2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
First Morning


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Ajeng dan Cakra memasuki kamar pengantin mereka. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Sebenarnya acara belum berakhir karena masih ada beberapa tamu yang tersisa, hanya saja Guntur dan Tyas meminta anak dan menantunya yang terlihat lelah itu untuk langsung beristirahat.


"Ah, lelahnya..." Sampai di tempat tidur, Ajeng langsung menghempaskan tubuh. Ia merentangkan tangan dan kakinya demi mengurai rasa penat yang mendera. Ia tidak peduli pada gaun pernikahannya yang akan kusut, toh juga tidak akan digunakan lagi.


Setelah menutup dan mengunci pintu, Cakra ikut rebahan di samping istrinya. Sebelum itu, ia melepas jas yang digunakannya terlebih dahulu, menyisakan kemeja berwarna putih.


"Capek, Mas?" tanya Ajeng. Ia memutar tubuh menghadap suaminya.


"Capek, sayang... tapi rasanya lega karena sekarang kau sudah resmi menjadi milikku. Tidak ada yang bisa memisahkan kita lagi selain kematian," jawab Cakra. Ia turut bergerak dan tidur menyamping berhadapan dengan Ajeng.


Ajeng tersenyum. Ia dan Cakra saling bertatapan mesra.


"Sayang, apa aku sudah mengatakan jika malam ini kau terlihat sangat cantik?" tanya Cakra tiba-tiba.


Wajah Ajeng merona merah. "Kau lupa, Mas? Sudah puluhan kali kau mengatakan kalau aku cantik malam ini."


Cakra terkekeh. "Aku ingin terus mengatakannya. Kau cantik, sayang. Kau adalah wanita tercantik setelah..."


Cakra sengaja menggantung ucapannya, ia ingin melihat bagiamana reaksi Ajeng. Dan benar saja, air muka wanita itu langsung berubah masam.


"Memangnya siapa yang pertama?" tanya Ajeng ketus. Matanya menatap tajam Cakra yang berusaha menahan senyum.


"Wanita itu adalah wanita yang menjadi cinta pertamaku."


Jawaban Cakra kali ini membuat wajah Ajeng semakin tidak enak dilihat. Ia merasa sangat kesal. Di malam pengantin mereka, bisa-bisanya Cakra justru memuji wanita lain lebih daripada istrinya sendiri.


"Kau menyebalkan, Mas!" Ajeng bangkit dari baringnya. Udara di sekitarnya tiba-tiba terasa panas, walaupun pendingin ruangan menyala.


"Kau tidak ingin tahu siapa wanita itu, Jeng?" tanya Cakra memanas-manasi. Melihat raut wajah Ajeng yang menahan cemburu dan kesal, membuatnya terhibur.


Ajeng merasa sakit hati. Seharian ini Cakra selalu memanggilnya dengan panggilan sayang, tapi setelah membahas masalah wanita tercantik itu, panggilan suaminya tiba-tiba berubah. Jeng, begitu panggilnya. Sungguh menjengkelkan!


"Aku tidak ingin tahu, dasar suami tak berperasaan!" Ajeng bangkit dan langsung berjalan cepat menuju kamar mandi. Ia ingin membersihkan tubuh dan merilekskan jiwa raga yang terasa lelah.


"Sangat menggemaskan!" gumam Cakra. Pria itu ikut bangkit dari tempat tidur dan menyusul istrinya ke kamar mandi.


.......

__ADS_1


"Kita langsung istirahat saja, ya? Kau pasti lelah dan mengantuk," ajak Cakra.


Mereka baru saja selesai berganti pakaian setelah melakukan ritual mandi yang cukup menghabiskan banyak waktu. Jangan berpikiran ke arah sana, di dalam kamar mandi, Cakra hanya sibuk membujuk Ajeng yang tengah kesal padanya. Pria itu juga memberitahukan bahwa, wanita tercantik sekaligus cinta pertama Cakra tak lain adalah Tyas, ibu kandung dari pria itu sendiri. Mendengar itu, Ajeng tidak jadi marah dan rasa kesalnya pun lenyap. Karena baginya, pria tertampan dan juga merupakan cinta pertamanya adalah ayahnya. Orang tua adalah yang nomor satu.


Ajeng menatap Cakra heran. Bukankah ini malam pertama mereka? "Kau tidak ingin mengambil hakmu malam ini, Mas?" tanyanya tanpa basa-basi.


Cakra menaikkan satu alisnya ke atas. Ia memperhatikan penampilan istrinya malam ini. Baju minim melekat sempurna di tubuhnya yang indah, memperlihatkan kulit putih mulus dan lekukan menggoda iman. "Kau mau malam ini?" Bukannya menjawab, Cakra justru balik bertanya. Seringai jahil turut tersungging di bibir tipisnya.


"Kalau Mas mau, aku siap!" kata Ajeng mantap. Sebenarnya ia cukup lelah dan mengantuk, tapi jika Cakra menginginkannya malam ini, Ajeng tak mungkin menolak.


Cakra tersenyum. Ia mendekatkan tubuhnya ke tubuh Ajeng. Diraihnya pinggang ramping itu hingga menempel pada tubuh bagian depannya.


"Khusus malam ini, kita tidur saja, ya? Kita sama-sama lelah dan butuh istirahat. Aku cemas jika nanti tidak bisa membuatmu puas," bisik Cakra tepat di telinga istrinya.


Ajeng merasakan geli di pinggangnya saat mendengar bisikan Cakra. Hembusan hangat dari napas pria itu juga membuat tubuhnya meremang. "I-iya, Mas..." sahutnya gugup.


"Ya sudah, ayo tidur!" Cakra mengecup kening Ajeng lama, baru setelah itu membimbing istrinya menuju ke tempat tidur mereka.


Malam ini, pasangan pengantin baru itu menghabiskan malam pertama mereka dengan tidur saling berpelukan.


.......


"Tidur dalam pelukanmu benar-benar nyaman, Mas. Rasanya aku ingin tidur lagi," gumam Ajeng. Bukannya bangun, wanita itu malah mengeratkan pelukannya di perut keras Cakra. Tak lupa, wajahnya ia sembunyikan di dada bidang milik suaminya itu. Aroma maskulin yang menguar dari tubuh Cakra membuat Ajeng terlena, ia kembali memejamkan mata dan langsung terlelap dalam hitungan detik.


"Sayang, bangun!"


"Ajeng sayang, bangun!"


Cakra mencolek hidung bangir teman hidupnya. Yang dicolek hanya diam tak merespon, masih asyik dalam buaian alam mimpi.


Cup


Cup


Cup


Tak mau bangun, Cakra mencoba alternatif lain. Ia mengecup bibir Ajeng bertubi-tubi.


"Enghh..." Ajeng melenguh. Ia menggelitakan badannya dan berganti posisi, menjadi membelakangi Cakra.

__ADS_1


Cakra tidak tinggal diam, ia mendekati tubuh Ajeng dan menarik wanita itu masuk ke dalam pelukannya. "Sayang, aku mau..." bisiknya bernada sensual.


Ajeng masih tak menggubris, sepertinya ibu satu anak itu masih terlena dalam mimpinya sehingga tidak mau bangun.


Pagi ini Cakra merasa jika gairahnya meningkat, apalagi tadi ia disuguhi penampilan menggoda istriya yang terlihat seksi dengan rambut acak-acakan.


"Sayang, aku sudah turn on ini. Boleh tidak jika aku meminta hakku pagi ini?" Cakra berbisik lagi.


Ajeng bergeming. Ia masih pulas.


Tanpa menunggu waktu lagi, Cakra segera memberi rangsangan pada tubuh Ajeng. Ia menelusupkan tangannya pada baju mini yang digunakan istrinya dan mengelus perut rata wanita itu secara langsung.


Deg


Ajeng tersentak. Ia merasa geli saat ada jari-jari yang bermain di perutnya. Ajeng tahu pasti itu ulah siapa.


"Mas..." panggil Ajeng.


"Ya... pagi, sayang."


"Pagi," balas Ajeng. "Tangannya tolong dikondisikan ya, Mas!" Wanita itu mengingatkan.


"Hm, kenapa? Aku menginginkan dirimu pagi ini, sayang. Mau, ya?" mohon Cakra. Suaranya mulai terdengar serak.


Ajeng berbalik. Ia melihat pandangan mata Cakra sudah berubah menjadi sayu. .


"Lakukanlah, Mas!" kata Ajeng. Tak hanya Cakra, Ajeng pun menginginkan kehangatan yang sudah lama tak ia dapatkan.


Mendapat lampu hijau, Cakra langsung bergerak cepat. Ia bangkit dan menindih tubuh Ajeng.


"Aku mencintaimu..."


Setelah mengatakan isi hatinya, Cakra segera menyambar bibir Ajeng. Pergulatan di pagi hari yang cerah itu pun terjadi. Suara erangan dan desahan menjadi melodi pengantar dua manusia yang terikat tali pernikahan itu mencapai puncak kenikmatan.


...Bersambung...


Jangan lupa Like & Comment


Terima kasih😊

__ADS_1


__ADS_2