
...🌷Selamat Membaca🌷...
Fadhil menatap cangkir kopi di hadapannya dalam diam. Terhitung sudah sepuluh menit waktu berjalan, pria itu belum juga membuka suara. Di depannya ada Disa yang duduk termenung, persis seperti yang ia lakukan. Tak ada di antara keduanya yang berniat membuka suara terlebih dahulu. Sementara kedua bocah perempuan yang ada bersama mereka, tengah asyik menikmati es krim sambil sesekali bercanda dan tertawa.
Tak mau berlama-lama dalam situasi canggung seperti ini, akhirnya Fadhil memutuskan untuk mengakhiri kebungkamannya.
"Apa kabar, Sa?" tanyanya. Mulai berbasa-basi.
Disa mengangkat kepala dan memandang lawan bicaranya. "Baik, Mas. Seperti yang bisa kau lihat," jawabnya.
Hening, Fadhil tidak tahu harus berkata apa lagi. Kemudian pandangannya beralih pada bocah perempuan yang terlihat lahap memakan es yang ada di tangannya.
"Anakmu?" tanya pria itu lagi.
Disa yang menyadari arah pandangan Fadhil pun mengangguk. "Ya, namanya Aqilla." Wanita itu menjawab.
"Kalian baru pindah kemari? Pasalnya aku tak pernah melihat anakmu di TK sebelumnya..." Fadhil ingat, dulu ia sering menjemput Kei ke sekolah, bahkan ia juga kenal beberapa teman putrinya itu, tapi baru kali ini ia berjumpa dengan teman anaknya yang bernama Aqilla.
"Iya, baru satu bulan ini kami pindah kemari. Sebelumnya, kami tinggal di kampung halamanku," jawab Disa sembari menatap putri yang sangat disayanginya.
"Oh, setelah perpisahan waktu itu, kau kembali ke kampung halamanmu?"
"Iya." Disa teringat akan masa lalu. Setelah Fadhil menalaknya pagi itu, Disa segera mengemasi barang-barangnya. Sebelum pergi, ia berpamitan pada orang tua Fadhil. Kedua paruh baya itu sangat menyayangkan perpisahan mereka, tapi apa mau dikata, Disa sungguh tidak bisa hidup bersama dengan orang yang sudah menghancurkan dirinya.
"Kau sendiri bagaimana, Mas? Ku dengar setelah kita berpisah, kau menikah lagi?" Gantian Disa yang bertanya.
"Ya, aku menikah dengan seorang wanita baik hati dan lemah lembut bernama Alya, hingga lahirlah Kei. Hanya saja, Tuhan sepertinya menghukumku dengan cara mengambil ibunya Kei dari sisiku. Dia pergi setelah melahirkan anak kami." Fahdil menatap putri tercintanya. Jika melihat wajah Kei, maka kerinduannya akan mendiang Alya akan terobati. Wajah Kei lebih dominan Alya daripada dirinya.
"Oh, maaf. Aku tidak tahu soal itu." Disa merasa tak enak. Dulu, ia pernah mengunjungi Fadhil sekali, tapi setelah melihat mantan suaminya sudah bahagia bersama keluarga barunya, ia pun menyurutkan langkah. Dan kini ia baru tahu kenyataan bahwa Fadhil sudah kehilangan istrinya.
"Papa..." Panggilan Kei membuat atensi Fadhil teralih.
"Kenapa, sayang?" Pria itu tersenyum melihat wajah putrinya yang sedikit berlepotan es krim. Segera diraihnya tisu di atas meja dan membersihkan wajah Kei.
"Pa, kita pulang, yuk! Kei kangen sama mama. Tadi kata papa, mama sakit. Kei kan harus jaga dedek Lingga," ucap Kei. Mengingatkan Fadhil bahwasannya di rumah ada seorang wanita yang berstatus sebagai istrinya, tengah menunggu kedatangan mereka.
Disa tersentak mendengar penuturan Kei, bukankah tadi Fadhil bilang jika ibunya Kei sudah tiada, lalu siapa wanita yang disebut oleh anak mantan suaminya itu dengan panggilan mama? Apa Fadhil membohonginya dengan suatu tujuan? Wanita itu menatap tajam Fadhil, seakan meminta penjelasan.
Fadhil yang mengerti arti tatapan Disa, langsung menjawab. "Beberapa bulan lalu, aku menikah lagi. Selama hampir lima tahun menduda, aku baru sadar kalau Kei membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Tak hanya itu, ternyata aku juga merindukan kasih sayang dari seorang istri," tutur Fadhil. Menjawab semua pertanyaan yang mungkin ingin Disa ketahui kebenarannya.
__ADS_1
Wanita yang merupakan mantan istri pertama dari Fadhil itu, menghembuskan napas lega. Ia hanya trauma pada perlakuan buruk pria itu tujuh tahun yang lalu. Takut jika pria itu kembali mengelabuinya.
"Kalau begitu aku pamit. Kapan-kapan kita bertemu lagi. Aku ingin mengenal suamimu dan aku juga akan memperkenalkan istriku," ucap Fadhil.
Disa terhenyak. "I-iya..." jawabnya tak yakin.
"Ayo sayang, kita pulang!" Fadhil langsung menggendong putrinya. "Pamit dulu sama Tante Disa dan Aqilla," suruhnya.
"Qilla, Kei pulang dulu, ya. Besok kita main lagi di sekolah."
"Iya, Kei..." Qilla mengangguk. Walau sedikit sedih karena harus berpisah dengan temannya, karena setelah ini ia akan sendiri lagi.
"Tante, Kei pulang, ya. Dadah..." Bocah perempuan itu melambaikan tangan.
"Iya, sayang. Hati-hati, ya." Disa dan Aqilla turut melambaikan tangan.
"Kami pergi dulu, Sa. Sampai jumpa lagi!"
"Iya..."
Disa menatap kepergian Fadhil dan putrinya dengan pandangan sendu. Entah apa yang kini sedang dipikirkan wanita itu.
Deg
"Kenapa, sayang?" Disa terkejut ketika mendapati wajah putrinya yang memerah dengan mata berkaca-kaca.
"Qilla kangen papa, hiks..." isaknya. Bocah itu merasa iri setelah melihat keakraban Kei dan papanya.
Disa segera membawa sang putri ke dalam pelukannya. "Mama juga, Nak..."
.......
Maya berbaring di atas tempat tidur. Sementara di sebelahnya ada Lingga yang sibuk bermain dengan mainannya. Badan wanita itu terasa lemas karena sedari tadi cairan tubuhnya terus berkurang karena diare yang tak kunjung berhenti, padahal ia sudah meminum obat yang dibeli di apotik.
Wanita itu melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 2 siang. Seharusnya Kei sudah pulang dari satu jam yang lalu. Perasaan Maya mendadak tak enak, ia takut jika terjadi sesuatu dengan suami dan anaknya.
"Lingga, papa sama kakak kenapa belum pulang, ya?" tanya Maya pada sang putra yang kebetulan sedang menatapnya.
"Baba..." ucap Lingga disertai dengan liurnya yang berhamburan.
__ADS_1
"Kau selalu memanggil papa, kapan memanggil mama, hm?" Maya mengusap kepala Lingga dengan sayang.
"Mmammaa..." Akhirnya bayi 14 bulan itu memanggil sang ibu, Maya terharu dibuatnya.
"Ah, sayang..." Wanita itu gemas. Ia bangkit sedikit supaya bisa memberikan ciuman di pipi bulat putranya.
Cup... cup... cup...
Tiga kali, Lingga mendapatkan ciuman di kedua pipi juga keningnya.
BRAKK
Tiba-tiba pintu kamar terbuka paksa, Maya dan Lingga yang berada di dalam langsung terperanjat.
"Mama... Dedek...."
Teriakan cempreng langsung terdengar, siapa lagi yang bisa melakukannya kalau bukan Keinnara, anak Papa Fadhil dan Mama Maya yang cantik tapi usil.
"Kei, kenapa kasar sekali sih, Nak!" protes Fadhil yang berjalan di belakang Kei.
"Kei itu khawatir sama mama, Pa!" jawabnya.
Kei langsung berlari menghampiri Maya yang terbaring di tempat tidur. Tangan kecilnya langsung mendarat di kening ibu sambungnya itu. "Papa! Badan mama panas!" pekiknya.
Fadhil langsung buru-buru menuju istrinya. Ia bisa melihat jika wajah Maya sangat pucat dan letih. "Kau kenapa, sayang?" tanya Fadhil cemas. Ia memeriksa suhu tubuh istrinya, dan ternyata memang panas.
"Hanya diare, Mas. Aku sudah minum obat, kok."
"Pa, bawa mama ke dokter!" suruh Kei. Bocah perempuan itu terlihat panik sendiri.
"Ya, kita ke rumah sakit ya, May?" ajak Fadhil.
Maya menggeleng. "Aku tidak apa-apa, Mas. Dibawa istirahat nanti juga mendingan."
Fadhil tidak mendengarkan ucapan istrinya. Ia langsung menggendong Maya dan membawanya masuk ke dalam mobil. Setelah itu ia juga membawa serta Kei dan Lingga. Dua anak itu tidak ada yang menjaganya di rumah, jadi terpaksa dibawa.
...Bersambung...
Jangan Lupa Like & Comment
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca😊