2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
The Happiness


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Punggung polos Fadhil bersandar di kepala ranjang, sementara di dadanya ada Maya yang tengah bersandar manja. Pasutri itu baru saja melalui pergumulan nikmat penuh keringat.


Maya memejamkan mata, merasakan detak jantung suaminya yang masih berdegup kencang pasca pelepasannya tadi. Tangan Fadhil yang bertengger di bahu telanjangnya tak berhenti mengusap, memberikan sensasi hangat dan juga nyaman.


"Sayang, Mas ingin mengatakan sesuatu..." Fadhil memulai. Sudah tiga hari berlalu dan kini ia mantap untuk memberitahu istrinya mengenai masa kelam di hidupnya dahulu.


Maya membuka mata, kepalanya terangkat demi bisa memandang wajah tampan dan gagah suaminya. "Mengatakan apa, Mas? Tampaknya sesuatu yang serius," balas Maya.


"Hm, apa kau masih ingat dengan Disa?" tanya Fadhil.


"Ya, temanmu yang waktu itu menjengukku di rumah sakit 'kan, Mas?" Maya masih mengingat kejadian beberapa hari yang lalu itu. Saat Fadhil membawa seorang wanita menemuinya. Sempat terbesit rasa cemburu, cuma setelah Fadhil memberitahu jika itu adalah temannya, perasaan tak suka itu akhirnya lenyap. "Memangnya ada apa dengannya, Mas?" lanjut Maya. Ia sudah menduga jika apa yang akan dikatakan suaminya pasti ada sangkut pautnya dengan wanita itu. Semoga bukan sesuatu yang membuatnya kecewa.


"Sebenarnya, Disa itu...." Fadhil menggantung ucapannya. Ia takut jika nanti Maya marah setelah mengetahui apa yang akan diungkapkannya. Seharusnya ia jujur akan masalah ini sebelum mereka menikah.


Melihat wajah ragu-ragu suaminya, Maya pun merasa was-was. Ia bangkit dari rebahan manjanya di dada sang suami, kemudian menatap pria itu lekat. "Ada apa dengannya, Mas? Jujurlah!"


Melihat Maya yang begitu penasaran, Fadhil mencoba menghirup napas dalam lalu melepaskannya. "Dia adalah mantan istri Mas."


Deg


Maya terdiam. Mantan istri? Bukankah istri Fadhil sebelumnya, yang tak lain adalah ibunya Kei, sudah meninggal dunia hampir lima tahun yang lalu.


"Maksudnya bagaimana, Mas? Dia mantan istrimu? Kapan kau menikahinya?" tanya Maya tak percaya. Soalnya, selama ini yang ia tahu bahwa istri Fadhil itu sudah tiada.


"Disa adalah istri pertama Mas sebelum ibunya Kei, kami bercerai saat usia pernikahan yang ke empat bulan," terang Fadhil.


Deg


Lagi-lagi Maya terkejut dibuatnya. Empat bulan? Pernikahan macam apa yang sesingkat itu? pikirnya heran.


"Memangnya ke-kenapa kalian berpisah?" tanya Maya. Jujur saja, mendengar jika ada wanita lain yang pernah menjadi teman hidup suaminya, membuat Maya merasa tak senang. Apalagi wanita itu masih hidup, ia takut Fadhil berpaling dan pergi meninggalkannya. Terlebih wanita itu adalah wanita pertama suaminya.


Melihat kekhawatiran di wajah cantik Maya, Fadhil langsung melabuhkan kecupan singkat di kening istrinya itu. "Mas akan menceritakannya, tapi berjanjilah bahwa kau tidak akan membenci Mas setelah mengetahui kebenarannya!" mohon pria itu.


Maya mengangguk. Setelah itu mengalirlah cerita panjang mengenai masa lalu antara Fadhil dan istri pertamanya, Disa.


Deg


Selesai mendengarkan cerita suaminya, Maya terhenyak, ia tidak menyangka jika Fadhil memiliki masa lalu yang bisa dikatakan buruk. Memperkosa seorang wanita hingga hamil hanya karena cintanya tak bersambut. Mungkin karena cara salah itulah yang menyebabkan pernikahan mereka tidak bertahan lama.


"Setelah mendengarnya, apakah kau membenci pria yang bejat ini, May?" tanya Fadhil dengan wajah sendu dan kepala tertunduk.


Maya tersenyum. "Mana mungkin, Mas. Masa lalumu tidak lebih buruk dari masa laluku. Mas sendiri 'kan tahu bagaimana aku di masa lalu. Hamil anak pria lain, kemudian menjebak pria beristri untuk mau bertanggung jawab hingga keluarga mereka hancur berantakan. Bahkan aku juga pernah hampir membunuh seorang anak yang masih berada di dalam kandungan ibunya. Aku lebih jahat daripada dirimu, Mas."


Fadhil mendongak. Ia sadar jika di antara mereka tidak ada yang memiliki masa lalu yang baik. Keduanya punya kesalahan besar yang menjadi pengingat agar di masa depan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Intinya, sekarang mereka sudah berubah dan berniat menjalani masa sekarang dan masa depan dengan lebih baik lagi.


"May, mari kita bersama-sama untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Mas akan membimbingmu agar bisa menjadi istri yang baik, sementara dirimu juga harus mengingatkan Mas jika suatu saat nanti Mas melakukan kesalahan." Fadhil berujar sembari menggenggam erat tangan Maya. Sepasang matanya menatap wanita di sampingnya penuh cinta. Wanita yang awalnya hanya diinginkan untuk menjadi ibu dari putrinya, siapa sangka jika kini Fadhil sudah jatuh terlalu dalam pada pesona wanita tersebut. Apalagi kalau mengingat momen intim yang sudah sering mereka lalui, membuat sesuatu di pusat tubuhnya langsung menegang.


"May, Mas ingin lagi!" Dengan cepat pria itu menindih tubuh polos istrinya.


Maya tersenyum menggoda. Tangannya segera mengalung di leher suaminya. "Mas, kali ini aku yang memimpin, ya?"


Fadhil terkekeh. Inilah salah satu yang ia suka dari Maya, wanita itu tidak pernah malu dan selalu bisa membuatnya terbang ke awan dengan kepandaiannya dalam bercinta. Membuat hubungan keduanya menjadi semakin bergairah dan tak bisa lepas dari satu sama lain, saling membutuhkan.


Terlalu lama menunggu jawaban dari Fadhil, Maya langsung membalik posisi. Kini ia berada di atas tubuh Fadhil. Pria itu hanya bisa terbaring pasrah.


"Do what you want to do!" lirihnya dengan suara berat.


"My pleasure, Hubby... but before we start, say that you love me!" bisik Maya di telinga Fadhil dengan suara mendayu yang seksi.


"I love you..."


"Love you, too..."


Pergulatan panas itu akhirnya terjadi kembali. Keduanya saling memberi dan menerima kenikmatan dari pasangan masing-masing. Ingat! Pasangan sah di mata agama dan negara dan bernilai ibadah bagi yang melakukannya.


.......

__ADS_1


Ada pasangan lain yang tak kalah mesra dari pasangan sebelumnya yaitu pasangan Cakra dan Ajeng. Berbeda dari pasangan Fadhil dan Maya yang tengah bergumul penuh peluh, Ajeng dan Cakra hanya menghabiskan malam mereka dengan mengobrol hangat. Hm, tidak. Lebih tepatnya Cakra yang tengah asyik mengajak bicara calon anaknya yang sedang tumbuh di dalam perut istrinya.


"Anakku sayang, baik-baik di dalam sana, ya. Jangan nakal dan menyusahkan Mama, lebih baik kau menyusahkan papa saja. Papa akan dengan senang hati menerima semua itu..." bisik Cakra yang sedang berbicara pada perut Ajeng yang sengaja disingkap penutupnya.


Ajeng yang sedang berbaring hanya bisa tersenyum melihat tingkah menggemaskan suaminya. Sesekali ia juga tertawa karena merasa geli saat Cakra mengecupi permukaan perutnya. Niatnya ingin mencium sang buah hati, tapi apa daya karena buah hatinya masih berada di dalam kandungan.


"Mas, sudah ya..." Ajeng mengelus rambut hitam lebat suaminya.


"Sebentar lagi sayang, Mas belum puas mengobrol dengan adiknya Dira," tolak Cakra.


"Tapi aku sudah mengantuk loh, Mas. Ini perutku juga terbuka terus, bagaimana kalau nanti aku masuk angin?"


Cakra tersadar. "Baiklah. Mas ingin mengucapkan selamat malam dulu pada Baby, ya?"


"Iya, silakan papa..."


"Nak, sekarang tidur, ya. Tidur yang nyenyak, papa dan mama di sini menjagamu, selalu. Selamat tidur anak cantik papa"


Cup


Tak lupa sebuah kecupan selamat malam mendarat di perut Ajeng.


Setelahnya, Cakra bangkit dan merebahkan diri di samping Ajeng.


"Mas, calon anak kita 'kan belum jelas jenis kelaminnya apa. Kenapa Mas bilang dia cantik?" tanya Ajeng yang sedikit terusik dengan perkataan Cakra sebelumnya.


"Mas yakin, dia pasti perempuan. Mas ingin anak perempuan yang cantik sepertimu dan Dira," sahut Cakra.


"Hm, memangnya Mas tidak ingin anak laki-laki?"


"Ingin, tapi Mas lebih suka anak perempuan. Biar di rumah ini hanya ada Mas yang paling tampan," balasnya sambil terkekeh.


"Ish, curang! Aku juga ingin anak laki-laki 'loh, Mas!" protes Ajeng.


"Iya, sayang. Mas terima apapun jenis kelamin anak kita nanti, yang penting dia sehat dan tidak kurang suatu apapun. Hanya itu yang Mas harapkan."


"Sebentar ya!" Tiba-tiba Cakra bangkit dari berbaringnya.


"Mau ke mana, Mas?"


Cakra berjalan menuju boxnya Dira. Bayi cantik itu tengah terlelap. Pria itu lantas menggendong dan membawanya ke ranjang dan ditidurkan di tengah antara ia dan Ajeng. Cakra menyelimuti tubuh mereka bertiga.


"Mas kangen tidur memeluk si Ndut!" ucap Cakra. Ia memeluk tubuh subur putri cantiknya. Beberapa kali ia juga memberikan kecupan di pipi chubby milik Dira.


"Mas! Jangan dicium terus, nanti dia bangun!" protes Ajeng dengan suara pelan.


"Tenang, ada aku. Putriku 'kan jadi anak penurut kalau sama papanya," ucapnya bangga.


Ajeng mendengus. Memang benar, Dira sangat dekat dengan Cakra. Bahkan mengalahkan kedekatan antara dirinya yang merupakan ibu kandung Dira. Jika menangis, Dira akan langsung diam kalau sudah berada dalam gendongan ayah sambungnya itu. Memang, Cakra sangat bisa mengambil hati putri kecil mereka. Hal tersebut sangat disyukuri oleh Ajeng. Walau sebentar lagi pria itu akan memiliki anak dari benihnya sendiri, tapi ia tetap menyayangi Dira dan tidak membeda-bedakan keduanya. Ia merasa lega.


Ajeng perlahan bangkit dari rebahannya dan mengecup kening kedua orang yang sangat disayanginya di dunia ini. "Selamat tidur, Mas. Selamat tidur, anak mama."


"Selamat tidur, sayang..." balas Cakra yang matanya sudah merem melek, mengantuk.


.......


Seperti janji yang sudah disepakati. Libur akhir pekan kali ini, Radi membawa Rina dan Reyhan berjalan-jalan. Karena Reyhan ingin mandi bola, maka Radi membawanya ke sebuah mall yang menyediakan wahana bermain untuk anak-anak.


"Aku tidak pernah melihat Reyhan sebahagia itu!" lirih Rina haru.


Radi memandang Reyhan yang sedang bermain mandi bola bersama anak-anak lainnya. Pria kecil itu terlihat sangat senang. "Sudah saatnya ia bahagia. Aku bersumpah akan membahagiakan kalian berdua."


Rina merasakan genggaman erat tangan Radi pada tangannya. Ia menoleh pada kekasihnya tersebut.


"Maka dari itu, menikahlah dengaku, Rin!"


Deg


jantung Rina berdegup cepat. Ini kali kedua Radi melamarnya. Ia harus jawab apa?

__ADS_1


"Rina!" Tiba-tiba Radi berlutut di hadapan sang kekasih. Ia membuka sebuah kotak berisi cincin bermata berlian, dan menyodorkannya pada Rina.


"Jadilah istriku dan ibu dari anak-anak kita!"


jantung Rina semakin keras berdentum. Apalagi setelah sadar jika Radi melamarnya di tengah orang banyak.


"Terima... terima..." sorak sorai para orang tua yang menemani anaknya bermain di playground tersebut.


"Buna, ayah..." panggil Reyhan yang berlari menghampiri keduanya. Entah sejak kapan bocah itu keluar dari arena permainan.


"Jagoan! Kau mau 'kan ayah jadi ayahmu yang sesungguhnya," tanya Radi yang masih berlutut.


"Au, lehan ayang Ayah...." Pria kecil itu memeluk Radi. (Mau, Reyhan sayang Ayah)


Melihat putranya yang sudah lengket dengan Radi, tak ada alasan lagi bagi Rina untuk tidak menerima lamaran dari pria yang dicintainya.


"Aku mau, Mas..."


Para pengunjung bertepuk tangan, turut merasakan kebahagiaan itu. Reyhan juga ikutan.


"Terima kasih, Rin..." Radi langsung berdiri memasangkan cincin di jari manis Rina.


"Aku akan mempersiapkan pernikahan kita dengan cepat. Besok, kita ke kampungmu!"


Mata Rina berkaca-kaca. "Iya, Mas. Terima kasih sudah mau menerima wanita biasa sepertiku."


"Kau special dan aku mencintaimu..." kata-kata itu diakhiri dengan kecupan di kening Rina.


"Buna, ayah!" Reyhan memeluk keduanya.


Radi segera menggendong calon anaknya itu. "Apa sekarang kau bahagia, jagoan?"


"Yaa... hehehe." Dia kembali bertepuk tangan riang.


.......


Mungkin di antara pasangan lainnya yang tengah berbahagia, hanya Disa yang merasakan sedih berkepanjangan. Pasalnya, sang suami masih belum bangun dari tidur panjangnya.


"Bangunlah, Mas! Aku dan Qilla merindukanmu. Kami membutuhkan dirimu!" tangis Disa sembari menggenggam erat tangan kurus Randi.


Hari ini, Disa bisa menjenguk suaminya dengan leluasa karena mertua dan kedua kakak iparnya sedang keluar kota menghadiri sebuah acara. Sudah dari pagi ia di sini dan sekarang hari mulai senja. Qilla yang kelelahan sudah tidur terlebih dahulu di sofa panjang di ruangan tersebut.


"Mas Randi..." Disa lelah. Ia merebahkan kepalanya di samping sang suami, dengan tangan tetap menggenggam erat tangan suaminya itu.


Deg


Mata yang semula terpejam, langsung terbuka tatkala merasakan jemari yang digenggamnya bergerak. Ia mendongak dan menemukan jika pria yang dicintainya sudah membuka mata.


"Mas, kau sudah sadar?" Air mata bahagia langsung bercucuran.


"Sa..." lirih pria yang baru sadar dari komanya itu.


"Iya, Mas. Aku di sini. Aku senang akhirnya kau bangun, Mas. Jangan tinggalkan aku lagi!" isak Disa.


"Sa... di mana Hai-kal?"


Deg


Tubuh Disa menegang. Kesedihan langsung menusuk ke dalam relung hatinya. Apa yang harus dikatakannya sekarang?


"Haikal di mana?" Randi menatap istrinya lekat. Meminta jawaban.


"Haikal..."


...Bersambung...


Jangan lupa Like & Comment


Terima kasih sudah membaca😊

__ADS_1


__ADS_2