2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
The Marriage Proposal


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Dua bulan berlalu dengan cepat, saat ini Ajeng tengah bersiap-siap untuk menghadiri resepsi pernikahan Robi. Akhirnya Bujang Lapuk itu menemukan jodohnya, seorang wanita cantik yang berprofesi sebagai dokter fisioterapi.


"Mama, sudah siap belum?" Cakra masuk ke dalam kamar sembari menggendong Dira.


Ajeng yang sedang bercermin segera mengalihkan pandangannya "Wah, anak mama cantik sekali. Siapa yang mendandanimu, sayang?" tanya wanita bergaun brokat panjang berwarna beige itu.


"Papa dong." Bukan Dira yang menjawab melainkan Cakra.


"Ish, gemas mama lihat kamu, Nak!" Ajeng mencubit gemas pipi gembil sang anak. Selama dua bulan ini pertumbuhan Dira memang sangat pesat. Berat badannya naik dan sekarang ada di angka 9 kg. Ajeng kadang sedikit kewalahan jika harus menggendong Dira saat merengek, tapi untung saja ada Cakra yang selalu siap menggantikannya.


"Kita pergi sekarang, sayang?" tanya Cakra.


"Iya, Mas." Ajeng meraih tasnya di atas meja rias dan segera menggandeng lengan suaminya.


"You look gorgeous, Baby..." bisik Cakra.


"Thanks, and you are irresistible!"


Cakra mencium pelipis Ajeng setelah mendengar istrinya itu balas memuji.


"For tonight, use the purple one."


Ajeng hanya geleng-geleng kepala mendengar permintaan suaminya.


.......


Berbeda dengan pasangan sebelumnya, Radi, Rina dan Reyhan sudah berada di tempat pesta pernikahan Robi. Mereka tengah menikmati hidangan yang telah disediakan.


"Buna, au mbah yayam!" pinta si kecil Reyhan. Bocah imut itu makan dengan lahapnya. (Bunda, mau tambah ayam).


"Sebentar ya, Nak. Biar bunda ambilkan." Rina yang bersiap untuk berdiri segera ditahan oleh Radi.


"Biar aku yang mengambilkannya," ucap pria yang selalu membawa Rina beserta Reyhan ke acara kondangan seperti ini.


"Ta-tapi, Tuan..." tolak Rina yang merasa tidak enak.


Tak ingin mendengar penolakan, Radi segera bangkit dan menuju meja prasmanan, meninggalkan Rina yang hanya bisa menghela napas pelan.


Terkadang Rina merasa sungkan setiap kali Radi membawanya ke pesta seperti ini. Ia yang hanya berprofesi sebagai asisten rumah tangga terlihat lancang dengan pergi ke acara orang kaya dengan majikannya. Tidak hanya itu, setiap kali mereka akan pergi, Radi selalu membelikan dirinya dan Reyhan baju baru. Sering kali, apa yang mereka bertiga kenakan, terlihat seragam. Bukannya Rina tidak pernah menolak, tapi setiap kali ia melakukan itu, Radi pasti tersinggung dan membuatnya langsung tak enak hati. Entahlah, ia yang hanya pembantu berasa seperti teman dari majikannya itu. Walaupun begitu, Rina selalu bersyukur. Semenjak bekerja dengan Radi, ia bisa mengirim uang untuk orang tuanya di kampung dan juga untuk melunasi hutang mantan suaminya.


"Buna, suap agi!" Reyhan menyadarkan sang ibu yang larut dalam lamunannya. (Bunda, suapin lagi)


"Iya, sayang. Maafkan bunda..." Rina lanjut menyuapi sang anak yang sudah membuka lebar mulutnya.


Radi berjalan sembari membawa sepotong ayam kesukaan Reyhan di atas piring kecil. Beberapa bulan bersama dengan bocah menggemaskan itu, rasa sayang perlahan muncul di hati Radi. Hal tersebut tidak hanya berlaku untuk Reyhan, tapi pada ibunya juga. Selama dua bulan ini, Radi selalu memerhatikan Rina sekaligus meyakinkan hati jika memang ia memiliki perasaan khusus pada asisten rumah tangganya itu. Kini ia telah memantapkan hati untuk menyatakan rasa pada wanita ayu itu.


"Ini ayam pesanannya jagoan om." Radi meletakkan piring di atas meja.


Reyhan langsung menoleh pada om kesayangannya itu. "Acih Om Adi..." ucapanya dengan senyum mengembang. (Makasih Om Radi)

__ADS_1


"Sama-sama, Nak!" Radi mengacak surai Reyhan yang sengaja dibiarkan panjang.


"Terima kasih, Tuan. Lain kali saya bisa melakukannya sendiri. Saya merasa tidak enak jika terus diperlakukan seperti ini. Tuan tidak lupa 'kan kalau saya ini pembantu." Rina akhirnya memilih untu mengungkapkan isi hatinya.


"Ya," ucap Radi cuek. "Sebentar lagi kau akan menjadi pendampingku, dan aku berhak untuk memperlakukanmu dan Reyhan seperti yang aku mau," lanjutnya di dalam hati.


.......


"Selamat ya, Bang Robi, Mbak Gina. Semoga pernikahanmu  bahagia dan dikaruniai malaikat kecil yang lucu-lucu," ucap Ajeng saat bersalaman dengan Robi di atas pelaminan.


"Iya, Nona. Terima kasih sudah menyempatkan hadir di pestaku ini," balas Robi yang setia menggandeng tangan sang istri.


Ajeng tersenyum manis. "Mulai sekarang biasakan untuk memanggil namaku saja, Bang. Aku merasa jarak di antara kita terbentang jauh jika kau terus memanggilku Nona. Padahal aku sudah menganggapmu sebagai abangku sendiri," pintanya.


Robi terdiam. "Baiklah, Jeng."


"Itu terdengar lebih bagus!" Ajeng dan Cakra tertawa.


"Baiklah, kalau begitu kami permisi dulu. Dira sudah terlihat mengantuk." Ajeng pun berpamitan.


"Hati-hati, Jeng, Cakra."


"Iya, Bang." Ajeng dan Cakra menjawab serentak.


.......


Mobil Radi sampai di kediamannya. "Tuan, saya duluan, ya. Mau menidurkan Reyhan," ucap Rina. Tampak Reyhan tidur dalam gendongannya. Batita itu tampak sedikit tak nyaman.


"Oh ya, Rin!"


Saat Rina akan membuka pintu mobil, Radi memanggilnya.


"Iya, Tuan..."


"Setelah menidurkan Reyhan, temui aku di ruang tengah!" pinta Radi.


"Baik, Tuan." Akhirnya Rina keluar dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah.


.......


Radi sudah menunggu di ruang tengah, pria itu terlihat menghirup dan menghela napas berulang kali. Ia merasa gugup hingga kedua kakinya yang menjuntai di sofa terus bergerak, tak bisa tenang.


"Tuan!"


Deg


Radi terperanjat saat Rina sudah duduk di hadapannya. Wanita itu menatapnya dengan kening berkerut.


"Tuan, apa kau baik-baik saja? Wajahmu berkeringat," tanya Rina seraya menelisik wajah Radi yang tampak gugup.


"I-iya, hahaha..." Radi tertawa renyah demi meminimalisir rasa gugupnya.

__ADS_1


Tawa Radi membuat Rina semakin heran, sebab tak biasanya majikannya itu bertingkah aneh.


"Hm, ada apa Tuan memanggil saya? Apa ada sesuatu yang Tuan butuhkan?" tanya Rina.


"Ekhhmm..." Radi berdehem. Ia memperbaiki duduknya lalu memandang lurus pada wanita di hadapannya.


"Rina..." panggilnya.


Deg


"I-iya, Tuan." Rina sedikit salah tingkah saat Radi menatap lekat dirinya.


"Rin, apa kau be... betah bekerja denganku?" tanya Radi. "Sial!" Pria itu merutuki kebodohannya. Seharusnya ia mengatakan 'Rin bersediakah kau menikah denganku' bukan malah menanyakan betah atau tidaknya Rina bekerja dengannya.


"Saya sangat betah, Tuan. Tuan sangat baik pada saya dan juga Reyhan. Saya akan mengabdikan diri saya pada anda sebagai bentuk balas budi atas semua kebaikan yang telah anda lakukan."


"Apa kau serius ingin mengabdikan dirimu padamu?" tanya Radi. Ia seperti mendapatkan kata-kata yang tepat.


"Iya, Tuan. Tentu saja." Rina mengangguk yakin.


"Baiklah, kalau begitu mengabdilah padaku. Tetap berada di sisiku selamanya sampai ajal menjemputmu," ujar Radi dengan wajah serius.


"Iyq, Tu...-"


"Sebagai istriku!" Radi dengan cepat memotong ucapan Rina.


Deg


Mata Rina melotot, ia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


"Apa Tuan, maaf... tadi sepertinya saya sedikit melamun," tanya Rina memastikan.


"Rina, menikahlah denganku, dengan begitu kau bisa mengabdikan dirimu padaku sebagai seorang istri..."


Deg


"Hah?"


Rina menutup mulutnya yang memekik. Ternyata ia tidak salah dengar, demi apa majikannya itu melamar dirinya yang hanya seorang asisten rumah tangga?


"Bagaimana, Rin?" Radi mendadak cemas menanti jawaban dari wanita yang baru saja dilamarnya.


"Maaf, Tuan... saya tidak bisa."


Setelah mengatakan penolakannya, Rina segera berlari masuk ke dalam kamar.


Radi tercenung, ia tak menyangka jika dirinya akan ditolak mentah oleh Rina. Padahal tadi ia sudah merasa sombong bahwa wanita itu akan menjadi istrinya.


...Bersambung...


Jangan lupa Like & Comment

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca😊


__ADS_2