
...🌷Selamat Membaca🌷...
Cakra's PoV
Hari ini aku menemani Ajeng memeriksakan kandungannya ke rumah sakit. Terakhir kali mengeceknya adalah satu bulan yang lalu. Besok kami berencana kembali ke Jakarta untuk menyelesaikan segala permasalahan yang ada di sana, jadi demi keamanan alangkah baiknya jika kandungan Ajeng diperkisa terlebih dahulu, takutnya nanti ada masalah karena hari esok pasti tidak akan mudah.
Saat ini wanita cantik yang berstatus sebagai kekasihku itu tengah berbaring di ranjang pemeriksaan. Dress selutut yang ia kenakan disingkap ke atas, sementara bagian bawahnya ditutup menggunakan selimut tipis yang sudah tersedia. Dokter mengoleskan ultrasound gel ke permukaan perut Ajeng kemudian menempelkan transducer di perut buncit itu. Tangan dokter wanita itu menari-nari di sana sementara matanya tertuju pada layar monitor di depannya.
Aku dan Ajeng serentak melihat ke arah yang sama dengan si dokter. Monitor saat ini sedang menunjukkan video pergerakkan janin dalam perut Ajeng. Wajah bayi Ajeng yang sedang tertidur terlihat sangat jelas karena pemeriksaan kali ini menggunakan ultrasonografi 4D. Saat ini usia janin Ajeng adalah 30 minggu.
"Bapak, Ibu, lihatlah ini janin kalian. Dia tumbuh sehat dan sangat aktif." Si dokter mulai menjelaskan.
Aku terpana melihat semua itu. Hati ini menghangat melihat wajah bayi Ajeng yang dari layar itu saja sudah terlihat sangat menggemaskan, apalagi jika dilihat dari langsung. Rasanya sudah tidak sabar untuk bisa memangkunya dalam dekapan.
"-dan jenis kelaminnya adalah..." Dokter ingin melanjutkan ucapannya tapi langsung disanggah cepat oleh Ajeng.
"Dokter, saya ingin jenis kelaminnya menjadi kejutan saat melahirkan nanti," pintanya.
Dokter wanita itu tersenyum. "Tentu."
Aku mendesah pelan, rasanya sangat penasaran dengan jenis kelamin anak Ajeng. Aku berharap anaknya nanti berjenis kelamin perempuan, aku ingin seorang bayi yang cantik seperti Ajeng. Namun, beberapa saat kemudian kenyataan menyentakku untuk kembali ke dunia nyata. Keantusiasanku pada janin itu sama sekali tidak berarti karena sesungguhnya dia bukanlah milikku melainkan milik pria lain yang merupakan ayah biologisnya, yakni Radi . Ah... sakit sekali rasanya. Andaikan, aku bertemu lebih dulu dengan Ajeng, pasti saat ini aku menjadi pria paling bahagia yang tengah menanti kelahiran anak pertamanya.
"Mas Cakra!" Aku dikagetkan dengan tepukan pelan di bahu. Ku lihat tersangkanya adalah Ajeng. Wanita itu rupanya sudah berganti posisi menjadi duduk. Pakaiannya pun sudah dirapikan.
"Hm?" Aku menatapnya.
"Kenapa melamun?" tanyanya.
"Tidak apa-apa."
"Mau menyimpannya?" Ajeng menyodorkan foto hasil usg kehadapanku. Terlalu asyik melamun, aku tak menyangka jika hasilnya sudah jadi saja. Berapa banyak momen yang kulewatkan tadi.
"Mas!"
Aku memandanginya sejenak. "Bolehkah?" tanyaku. Apakah aku berhak menyimpannya?
"Tentu saja, nanti kau juga akan jadi Papanya." Ajeng mengambil tanganku dan meletakkan foto usg itu tepat di atas telapak tangan. Ia tersenyum sangat manis. "Papa Cakra..." bisiknya.
Deg
Jika tidak ada dokter di antara kami, aku bisa saja menangis. Aku begitu terharu saat Ajeng menyebutku sebagai Papa. Hal yang selama ini sudah ku impikan.
"Terima kasih." Aku memandangi foto itu dengan mata berkaca-kaca. "Anakku
..?"
.
Author's PoV
Senin pagi, tepatnya pukul 10, Cakra dan Ajeng sudah sampai di Jakarta. Ajeng tidak pulang ke rumah melainkan pulang ke apartemennya. Setelah beristirahat sejenak, mereka memutuskan untuk makan siang di luar baru setelah itu menuju kantor milik Ajeng. Sesuai kesepakatan, hari ini akan diadakan rapat pemegang saham mengenai penangguhan jabatan Radi. Ajeng harus siap mental untuk bertemu dengan suaminya itu, nanti.
"Apa kau siap?" Cakra memastikan. Sekarang mereka sudah berada di pintu masuk gedung Winata. Cakra setia menemani Ajeng di setiap langkahnya.
"Iya, aku siap." Wanita itu mengangguk mantap. Dengan pakaian formal namun tetap elegan, ia mulai melangkah masuk ke dalam perusahaan. Cakra ikut menyamakan langkah di samping kekasihnya.
Beberapa pasang mata yang mereka lewati tampak terkejut melihat kemunculan Ajeng, terlebih pada perut buncit wanita itu yang menjadi fokus utamanya. Semua orang langsung berbisik-bisik.
"Sudah lama tidak terlihat, sekarang bu Ajeng kembali dengan perut buncitnya."
"Iya dan kenapa beliau datang bersama Pak Cakra Adibrata, bukankah seharusnya ia datang bersama Pak Radi?"
"Entahlah, ku lihat tadi pak Radi datang sendiri."
"Apa rumah tangga mereka sedang bermasalah?"
"Sepertinya begitu."
"Ah, sudahlah. Tidak usah dipikirkan, jika bu Ajeng mendengar kita bisa dipecat."
Ajeng tersenyum miris. Telinganya masih berfungsi dengan baik, ia mendengar dengan jelas bisik-bisik para karyawan. Tak ambil pusing, ia lebih memilih mengabaikan semua itu. Biarlah orang beranggapan apapun tentang dirinya, yang jelas apa yang terjadi dengannya hanya dirinya saja yang tahu.
"Nona, anda sudah ditunggu semua orang di dalam." Robi menyambut kedatangan Ajeng di depan pintu masuk ruang rapat.
"Ya." Ajeng mencoba mengusir rasa gugup yang tiba-tiba merasuk dalam dirinya. Dihirup dan dihembuskannya napas berulang kali.
"Kau pasti bisa. Aku menantimu di sini." Cakra menggenggam tangan Ajeng, memberi kekuatan.
Wanita itu tersenyum, ia mensugesti dirinya sendiri dengan mengatakan jika ia sanggup menghadapi masalah yang ada di depan mata. Ada seseorang yang setia menunggunya di sini dan tidak akan pernah ia kecewakan orang itu.
"Ayo, Nona." Robi bersiap membuka pintu.
__ADS_1
"Aku masuk, ya." Ajeng pamit pada kekasih hatinya.
"Hm, semangat!"
Ajeng melangkah masuk diikuti Robi, sementara Cakra menantinya di luar ruangan. Ada sofa tunggu di sana.
.......
Semua pasang mata yang berada dalam ruang rapat serentak menatap ke arah pemegang saham terbesar yang baru menampakkan wujudnya setelah beberapa bulan ini. Dia adalah Ajeng Pramesti Winata.
"Maaf, sudah membuat kalian menunggu." Ajeng sudah berdiri di depan kursi khusus yang memang diperuntukkan untuknya, ia menundukkan kepala sejenak sebagai rasa hormat pada orang-orang yang telah menunggunya itu.
Robi menarik kursi dan mempersilakan nonanya untuk duduk. Rapat pun dimulai.
Seorang pria yang menjadi peserta rapat tidak dapat memfokuskan dirinya pada masalah yang sedang dibahas. Matanya tak lepas memandang kehadiran istri yang sudah lama dirindukannya. Pria itu adalah Radi. Sedari Ajeng masuk, matanya tak pernah lepas dari sosok sang istri. Jika tidak ada orang di ruangan itu, sudah pasti akan ia tarik wanita itu untuk masuk ke dalam dekapannya.
Ajengnya sudah banyak berubah. Dia menjadi semakin cantik dengam tubuh berisi dan pipi yang gembil. Wajah wanita itu terlihat sangat berseri seperti orang yang sedang jatuh cinta. Radi merasa sakit hati, apakah selama ini Ajeng baik-baik saja tanpa dirinya?
Rapat berjalan lancar, berkat kemurahan hati Ajeng, Radi kembali mendapatkan posisinya sebagai direktur di perusahaan. Bukan karena kasihan dengan suaminya, tapi Ajeng mengingat kembali perjuangan Radi yang sudah mengelola perusahaan selama bertahun-tahun. Ia takut ayahnya di surga sana akan kecewa jika mengetahui jika Radi didepak dari perusahaan hanya karena masalah yang menurutnya sepele. Bagaimana pun juga, Radi adalah kakaknya yang juga sangat disayangi oleh kedua orang tuanya. Ia hanya ingin menghargai ikatan itu.
Robi sedikit tidak puas dengan keputusan Ajeng, tapi dia tidak berdaya. Jika nonanya menginginkan hal itu, maka itulah yang akan terjadi.
.......
Semua orang menyalami Ajeng sebelum keluar dari ruang rapat, termasuk Radi. Saat bersalaman, pria itu enggan untuk melepaskan jabatan tangannya.
"Maaf, bisa tolong lepaksan tangan saya!" pinta Ajeng datar.
"Sayang, aku merindukanmu.." Bukannya melepaskan, Radi mendekat hendak memeluk Ajeng. Belum sampai niatnya itu, Ajeng langsung menahan dada Radi dan mendorong pelan tubuh pria itu menjauh darinya.
"Kau bisa menekan bayiku!" protes Ajeng dengan kedua tangan melindungi perutnya.
Radi tersentak, matanya yang semula menatap Ajeng beralih pada perut buncit istrinya. Pria itu lantas merunduk, mendekatkan wajahnya ke perut Ajeng.
"Anak ayah sudah besar, apa kabarmu, nak?" Tangan Radi terulur ingin menyentuh tempat bersemayam bayinya, tapi Ajeng langsung bergerak mundur.
Deg
"Sayang, kau kenapa?" Radi kembali berdiri tegak dan menatap Ajeng nanar. Ia sungguh terluka mendapat dua kali penolakan dari istrinya.
"Aku sangat merindukan kalian berdua..."
Deg
Sekali lagi, hati Radi rasanya teriris melihat respon yang diberikan Ajeng. Ia bisa melihat dengan jelas ada kebencian di mata indah itu.
"Maafkan aku, Jeng. Aku sungguh menyesal." Radi menundukkan kepalanya sebagai bentuk penyesalan.
"Aku sudah memaafkanmu."
Ucapan Ajeng barusan membuat Radi seketika mendongak. Ia tidak percaya jika Ajeng bisa memaafkannya secepat itu. Dirinya yakin jika Ajeng pasti masih sangat mencintainya.
"Terima kasih, sayang. Aku berjanji akan selalu menjaga dan menyayangi kalian dengan sepenuh hatiku. Kita kembali ke rumah, ya." Radi terlihat begitu excited.
Ajeng tersenyum manis, ia tak menyangka jika suaminya ini memiliki kepercayaan diri yang begitu tinggi. Lagi pula siapa yang ingin kembali pada seorang pengkhianat seperti Radi.
"Bang Robi, apa kau sudah menyiapkan berkas yang aku butuhkan?" Ajeng bertanya pada Robi yang masih berdiri tepat di belakang Radi.
"Iya, Nona." Pria itu mengambil map di atas meja dan menyerahkannya pada Ajeng.
Ajeng membaca dokumen itu sebentar, setelah itu memberikannya kepada Radi.
"Apa ini, sayang?" tanya Radi.
Sejujurnya Ajeng sudah muak mendengar Radi memanggilnya sayang, tapi ia tidak bisa protes sebelum misinya berhasil.
"Tanda tangani surat itu secepatnya, lalu serahkan pada Robi!"
Radi yang kebingungan langsung membuka map yang diberikan Ajeng. Alangkah terkejutnya pria itu saat membaca kertas yang bertuliskan surat gugatan cerai.
Deg
"Jeng, ini maksudnya apa?" tuntut Radi.
"Kita bercerai!" putus Ajeng mutlak.
"Tapi kenapa?" Radi tidak terima dengan keputusan sepihak istrinya itu.
"Kenapa? Kau masih bertanya kenapa? Karena kau sudah mengkhianatiku."
Radi terhenyak, memang benar ia sudah mengkhianati istrinya. Tapi, ia sama sekali tidak ingin terjadinya perpisahan di antara mereka.
__ADS_1
"Jeng, kita masih bisa membicarakan ini baik-baik." Radi meraih tangan Ajeng, tapi langsung ditepis oleh wanita itu.
"Tangan yang sudah menjamah wanita lain, tidak berhak lagi untuk menyentuhku!" kecamnya.
Deg
"Sayang, aku tidak ingin berpisah. Aku masih sangat mencintaimu." Radi memohon dengan wajah memelas.
"Mencintai tapi berkhianat, cinta macam apa itu? Aneh!"
"Sayang, aku bersalah. Kembalilah, aku membutuhkanmu."
"Bang Robi, pastikan dia menandatangani surat itu!"
Tak lagi mempedulikan rengekan Radi, Ajeng berbalik arah meninggalkan ruang rapat.
"Ajeng!" Radi mengejarnya keluar ruangan.
Langkah Ajeng yang lambat membuat Radi berhasil meraih tangan wanita itu dan mencengkramnya.
"Jangan tinggalkan aku!"
"Lepas!" Ajeng memberontak, namun cengkraman Radi terlalu kuat membuatnya tak berdaya.
"Aku tidak mau berpisah..."
"Lepas tanganku sakit..." Ajeng sedikit merintih merasakan panas di pergelangan tangan kanannya.
"Lepaskan Ajeng!" Tangan Radi langsung dihentak dengan kasar oleh seseorang yang baru saja muncul. Cakra baru kembali dari toilet saat melihat adegan Radi yang tengah bersitegang dengan Ajeng.
"Mas Cakra.." panggil Ajeng. Wanita itu beranjak, berlindung di balik punggung lebar kekasihnya.
"Pak Cakra? Apa-apaan anda ikut campur dalam masalah rumah tanggaku?" tanya Radi tak senang.
"Aku berhak, karena Ajeng adalah...,"
Cakra ingin mengatakan jika Ajeng adalah kekasihnya, tapi ia ragu. Nama Ajeng bisa saja buruk jika orang-orang tahu jika dia memiliki kekasih padahal masih bersuami.
Keraguan Cakra, dirasakan betul oleh Ajeng. Wanita itu keluar dari persembunyiannya dan langsung berdiri di samping Cakra. Tangannya merangkul dengan mesra lengan sang kekasih.
"Mas Cakra adalah kekasihku..."
Radi terperanjat mendengar hal itu, sementara Cakra merasa terbang karena Ajeng mengakui dirinya sebagai kekasih. Apakah wanita itu sudah siap dengan segala gunjingan yang akan dilemparkan kepada mereka? Pasalnya ada dua orang karyawan yang kini melihat pertengkaran itu. Bisa saja berita ini akan disebarluaskan oleh mereka. Cakra hanya mencemaskan keamanan juga kenyamanan Ajeng.
Pria Nugraha itu tertawa keras. "Jadi aku benar, jika kalian berselingkuh?" ranyanya dengan raut wajah yang langsung berubah. Rahangnya mengeras dan wajah putihnya menjadi merah.
"Iya, kalau kau bisa berselingkuh kenapa aku tidak?" tantang Ajeng. Wanita itu memeluk erat lengan Cakra, mencari kekuatan.
"Kau balas dendam padaku?"
"Tidak, hanya saja aku tidak lagi mencintaimu."
Deg
Sungguh kejujuran Ajeng barusan bagaikan belati yang menusuk tepat di jantung Radi. Pria itu terdiam dengan kesakitannya.
"Aku harap kau mau bekerja sama. Aku ingin berpisah darimu dan bersatu dengan orang yang aku cintai. Jadi, ku mohon tanda tangani surat itu agar kita bisa menjalani kehidupan masing-masing dengan bahagia. Kau bisa kembali dengan Maya dan anaknya."
Pria itu masih mematung di tempat, entah ia mendengar penuturan Ajeng barusan atau tidak.
"Mas, ayo kita pergi. Aku lelah..."
Pasangan itu pergi meninggalkan Radi seorang diri.
Robi yang menyaksikan semua itu dari ambang pintu lantas menghampiri Radi. "Tanda tangani berkas ini dan serahkan padaku, secepatnya!" Robi memberikan map berisi berkas perceraian itu ke tangan Radi dan segera pergi meninggalkan pria malang itu.
"Lupakan apa yang baru saja kalian lihat, jika berita ini sampai tersebar, kalian berdua saya pecat!" peringat Robi pada dua karyawan yang masih berada di depan ruang rapat.
"I-iya."
.......
Mobil Cakra masih berada di tempat parkir. Pria itu hanya bisa diam saat Ajeng menggunakan bahunya sebagai tempat menangis.
"Aku berjanji akan membuatmu bahagia." Dipeluknya tubuh lemah itu dengan erat.
...Bersambung...
...Jangan lupa Like & Comment... 🙏🏻😊...
...Terima kasih...
__ADS_1