2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Season 2 - 20. Rencana Liburan


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Semua orang di kediaman Adibrata sudah pergi meninggalkan rumah untuk beraktivitas, kecuali Ajeng dan Dira. Si ibu hamil sedang asyik merangkai bunga di ruang tengah, sementara Dira sibuk di dapur membuatkan puding untuk ibunya. Ia berniat menyampaikan rencana liburan itu pada sang ibu terlebih dahulu, dan berharap nanti ibunya bisa membantu untuk bicara pada sang ayah sambung.


"Udah siap merangkai bunganya, Ma?" tanya Dira yang datang dari arah dapur, membawa nampan berisi dua puding mangga untuk dirinya dan Ajeng.


"Ini baru aja selesai, Nak." Ajeng menaruh vas yang berisi bunga rangkaiannya pada salah satu meja di sudut ruangan. Setelah itu, ia kembali duduk di sofa.


"Kamu bawa apa itu?" tanya Ajeng yang tertarik melihat apa yang dibawa sang putri.


"Puding mangga, Ma. Mama suka, kan?" Dira menaruh puding di atas meja, dan ikut duduk berseberangan dengan Ajeng.


Mata Ajeng berbinar senang. "Suka sekali, Nak. Kebetulan mama juga ingin makan mangga. Kamu tahu aja apa yang diinginkan adikmu," balasnya sembari mengusap sayang perut buncitnya.


"Syukurlah, ayo di makan, Ma." Dira mengambil sepiring kecil puding dan menyodorkannya pada Ajeng.


"Terima kasih, Nak..."


"Sama-sama, Ma."


Ajeng mulai memakan pudingnya dengan suka cita, sementara Dira sedikit sulit menelan puding lembut itu. Ia merasa takut untuk menyampaikan niat liburannya, takut tidak diizinkan karena ini merupakan kali pertama ia pergi tanpa keluarga.


"Kenapa, Nak? Apa ada yang ingin kamu sampaikan pada mama?" Ajeng yang melihat kegelisahan putrinya pun bertanya.


"I-itu, Ma... " Dira *******-***** dress selutut yang dikenakannya demi melampiaskan rasa gugup yang ia rasakan.


Ajeng yang melihat sikap aneh putrinya lantas bangkit dan berpindah duduk ke samping Dira. Ia menyentuh pelan pundak putrinya.


"Katakan saja, sayang. Ada apa?" tanya Ajeng lembut.


Dira menatap wajah cantik sang ibu, dan hal itu membuatnya tiba-tiba merasa tenang.


"Ma, aku mau minta izin pergi liburan bersama teman-teman..." Akhirnya Dira menyampaikan maksud hatinya.


"Liburan ke mana?"


"Belum tahu sih, Ma... tapi rencananya bakal menginap beberapa hari," balasnya.


"Hm..." Ajeng terdiam mendengar putrinya akan menghabiskan liburan beberapa hari dengan teman-temannya.


"Apa boleh, Ma?" Dira menatap ibunya penuh harap.


Ajeng tampak berpikir. Selama ini ia tidak pernah melepaskan satu pun anaknya untuk pergi liburan dan menginap bersama teman-temannya. Ia cemas jika terjadi sesuatu di luar pengawasan dirinya dan juga sang suami. Untuk kali ini pun, ia merasa ragu untuk mengizinkan Dira pergi, tapi melihat wajah penuh harap putrinya, membuatnya tidak tega untuk menolak. Sebelum mengambil keputusan, sebaiknya ia berdiskusi dulu dengan Cakra.


"Nak, mama bicarakan dulu dengan papa, ya?" kata Ajeng.


"Hm... baiklah, Ma. Selain itu, aku juga mau minta izin keluar sebentar untuk menemui teman-temanku. Kami akan membahas rencana liburan nanti, kemana kami akan pergi, aku akan memberitahunya pada mama."


"Iya, Nak. Pergilah! Hati-hati dan jangan pulang kemalaman!" peringat Ajeng.


"Iya, Ma."


Dira bergegas mengambil tas dan ponsel, lalu segera keluar dari rumah setelah sekali lagi berpamitan pada sang ibu. Beberapa meter dari gerbang rumahnya, Dira melihat sudah ada Lingga yang menanti di atas motor gedenya. Cepat, ia hampiri kekasihnya itu.


"Nggak lama 'kan nunggunya, Bee?" sapa Dira.


Lingga menggeleng dan setelah itu memberikan sebuah helm pada Dira. Gadis itu segera memakainya dan kemudian naik ke atas motor. Sebelum Lingga menjalankan motornya, seperti biasa ia selalu meminta Dira untuk memeluk pinggangnya, katanya biar tidak jatuh. Dengan senang hati, Dira melakukannya.


...***************...


Lingga dan Dira memasuki sebuah cafe yang ada di tengah kota. Cafe hits yang menjadi tempat nongkrong bagi muda-mudi masa kini. Keduanya mengedarkan pandangan mencari keberadaan teman-temannya, dan tak berselang lama, mereka menemukan Luna dan Yovan duduk di meja yang berada di sudut ruangan.


"Hai, Lun, Van. Udah lama?" sapa Dira setelah sampai di meja. Ia menarik satu kursi lantas mendudukinya, begitu juga dengan Lingga, ia duduk di samping kekasihnya, selalu tidak ingin jauh-juah.


"Baru aja, kok." Luna menyahut. "Oh ya, kalian berdua ada ide nggak, mau liburan ke mana?" tanya gadis itu selanjutnya.


Dira dan Lingga saling berpandangan. "Nggak sih, kami ikut kalian aja," jawab Dira. "Ya kan, Bee?" Kemudian meminta kepastian pada Lingga.


Lingga mengangguk. Jujur saja, ia jarang ikut liburan seperti ini, apalagi harus merencanakannya sendiri. Biasanya pergi liburan bersama keluarga dan itu semua sudah diatur oleh orang tuanya, ia hanya tinggal mengikuti saja.


"Hm, oke deh. Kita tunggu Hanna dan Gio dulu, baru setelah itu membahas tempat liburannya..." ujar Luna.


Lima menit berlalu, tampak Hanna dan Gio memasuki pintu cafe. Namun, ada yang aneh. Hanna tidak terlihat ceria, justru ia cemberut dan berjalan mendahului Gio, seperti orang yang sedang bertengkar.


"Ada apa dengan mereka?" tanya Luna.


Sampai di meja yang mereka tempati, Hanna langsung mendudukkan pantatsnya dengan kesal. Napasnya memburu, seperti orang yang habis dikejar hutang. Sementara Gio, ia terlihat lebih tenang.

__ADS_1


"Kenapa, Bro?" tanya Yovan penasaran.


"Biasa, gue diamuk karena telat jemput." Gio menjawab santai.


"Aku nggak mempermasalahkan kamu yang telah jemput, tapi aku sakit hati sama alasan kenapa kamu terlambat jemput aku!" seru Hanna mengingatkan.


Gio menghela napas pelan. "Maaf, Yank..." ucapnya kemudian.


"Aduh... kalau begini terus, bakal gagal nih acara liburannya," pikir Luna yang cukup memahami situasi. Sepertinya ia harus melakukan sesuatu.


"Guys... kita pesan minuman dulu, yuk! Gue haus nih," ajak Luna.


"I-iya, gue juga haus." Dira mengambil buku menu yang ada di atas meja dan melihatnya bersama Lingga.


"Lo mau pesan apa, Han?" tanya Luna setelah selesai menentukan pilihannya bersama Yovan.


"Sesuatu yang dingin, soalnya hati gue lagi panas saat ini!" jawab Hanna dengan wajah yang masih terlihat kesal.


Deg


Gio hanya bisa diam mendengar sindiran Hanna. Ia mengakui jika memang dirinya bersalah, tapi seharusnya Hanna juga paham kalau Gio memiliki sahabat yang suatu saat membutuhkan bantuannya.


"Guys, gue ke toilet bentar, ya. Soal pesanan, samain aja dengan Hanna..." ucap Gio. Setelah itu, ia bangkit dan pergi meninggalkan meja.


Melihat Gio yang seperti menghindar, Hanna merasa sedikit bersalah. Memang benar, ia cemburu buta, tapi apa salah ia marah karena Gio lebih mengutamakan sahabatnya daripada pacarnya sendiri. Apalagi Hanna tahu, kalau sahabat perempuan Gio itu menaruh rasa pada kekasihnya.


"Bee, aku mau susul Gio ke toilet. Nggak apa, kan?" bisik Lingga.


Dira mengangguk, sepertinya Gio memang membutuhkan teman untuk bicara.


Melihat Lingga yang juga meninggalkan meja, Yovan pun merasa jika ia harus menjauh barang sejenak. Mungkin, para perempuan itu ingin bicara dari hati ke hati.


"Pesanannya udah fix, kan? Gue pesan sekarang, ya?" tanya Yovan. Beruntung ia punya alasan untuk menjauh.


"Ok, By." Luna menjawab.


Sepeninggal para lelaki, Dira dan Luna beringsut duduk ke sebelah Hanna. Mereka ingin menenangkan sahabatnya itu.


"Ada masalah apa lagi, Han?" tanya Luna.


"Siyalan itu si Caca, gara-gara dia rencana liburan kami jadi berpotensi gagal kalau Hanna dan Gio nggak segera berbaikan," batin Luna jengkel.


Sementara Dira tidak tahu harus berkomentar apa, karena ia tidak pernah berada di posisi Hanna. Yang bisa ia lakukan hanyalah memeluk dan menenangkan Hanna yang mulai menangis.


Luna sendiri mulai berpikir keras, cara apa yang bisa ia lakukan agar kedua orang itu bisa segera berbaikan, agar rencana liburan bisa langsung dibahas.


"Han, lo harus kuat. Jangan hanya karena masalah ini, hubungan lo dan Gio jadi renggang. Jika itu sampai terjadi, justru si Caca Marica Hehe itu akan kesenangan. Dia bisa saja mengambil kesempatan untuk lebih mendekati Gio yang lagi galau saat ini. Lo nggak mau 'kan kehilangan Gio?" Luna mulai memprovokasi. Menghasut demi kebaikan, boleh-boleh saja yang BESTie.


"Luna benar, Han. Jangan berikan kesempatan pada benalu untuk masuk dan merebut perhatian Gio." Dira menambahkan.


Tangisan Hanna perlahan mereda, sejenak ia berpikir. Ucapan kedua sahabatnya itu memang benar. Mulai dari sekarang, ia bertekad untuk tidak akan kalah dari si meriCa bubuk itu. Apapun yang terjadi, ia tidak akan pernah melepaskan Gio.


...****************...


Masalah di sisi perempuan sudah teratasi, kini giliran Lingga mengambil bagian. Setelah selesai menuntaskan panggilan alamnya, Lingga menghampiri Gio yang sedang berdiri di depan cermin wastafel.


"Butuh saran?" tanya Lingga sambil menghidupkan kran air untuk mencuci tangan.


"Apa salah kalau gue membantu sahabat gue, Ngga?" tanya Gio seraya menghadap Lingga.


"Perempuan?" tanya Lingga balik. Jujur, ia belum mengerti akar permasalahannya.


Gio mengangguk. "Dia hanya minta gue untuk mengantarkannya ke toko buku. Awalnya gue menolak, karena harus menjemput Hanna, tapi dia memohon dengan mengatasnamakan persahabatan. Gue merasa nggak enak, Ngga. Jadi gue antar saja dia. Gue pikir, tidak masalah toh ada toko buku yang letaknya sejalan dengan arah rumahnya Hanna, tapi di tengah jalan dia protes karena tidak mau ke toko buku yang dimaksud. Alhasil gue mengantarkannya ke toko buku yang dia inginkan, dan jaraknya lumayan jauh dan berlawanan arah dengan rumahnya Hanna. Makanya gue telat jemput Hanna, padahal sebelumnya kita udah janjian ke butik sebentar untuk mengambil baju pesanan nyokapnya Hanna," jelasnya panjang.


"Dia tahu kalau lo akan pergi dengan Hanna?"


"Tahu, itulah alasan gue menolak permintaannya, tapi bukannya paham, dia malah semakin memaksa."


Mendengar cerita Gio tentang sahabatnya itu, Lingga biasa menarik kesimpulan kalau sahabatnya Gio itu menyukai dirinya. Dia seperti sengaja ingin menciptakan kesalahan pahaman antara Gio dan Hanna.


"Gue harus gimana, Ngga? Sekarang Hanna marah sama gue. Gue akan semakin merasa nggak enak, kalau rencana liburan kita terhambat karena masalah ini," lirih Gio.


"Bukannya gue berpikiran buruk sama sahabat lo ya, Io. Tapi menurut gue, mulai sekarang lo harus menjaga jarak dari dia, jika lo ingin hubungan lo dan Hanna terbebas dari salah paham berkepanjangan." Lingga menyarankan.


"Gimana mau jaga jarak, Ngga. Rumah kita bersebelahan, gue keluar pintu rumah aja kadang ketemu sama dia," tutur Gio gusar.


"Intinya semua ada di lo!" Lingga menunjuk pada Gio. "Lo harus bisa membatasi diri dan jangan mudah terhasut hanya karena label persahabatan."

__ADS_1


Gio termenung sesaat. Lingga benar, ia tidak bisa terus melunak jika berhubungan dengan Caca. Ia punya Hanna yang harus dijaga perasaannya.


"Makasih atas sarannya, Bro." Sekarang Gio bisa tersenyum lega.


"Santai aja! Kita kembali ke meja, seperitnya semua sudah menunggu."


...****************...


Yovan datang membawa pesanan, pemuda itu merasa lega saat melihat Hanna sudah bisa tersenyum dan bercanda bersama kedua sahabatnya.


Tak lama setelah minuman dan beberapa camilan terhidang, Lingga dan Gio muncul bersamaan.


"Ngapain lo berdua lama banget di toilet, gue jadi curiga!" tuding Yovan ketika melihat dua orang itu muncul.


Lingga hanya menggelengkan kepala sementara Gio tidak bisa diam dan membalas. "Rugi lo nggak ikut," jawabnya.


"Ish, lo membuat otak polos gue ternodai!" Yovan sudah membayangkan yang aneh-aneh.


"Lun, pulang dari sini, pergi ke supermarket dan beli deterjen untuk mencuci otak kotor cowok lo itu!" pinta Gio.


"Sip!" sahut Luna.


"Apaan sih, By!" Yovan melirik kesal Luna yang mengiyakan permintaan konyol Gio.


Mereka semua tertawa dan kondisi kini kembali ceria.


Hanna dan Gio saling melemparkan senyum, sementara di bawah sana, jemari mereka saling bertautan erat.


Masing-masing mereka mulai mencicipi minuman dan juga makanan yang tersedia. Sambil menikmati hidangan, Luna mulai membuka suara untuk membahas rencana liburan mereka.


"Guys, gue dan Yovan sudah memilih tiga destinasi liburan yang menurut kami asyik dan tempatnya juga indah," katanya.


"Di mana, Lun?" tanya Dira.


"Bali, Lombok sama Labuan Bajo. Di sana banyak resort yang bisa kita sewa. Pantainya juga cantik dan banyak terdapat spot wisata yang bisa kita kunjungi," jelas Luna.


Semua terdiam mendengar penuturan Luna.


"Namun, jika kalian ingin tempat liburan yang tidak terlalu jauh, masih ada Pulau Seribu dan juga Parangtritis di Yogyakarta. Pantainya juga tak kalah indah. Bagaimana?" Yovan menambahkan.


"Kamu maunya ke mana, Bee?" Lingga menoleh pada Dira.


"Aku ikut suara terbanyak aja, Bee..." jawab Dira yang masih bingung. Jujur, kalau untuk Pulau Seribu, Parangtritis dan juga Bali, ia sudah pernah liburan ke sana bersama keluarga besar. Kalau bisa, ia ingin berlibur di tempat yang baru.


"Menurut lo gimana, Han?" tanya Luna.


"Hm...gue bingung. Semua tempatnya bagus." Tidak ada jawaban pasti yang keluar dari mulut Hanna.


Semuanya kembali diam, kebingungan.


Melihat semua orang membisu, tiba-tiba sebuah ide muncul di benak Lingga.


"Daripada bingung, lebih baik kita tentukan saja menggunaka rolet. Jadi tempat yang ditunjuk rolet, kita akan liburan ke sana," ucapnya.


"Boleh juga ide lo!" puji Yovan.


Setelah semua orang menyetujui, Lingga langsung mengeluarkan ponsel dan mendownload aplikasi rolet. Selesai terinstal, ia lanjut membuat lima destinasi wisata yang diusulkan.


"Ok, kita mulai!" Lingga menaruh ponsel di tengah-tengah meja, dan semuanya menatap fokus.


Rolet mulai berputar setelah Lingga menekannya. Semua tampak antusias menunggu panah rolet menunjuk kemana.


"Yeeyy!" Dalam hati Dira bersorak senang saat rolet berhenti di tulisan 'Labuan Bajo', soalnya ia belum pernah ke sana dan dilihat di internet tempatnya sangat indah.


"Ok, Guys. Jadi destinasi liburan kita kali ini adalah Labuan Bajo. Sekarang kita bahas kapan akan perginya," putus Yovan.


"Senang sekali kelihatannya?" bisik Lingga saat melihat wajah berseri-seri kekasihnya.


"Iya, soalnya aku belum pernah ke sana. Tempat yang lain sudah, jadi sangat excited."


Lingga tersenyum. Ini akan jadi liburan pertama mereka.


...Bersambung...


Terima kasih sudah membaca 😊


Jangan lupa Vote, Comment dan Follow 🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2