
...🌷Selamat Membaca🌷...
"Di mana Dira?" tanya Cakra saat makan malam dan tidak menemukan kehadiran putri sulungnya.
"Kakak nginep di rumah ayah, soalnya ayah lagi sakit," jawab Eya.
"Sakit? Sakit apa, Nak?" tanya Ajeng khawatir.
"Denger-denger sih demam, Ma..." jawab Eya disela kunyahannya.
"Apa perlu kita melihat keadaan Kak Radi, Mas?" Ajeng menatap suaminya.
"Kita akan coba menghubungi Dira nanti untuk memastikan bagaimana kondisi Radi saat ini, baru setelah itu kita memutuskan pergi melihatnya atau tidak," usul Cakra.
"Baiklah, Mas." Ajeng mengangguk dan melanjutkan makannya.
"Tangan lo kenapa, Ar?" Saat suasana di meja makan mulai hening, Eya bertanya pada Arsha. Ia penasaran ketika melihat buku-buku jari adik bungsunya yang lecet.
Mendapat pertanyaan seperti itu, Arsha langsung menyembunyikan tangan kanannya. Pasalnya, semua mata kini tertuju pada tangannya itu. "Nggak apa-apa, kok. Ini hanya luka kecil," jawabnya.
Mata Ajeng langsung menghunus manik cokelat tua sang putra. Ia menyidik penuh curiga. "Kamu nggak berantem lagi 'kan, Dek?" tebaknya.
"Nggak 'kok, Ma..."
"Bohong! Tadi pagi Arsha menyerang anak SMA sampai babak belur, terus dia juga bolos pelajaran pertama." Arsyi buka suara. Ia tidak ingin melepaskan adiknya itu begitu saja, Arsha harus diberi sedikit pelajaran berharga agar tidak selalu main tangan pada orang-orang yang tak disukainya.
"Benar itu, Arshaka?" Kini Cakra yang bertanya, suara bapak empat anak itu terdengar tegas.
Kalau sudah sang ayah yang bersuara, Arsha tidak bisa berkutik. "I-iya, Pa..." cicitnya.
Cakra menghela napas lelah. "Setelah ini temui papa di ruang kerja!" titahnya.
"I-iya." Arsha mengangguk patuh. Sementara matanya mendelik kesal pada Arsyi yang tengah menyeringai puas.
"Awas lo!" desisnya.
Arsyi memeletkan lidah, ia sama sekali tidak takut dengan ancaman saudara kembarnya itu.
...****************...
"Hei, lo ngapain senyum-senyum gitu, kesambet?" Seorang gadis menepuk pelan pundak Lingga yang sedang bersantai di taman belakang rumahnya. Cowok tampan bermata tajam itu terperanjat kaget saat si gadis datang dan mengejutkannya secara tiba-tiba.
"Apa sih, Kak? Bikin kaget aja!" protes Lingga kesal. Ia melirik sinis kakaknya yang kini tengah tertawa puas.
"Lagian lo sih, duduk sendiri di taman malam-malam begini, pakai melamun segala lagi. Kalau kesambet gimana?" Gadis itu duduk di samping sang adik.
__ADS_1
"Iman gue kuat, jadi nggak akan kesambet."
"Gaya lo!" Gadis bernama Kei itu mencebik. Tak lama setelah itu, tak sengaja matanya menangkap sebuah foto di layar ponsel Lingga yang masih menyala.
"Eh? Siapa nih?" Tiba-tiba ia merebut ponsel dari tangan Lingga dan memerhatikan potret candid seorang gadis cantik di dalam sana.
"Kak, apaan sih? Balikin hp gue!" protes Lingga seraya merebut kembali ponselnya dari tangan sang kakak.
Kei menatap jahil. "Siapa tuh cewek? Pacar lo, ya?" tebaknya.
"Bukan..." sahut Lingga cepat.
"Hm... pasti gebetan?" tebak Kei lagi.
"Kepo banget lo, Kak!" Lingga langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
"Iya, gue kepo. Selama ini lo nggak pernah deket sama cewek, makanya gue penasaran. Ceritalah sama kakak lo yang cantik ini!" bujuk Kei.
Lingga terdiam dan berpikir. Kadang ia merasa sesak memendam rasa itu sendiri, ia ingin sekali berbagi, tapi belum tahu dengan siapa akan bercerita. Dan kini, sang kakak menawarkan diri. Apa sebaiknya ia curhat saja? Mana tahu kakaknya itu bisa memberi saran atau masukan yang berguna untuk masalah percintaannya ini.
"Gue naksir dia, Kak. Sudah sejak lama..." Akhirnya Lingga membeberkan perasaan yang selama ini dipendamnya seorang diri.
"Lo pernah ungkapin perasaan lo sama dia?" tanya Kei. Wajah yang semula jahil, kini berubah serius. Ia ingin mendengarkan dengan seksama isi hati dari adik tirinya itu. Walaupun mereka tidak memiliki hubungan darah, tapi keduanya saling menyayangi sebagai saudara.
Lingga menggeleng mendapat pertanyaan itu dari kakaknya. "Nggak berani gue, Kak. Selain itu, dia juga udah punya pacar. Ya... walaupun mereka udah putus sih, tadi."
"Tapi kayaknya dia trauma deh, Kak. Dia putus karena pacarnya selingkuh. Gue rasa dia bakal sulit buat percaya lagi sama cowok," ucap Lingga menganalisa.
"Ya... kalau itu sih, lo harus berusaha keras buat mengembalikan kepercayaannya lagi, bahwa tidak semua cowok di dunia ini jahat seperti mantannya itu. Gue dukung lo, Dek."
Lingga termenung sesaat. "Hm, oke deh, Kak. Gue bakal coba buat lebih dekat sama dia. Semoga aja dia nggak illfeel sama gue."
"Belum pergi, tapi udah balik aja, lo. Optimis dong! Lo itu ganteng, baik dan pintar lagi. Cewek mana yang bakal nolak."
Lingga terkekeh mendengar pujian sang kakak. "Bisa aja lo, Kak."
"Oh ya, ngomong-ngomong nama cewek itu siapa?" tanya Kei. Sedari tadi mereka bercerita, tapi ia belum tahu siapa nama gadis yang ditaksir sang adik.
"Namanya Nadira Daneen Nugraha. Artinya, putri raja yang berharga milik Nugraha. Namanya sangat indah, persis seperti orangnya." Saat ini Lingga tengah membayangkan bagaimana wujud Nadira di dalam ingatannya. Kulitnya putih, rambutnya panjang, hidungnya mancung, bibirnya mungil dan berwarna pink alami serta bulu matanya yang tebal dan lentik. Untuk ciri yang terakhir, Lingga baru tahu tadi siang, saat tak sengaja bertabrakan di lorong sekolah dan mata mereka saling bertemu untuk pertama kalinya secara intens. Tanpa sadar ia jadi tersenyum.
"Haha... benar kesambet ini anak." Kei tertawa melihat Lingga yang senyum-senyum sendiri entah sedang mengkhayalkan apa.
"Dek! Udah halunya, sekarang masuk ke dalam, udaranya mulai dingin, nanti lo masuk angin." Kei memperingatkan Lingga.
"Iya, bentar lagi. Lo duluan aja, Kak." Lingga masih ingin menghirup udara malam sembari mengkhayal tentang Dira.
__ADS_1
"Ketemu. Kalian dari tadi di sini, mama cariin, tuh!" Seorang cowok remaja datang menimbrung di antara Kei dan Lingga. Dia adalah Aulian Ghayda Alfarendra, putra bungsu di keluarga itu.
"Ada apa mama cariin kita?" tanya Kei yang langsung bangkit dari duduknya.
"Ya... nggak ada apa-apa, sih. Mama baru aja selesai buat cupcake, jadi minta kita semua buat cobain."
"Oh, gitu. Gue ke dalam duluan, deh." Kei pun melesat masuk meninggalkan dua adik laki-lakinya.
"Masuk yuk, Bang. Ngapain lo di sini sendiri? Ngeri... ntar ketemu makhluk halus lagi. Iiii..." Lian bergidik.
Lingga terkekeh. "Ok, kita masuk." Ia merangkul pundak sang adik dan mereka masuk ke dalam rumah.
...****************...
"Jadi...?" tanya Cakra.
Dua orang pria berbeda usia itu tengah duduk saling berhadapan di meja kerja. Kini saatnya bagi Cakra untuk mengintrogasi putra sematawayangnya yang paling usil dan nakal itu.
"Iya... persis seperti yang dikatakan putri papa yang tukang ngadu itu," jawab Arsha yang masih kesal dengan Arsyi.
"Arsha!" peringat Cakra.
"Maaf..." Lagi-lagi ia tertunduk.
"Jelaskan pada papa, kenapa kamu menghajar anak SMA itu!" tuntut Cakra.
"Sekarang gini deh, coba papa tanya sama aku, siapa anak SMA yang aku hajar itu," pintanya.
Cakra mengelus dada sabar. Putranya ini benar-benar menguji kesabarannya. "Ok, siapa anak SMA yang kamu hajar itu?" Mau tak mau, ia menuruti permintaan sang anak.
"Mantan pacarnya Kak Dira," sahutnya cepat.
"Apa?" Cakra kaget. "Jadi kamu menghajar si Alvin-Alvin itu? Lalu bagaimana? Apa dia babak belur?" tanya pria itu antusias.
Arsha menggaruk tengkuknya yang tetiba gatal. "Ya... bonyok, Pa. Wong dia itu cemen, nggak berani balas pula. Haha..." Cowok itu terkekeh diakhir kalimatnya.
"Bagus, Nak. Papa bangga sama kamu." Cakra bangkit dan menepuk bangga pundak putranya. "Papa juga kesal sama dia, berani sekali dia mempermainkan putri papa yang cantik dan baik hati. Laki-laki yang tidak bisa bersyukur seperti itu patut diberi pelajaran," tambahnya dengan emosi tertahan.
"Benar, Pa. Si Alvin itu udah jelek, bentukannya aja kayak keset selamat datang, sok-sok an nyakitin kakak aku yang paling cantik lagi. Aku 'kan nggak terima, papa juga gitu, kan?" Arsha balik memprovokasi ayahya.
"Kamu benar, Nak. Beruntung hanya kamu yang menghajarnya, kalau papa yang turun tangan, bisa-bisa dia langsung almarhum," ujar Cakra berapi-api.
"Menakutkan juga si papa ini kalau lagi marah," batin Arsha ngeri.
...Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Vote & Comment
Terima kasih sudah membaca🙏🏻😊