
...🌷Happy Reading🌷...
Radi dan Rina keluar dari dalam kamar mandi secara bersamaan. Pasangan itu baru saja melakukan ritual mandi bersama setelah sebelumnya menjalankan ibadah suami istri. Semenjak menikah, Radi tak pernah puas untuk menyentuh sang istri, terkadang... Rina sampai kewalahan menghadapi kebuasan suaminya itu di atas ranjang. Seperti tidak ada puasnya, tapi walaupun begitu Rina sangat menikmatinya, ia berasa diinginkan dan begitu dipuja.
"Kasihannya anak ayah ditinggal sendirian..." Radi naik ke atas tempat tidur dan memeluk sayang tubuh putra sambungnya yang terlelap tidur.
Memang, Reyhan masih tidur dengan mereka. Rina masih belum tega membiarkan putra kecilnya yang masih berusia dua setengah tahun itu untuk tidur sendiri. Perlahan tapi pasti, ia akan berusaha untuk melakukannya. Jika tidak, maka ia dan Radi harus selalu menunggu Reyhan tidur dulu baru bisa bermesraan dan itupun harus dilakukan di kamar tamu, karena kamar utama sudah ditiduri Reyhan. Mereka tidak mungkin melakukannya di sana dan mengganggu kenyaman tidur sang putra.
Rina tersenyum, ia ikut membaringkan tubuh letihnya di atas aksur empuk itu, tepat di samping Reyhan yang berada di tengah-tengah antara ia dan Radi.
"Selamat tidur anak bunda..." Rina mengecup pipi putranya sebentar, baru kemudian mulai memejamkan mata.
Radi memerhatikan istrinya yang mulai terlelap. Mengingat percintaan mereka beberapa saat yang lalu, membuatnya tersenyum geli. Rina benar-benar masih polos dan masih minim pengetahuan mengenai hubungan ranjang. Radi banyak mengajarinya soal itu, dan secara berangsur-angsur Rina mulai bisa mengimbangi permainan panasnya. Baik itu secara gaya maupun teknik yang dapat memuaskan satu sama lain.
"Selamat tidur istriku," ucap Radi. Ia mengangkat sedikit tubuhnya demi bisa memberikan satu kecupan selamat malam di kening sang istri. Tak lupa, ia juga memberikan hal yang sama di kening putra sambungnya. "Selamat malam, putraku."
.......
Di tempat lain, seorang pria gagah, berprofesi sebagai aparat hukum tengah sesengukkan di pelukan sang istri. Dia adalah Fadhil, pria itu meraung setelah menyaksikan sebuah rekaman video dari seorang bocah berumur 5 tahun. Ada rasa bahagia dan sedih yang kini dirasakannya. Bahagia karena ternyata putra yang tidak diketahui kehadirannya itu tahu bahwa dia adalah ayahnya. Dan sedih karena ia hanya bisa menatap buah hatinya itu melalui layar laptop, tak bisa lagi bertemu secara langsung karena kini mereka sudah berbeda dunia.
Halo... namaku Haikal Putra Alfarendra. Aku memiliki seorang ibu yang cantik bernama Niken Ayudisa, aku memanggilnya mama. Dia ibu yang sangat baik dan penyayang. Masakannya juga sangat enak. Lalu, aku juga memiliki seorang ayah, namanya Randi Septian, aku memanggilnya papa. Dia seorang dokter dan suka mengobati orang yang sakit. Papa juga sering mengobatiku saat tiba-tiba dadaku terasa sakit. Kata dokter, jantungku lemah. Jadi aku tidak boleh terlalu lelah dan harus banyak istirahat. Di rumah, aku selalu bermain dengan adik perempuanku yang sangat manis, namanya Aqilla. Kami berdua sangat suka mewarnai buku bergambar. Papa membelikan kami banyak buku mewarnai. Aku sangat menyayangi mama, papa dan juga adikku.
Hari ini adalah hari ulang tahunku yang kelima. Mama memberitahuku suatu rahasia. Katanya, aku memiliki ayah yang lain. Mama menunjukkan sebuah foto laki-laki tampan mengenakan seragam kepolisian, dia adalah ayahku. Aku sangat bahagia karena mempunyai dua ayah, apalagi mereka berdua adalah orang-orang yang hebat. Satu seorang dokter yang tugasnya mengobati orang sakit dan satunya lagi adalah seorang polisi yang pekerjaannya adalah menangkap orang jahat. Nama ayahku itu adalah Fadhil Alfarendra. Nama belakangnya sama dengan namaku. Mama mengatakan jika dia adalah ayah kandungku. Tanpa dia, maka aku tidak akan ada di dunia ini. Aku belum mengerti maksud ucapan mama, apa bedanya antara ayah Fadhil dan ayah Randi, tapi yang jelas aku menyayangi keduanya, walaupun aku belum pernah bertemu sekalipun dengan ayah kandungku itu.
Mama berjanji, jika suatu saat nanti, dia akan mempertemukanku dengan ayah Fadhil. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dan memeluknya. Tunggu aku ya, Ayah. Aku sayang, Ayah.
"Sabar ya, Mas. Jika mas mau, kita bisa pergi ke makam Haikal dan mendo'akannya," ucap Maya. Sedari tadi wanita itu sibuk menenangkan suaminya.
"May, Haikalku sangat tampan, dia juga anak yang pintar, tapi kenapa Tuhan mengambilnya begitu cepat?" isak Fadhil yang masih setia menyembunyikan wajahnya di dada sang istri.
"Percayalah, Mas. Tuhan lebih menyayangi Haikal. Saat ini dia pasti sudah bahagia di atas sana. Jangan menangis, karena itu bisa saja membuatnya sedih." Maya melepaskan pelukan Fadhil di tubuhnya.
"Mas..." Ditatapnya wajah merah penuh air mata itu dengan hati terenyuh. Maya merasa sedih melihat kondisi suaminya saat ini. "Jangan menangis lagi ya, Mas! Lebih baik kau mengirimkan do'a untuk Haikal, hanya itu yang dibutuhkannya saat ini. " Jemari Maya mengusap air mata Fadhil yang masih berjatuhan dari netranya.
__ADS_1
"Terima kasih, May. Kau ada di saat aku sedang terpuruk seperti ini..." ucap Fadhil.
"Itulah gunanya seorang istri, Mas. Tidak hanya sebagai tempat berbagi suka, tapi juga tempat berbagi duka." Maya tersenyum dan mengecup kening suaminya. "Sekarang tidur, ya? Matamu sudah bengkak loh, Mas."
"Hmm..." Fadhil mengangguk. Ia mengambil satu foto Haikal dan memeluknya di dada. "Aku akan tidur sembari memeluk jagoanku," ucapnya sembari merebahkan diri.
"Iya, Mas. Selamat tidur." Maya menyelimuti tubuh Fadhil yang tidur meringkuk.
"Kau juga harus tidur, May!" kata Fadhil.
"Iya, Mas. Tapi aku mau ke kamar anak-anak terlebih dulu, mau mengecek keadaan mereka."
"Hmm..." Fadhil hanya bergumam. Matanya yang bengkak membuatnya memejamkan mata dengan cepat. "Semoga papa bertemu denganmu, Nak... walau hanya di dalam mimpi."
.......
Pagi ini, Ajeng menyiapkan sarapan untuk suaminya dengan perasaan bahagia. Mulutnya bersenandung kecil. Sementara Cakra, menatap pergerakan istrinya itu dalam diam. Bayangan kejadian semalam terus terlintas di benaknya. Membuat tubuhnya tiba-tiba meremang.
"Kau kenapa sih, Mas? Sejak tadi matamu tak pernah lepas menatapku!" protes Ajeng yang menyadari jika sedari tadi pandangan suaminya tak pernah lepas mengikuti semua pergerakannya.
Mata Ajeng menyipit. "Oh, berani mas melirik istri tetangga, maka bersiaplah untuk menerima hukumanmu!" ancam wanita itu.
Deg
Mendengar kata hukuman, mata Cakra langsung melotot. Jakunnya naik turun saat berusaha menelan saliva yang terasa tercekat di kerongkongan. Hukuman semalam benar-benar sangat menyiksanya sebagai seorang pejantan.
"Mas mana berani, sayang. Jika yang di rumah saja sudah secantik dan semenggairahkan ini, untuk apa melirik yang lain. Taka ada yang bisa menggantikan dirimu."
Ajeng tersenyum puas. "Bagus. Itu yang aku harapkan." Setelah mengatakannya, wanita itu melanjutkan aktifitasnya yang sempat tertunda.
Cakra melongo, semenjak hamil sifat istrinya sedikit berubah. Dia menjadi semakin agresif dan juga sedikit kejam. Namun, walaupun begitu... Cakra tetap menyukainya. Justru hal itu membuatnya semakin jatuh cinta.
.......
__ADS_1
"Papa kerja dulu ya, Ndut..." Cakra mencium pipi bulat putrinya bertubi-tubi. Bayi itu akhirnya merasa kesal dan memukul-mukul wajah sang ayah agar menjauh darinya.
"Mas! Kebiasaan deh. Nanti Dira nangis kalau kau terus mengganggunya seperti itu!" protes Ajeng.
"Hehe, habis mas gemas." Cakra hanya tertawa cengengesan.
"Dasar!" Ajeng mencebik.
"Kalau begitu mas berangkat ya, sayang." Cakra pamit ke kantor.
"Iya, hati-hati." Ajeng menyalimi tangan Cakra dan dibalas suaminya itu dengan kecupan di kening.
Mereka berdua berpandangan sebentar. Tiba-tiba ide jahil muncul di benak Ajeng. I.a mendekatkan wajah dan berbisik di telinga Cakra. "Cepat pulang ya, Masku sayang..." lirihnya dengan suara menggoda. Tak lupa, ia menggigit pelan daun telinga suaminya.
Cakra menegang. "Sayang, satu ronde sebelum berangkat bekerja!" pintanya putus asa. .
Ajeng tergelak dan segera menjauhkan tubuh. "No!" gelengnya.
Cakra memajukan bibirnya, kesal. "Lihat saja, nanti malam aku akan membalasmu!"
"Ku tunggu pembalasan dendammu, Mas. " Ajeng tersenyum miring, membuat niat Cakra untuk bekerja jadi hilang.
"Sekarang saja, aku sudah tidak tahan!" rengek Cakra.
"Jika mas tidak ke kantor, maka jangan menyentuhku selama sebulan!" ancam Ajeng, galak.
"Baiklah..." jawab Cakra, lesu.
...To be Continued......
No Edit, maklum jika banyak Typo.
Jangan lupa Like, Vote and Comment...
__ADS_1
Terima kasih🙏😊