
...🌷Selamat Membaca🌷...
"Nona, Pak Cakra mengalami kecelakaan."
Deg
Ponsel yang berada dalam genggaman Ajeng langsung jatuh meluncur ke atas pangkuannya. Jantung wanita itu berdetak cepat dengan mata yang mulai terasa panas. Tak lama kemudian, cairan hangat mulai turun mengaliri pipi kemerahannya.
"Mas Cakra..." lirihnya pilu. Rasa bersalah langsung menyusup di hati Ajeng, kecelakaan Cakra pasti disebabkan olehnya. Seandainya beberapa hari ini ia tidak mengabaikan pria itu, semua ini tentu tidak akan terjadi.
"Aku harus ke rumah sakit!" Selesai meratapi penyesalannya, Ajeng segera bangkit berdiri.
"Arrghh..." Tiba-tiba wanita itu merintih saat merasakan jika perutnya sakit. Bekas jahitan pasca operasi waktu itu terasa nyeri karena ia bergerak tidak hati-hati. Ajeng memilih untuk duduk kembali sampai rasa sakit itu berkurang.
Beberapa menit kemudian, setelah rasa sakitnya tak lagi terasa, baru Ajeng bangkit kembali, kali ini dengan perlahan dan penuh kehati-hatian.
Ia meminta supir keluarga untuk mengantarkannya ke rumah sakit.
.......
Cakra bangun dari pingsannya. Saat ini ia berada di sebuah ruangan serba putih yang sangat terkenal dengan bau obat-obatannya. Pria itu mencoba bangkit, namun rasa sakit dikepala membuatnya mengurungkan niat.
Ingatan Cakra mundur pada kejadian beberapa saat lalu. Pikirannya yang tengah kalut saat bekendara membuat ia lengah dan berujung kecelakaan. Cakra hampir menabrak seorang anak kecil yang sedang melintas, untung saja ia dengan cepat mengerem, tapi alhasil ia yang justru terluka karena kepalanya terantuk dengan kuat pada stir kemudi, menyebabkannya langsung pingsan di tempat.
"Arghh..." Cakra merintih pelan, kepalanya berdenyut nyeri. Sepertinya ia harus melakukan CT-scan setelah ini untuk mengetahui jika tidak ada penyakit serius di kepalanya akibat kecelakaan kecil itu.
Cklekk
Pintu ruang rawat Cakra terbuka, menampakkan sosok pria dewasa dengan setelan kantor rapi.
"Bagaimana keadaan anda, Pak Cakra?" tanya pria itu, yang tak lain adalah Robi.
"Pak Robi? Kenapa anda bisa ada di sini?" tanya Cakra heran.
"Saat anda kecelakaan tadi, kebetulan saya ada di sekitar tempat itu. Jadi, saya yang membawa anda ke rumah sakit." Robi sudah berdiri di samping ranjang pesakitan yang menjadi tempat berbaring Cakra. Ia menatap kekasih nonanya itu, iba.
"Oh... terima kasih banyak, Pak Robi."
"Iya, sama-sama, Pak."
"Saya juga sudah memberitahukan Nona Ajeng tentang keadaan anda."
Deg
Cakra terdiam, ia merasa belum siap untuk bertemu Ajeng saat ini.
"Pak Cakra, saya izin pamit dulu. Masih ada pekerjaan yang mesti saya selesaikan," ucap Robi.
"Iya, Pak. Sekali lagi terima kasih banyak."
.... ...
Ajeng sampai di pelataran rumah sakit. Ia ingin sekali melihat keadaan Cakra, semoga luka pria itu tidak terlalu parah, harapnya.
"Aduh..." Ajeng yang sedang berjalan di lorong menuju ruang rawat Cakra, seketika terdiam. Rasa nyeri di perutnya kembali terasa, kali ini dibarengi dengan rasa basah di sekitar area yang dijahit. Wajah wanita itu mendadak pucat.
__ADS_1
"Apa anda baik-baik saja, Nyonya?" tanya seorang perawat yang kebetulan lewat.
"Suster, tolong saya..." pinta Ajeng panik.
Mendengar itu, si perawat langsung sigap membantu Ajeng.
.......
Sudah satu jam berlalu, Cakra yang masih terbaring di ranjangnya, mendesah pelan. Ada rasa kecewa di dalam hatinya karena Ajeng belum juga datang, padahal Robi sudah memberi tahukan tentang keadaannya. Apakah dirinya tidak penting lagi bagi wanita itu?
Di satu sisi, Cakra memang belum siap untuk bertemu Ajeng, tapi di sisi lainnya, entah kenapa ia justru menantikan kehadiran wanita itu. Apalagi dalam kondisinya yang sedang lemah seperti ini. Ia butuh seseorang untuk menemani dan menguatkannya. Cakra sengaja tidak memberitahu keluarganya agar mereka tidak khawatir.
Brakk
Pintu ruang rawat Cakra dibuka paksa dari luar hingga menimbulkan bunyi yang lumayan keras, pria yang ada di dalam ruangan itu terperanjat kaget. Ia langsung mengerang begitu merasakan kepalanya kembali berdenyut.
"Mas Cakra!" Terlihatlah kemunculan Silvia di ambang pintu.
Cakra yang melihat kehadiran calon mantan istrinya itu lantas menghela napas kasar. Ia merutuki tindakan bar-bar wanita itu. "Tidak bisakah kau membuka pintu secara normal saja?" protesnya.
"Maaf-maaf." Silvia meringis, sedikit bersalah. Ia terlalu panik saat salah seorang rekannya memberitahukan bahwa Cakra mengalami kecelakaan. Ia pikir kondisi pria yang masih berstatus suaminya itu cukup parah, eh... ternyata cuma kecelakaan kecil dengan perban kecil yang tertempel di kening.
"Kenapa bisa sampai kecelakaan, Mas?" tanya Silvia yang kini sudah duduk di kursi yang ada di samping ranjang Cakra.
"Kurang hati-hati," jawab pria itu ala kadarnya.
Silvia mencebik. "Ah... ya sudahlah. Kalau begitu aku pergi dulu." Wanita itu merasa kehadirannya tak diinginkan, jadi ia memutuskan untuk pergi saja.
"Silvia!" Sampainya Silvia di ambang pintu, Cakra tiba-tiba memanggil namanya.
Wanita itu segera menoleh. "Ada apa?" tanyanya.
"Hm, tidak terlalu. Sebentar lagi aku juga mau pulang. Kenapa?"
"Bisa tolong antarkan aku pulang?" pinta pria itu. Ia sudah tidak betah berada di rumah sakit lebih lama lagi. Selain itu, beberapa saat yang lalu dokter juga datang dan mengatakan jika ia sudah boleh pulang.
Silvia tampak berpikir sejenak. "Baiklah, ngomong-ngomong, mobilmu bagaimana?"
"Aku tidak tahu di mana mobilku, nanti akan aku tanyakan pada orang yang membawaku kemari," jawabnya.
"Ok, mau pulang sekarang?"
"Ya."
"Kau bisa berjalan? Butuh kursi roda?"
"Aku bisa."
Silvia pun kembali menghampiri Cakra. Ia membantu pria itu untuk bangkit. Setelah itu memapahnya keluar ruangan.
.......
Ajeng meminta seorang perawat untuk mengantarkannya ke ruang perawatan Cakra dengan menggunakan kursi roda. Ia sudah merasa baikan setelah tadi bekas jahitan operasinya yang sempat berair sudah diobati dokter. Namun, ia masih merasa sedikit kesakitan, makanya memilih menggunakan kursi roda.
Saat hampir mendekati ruang rawat Cakra, Ajeng melihat jika pria itu keluar dari sana dengan dipapah oleh seorang wanita bersnelli. Tanpa pikir panjang ia langsung memanggilnya.
__ADS_1
"Mas Cakra!"
Cakra yang tengah dipapah Silvia pun berbalik saat suara yang begitu dikenalinya memanggil. "Ajeng?" Ia terkejut kala melihat jika wanita yang dicintainya tengah duduk di kursi roda dan ada seorang perawat yang menemani.
Perawat itu mendorong kursi roda Ajeng menghampiri Cakra dan Silvia.
"Terima kasih, Sus..." ucap Ajeng. Ia mencoba berdiri dari duduknya.
"Bu, apakah perut anda sudah baik-baik saja?" tanya si perawat yang khawatir melihat Ajeng tiba-tiba berdiri.
"Tidak apa-apa, Sus. Saya merasa sudah baikan." Ya... Ajeng merasa sakitnya menghilang ketika melihat jika Cakra ternyata baik-baik saja. Tidak terluka parah.
"Oh, baiklah, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu. " Perawat itu pamit sambil membawa kursi roda kosong kembali ke tempatnya.
"Mas Cakra...." sapa Ajeng. Wanita itu menggulir pandangan pada seorang wanita yang saat ini masih memeluk lengan Cakra.
Deg
Hati wanita itu mendadak sakit saat melihat Cakra bersama dengan calon mantan istrinya. Namun, Ajeng mencoba berpikir positif, mungkin Silvia lah yang merawat Cakra karena dia adalah seorang dokter.
"Mas, apa kau sudah baik-baik saja?" tanya Ajeng menatap Cakra dengan mata sayunya.
"Ya...* jawab Cakra datar. Ia memandang ke arah lain karena tak sanggup melihat wajah wanita itu.
Ajeng tersenyum miris, reaksi Cakra yang datar sangat melukai hatinya. Mungkin ini juga yang dirasakan pria itu beberapa hari ini saat ia dengan tega mengabaikannya.
"Syukurlah..." Hanya itu yang dapat Ajeng ucapkan.
"Ayo, Via. Kita pulang!" ajak Cakra.
"Eh? I-iya..." Silvia mengangguk. Sebenarnya ia tidak tega meninggalkan Ajeng karena dilihatnya wanita itu sedikit pucat, tapi ia juga tidak mau membantah Cakra karena takut pria itu marah.
Ajeng menatap kepergian Cakra dan Silvia dengan hati teriris. Kaca-kaca yang sempat berkumpul di matanya, perlahan mengalir turun. Dadanya merasa sesak melihat pria yang selama ini selalu peduli, kini mulai mengabaikannya. "Maafkan aku, Mas..."
.......
Silvia melirik Cakra yang duduk di sebelahnya. Pria itu tampak tertekan. Silvia yang sudah sangat penasaran, akhirnya bertanya juga.
"Kau ada masalah dengan Ajeng, Mas?" tanyanya.
Cakra tak menjawab, ia asyik bersandar sambil memejamkan mata.
Silvia mendengus, kemudian bertanya lagi. "Apa kalian kecelakaan bersama?"
"Tidak." Jawaban singkat diberikan Cakra.
"Tapi tadi ku lihat wajah Ajeng sedikit pucat, ia juga tampak kesakitan sambil terus memegang perutnya." Silvia kembali berucap.
"Sebaiknya kau fokus saja menyetir!" sentak Cakra.
"Baiklah, Tuan." Silvia hanya bisa mengurut dada, kesal.
"Ada apa denganmu, Jeng?" Cakra membatin. Ia juga khawatir ketika melihat kondisi Ajeng tadi, aplaagi ia bersama dengan seorang perawat. Namun, ego di dalam dirinya membuatnya mengabaikan semua itu, dan kini ia menyesal.
...Bersambung...
__ADS_1
Maaf ya bagi semua pembaca yang menunggu cerita ini. Karena kesibukan di dunia nyata, aku jadi tidak bisa upload cerita ini. Semoga masih ada yang membaca, ya.
Terima kasih bagi yang setia menunggu. 😊