2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Season 2 - 33. Lalai


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Pintu ruangan kerja Cakra terbuka. Seorang wanita cantik berbadan dua masuk ke dalam sembari menenteng rantang makanan. Dia lah Ajeng, yang siang ini menyambangi kantor suaminya karena ingin makan bersama.


Cakra yang melihat kemunculan istrinya langsung bangkit berdiri, berjalan cepat menghampiri istrinya dan membantunya membawakan tas dan rantang makanan.


"Sayang, mas khawatir loh!" ucap Cakra setelah ia membantu Ajeng untuk duduk di sofa. "Perutmu sudah besar, mas takut terjadi sesuatu padamu saat di jalan. Lebih baik tadi biar mas saja yang pulang..." lanjutnya.


Mendengar omelan suaminya, Ajeng cemberut. "Aku kangen makan berdua denganmu di kantor, Mas. Kalau di rumah 'kan sudah sering..." protesnya.


"Ya sudah..." Cakra pilih mengalah daripada nanti panjang urusannya. "Kita makan sekarang ya, sayang. Mas udah laper banget," ajaknya kemudian.


.......


Sudah satu jam Ajeng menunggu di ruangan Cakra. Wanita itu tampak bosan, hilir mudik berjalan ke setiap sudut ruangan. Menyaksikan kemacetan lewat jendela kantor pun sudah ia lakukan, tapi kebosanan itu belum sirna juga. Karena kecapaian, ia memutuskan untuk istirahat di ruangan pribadi suaminya.


Baru beberapa menit terlelap, Ajeng merasa ingin pipis. Di kehamilan yang semakin besar, keinginan untuk buang air kecil juga semakin meningkat. Ia bangkit perlahan dan berjalan ke toilet dengan hati-hati.


Pintu toilet terbuka, Ajeng melangkah masuk tanpa menyadari jika ada air tergenang tepat di lantai tempat ia menapak. Alhasil, hal itu membuatnya terpeleset.


"Arghhh..." Ajeng merintih saat tangan yang ia gunakan untuk menahan agar pan tatnya tidak mencium lantai terasa sakit. Ia yang tidak tahan dengan rasa sakit memilih untuk meluruskan tangannya, hingga membuat tubuhnya terbaring sempurna di lantai.


"Mas!" Ajeng coba teriak untuk memanggil Cakra, padahal sebenarnya hal itu tidak akan berdampak apa-apa karena saat ini Cakra sedang ada meeting di ruangan lain.


"Ya Tuhan, bagaimana ini?" Ajeng terisak. Ia coba bangkit, tapi tenaganya seperti hilang dibawa angin.


"Arrgghh..." Karena terus berusaha bangkit, perut Ajeng pun mengalami kontraksi. Ia merasa seluruh tubuhnya sakit. Wanita itu semakin panik ketika menyadari ada sesuatu yang merembes dari pangkal pahanya.

__ADS_1


"MAS CAKRA!" pekik Ajeng.


Cakra yang baru masuk ke ruangannya, langsung disambut dengan teriakan Ajeng. Ia buru-buru mencari sumber suara teriakan istrinya itu yang diduganya berasal dari toilet.


"AJENG!" Cakra terkejut setengah mati begitu mendapati istrinya terbaring di lantai dengan bagian bawah yang sudah dikotori genangan darah.


"Ya Tuhan, apa yang terjadi?" Di tengah kepanikan, Cakra langsung mengangkat tubuh istrinya dan membawanya turun untuk segera dibawa ke rumah sakit.


"Sakit, Mas..." lirih Ajeng dengan mata yang mulai meredup.


"Bertahan, sayang! Jangan tutup matamu, please!" Cakra memeluk Ajeng dengan erat, tangisannya tidak bisa lagi ditahan. Pria itu bahkan sampai meraung melihat kondisi istrinya yang semakin mengkhawatirkan.


"Maafkan Mas, sayang. Mas lalai menjagamu. Arsha pasti akan membenci mas jika tahu kamu seperti ini karena keteledoran mas," isak Cakra.


"Cepat, Pak!" perintah Cakra pada satpam kantor yang dimintanya untuk menyupir.


Sampainya di rumah sakit, Ajeng langsung ditangani. Setelah dokter memeriksa kondisi Ajeng, dokter mengatakan jika Ajeng harus segera dioperasi untuk bisa menyelamatkan nyawanya dan juga si bayi. Selain itu, akibat pendarahan yang terjadi, rahim Ajeng juga harus diangkat.


"Lakukan yang terbaik, Dok! Selamatkan nyawa istri dan anakku!" mohon Cakra.


"Baik, Pak." Dokter segera bertindak.


Sepeninggal dokter, Cakra menghempaskan tubuhnya di bangku tunggu. Ia merasa sangat kacau. Kemeja yang berlumur noda darah pun tak ia hiraukan. Satu yang ia pikirkan saat ini adalah keselamatan istri dan anaknya.


Setelah dirinya bisa menguasai keadaan, Cakra langsung menelepon si sulung.


...****************...

__ADS_1


Ketiga anaknya lari tergopoh-gopoh menghampirinya ketika tiba di rumah sakit. Cakra memeluk ketiga anaknya untuk membuatnya tetap kuat, jujur... saat ini ia merasa sangat takut.


Eya juga sudah Cakra kabari, tapi ia meminta agar putrinya itu untuk tetap di rumah menemani sang nenek yang sama sekali belum diberitahu mengenai kondisi Ajeng. Cakra akan mencari waktu yang tepat untuk itu, kalau sekarang diberitahu, ia takut akan berdampak buruk untuk kesehatan ibunya yang belakangan ini sering sakit setelah ditinggal sang ayah.


"Maafkan papa, Nak. Papa lalai menjaga mama hingga dia harus jatuh dan pendarahan," aku Cakra terisak ketika Arsha bertanya mengenai darah yang menempel di kemejanya.


Arsha terlihat mengepalkan kedua tangannya. Wajahnya mengeras, dengan mata yang berkaca-kaca. "Makanya, Pa... aku tidak mau mama hamil lagi karena ini. Aku tidak ingin kehilangan mama, Pa!" teriak Arsha. Tubuh remaja itu merosot ke lantai ubin yang dingin.


"Tenang, Sha. Jangan seperti ini. Kita harus ber'doa agar mama dan adik baik-baik saja," ucap Dira coba menenangkan sang adik yang tampak kalut.


"Argghh..." Arsha meninju dinding di depannya, sebagai bentuk pelampiasan rasa sakit di hatinya. "Kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi pada mama, maka lebih baik aku mati saja!" pekik Arsha, asal.


Cakra terkejut mendengar kalimat itu terucap dari mulut putranya. Ia ingin menyela, namun Dira sudah terlebih dahulu bertindak.


PLAK


Telapak tangan Dira langsung mendarat di pipi putih adiknya. Ia tidak menyangka jika sang adik akan berpikiran sempit seperti itu


"Jangan sembarang bicara kamu, Sha. Kakak nggak suka dengernya," protes Dira, marah.


"Maaf..." Arsha tertunduk dalam. Ia sendiri tidak mengerti mengapa bisa sampai mengeluarkan kata-kata seperti itu.


Arsyi yang tidak ikut dalam perdebatan itu memilih untuk menelepon pelayan untuk menyiapkan pakaian ganti untuk kedua orang tuanya, berikut dengan perlengkapan adiknya nanti. Setelah itu, ia menelepon sopir yang mengantar mereka tadi untuk menjemput pesanannya tadi ke rumah. Kini, mereka semua duduk menunggu di depan ruangan operasi. Semua merapalkan do'a demi keselamatan Ajeng dan si calon bayi.


...Bersambung...


Jangan lupa Like, Vote dan Comment 🙏🏻

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca 😊


__ADS_2