2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Errancy


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Ajeng termenung di dalam taksi yang akan membawanya menuju rumah. Selama di perjalanan, cerita dari Tania terus berputar di benaknya. Ia tak pernah membayangkan jika kehidupan rumah tangganya akan jadi seperti ini. Radi, ternyata tidak sebaik apa yang dilihatnya. Dulu, dia menusuk sahabatnya dari belakang, dan sekarang dirinya yang menjadi korban.


Wanita itu langsung masuk ke dalam rumah begitu keluar dari dalam taksi. Ia tak sanggup lagi menahan semua ini, penjelasan dari Radi harus ia dapatkan saat ini juga.


Baru sampai di ruang tengah, Ajeng bisa melihat Radi dengan santainya berjalan sembari membawa segelas air di tangannya, dengan langkah cepat ia menghampiri suaminya itu.


"Sayang, kau dari mana saja, aku-,"


PLAKK


Ajeng sudah tidak tahan lagi, begitu sampai di hadapan Radi, ia segera melayangkan tamparannya di pipi pria itu. Melihat suaminya yang santai saja, membuatnya emosi hingga kekerasan itu terjadi. Bunyi gelas pecah menjadi melodi pembuka awal pertengkaran sepasang suami istri itu.


Radi memegang pipinya yang panas karena tamparan keras dari Ajeng, lalu menatap bingung istrinya yang sudah bertindak kasar. "Kenapa kau menamparku? Apa salahku?" tanyanya emosi.


"Lepaskan kak Bagas sekarang juga!" perintah Ajeng.


Bisa dilihat jika tubuh Radi menegang, pria itu mulai salah tingkah. "Bagas? Si-siapa maksudmu, sayang? Aku tidak mengenal seseorang dengan nama itu," kilahnya.


Ajeng tersenyum miris. Ia merasa kasihan pada Bagas, memiliki sahabat yang tidak menganggapnya lagi. "Jahat sekali dirimu ini, kau lupa jika kak Bagas adalah sahabatmu? Dia itu teman pertamamu saat berada di panti."


"Hahahaha...." Radi tertawa gugup. "Dapat cerita dari mana kau, Ajeng?" tanyanya.


Ajeng menggeram marah melihat tingkah menyebalkan suaminya. Di saat keadaan tegang seperti ini, pria itu masih sempat-sempatnya tertawa. "Aku tahu langsung dari istrinya, jangan mengelak lagi. Kenapa kau lakukan semua ini, Mas?"


"Omong kosong apa ini, sayang? Kau pasti lelah, ayo kita istirahat." Radi menarik tangan Ajeng dan membimbing wanita itu menuju kamar mereka.n


Ajeng diam saja, ia berpikir lebih baik menyelesaikan masalahnya di dalam kamar karena beberapa pelayan nampak mengintip pertengkaran mereka.


.... ...


Setelah menutup pintu kamar, Radi berjalan menuju jendela besar di sana. Sementara Ajeng berdiri di samping tempat tidur.


"Apa saja yang sudah kau ketahui?" Tiba-tiba suara Radi berubah dingin. Pria itu memandang langit senja yang perlahan menggelap. "Katakan!" bentaknya karena belum mendapat respon dari orang di belakangnya.


Ajeng menggigit bibir dalamnya kesal, kenapa sekarang jadi seperti dia yang disidang. "Semuanya..."- jawab Ajeng kemudian.


Radi berbalik, sepasang matanya menatap Ajeng sendu. "Kau benar, aku adalah seorang pengkhianat. Bukankah seperti itu cerita yang kau dengar?"


Jantung Ajeng mencelus ke dalam perut, pandangan terluka Radi membuatnya merasa iba. Apakah dirinya telah salah menghakimi suaminya tanpa mendengar cerita versi pria itu terlebih dahulu? Bisa saja ada alasan dibalik semua sikapnya terdahulu.


Radi menghela napas pelan. "Apa kau benar-benar menculik dan menyekap kak Bagas?" tanya Ajeng hati-hati. Kali ini ia mencoba lebih tenang, tidak emosi seperti sebelumnya.


Radi mengangguk, semua sudah terbongkar, bahkan mungkin kebohongannya tentang Maya juga sudah diketahui Ajeng, jadi Radi memutuskan untuk bicara jujur saja. Apa yang akan terjadi setelah ini, akan ia coba tuk hadapi. Sekali pun itu pahit dan harus membuat ia kehilangan wanita yang dicintainya, akan Radi terima.


"Kenapa?" Walau sudah tahu jawabannya, Ajeng ingin Radi lah yang mengatakannya. Ia ingin pria itu mengakui kesalahan yang sudah diperbuatnya.


"Bagas dendam padaku dan ingin menghancurkan rumah tangga kita." Radi berjalan menghampiri istrinya. "Aku sangat mencintaimu dan tak ingin kehilanganmu." Diusapnya lembut pipi putih kekasih hatinya itu.


Ajeng terpejam, menikmati usapan itu, namun sedetik kemudian ia tersadar, tidak seharusnya ia tenggelam dalam romantisme sementara masalah mereka saja belum selesai. Wanita itu menangkap tangan Radi dan menjauhkannya dari wajah.


"Ku rasa, rumah tangga kita sudah hancur saat kau bermain api di belakangku." Ajeng berusaha mati-matian meredam emosi kala ingatan akan Maya dan juga anak yang sudah dilahirkannya itu muncul.


Tubuh Radi merosot jatuh, ia berlutut di hadapan Ajeng. "Maafkan aku, Jeng. Aku khilaf..." mohonnya dengan suara bergetar.


Deg


Ajeng memegang dadanya yang terasa nyeri. Mendengar langsung jika Radi mengakui perselingkuhannya, membuat perasaannya terluka. "Kenapa?" Setitik cairan bening jatuh dari mata bening indah yang selalu bisa membuat siapa saja jatuh cinta. "Kenapa, Mas? Apa kurangku hingga kau menduakan cintaku?" Kini bulir bening itu jatuh semakin banyak, mengaliri pipi putih yang memerah.


Radi memeluk erat kaki Ajeng. Pria itu tergugu. "Maaf, aku tidak pernah menduakan cintamu. Hanya kau satu-satunya wanita yang aku cintai. Maya hanya sebuah kesalahan," jelasnya.

__ADS_1


Mendengar nama wanita itu disebut oleh Radi, semakin menambah luka pada batin Ajeng. "Apa anak itu juga sebuah kesalahan?" tanya Ajeng kemudian.


Hening, Radi yang berada di bawahnya tak bersuara. Apakah kini pria itu begitu menyayangi anaknya hingga tak tega mengatakan jika anak itu sebuah kesalahan. "Apa jenis kelamin anak itu?" tanya Ajeng berat.


"Laki-laki." Radi langsung menjawab tanpa pernah berpikir jika hal itu akan melukai hati Ajeng.


"Siapa namanya?" Walaupun menyakitkan, Ajeng tidak bisa berhenti untuk bertanya.


"A-aku belum sempat memberinya nama." Ada nada penyesalan dalam suara Radi.


"Apakah untuk anak yang sedang ku kandung ini, kau sudah menyiapkan nama?" tanya Ajeng penasaran. Ingin melihat, siapa yang lebih penting bagi Radi. Anak Maya atau anak dalam kandungannya.


Radi mengangguk cepat. "Lingga Harish Nugraha untuk laki-laki dan Nadira Daneen Nugraha untuk perempuan."


Ajeng tersenyum, ternyata anaknya lebih unggul selangkah dibandingkan anak Maya. Anaknya yang belum lahir saja sudah disiapkan nama oleh sang ayah, sementara anak dari Maya yang bahkan sudah lahir ke dunia ini, belum memiliki nama juga. Namun, apakah itu penting dibahas saat ini? Tentu tidak.


"Apa yang harus ku lakukan sekarang? Jujur saja, aku tidak bisa memaafkan pengkhianatanmu ini, Mas..." ucap Ajeng.


Radi semakin erat memeluk kaki istrinya. "Ku mohon, jangan tinggalkan aku, Jeng. Aku mencintaimu dan menyayangi anak dalam kandunganmu." Pria itu berlutut dan menangis.


"Kalau begitu, apa kau akan meninggalkan wanita itu dan juga anaknya?" Hanya ada satu pilihan yang akan Ajeng ajukan. "Pilih aku dan tinggalkan wanita itu, atau kau bisa bersama wanita itu dan anaknya, tapi lepaskan aku?"


Hening, Radi tak sanggup menjawab. Jika hanya Maya, Radi tidak akan banyak berpikir, pasti akan langsung ditinggalkannya wanita itu, tapi sekarang keadaannya berbeda, ada anak di antara mereka. Seorang putra yang sangat tampan, darah dagingnya.


"Kalau kau diam, berarti kau lebih memilih dia."


Ajeng menghentakkan kakinya berusaha melepas pelukan Radi, tapi pria itu malah semakin mengeratkannya.


"Lepaskan kakiku?" protes Ajeng kesal.


"Aku mohon, jangan tinggalkan aku. Aku berjanji akan meninggalkan wanita itu, tapi tidak dengan putraku. Bisakah kita merawat anak itu bersama-sama?" Radi mendongak, menatap istrinya penuh permohonan.


Deg


Radi akhirnya melepas kaki Ajeng dan berdiri. Dipegangnya kedua pundak istrinya dan menatap mata wanita itu dalam. "Aku memilihmu, sayang, tapi aku juga tak bisa meninggalkan anak itu begitu saja, bagaimana pun dia adalah darah dagingku, tanggung jawabku."


Egois. Kata itulah yang cocok untuk menggambarkan sifat Radi saat ini. "Jadi kau mau aku merawat anak itu?" tanya Ajeng dingin.


"Iya, sayang. Kita rawat anak itu bersama dan kita jadikan dia anak pertama kita."


Ajeng mengetatkan rahangnya, dihempaskannya kedua tangan Radi di pundaknya dengan kasar. Lalu setelah itu...


PLAKK


"Kau adalah makhluk paling egois yang pernah ku kenal, Mas!" pekik Ajeng setelah melepaskan tamparan yang kedua di pipi Radi. Bekas cap tangan Ajeng tercetak begitu jelas di pipi putih suaminya. "Kau pikir aku mau merawat anak itu, eh?"


Radi melihat Ajeng dengan pandangan tajam, dua kali, harga dirinya terluka. Tak beda jauh dari Radi, wanita itu juga menatap suaminya tajam, ada amarah yang membara di dalam matanya.


"Aku tak sudi merawat anak harammu dengan wanita murahan itu!"


PLAKK


Saking kuatnya tamparan Radi, Ajeng sampai terjatuh. Untung yang menyambutnya adalah kasur, jika lantai, entah apa yang akan terjadi.


Ajeng menyentuh pipinya yang terasa panas dan nyeri. Namun, rasa sakit di pipi itu tidak seberapa dibandingkan dengan sakit di hatinya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia ditampar, dan itu dilakukan oleh seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya, suaminya sendiri.


Mata Ajeng memanas, air mata kepedihan kembali mengalir, bahkan semakin deras dari sebelumnya. "Kau sudah berjanji pada mama dan papa bahwa kau akan menjaga dan melindungiku, tapi kini, justru kau yang telah membuatku terluka," lirih Ajeng tanpa mau menatap Radi. Wanita itu terduduk di atas tempat tidur, membelakangi suaminya.


Sementara Radi menggigil, menatap telapak tangannya yang baru saja menampar wanita yang ia cintai. Ia tak bisa mengendalikan diri saat Ajeng mengatakan jika putranya adalah anak haram, walau kenyataannya memang begitu. Teringat wajah menggemaskan tanpa dosa putranya, bagaimana bisa Ajeng mengatakan perkataan kejam seperti itu.


"Sayang, maafkan aku..."

__ADS_1


"Jangan sentuh aku!" Ajeng berontak saat tangan Radi menyentuh tubuhnya. Lantas, ia pun berbalik dan pemandangan selanjutnya membuat hati Radi teriris. Wanita yang dicintainya bersimbah air mata dengan pipi lebam karena ulahnya.


"Sayang, aku-"


Ajeng mengangkat tangannya tanda tak ingin mendengar apapun dari mulut Radi, pria itu pun bungkam. Lalu Ajeng bangkit.b


"Aku benci kau, Mas. Aku membencimu!" Setelah meneriakkan kata-kata itu, Ajeng mendorong tubuh Radi dan segera berlari keluar.


Radi terperenyak di atas tempat tidur setelah didorong Ajeng. Pria itu seperti kehilangan nyawanya mengingat semua yang telah terjadi. Ajeng pergi meninggalkannya.


.... ...


Ajeng berlari dalam gelap, malam ini langit begitu pekat seperti akan turun hujan. Dan benar saja, setelah jauh berlari, hujan pun turun dengan lebat. Ajeng memperlambat langkahnya saat merasa perutnya tidak nyaman. Wanita hamil itu memilih berteduh pada sebuah pohon di tepi jalan yang terlihat lengang malam ini.


Ajeng mengelus perutnya yang terasa sakit, keadaannya saat ini sangat buruk. Basah kuyup dan juga kedinginan. Ia duduk bersandar pada sebatang pohon rindang.


"Ayahmu sama sekali tidak mencari kita, Nak."


Tangis Ajeng tersamarkan dengan suara derasnya hujan yang mengguyur. Wanita itu terus mengelus perutnya, lama-lama sakitnya mulai berkurang. Karena kelelahan dan juga stress berlebihan, Ajeng pun pingsan.


.......


Cakra baru pulang dari rumah orang tuanya. Di perjalanan, hujan turun lebat. Untung saja dia berada di dalam mobil, jadi tidak akan kehujanan.


Malam ini terlihat sepi, mungkin karena hujan, tidak banyak orang yang keluar. Menyetir seorang diri, membuat Cakra kesepian. Pria itu lantas menghidupkan musik untuk menemaninya.


Saat mengendarai mobilnya melewati jalanan, sekilas mata elangnya menangkap sesuatu bersandar pada sebuah pohon. Bulu kuduknya sedikit merinding, cuma karena penasaran, pria itu memilih memundurkan mobilnya.


Dari dalam, Cakra menajamkan matanya melihat sosok yang ada di pohon. Setelah lama menatap, wajah sosok itu seperti tak asing buatnya. Ia keluar dari mobil dan berlari menembus hujan menghampiri sosok itu.


Matanya membulat melihat siapa yang tertidur di sana. "Ajeng!" Pria itu berjongkok dan memanggil-manggil nama si wanita.


"Ajeng!" Ditepuknya pipi itu pelan, coba membangunkan.


"Wajahnya pucat." Segera diperiksa denyut nadi yang ada di tangan Ajeng. "Lemah."


Secepat kilat digendongnya tubuh yang tak sadarkan diri itu dan membawanya ke mobil. Didudukkan di bangku depan dan dipasangkan seat belt. Cakra kembali melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


.... ...


Radi yang tersadar dari rasa bersalahnya, lantas bangkit dan memunggut kunci mobil. Ya, ia harus mencari Ajeng dan meminta wanita itu kembali padanya. Apapun akan Radi lakukan, termasuk meninggalkan putranya bersama Maya. Biarlah ia kehilangan seorang anak daripada harus kehilangan kekasih hatinya berikut anak dalam kandungan wanitanya itu.


Radi mengendarai mobilnya lambat di tengah hujan lebat. Matanya awas melihat setiap sudut jalan, mana tahu ia menemukan Ajeng.


.... ...


Cakra memerhatikan wajah lelah yang masih belum sadarkan diri itu. Entah apa yang terjadi, hingga Ajeng-wanita yang merupakan istri dari rekan kerjanya- ditemukan pingsan di jalanan. Setelah diperiksa, dokter mengatakan kandungan Ajeng lemah dan harus bed rest.


Wajah pucat Ajeng masih terlihat begitu cantik di mata Cakra, namun... mata itu kini terpusat pada bekas merah yang tercetak jelas di pipi kiri Ajeng. Cakra langsung tahu jika itu adalah bekas tamparan.


"Siapa yang telah melakukan ini padamu?" Cakra mengusap lembut penuh perasaan pipi merah itu. Berharap dengan apa yang dilakukannya bisa mengurangi sedikit nyeri di sana.


Namun, Cakra tidak tahu, apalah arti dari rasa sakit yang diterima oleh fisik Ajeng dibandingkan dengan rasa sakit yang telah tergores di hatinya. Itu jauh lebih menyakitkan dan sampai kapan pun akan selalu teringat.


...Bersambung...


...Jangan lupa Vote & Comment ya, Readers......


...🙏🏻😊...


...Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2