
...🌷Selamat Membaca🌷...
Radi duduk di kursi reot yang ada di rumah Rina. Bocah tampan, putra kebanggaan Rina duduk manja di pangkuannya. Dua orang pria beda usia itu tampak bercengkrama hangat, entah apa yang mereka bicarakan, terlihat sangat asyik.
Dadang dan Tuti yang baru selesai membersihkan diri memilih untuk mengintip di balik dinding kayu rumah mereka. Keduanya menyaksikan kedekatan antara Radi dan Reyhan dengan pandangan heran.
"Cucu kita memanggil Tuan Radi dengan sebutan ayah. Kenapa ya, Pak? Ibuk 'kok merasa ada sesuatu yang aneh," bisik Tuti pada Dadang.
"Bapak ndak tahu, Buk. Sebaiknya kita keluar saja, bukankah mereka akan membicarakan sesuatu yang penting dengan kita?" ajak Dadang.
"Iya, Pak. Ayo!" Tuti dan Dadang keluar dari persembunyian.
"Maafkan kami karena telah membuat Tuan menunggu," ujar Dadang yang merasa tak enak. Dua paruh baya itu duduk pada kursi kosong tepat di hadapan Radi.
"Tidak apa-apa, Pak, Buk." Radi tersenyum maklum.
Tak berselang lama, Rina datang dari dapur membawa empat gelas teh manis dan segelas susu untuk Reyhan. Tak lupa ia juga mengisi beberapa piring dengan camilan yang sengaja dibawanya dari Jakarta. Lalu meletakkannya di atas meja kayu.
"Diminum dulu Pak, Buk, Mas..." ucap Rina.
Dadang dan Tuti kembali saling pandang karena kali ini mereka mendengar Rina memanggil Radi dengan sebutan 'Mas' padahal sebelumnya 'Tuan'. Ada apa gerangan? Apa yang sudah terjadi semenjak Rina dan Reyhan pergi ke Jakarta, itulah yang saat ini ada di benak tua kedua paruh baya tersebut.
"Reyhan sama bunda dulu, yuk! Ayah mau minum," ajak Rina.
"Ya, Buna..." Reyhan mengangguk lantas turun dari pangkuan Radi. Ia berjalan beberapa langkah dan sampailah di hadapan sang ibu. Rina langsung mengangkat malaikat kecilnya dan mendudukkannya di pangkuan.
"Minumlah, Mas!" kata Rina ketika melihat sang kekasih belum menyentuh minumannya, sementara pasangan suami istri di depan mereka sudah terlebih dahulu menikmati tehnya.
"Iya, Rin." Radi meraih gelasnya dan meminum teh yang sudah dibuatkan Rina.
"Buna, susu!" pinta Reyhan seraya menunjuk segelas susu coklat kesukaannya.
"Iya, sayang..." Rina mengambil gelas berisi susu untuk Reyhan, lalu membantu bocah kecil itu untuk meminumnya.
Setelah menikmati teh dan kudapan, kini tibalah saatnya untuk Radi mengutarakan niatnya menemui orang tua Rina.
"Bapak, Ibuk, maaf jika kedatangan saya ini terkesan mendadak." Radi memulai. Baik Dadang maupun Tuti tak melepaskan tatapan dari majikan putri mereka. Setelah mendengar ucapan pembuka barusan, jantung kedua paruh baya itu mulai berdetak kencang. Entah kenapa mereka merasakan sesuatu yang penting akan segera terjadi.
__ADS_1
"Apa ada hal penting yang ingin anda sampaikan pada kami, Tuan?" tanya Tuti tak sabar.
Radi melirik sejenak pada Rina yang hanya bungkam, wanita itu merasa sedikit malu, jadi ia hanya menyerahkan masalah itu pada Radi selaku kekasihnya.
"Iya, Buk. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan, tapi sebelum itu bisakah bapak dan ibuk tidak lagi memanggil saya dengan panggilan 'Tuan', cukup panggil dengan nama saja!" pintanya. Merasa sedikit terganggu kala mendengar calon mertua memanggil dirinya 'Tuan'.
Walaupun berat dan merasa sungkan, Dadang dan Tuti hanya bisa mengangguk patuh. "Baiklah, Nak Radi."
Radi menghirup napas sejenak kemudian mengeluarkannya secara perlahan. Ia sedang menyiapkan diri. Sementara Dadang dan Tuti setia menunggu dengan dada berdebar.
"Begini Pak, Buk. Kedatangan saya kemari selain untuk menjenguk bapak dan ibuk, saya juga datang dengan sebuah niatan baik," ucap Radi.
Tuti langsung bisa menebak akan kemana arah pembicaraan mereka. Ia melirik sang putri yang tertunduk dengan wajah merona.
"Saya ingin meminta restu Bapak dan Ibuk untuk bisa menikahi Rina," lanjutnya.
Deg
Benar saja, apa yang dipikirkan Tuti menjadi kenyataan. Melihat kedekatan antara Radi, Rina dan Reyhan yang tak biasa, maka kesimpulan yang didapat hanya satu, yaitu putri mereka memiliki hubungan khusus dengan sang majikan.
"Bapak ndak percaya! Bagaimana mungkin pria sekelas Nak Radi mau dengan putri bapak yang hanya seorang janda miskin beranak satu," sahut Dadang tak habis pikir. Sebenarnya, dari lubuk hati terdalam, pria tua itu senang karena ada pria baik yang ingin menikahi putrinya, tapi ia tidak mungkin menerimanya begitu saja. Takut kecolongan dan berakhir dengan penderitaan lagi bagi anak sematawayangnya itu. Kali ini ia ingin menguji kesungguhan Radi.
Dadang terdiam, ia tidak tahu jika pria yang melamar putrinya kali ini adalah seorang duda. Ia pikir Radi adalah seorang bujangan. Pasalnya Rina tidak pernah menceritakan tentang kehidupan majikannya itu.
"Bagaimana, Buk?" Tidak ingin memutuskannya seorang diri, Dadang meminta pendapat istrinya.
Tuti berdehem pelan, lalu berujar. "Nak Radi, kau dan Rina tidaklah sama. Putri kami hanya wanita kampung biasa dan berpendidikan rendah, sementara Nak Radi sendiri adalah orang kota, sugih dan berpendidikan. Bagaimana pendapat orang-orang nanti jika kalian bersanding, terutama ornag tua Nak Radi. Tidakkah mereka keberatan dengan semua ini?" Panjang lebar Tuti bicara, sama dengan Dadang, niatnya adalah ingin melihat sejauh mana keseriusan pria itu terhadap putri mereka.
"Orang tua saya tentu tidak akan keberatan. Mereka tidak pernah membedakan si kaya dan si miskin. Saya yakin, jika mereka masih hidup, mereka pasti akan merestui hubungan saya dan Rina," jawab Radi.
Deg
Dadang dan Tuti terbelalak. Satu hal lagi yang mereka baru tahu, yaitu Radi adalah seorang yatim piatu.
"Maafkan kami karena sudah menyinggung mendiang orang tuamu," ucap Dadang bersalah.
"Tidak apa-apa, Pak. Orang tua saya meninggal saat saya masih kecil. Namun, saya bisa mengingat sedikit jika dulu mereka telah mendidik saya dengan sangat baik, mereka juga tidak pernah membedakan manusia dari status sosial yang dimiliki. Jadi bagaimana, Pak? Apakah Bapak dan Ibuk merestui hubungan saya dan Rina?" tanya Radi.
__ADS_1
Dadang dan Tuti saling berpandangan, mereka terlihat seperti bicara melalui tatapan mata. Setelah bertelepati beberapa saat, Dadang mengangguk, mengiyakan.
"Satu pertanyaan untuk Nak Radi, apakah kau mencintai putri kami?" tanya Dadang .
Deg
Rina yang semula sibuk dengan Reyhan, mulai mengalihkan perhatian. Kini ia menunggu jawaban dari Radi.
Radi tersenyum. "Saya mencintai Rina, maka dari itu saya ingin menikahinya dan menjadikannya pendamping hidup saya, begitu juga dengan Reyhan, saya sangat menyayanginya seperti anak saya sendiri."
Mendengar itu, barulah Dadang dan Tuti merasa lega.
"Bagaimana Rin, apakah kau bersedia menjadi istrinya Nak Radi?" tanya ayahnya, Dadang.
Rina hanya tertunduk malu. Tuti langsung menyenggol lengan suaminya, lalu menunjuk dengan matanya ke arah jemari Rina yang sudah dihiasi cincin emas putih bertahtakan berlian indah. Pasangan paruh baya itu paham jika sang anak telah menerima lamaran Radi.
"Baiklah, Bapak dan Ibuk merestui kalian berdua. Jadi kapan rencananya kalian akan menikah?" tanya Dadang selanjutnya.
"Secepatnya, Pak." Radi menyahut cepat. "Saya ingin mengajak Bapak dan Ibuk untuk ke Jakarta, pernikahan akan diadakan di sana, saya akan mengurus semuanya," tambah pria itu. Ia sudah membicarakan ini sebelumnya dengan Rina, dan wanita itu setuju-setuju saja.
Dadang dan Tuti mengangguk. "Baiklah, Bapak dan Ibuk mengikuti keinginan kalian saja."
"Terima kasih, Pak, Buk..." ucap Radi tulus.
"Kami juga berterima kasih karena Nak Radi sudah mau menerima putri kami," balas Tuti.
Acara meminta restu akhirnya selesai, Radi baru bisa bernapas lega. Sekarang yang dipikirkannya adalah urusan tentang pernikahannya nanti. Ia juga harus membicarakan hal ini dengan Ajeng. Semoga adiknya itu mau membantu.
"Yah, au bobok!" Reyhan sampai di hadapan Radi. Bocah itu mengulurkan tangan.
Dengan senang hati, Radi membawa Reyhan ke atas pangkuannya. Batita itu langsung bersandar manja di dada lebar sang ayah lantas memejamkan mata. Dia suka tidur di pelukan Radi karena rasanya nyaman.
Dadang dan Tuti terenyuh melihat pemandangan tersebut. Mereka berdo'a semoga kali ini Rina dan Reyhan mendapatkan kebahagiaan yang sejati.
...Bersambung...
Jangan lupa Vote, Like & Comment
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca😊
No Edit...