2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Dilemma


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


"Kak Bagas!" pekik Ajeng tak percaya.


"Hi, Jeng!" Bagas balas menyapa. Pria itu berjalan menghampiri Ajeng dengan Arka dalam gendongannya.


"Ternyata benar dugaanku, Arka ini adalah anakmu, Kak. Kalian mirip sekali, kecuali rambut dan warna mata." Ajeng menelisik takjub saat melihat Bagas dan Arka saling berdekatan.


"Tentu saja." Bagas tertawa kecil. Ayah dari Akra itu kemudian menyerahkan sang anak pada ibunya.


"Bagaimana keadaanmu saat ini?" Bagas menatap Ajeng serius. Kini pria itu duduk pada bangku samping ranjang pesakitan yang ditiduri Ajeng.


"Pak Robi, bisa kita keluar sebentar?" Tania berbisik pada Robi.


"Baik," angguk si pria.


Tania dan Robi meninggalkan mereka berdua. Tania hanya ingin memberi ruang dan waktu agar Bagas bisa berbicara leluasa dengan Ajeng yang sudah lama tidak dijumpainya.


Ajeng termenung, ia tahu pasti apa yang tengah ditanyakan Bagas, bukanlah keadaan fisiknya saat ini, melainkan keadaan hatinya.


"Aku tidak tahu, Kak." Ajeng pun menjawab setelah lama terdiam. "Disatu sisi aku ingin memberikan kesempatan untuk mas Radi, tapi mengingat jika di sana dia memiliki wanita lain bahkan juga anak, sepertinya akan sulit untuk ku terima."


Bagas meraih tangan Ajeng dan menggenggamnya. "Aku sudah mendengar semua cerita dari Radi. Dia khilaf dan merasa sangat menyesal untuk hal itu," ucap Bagas.


Ajeng mengamati ekspresi Bagas saat mengatakannya. Bukankah pria itu membenci Radi, tapi kenapa sekarang terkesan seperti membela. Ajeng sama sekali tidak paham.


Seakan mengerti maksud dari tatapan wanita di hadapannya, Bagas pun menjelaskan. "Aku dan Radi sudah bicara, kami sepakat untuk saling memaafkan. Masalah terdahulu, kami anggap sudah selesai. Tidak baik menyimpan dendam karena akan banyak kerugian yang dapat ditimbulkan. "


Ajeng mengangguk, perkataan Bagas seratus persen benar. Namun, dalam masalah yang sedang ia hadapi kini, haruskah ia memaafkan Radi? Seandainya saja tidak ada anak di antara mereka, Ajeng sudah pasti akan memberikan suaminya itu kesempatan, tapi...


"Apa yang harus ku lakukan, Kak?" tanya Ajeng putus asa.


"Aku tidak bisa memberikanmu jawaban apa-apa, tapi ingatlah satu hal sebelum kau mengambil keputusan!"


"Apa itu?"


"Janin dalam kandunganmu. Terserah, kau ingin memberi kesempatan atau mungkin ingin mengakhiri hubunganmu dengan Radi, tapi pertimbangkan juga keberadaan janin dalam perutmu. Bagaimana pun juga, dia adalah tanggung jawab kalian berdua. Jangan hanya karena mementingkan ego masing-masing, anak kalian akan menderita nantinya."


Ajeng menjadi dilema. Tak tahu pilihan apa yang harus diambilnya sekarang. Menerima Radi kembali yang berarti harus menerima anak dari wanita itu juga, atau berpisah dari Radi yang akan membuat calon anaknya nanti kehilangan figur seorang ayah.


"Pikiran perlahan, jangan terburu-buru dan jangan memaksakan diri!" peringat Bagas saat melihat Ajeng termangu.


"I-iya."


.... ...


Radi masih belum bisa menemukan keberadaan Ajeng. Sebenarnya mudah saja jika dia ingin tahu di mana keberadaan istrinya itu dengan menyewa seseorang untuk mencari tahu. Namun, Radi tidak ingin itu, ia ingin mencari Ajeng dengan usahanya sendiri.


Siang ini, setelah semua pekerjaannya di kantor selesai. Radi memutuskan untuk kembali mencari Ajeng. Tujuannya kali ini adalah toko kue milik istrinya. Entah kenapa Radi merasa jika Ajeng ada di sana.


"Anda ini suaminya, tapi kenapa anda selalu bertanya kepada kami di mana istri anda berada. Apa sebegitu tidak pedulinya anda pada bu Ajeng hingga keberadaannya saja anda tidak tahu. Suami macam apa anda ini!"


Bukannya mendapatkan informasi, Radi malah mendapatkan semburan sinis dari salah satu karyawan istrinya. Ia tidak marah, karena mamang begitulah adanya. Dengan langkah gontai, Radi masuk kembali ke dalam mobilnya. a


"Apa aku harus mengecek satu persatu hotel yang ada di sini?" pikirnya. Setahunya Ajeng tidak punya tempat tinggal lain selain rumah yang mereka tempati sekarang. "Sepertinya itu ide yang bagus." Mobil Radi pun melaju menuju hotel terdekat yang ada di sana.


Radi memang tidak tahu jika Ajeng memiliki sebuah apartemen, karena istrinya itu baru beberapa bulan ini membeli apartemen itu dari seorang teman yang terdesak masalah uang. Pembayaran untuk apartemen itu sendiri, Ajeng menggunakan uang hasil dari toko kuenya hingga Radi tidak mengetahui hal itu. Ajeng sendiri pun lupa untuk memberitahunya.


.......


Terhitung sudah sepuluh hotel yang Radi kunjungi. Tidak ada nama Ajeng dalam daftar tamu yang menginap. Pria itu hampir putus asa. Tubuhnya lelah dan juga kelaparan karena belum sempat makan siang. Akhirnya ia memilih untuk mengisi perut agar kembali berenergi untuk terus mencari Ajeng.


[Aku sekarang ada di Jakarta]

__ADS_1


"Shit!" Radi mengumpat pelan saat matanya membaca sebuah pesan dari Maya. Untung saja dia sudah selesai makan, kalau tidak mungkin alat makan sudah dibanting saking kesalnya.


Segera saja dihubunginya ibu dari anaknya itu untuk mengetahui di mana pososinya saat ini.


.......


"Untuk apa kau kemari, huh?" bentak Radi begitu ia sudah berhadapan dengan Maya.


Wanita itu ciut melihat ekspresi marah si pria, ia pikir Radi akan senang dengan kedatangannya ke Jakarta bersama sang bayi.


"Anak kita merindukan ayahnya," cicit Maya.


Radi beralih menatap bayinya yang ada di gendongan Maya. Bayi tampan itu tampak lelap tertidur tanpa terganggu sedikit pun oleh kebisingan yang terjadi di sekitarnya.


"Ayo ikut aku! Tidak baik bayi baru lahir berada di luar lama-lama."


.... ...


"Kenapa kau terus melihatku makan?" tanya Ajeng sebal.


Ia yang tidak berselera memakan makanan hambar di hadapannya semakin jengah kala Robi terus menatap gerak geriknya.


"Kau harus menghabiskan makananmu, Nona."


"Iya-iya, aku tahu. Mending sekarang kau pergi saja, makan siang sana!" usir Ajeng.


"Saya akan menungguimu di sini, Nona."


"Kau mau aku jadi pembunuh karena membiarkanmu mati kelaparan, huh? Sana cari makan dan jangan kembali sebelum kau ku hubungi!" titah Ajeng tak mau dibantah.


"Baik, Nona." Robi berbalik pergi. Namun beberapa saat kemudian ia kembali lagi.


"Ada apa lagi?" sungut Ajeng.


"Baiklah."


"Tekan angka satu jika ingin menghubungiku, Nona. Itu panggilan cepat."


Sudut bibir Ajeng berkedut kesal. "Aku mengerti, sekarang pergilah!"


Robi menunduk sebentar, kemudian menghilang cepat di balik pintu yang perlahan tertutup.


Ajeng meletakkan ponsel pemberian Robi di atas meja samping ranjang, menyusul makanan hambar yang tidak sanggup lagi dimakan olehnya. Jangankan makan, melihatnya saja mual. Apakah ini efek dari kehamilannya? Bisa jadi.


Sendirian di kamar membuat Ajeng mengantuk, akhirnya ia memilih membaringkan badan untuk beristirahat sejenak.


Tok... tok... tok...


Baru sebentar terpejam, bunyi ketukan di pintu ruang inapnya membuat mata Ajeng kembali terbuka lebar. "Masuk!" teriaknya pelan.


Ajeng duduk bersiap untuk mengomeli sosok yang dikiranya adalah Robi. Namun, saat pintu terbuka ternyata yang berdiri di sana adalah...


.... ...


"Ini rumah siapa?" tanya Maya begitu memasuki pintu sebuah rumah yang bisa dibilang cukup mewah.


"Ini rumahku," jawab Radi.


"Ja-jadi ini tempat tinggalmu dengan istrimu?" Maya tidak percaya jika Radi akan membawanya ke rumah pria itu bersama Ajeng. Apakah sekarang mereka akan tinggal bersama, pikirnya.


"Jangan salah sangka, ini rumahku. Rumah istriku jauh lebih megah dari ini," jelas Radi pongah.


Rumah tempat mereka berada sekarang adalah rumah lama Radi. Rumah tempat ia menghabiskan masa kecil yang hanya sebentar itu bersama kedua orang tuanya. Radi sengaja membeli rumah kenangan itu saat pemilik lamanya menjual.

__ADS_1


"Kau bisa memakai kamar mana saja."


"Iya." Maya didampingi pelayannya melihat-lihat isi rumah sembari memilih kamar mana yang akan digunakan. Sementara Radi tengah menimang anaknya di ruang tengah.


Bayi kecil itu menggeliat saat Radi mendaratkan kecupan bertubi-tubi di pipinya yang tembam. Kelopak yang sering tertutup itu perlahan mulai terbuka, menampakkan sepasang bola mata bening yang dihiasi oleh lensa berwarna coklat muda yang cemerlang.


Radi sempat terpukau sekaligus heran begitu melihat mata bayinya. Sebab, baik ia dan Maya tidak memiliki warna mata seperti sang anak. Dari manakah, warna mata itu di dapatkan anaknya?


"Kalau tidak salah nenekku juga memiliki warna mata seperti ini, apakah itu menurun pada anakku?" Radi teringat foto sang nenek yang pernah diperlihatkan oleh ibunya. "Mungkin saja," lanjutnya meyakini.


Beberapa saat kemudian, Maya kembali muncul dan duduk di samping Radi. Wanita itu mengelus surai lebat putranya. "Anak kita belum diberi nama, menurutmu, apa nama yang bagus?" tanya Maya.


Radi terdiam, otaknya mulai berpikir. "Aku sudah menemukan nama yang cocok," ucapnya dua detik kemudian.


"Siapa?" Maya terlihat antusias.


"Lingga Nugraha, namanya Lingga."


.... ...


"Mas Cakra?" pekik Ajeng.


"Hai, apa kedatanganku menganggumu?" tanya Cakra.


Ajeng menggeleng. "Sama sekali tidak. Ada apa kau kemari?"


Mata Ajeng seketika tertumbuk pada bungkusan yang ditenteng si pria. "Apa itu?" tanyanya penasaran.


Cakra berjalan mendekat. Ia mengangkat bungkusan itu dan menyodorkannya pada Ajeng.


"Sesuatu yang mungkin akan kau suka?" kata Cakra. Sebelum mengunjungi Ajeng, Cakra telah membeli beberapa makanan. Ia tahu jika makanan di rumah sakit itu tidak enak sama sekali, jadi ia memilih membawa makanan yang mungkin akan disukai Ajeng.


Hidung mancung Ajeng kembang kempis saat aroma sesuatu dalam bungkusan itu tercium olehnya. Perutnya yang belum terisi penuh itu seketika bergetar. "Aku suka. Kebetulan aku belum makan." Tanpa malu, Ajeng meraih bungkusan dari tangan Cakra dan membukanya.


Pria itu tersenyum melihat tingkah Ajeng. "Syukurlah. Ku pikir makanan ini akan terbuang sia-sia."


"Makanan lezat seperti ini tidak mungkin terbuang, kalau makanan seperti itu mungkin saja," Tunjuk Ajeng pada mangkuk makanan yang diberikan rumah sakit.


Cakra tertawa kecil. "Tidak enak ya makanan rumah sakit?"


"Sama sekali tidak enak," ucap Ajeng. Setelah itu satu potong makanan masuk ke dalam mulutnya.


"Sudah berapa bulan kandunganmu?"


"Hm... sebentar lagi dua bulan," jawab Ajeng tanpa menoleh. Ia masih asyik menikmati makanannya.


"Masih kecil. Makanlah yang banyak, agar kau dan janin dalam perutmu selalu sehat!"


Ajeng menelan kunyahannya dan beralih menatap Cakra. "Terima kasih banyak, kau selalu menolongku."


Cakra tersenyum. "Aku suka menolongmu."


Deg


"Maksudnya?"


...Bersambung...


...Jangan lupa Vote & Comment ya, Readers......


...🙏🏻😊...


...Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2