
...🌷Selamat Membaca🌷...
Radi berjalan tergesa menuju arah dapur. Di dalam gendongannya ada Dira yang menangis sedari bangun tidur tadi. Sepertinya bayi itu merasa lapar.
"Bagaimana Rin, apa ASInya sudah siap?" tanya Radi pada Rina yang tengah menghangatkan ASI untuk Dira. Ajeng selalu memeras ASInya lalu dikirimkan pada Radi melalui supir.
"Iya, Tuan. Ini sudah selesai, kita dinginkan sebentar sebelum memberikannya pada Nona Dira."
"Baiklah, ku tunggu di ruang tengah."
"Baik, Tuan."
Radi terus menimang putrinya supaya berhenti menangis. "Sabar ya, Nak. Sebentar lagi susunya datang. Anak ayah sudah lapar sekali, ya?" Pria itu mengajak anaknya bicara.
Dira berhenti menangis, ia menatap ayahnya yang juga menatap dirinya. Bibir mungil bayi itu masih bergetar, namun suara tangisnya sudah berganti dengan isakan.
"Kenapa, sayang? Kangen mama, ya?" tanya Radi. Terhitung sudah dua malam Dira berpisah dari Ajeng, bisa jadi bayi itu merindukan ibunya.
Mendengar kata mama, Dira kembali menangis, kali ini lebih kencang. Sepertinya bayi cantik itu memang sangat merindukan ibunya.
"Cup... cup, sayang. Tenang, ya. Di sini ada ayah," ucap Radi.
Tak lama kemudian, Rina datang tergopoh-gopoh. Ia merasa khawatir saat mendengar tangisan lengking anak majikannya. "I-ini susunya, Tuan." Wanita itu menyerahkan botol susu milik Dira pada Radi.
"Terima kasih, Rin."
"Iya, Tuan. Saya pamit ke dalam sebentar ya, Tuan. Mau melihat Reyhan yang sedang mandi?"
"Silakan."
Sepeninggal Rina, Radi langsung memberikan ASI pada putrinya. Bayi perempuan itu berhenti menangis saat mulutnya disumpal botol susu, dia minum dengan lahapnya.
"Nanti kita telepon mama ya, Nak..." kata Radi sembari memerhatikan Dira yang asyik menyedot sumber makanannya.
.......
Ajeng keluar dari kamar mandi dan langsung saja berjalan menuju meja rias. Ia mengambil sisir dan menyisir rambut panjangnya yang sudah dikeringkan dengan hairdryer. Ia tidak ingin menjadi bahan olokan orang lain saat keluar nanti jika melihat rambutnya yang basah.
Cklekk
Tak berselang lama, Cakra keluar dari dalam kamar mandi. Rambut pria itu tampak basah. Dengan handuk kecil yang dilingkarkan di pundak, ia berusaha mengeringkannya.
"Kenapa tidak dikeringkan pakai hairdryer saja, Mas?" tanya Ajeng. Wanita itu bangkit dan menghampiri sang suami.
"Aku tidak suka, lagi pula rambutku pendek, pasti akan cepat kering," jawab Cakra. Dari dulu ia memang tidak pernah mengeringkan rambut mengenakan hairdryer, karena kepalanya akan sakit jika terkena alat yang menguarkan suhu panas tersebut.
"Sini, Mas. Biar aku keringkan." Ajeng merebut handuk kecil dari tangan Cakra. "Duduk, Mas!" pintanya seraya menepuk kasur.
__ADS_1
Cakra tersenyum, ia menuruti perintah istrinya dan duduk di atas kasur. Ajeng dengan telaten langsung mengeringkan rambut suami tampannya itu.
"Rambutmu bagus, Mas. Tebal!" puji Ajeng. Sesekali ia menyisir rambut hitam lebat milik Cakra dengan jemarinya.
"Kau baru sadar? Ke mana saja selama ini, hm?" ejek pria berkaus polo putih itu.
"Arrgghh..." Cakra merintih saat dengan jahilnya Ajeng menggigit daun telinganya.
"Menyebalkan!" gerutu Ajeng.
"Oh, rupanya wanita di belakangku ini sudah bisa melawan ternyata. Mau bergulat lagi denganku di ranjang? Mau ku buat lemas lagi, hm?" Cakra berbalik dan menatap istrinya dengan seringai mesum.
"Ish, Mas!" Ajeng memukul pelan dada suaminya. "Aku lapar, loh. Kita sudah terlambat untuk sarapan."
Cakra terkekeh. "Baiklah, sekarang kita isi perut dulu, lalu setelah itu bertempur kembali."
Ajeng geleng-geleng kepala. "Terserah mu saja lah, Mas."
"Ya sudah, ayo!" ucap Cakra seraya bangkit dari duduknya.
"Ayo apa?" tanya Ajeng dengan mata memicing curiga.
"Sarapan, sayang. Memangnya apa lagi?" jawab Cakra.
"Oh, ku kira..."
"Apa sih, Mas!" Wajah Ajeng memerah. Memang sebelum ini ia sempat memikirkan hal tersebut. "Sudahlah, ayo! Aku sudah lapar sekali."
Cakra tertawa melihat tingkah malu-malu istrinya. Wanita itu bahkan berlari keluar terlebih dahulu tanpa menunggu dirinya.
.......
"Aku kangen Dira, Mas..." kata Ajeng. Saat ini mereka sudah kembali ke kamar hotel.
"Aku juga, bagaimana kalau kita ke rumah Radi dan menjemput bayi mungilku itu?" ajak Cakra.
Ajeng terdiam dan berpikir. "Boleh, Mas... tapi kita lihat saja ya, jangan dibawa pulang. Kasihan Mas Radi, mungkin ini adalah kesempatannya untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersama putrinya. Ia hanya meminta waktu tiga malam dan tinggal semalam lagi saja," jelas wanita itu.
"Baiklah, tidak apa-apa. Sekarang bersiap-siaplah!"
.......
Dira sedang bermain dengan Reyhan di atas karpet berbulu tebal. Di usia yang sudah memasuki 5 bulan, bayi itu sudah bisa tengkurap. Rina setia mendampingi di samping kedua bocah yang sedang bermain tersebut.
Radi yang duduk di sofa ruang tamu sembari mengecek beberapa pekerjaan di laptopnya sesekali tersenyum saat mendengar putrinya tertawa karena digoda oleh Reyhan. Pria itu sengaja bekerja dari rumah agar bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan putrinya. Kesempatannya hanya tinggal malam ini.
Bunyi bel rumah yang nyaring seketika mengalihkan perhatian Radi dari layar laptopnya. Rina buru-buru bangkit untuk melihat siapa yang datang, namun suara Radi menghentikan aksinya.
__ADS_1
"Biar aku yang buka, kau jaga saja anak-anak!"
"Baik, Tuan."
Radi meletakkan laptopnya di atas meja dan segera berjalan cepat menuju pintu.
Cklekk
Pintu terbuka, menampakkan pasangan pengantin yang baru menikah kemarin.
"Ajeng, Cakra?" sapa Radi. Ia melihat wajah dua orang itu bergantian. Untuk apa dua orang itu kemari, bukankah mereka seharusnya tengah menghabiskan waktu berdua saja, pikir pria satu anak itu.
"Selamat siang, Kak. Maaf kalau kedatangan kami mengganggu," kata Ajeng.
"Eh? Tidak apa-apa, kok. Silakan masuk!" Radi mempersilakan.
"Aku kangen Dira, Kak. Di mana putriku itu sekarang?" tanya Ajeng.
"Dia sedang bermain di ruang tengah, ayo kita ke sana."
"Dira sayang..." Ajeng langsung menghampiri putrinya yang tengah bermain di atas karpet. Ia sedikit terkejut saat melihat. jika Dira sedang tengkurap. Saat ia menyerahkan Dira pada Radi dua hari yang lalu, bayi itu belum bisa melakuaknnya. Padahal ia sudah berjuang keras untuk mengajarinya.
"Sejak kapan Dira bisa tengkurap, Mas?" tanya Ajeng. Saat ini Dira sudah berada dalam gendongannya.
"Hm, entahlah. Aku juga baru tahu hari ini. Ku pikir dia memang sudah bisa tengkurap," jawab Radi.
"Hm... Nona Dira baru bisa tengkurap kemarin, Nyonya..." Rina bersuara.
"Benarkah? Kok bisa, apa kau yang mengajarinya?" tanya Ajeng.
Rina menggeleng. "Bukan, Nyonya. Sepertinya Nona Dira bisa tengkurap saat melihat Reyhan yang sedang bermain dengan posisi menelungkup."
"Oh, begitu. Hebat juga kamu, Nak!" Ajeng mengusap kepala Reyhan dengan sayang. "Tante saja sudah susah payah mengajari bahkan memberikan contoh, Dira justru tidak mau melakukannya," tambah wanita itu.
"Hihihi..." Reyhan terkikik. "Lehan ebat. Dedek Dila tantik," ucapnya cadel. (Reyhan hebat, dedek Dira cantik)
Empat orang di sana tertawa gemas melihat kelucuan Reyhan. Rina bersyukur karena bisa dikelilingi oleh orang-orang baik seperti Radi, Ajeng dan Cakra.
"Terima kasih, Tuhan..." lirihnya seraya menyeka sudut matanya yang sedikit berair.
Radi menyadari hal itu, ia menatap Rina cukup lama. Entah apa yang saat ini berada dalam pikiran pria itu.
...Bersambung...
Jangan lupa Like & Comment
Terima kasih😊
__ADS_1