
...🌷Selamat Membaca🌷...
Maya meringkuk di balik sel tahanan, ancaman hukuman yang akan diterimanya nanti, terus terngiang-ngiang di benaknya. Membayangkan akan menjalani hari-harinya di penjara selama dua tahun, membuatnya tak sanggup. Terlebih, ia harus meninggalkan Lingga kecil yang masih sangat membutuhkan dirinya.
"Kenapa nasibku jadi seperti ini?" lirihnya sendu. Kedua orang tua dan kakaknya sudah angkat tangan dalam masalah ini, mereka menyerahkan semua pada pihak berwajib. Maya benar-benar sendiri sekarang, tidak ada yang peduli lagi padanya.
Ibu satu anak itu merenung, mengingat kembali semua kesalahan yang sudah dilakukannya hingga berakhir dibalik jeruji besi. Hati nuraninya bergetar, ia sadar jika semua perbuatan yang sudah dilakukannya selama ini adalah hal yang salah, mulai dari berzina, durhaka pada orang tua, dan jadi orang ketiga dalam rumah tangga orang lain. Semua dosa besar yang sangat dibenci oleh Tuhan, sudah ia lakukan semua. Lalu, apakah ini adalah hukuman yang pantas untuk semua dosa-dosanya?
Maya rasa, hukuman ini belumlah seberapa dibandingkan dengan semua dosa yang sudah ia perbuat. Apakah Tuhan akan menerima tobatnya jika ia bersungguh-sungguh meminta maaf? Entahlah... saat ini Maya hanya fokus memikirkan bagaimana nasibnya ke depan dan juga bagaimana nasib putranya selama jauh dari dirinya.
"Lingga, ibu merindukanmu, Nak..." Air mata Maya jatuh berderai kala merindukan anaknya yang kini entah bagaimana kabarnya.
.......
Oweek... owekk... owekk...
"Aduh... Satria, anakmu ini nangis terus. Aku pusing," pekik Silvia.
"Tolong kau gendong sebentar, aku masih harus membuatkan susu untuknya!" teriak Satria dari arah dapur.
"Kenapa membuat susunya lama sekali? Ini anakmu sudah kelaparan!" balas Silvia dengan suara keras. Hal tersebut membuat Lingga semakin mengencangkan suara tangisnya karena terkejut.
"Arghhh... dasar cerewet! Kau membuatku tidak fokus!" jerit Satria kesakitan. Pria itu baru saja menuang air panas dan tak sengaja mengenai tangannya.
"Ish, menyebalkan!" Silvia terpaksa harus menggendong Lingga dan mengayunnya perlahan agar bayi delapan bulan itu berhenti menangis.
"Cup... cup... diam ya, Nak. Aku pusing mendengar suara tangisanmu itu," bujuk Silvia.
Ting... Nong
Baru saja Silvia berhasil menenangkan Lingga, bunyi bel apartemen terdengar.
"Siapa sih yang bertamu malam-malam begini?" gerutu wanita hamil itu. Sembari menggendong Lingga yang mulai anteng, ia berjalan malas menuju pintu masuk.
Cklekk
__ADS_1
Saat pintu terbuka, Silvia melihat sudah ada tiga orang dewasa yang berdiri berhadapan dengannya, salah satunya adalah orang yang ia kenal yaitu Dhika. Dua orang lagi adalah sepasang paruh baya yang tak dikenalnya.
"Selamat malam Bu Silvia, maaf kalau kedatangan kami mengganggu waktu istirahatmu," ucap Dhika tak enak hati.
"Selamat malam, tidak apa-apa kok, Dhik. Ngomong-ngomong, ada apa ya?" tanya Silvia.
Silvia memperhatikan jika pasangan paruh baya yang bersama Dhika terus memandang ke arah Lingga yang berada di gendongannya.
"Siapa yang datang, Via?" Dari arah dalam, Satria muncul dengan membawa botol susu untuk putranya. Ia berdiri di samping Silvia dan melihat siapa tamu yang datang
Deg
Wajah pria itu langsung pucat begitu mengetahui jika yang datang adalah keluarga Maya. "Ke-kenapa tidak disuruh masuk?" tanya Satria pada kekasihnya.
"Ah, iya... aku lupa." Wanita itu menatap tak enak pada tiga orang tamunya. "Maafkan saya, silakan masuk Pak, Bu, Dhika..." ajaknya.
Semua orang sudah duduk di ruang tamu, sementara Lingga duduk tenang di atas paha sang ayah sembari mengedot susunya. Bayi itu terlihat sangat kehausan, terbukti dengan volume susu yang sudah tinggal setengah botol saja dari yang awalnya penuh.
"Silakan diminum, Pak, Bu, Dhik..." ucap Satria mempersilakan. Baru saja Silvia datang dan menghidangkan minuman untuk ketiga tamunya.
Untuk menghargai kemurahan hati si tuan rumah, terpaksa Dhika dan kedua orang tuanya meminum apa yang telah disuguhkan oleh Silvia, walaupun sebenarnya ada rasa tidak sudi dalam hati mereka untuk menikmati sesuatu yang berasal dari pria yang telah merusak Maya.
Silvia dan Satria saling berpandangan. Mereka juga sudah membahas hal ini sebelumnya.
"Saya sebagai ayahnya, setuju saja jika Lingga diasuh oleh kakek dan neneknya, karena jujur saja baik saya maupun Silvia tidak ada yang bisa melakukannya. Bukannya saya tidak bertanggung jawab, hanya saja karena kami berdua memiliki kesibukan tersendiri, jadi tidak bisa selalu bersama dengan Lingga." Satria menjelaskan. "Tapi tenang saja, saya akan mengirimkan uang untuk biaya hidup Lingga," tambahnya.
Rahang Pak Indra mengeras mendengar penuturan Satria yang terakhir, ia merasa tersinggung. "Harta saya masih banyak dan bisa memenuhi kebutuhan cucu saya bahkan sampai dia besar nanti," ucapnya tegas.
Satria membeku, ia sama sekali tidak bermaksud menyinggung, tapi ya sudahlah... sebaiknya meminta maaf saja agar tidak terjadi masalah. "Kalau begitu maafkan saya," ucapnya kemudian.
Pak Indra mendengus sembari memandang Satria dengan tatapan remehnya.
"Biarkan saja dia mengirimkan uang untuk biaya hidup Lingga, itu sudah menjadi kewajibannya, Yah." Dhika menimpali.
"Terserah saja, yang jelas malam ini kami akan membawa Lingga!" putus Pak Indra.
__ADS_1
"Baiklah, saya akan membereskan barang-barangnya..." Silvia langsung bergegas untuk mengemasi semua barang milik Lingga juga Maya. Ia tidak ingin ada satu barang pun milik wanita perebut suami orang itu di apartemennya dan Satria.
"Boleh saya menggendong Lingga?" Bu Desi sudah menunggu kesempatan ini sedari tadi.
"Tentu saja, anda neneknya." Satria segera menyerhakan sang putra pada ibunya Maya.
Begitu Lingga berada dalam pangkuannya, Bu Desi langsung menangis Haru. Ia mengecup kepala bayi laki-laki itu bertubi-tubi, menyalurkan rasa sayangnya pada anak Maya yang merupakan cucu pertamanya.
"Lihatlah, Pak! Cucu kita sangat tampan," kata Bu Desi sambil memperlihatkan wajah Lingga pada suaminya.
Pak Indra hanya berdehem, sedikit tidak suka saat istrinya mengatakan jika Lingga sangat tampan. Memang benar jika cucunya itu sangatlah tampan, tapi wajah bayi itu adalah duplikatnya Satria. Berarti secara tersirat ia turut mengakui bahwa pria brengsek perusak anak gadisnya itu juga memiliki wajah yang tampan.
Beberapa menit kemudian, Silvia datang dengan menggeret satu koper besar. Semua barang Maya dan Lingga sudah ia satukan di dalamnya.
"Baiklah, karena tidak ada yang mesti dibicarakan lagi, kami pamit dulu..." kata Dhika.
Satria dan Silvia mengangguk. Mereka mengantarkan tamunya ke depan pintu.
"Tunggu sebentar!" seru Satria saat melihat jika mereka akan pergi.
"Ada apa lagi?" jawab Pak Indra malas.
"Apa saya masih boleh untuk bertemu dengan Lingga?" tanyanya. Melihat tatapan polos Lingga saat memandangnya, Satria jadi merasa sedikit berat untuk melepas putranya itu. Ia sudah terlanjur menyayanginya.
"Tentu saja, kau tetap ayahnya." Bu Desi lah yang menjawab.
"Terima kasih." Satria bersyukur karena keluarga Maya tidak melarangnya untuk menemui sang anak.
"Kami pamit, selamat malam."
"Selamat malam."
Silvia memandang Satria yang masih melihat kepergian sang anak. Wanita itu lalu mengelus perutnya yang sudah sedikit membuncit. Apakah Satria juga akan menyayangi anak yang dikandungnya ini sama seperti dia menyayangi Lingga, begitu pikirnya.
...Bersambung...
__ADS_1
...Jangan lupa Like & Comment🙏🏻😊...
...Terima kasih...