
...🌷Selamat Membaca🌷...
Seminggu sebelum hari pernikahan, Ajeng mengajak Rina untuk melakukan perawatan tubuh dan wajah di spa langganannya. Ia ingin calon istri kakaknya itu tampak cantik dan segar di hari pernikahannya nanti. Setelah dari spa, mereka juga mengunjungi salon. Ajeng meminta Rina untuk merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, serta rambut yang panjangnya mencapai pinggang, dipotong hingga sepunggung.
"Mbak, kita mau apa ke toko ini?" Rina menghentikan langkah saat Ajeng membawanya masuk ke sebuah toko pakaian dalam wanita.
Ajeng tersenyum menggoda. "Untuk mencari alat perang dong, Rin. Tidak mungkin 'kan kita memesan makanan di sini?"
"A-alat perang?" Rina kebingungan. Wanita lugu itu tidak paham kenapa harus mencari alat perang di toko pakaian dalam dan ia juga tidak mengerti sama sekali untuk apa mereka mencari alat perang. Memangnya siapa yang akan pergi berperang?
Ajeng menghela napas pelan. Ia tidak menyangka bahwa wanita yang pernah menikah seperti Rina masih tidak mengerti dengan maksud ucapannya. "Ah sudahlah, ayo masuk!" Tak ingin berlama-lama, Ajeng langsung menarik tangan Rina dan membawanya masuk ke dalam toko.
"Rin, ini bagus! Apa kau suka?" Ajeng menyodorkan sebuah lingerie hitam yang sangat seksi ke hadapan Rina.
Mata bulat Rina membeliak, ia melirik kesana kemari, malu kalau ada orang lain melihatnya. "Mbak, ini baju apa? Aku tidak mungkin suka baju yang terlalu seksi seperti ini!" tolaknya.
"Kenapa? Ini bagus loh, Rin. Atau kau mau yang ini saja?" Ajeng meraih lingerie lainnya dengan model dan warna berbeda.
Rina menganga. "Mbak, aku tidak mau baju yang seperti itu, memangnya aku mau memakai baju seksi ini ke mana" tanya Rina tak percaya. Matanya bergantian meneliti dua buah baju kurang bahan yang diperlihatkan Ajeng. Satu berwarna hitam dan satu lagi berwarna merah menyala. Mata Rina sampai silau melihat penampakan dua benda yang tidak jelas menurutnya itu.
Ajeng terkekeh, ia yakin kalau Rina tidak pernah menggunakan barang seperti ini. "Rin, aku akan memberitahumu satu hal!" Istri Cakra itu meletakkan kembali dua lingerie di tangannya, dan beralih menggenggam tangan Rina.
"Apa itu, Mbak?" tanya Rina penasaran.
"Rin, baju seksi yang aku tunjukkan padamu tadi itu namanya adalah Lingerie. Kita menggunakannya hanya di depan suami kita saja. Yakinlah, setiap suami pasti akan bahagia jika kita menyuguhi mata mereka dengan pemandangan yang menarik dan seksi. Selain itu, dengan menggunakan lingerie, bisa meningkatkan gairah bercinta dan menguatkan hubungan antara suami istri," jelas Ajeng panjang.
Wajah Rina memerah mendengar penuturan Ajeng. Ternyata baju kurang bahan yang ditunjukkan Ajeng barusan adalah baju yang memiliki fungsi seperti itu. Maklum saja, selama pernikahan pertamanya terdahulu, Rina tidak pernah menggunakan baju seperti itu saat bercinta. Apalagi, kehidupan rumah tangganya yang hangat hanya berlangsung selama empat bulan, setelah itu suaminya pergi merantau.
"Jadi mau, kan?" tanya Ajeng memastikan. Kalau memang Rina tidak nyaman menggunakannya, ia tidak akan memaksa.
"I-iya, Mbak..." Rina mengangguk malu. Ia ingin memberikan yang terbaik untuk Radi saat malam pertama mereka nanti.
"Bagus!" Ajeng sumringah, ia langsung memilih beberapa lingerie yang menurutnya bagus dan menyerahkannya pada Rina. Tak lupa, Ajeng juga memilih untuk dirinya sendiri. "Hm... warna kuning dan oren sepertinya menarik juga. Mas Cakra pasti suka," lirih Ajeng semangat. Entah kenapa, suaminya itu suka sekali melihatnya menggunakan lingerie dengan warna-warna mencolok dan tak biasa.
Rina memerhatikan beberapa helai lingerie yang telah dipilihkan Ajeng untuknya. Iseng, dia melihat label harga yang tertera di sana.
"Tu-tujuh ratus ribu?" pekiknya tertahan. Satu helai pakaian kurang bahan itu dibandrol dengan harga selangit. Rina menelan ludah susah payah. Sekarang di tangannya ada lima helai, berarti berapa banyak uang yang harus ia keluarkan? Jujur, Rina tidak punya uang sebanyak itu.
"Mbak!" Ia kemudian memanggil Ajeng.
"Hm... kenapa, Rin?" Ajeng yang selesai memilih bagiannya pun menoleh.
"Mbak, ini terlalu banyak. Aku tidak punya uang untuk membayarnya," ujarnya sembari tertunduk.
Ajeng menyentuh bahu Rina dan tersenyum. "Tenang, calon suamimu sudah membekaliku dengan kartunya. Kau bisa membeli apapun yang kau inginkan."
Rina terharu, ternyata Radi sangat memahami dirinya yang serba kekurangan ini. "Terima kasih, Mbak."
__ADS_1
"Ucapkan itu pada calon suamimu!" Ajeng mengedipkan sebelah matanya.
"Pasti."
"Ok, ayo kita bayar. Setelah itu kita akan mencari baju untuk bapak dan ibukmu juga untuk si kecil Reyhan yang tampan itu!" ajak Ajeng.
"Iya, Mbak." Wajah Rina terlihat sangat bahagia.
Saat hari beranjak sore, keduanya memutuskan untuk pulang. Tidak enak berlama-lama di luar, sementara anak-anak dititipkan pada orang tua Rina.
.......
Semua berkas yang diperlukan sudah masuk ke kantor urusan agama setempat. Gedung dan semua dekorasi sudah selesai dikerjakan. Baju pengantin kedua mempelai dan baju seragam untuk keluarga juga sudah selesai dibuat, tinggal menunggu waktunya dipakai.
Kini, seorang pria tengah duduk termenung di sebuah kamar hotel. Ini adalah hari ketiga ia menginap di kamar tersebut. Dia adalah Radi, yang harus merana seorang diri menunggu hari esok, yaitu hari pernikahannya. Salahkan Ajeng yang membuat acara pingitan untuk dirinya dan Rina, alhasil sudah tiga haria ia tidak bertemu dengan wanita terkasihnya itu.
"Ah... rindu sekali," lirihnya galau.
Pria itu tidak sabar menunggu hari esok, hari di mana ia akan melepaskan masa dudanya.
Tok... tok... tok...
Asyik berkhayal, suara ketukan pintu yang tiba-tiba membuat Radi terperanjat. Ia sedikit mendumel, kemudian berjalan malas menuju pintu dan membukanya.
"Malam, Bro!" sapa seorang pria yang menjadi tamunya. Tidak hanya satu, tapi ada tiga pria di luar sana.
"Kalian? Mau apa?" tanya Radi bingung. Pasalnya di depannya ada Bagas, Cakra dan juga sepupunya, Satria.
Keempat pria tampan itu duduk bersama di sofa kamar hotel yang ditinggali Radi.
"Untuk apa kalian malam-malam kemari?" tanya Radi sewot.
Bagas mendengus. "Pesta kecil untukmu yang sebentar lagi akan melepaskan status duda," jawabnya.
"Oh, bolehlah. Jujur saja, aku merasa kesepian tiga hari ini," aku Radi dengan raut wajah sedih.
"Hahaha..." Bagas tertawa. "Sabar, Bro. Sebentar lagi tidak akan kesepian, kok."
Radi mengangguk. Matanya kemudian melirik pada sepupu yang jarang sekali ditemuinya itu. "Bagaimana kabarmu, Sat?" tanyanya.
"Baik." Satria menyahut seadanya.
"Apa istri dan anakmu baik-baik saja? Maaf, aku belum sempat melihat anakmu yang baru lahir. Nanti aku akan berkunjung," ucap Radi.
"Mereka baik, saat ini Sakala sudah berumur satu bulan," jawab Satria.
"Hm, aku tidak sabar untuk bertemu dengan keponakanku itu. Pasti dia tampan sama sepertiku!" kelakar Radi, membuat Satria langsung melototkan matanya.
__ADS_1
"Enak saja, Saka adalah versi mini dari diriku dan dia mewarisi ketampanan diriku, tentu saja," protes Satria.
Semua yang ada di sana tergelak, kecuali Cakra, ia hanya tersenyum. Sebenarnya ia malas ikut acara ini, ia lebih suka di rumah bermain bersama putri montoknya, tapi Ajeng terus memaksa. Apalagi saat ini istri dan anaknya lebih memilih menginap di kediaman Radi untuk menemani Rina.
"Omong-omong, apa itu?" Mata Radi menunjuk pada bungkusan plastik yang tadi dibawa Bagas.
"Oh, ada minuman dan juga camilan. Kita akan menikmatinya sembari bercerita," jawab Bagas.
"Hm, apa minumannya?" tanya Radi.
"Ada beberapa kaleng bir non-alkohol dan juga kopi," kata Bagas.
"Sebenarnya aku ingin membeli wine dan minuman beralkohol lainnya, tapi pria suci ini melarangku!" Satria melirik sinis pada Cakra yang duduk di sebelahnya.
"Kau gila!" umpat Cakra. "Dia akan menikah dan kau akan menyuguhinya minuman beralkohol!" Pria itu menatap Satria tajam.
"Cakra benar, aku kapok menghadapi Radi yang teler." Bagas bergidik kala mengingat kejadian saat ia menjemput Radi di sebuah klub malam.
Satria mendengus karena tidak ada yang membelanya. Ia mengambil sekaleng bir dan menyeruput isinya dengan kesal.
Bagas dan Radi juga mengambil sekaleng bir dan meminumnya, sementara Cakra memilih kopi. Dia tidak suka minuman bir dan sejenisnya.
"Kalau ku lihat, kalian bertiga ini saling bersangkutan, ya?" celetuk Bagas.
"Maksudmu?" Ketiganya menatap Bagas. Radi yang akan membuka kacangnya pun jadi terhenti sejenak. Kini fokus menatap sahabatnya.
"Ya, begini... Satria merebut istri Cakra dan Cakra merebut istri Radi. Kehidupan rumah tangga kalian benar-benar membagongkan, hanya aku yang normal di sini. Satu istri seumur hidup, setia..."
Mendengar ucapan Bagas yang terkesan mengejek juga menyombongkan diri, membuat ketiganya kesal. Radi bahkan mengambil kulit kacang dan melemparkannya pada Bagas.
"Sialan!" umpatnya.
"Ya... namanya juga perjalanan hidup. Ada pahit manisnya. Kalau jodohnya hanya sampai disitu, kita bisa apa." jawaban pamungkas dari Cakra keluar.
"Ya, yang penting sekarang kita sudah bahagia dengan pasangan masing-masing..." sambung Satria.
"Kau benar, satu pesanku, jangan jadi pria brengsek lagi, cukup satu wanita saja. Kau tidak inginkan anakmu mengikuti jejak kelam ayahnya," peringat Radi pada Satria.
"Iya, aku mengerti..." Satria mengangguk. Kebiasaan buruk itu sudah lama ditinggalkannya.
"Itu juga berlaku untukmu, Di!" Bagas mengingatkan.
"Hehe..." Radi cengengesan, membuat ketiganya tertawa.
Malam itu dihabiskan dengan bercerita banyak hal.
...Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa Vote, Like & Comment
Terima kasih sudah membaca