Maya.
"Sama-sama." Wanita yang telah menolong Maya itu terkejut saat melihat pria di sebelah Maya, pun dengan pria tersebut.
"Pak Radi?" sapa si wanita.
"Bu Sil-via?" Lidah Radi mendadak kelu. Ia tak menyangka akan bertemu dengan istri Cakra di tempat seperti ini.
"Apa kabar? Lama tidak bertemu. Oh ya, bagaimana kabar Bu Ajeng?" tanya Silvia antusias.
Radi terdiam, tak sanggup menjawab. Silvia yang melihat itu mengernyitkan keningnya.
"Ini anak anda dan bu Ajeng?" Silvia mengganti pertanyaannya begitu melihat bayi dalam stroller. "Wajahnya seperti tak asing buatku," gumamnya.
"Dia adalah anakku." Tiba-tiba Maya menyela.
"Kau siapa?" tanya Silvia heran.
"Aku... ibu dari anaknya mas Radi."
"HUH? Maksudnya?" Silvia tidak mengerti.
"Anda sudah bercerai dari bu Ajeng?" Silvia menatap Radi yang tertunduk.
"Tidak."
"Lalu wanita dan anak ini? Eh... anda selingkuh, ya?" tebak Silvia.
"Mas, ayo kita pergi!" ajak Maya.
"Ayo." Radi pun sudah tak sanggup berhadapan terlalu lama dengan Silvia. Ia merasa malu.
"Sudah ketemu susunya?" Satria yang baru kembali dari toilet segera menghampiri Silvia.
Deg
Maya terperanjat saat mendengar suara itu. Ia mendongak dan menemukan sesosok pria tampan berbadan tegap yang pernah menjadi bagian dalam perjalanan hidupnya.
"Satria?"
Deg
Satria kaget begitu melihat siapa yang menyapanya. Sepupu yang sudah lama tidak bertemu.
"Ra-di?"
Dan mata Satria pun terbelalak melihat wanita yang berdiri di samping Radi, sepupunya.
"Maya?"
...Bersambung...
...Jangan lupa Like & Comment... 🙏🏻😊...
__ADS_1
...Terima kasih...