
...🌷Selamat Membaca🌷...
Cklek
Maya membuka mata saat mendengar suara pintu terbuka. Senyumnya mengembang begitu melihat kemunculan sang suami. Namun, senyuman itu pudar saat melihat seorang wanita berjalan di belakang suaminya. Siapa wanita itu, pikirnya.
"Eh, sudah pada tidur." Fadhil tersenyum melihat Lingga dan Kei tertidur sembari memeluk sang ibu.
"Iya, Mas. Sepertinya mereka berdua mengantuk," jawab Maya. Matanya melirik ke arah seorang wanita dan anak kecil yang dibawa suaminya.
Menyadari pandangan sang istri, Fadhil pun berucap. "May, kenalkan ini temannya Mas."
"Sa, kenalkan ini istriku, Maya." Pria itu memperkenalkan kedua wanita yang belum saling mengenal itu.
Disa mengangguk, ia berjalan mendekati Maya dan menyodorkan tangannya, mengajak bersalaman. "Disa..."
Maya tersenyum ramah dan segera membalas uluran tangan teman suaminya. "Aku Maya, senang berkenalan denganmu."
"Aku juga," balas Disa. Ia memandang wajah cantik Maya. Walau sedikit pucat, tapi tidak mengurangi kecantikannya.
"Gadis cantik ini siapa?" Maya kemudian bertanya pada bocah perempuan yang setia berlindung di balik punggung sang ibu.
"Qilla, itu tante Maya bertanya." Disa menarik pelan tangan putrinya dan membawanya ke depan tubuh.
"Tante Maya ini adalah mamanya Kei. Ayo beri salam!" suruh Disa.
Mengetahui jika wanita itu adalah ibu dari temannya, Qilla pun tersenyum. "Hallo, Tante. Aku Qilla..." ucapnya malu-malu.
"Hai, Qilla..." Maya tersenyum menatap gadis kecil yang seusia dengan Kei.
Fadhil berjalan mendekati Maya. Ia mengusap pelan kepala wanita itu. "Sudah lebih baik, kan?" tanyanya.
Maya mengangguk. "Iya, Mas. Tubuhku sudah lebih bertenaga."
"Syukurlah. Sebelum kemari mas sudah bertemu dokter, katanya kau sudah boleh pulang. Kita pulang sekarang atau menunggu anak-anak bangun dulu?"
Maya melirik kedua anaknya yang tertidur pulas. Tak tega rasanya jika harus membangunkan mereka. "Tunggu mereka bangun saja, Mas."
"Baiklah, kalau begitu kau istirahat saja dulu. Jika anak-anak bangun nanti, mas beritahu."
"Iya, Mas."
"Kalau begitu aku langsung pamit saja, ya. Cepat sembuh ya, May." Disa memutuskan untuk pamit. Hatinya sedikit terusik melihat perhatian dan tatapan penuh cinta yang ditunjukkan Fadhil kepada istrinya. Ia jadi teringat kenangan tujuh tahun lalu, terbesit sedikit sesal kenapa dulu ia tidak bisa menerima pria itu. "Apa yang aku pikirkan?" Digelengkannya kepala, mengusir pemikiran aneh yang merasuki benaknya.
"Ya, terima kasih sudah menjengukku..." ucap Maya.
"Sama-sama, May. Mas, aku pamit, ya." Disa beralih menatap Fadhil.
__ADS_1
"Ya, perlu ku antar ke depan?" tawarnya.
"Tidak perlu, Mas. Aku sama Qilla saja."
"Oh, oke. Hati-hati."
Deg
Disa merasa sedikit kecewa karena Fadhil tak memaksa untuk mengantarnya. Biasanya pria itu akan bersikap begitu hangat dan perhatian, tapi sekarang... Huh, sudahlah. Tak ada yang perlu disesali. Semua sudah menjalani takdir masing-masing.
.......
Setelah keluar dari kamar Maya, Disa dan putrinya tidak langsung pulang. Disa membawa putrinya menuju kamar perawatan sang suami.
"Syukurlah, mereka tidak ada." Disa bernapas lega begitu mengetahui jika tidak ada mertua dan iparnya di sana. Itu tandanya ia bisa menjenguk suaminya itu.
"Ayo, Nak. Kita lihat papa."
Senyum terbit di wajah murung Qilla. "Iya, Ma. Ayo!" balasnya tak sabaran.
Qilla duduk di pangkuan Disa. Bocah itu terus berceloteh menceritakan
.......
Hari ini Ajeng berkunjung ke rumah mertuanya. Tidak ada alasan khusus, hanya ingin bersilaturrahmi sekalian membawa Dira jalan-jalan bertemu kakek dan neneknya. Sebelum ke sana, terlebih dahulu Ajeng singgah ke toko kuenya untuk membeli beberapa kue yang akan dibawa ke rumah orang tua Cakra. Ia tidak ingin bertamu dengan tangan kosong.
Ajeng menatap mertuanya. "Bu. Aku titip Dira sebentar, ya."
"Iya, tapi kau mau kemana?" Dira sudah berada di gendongan Tyas.
"Mau ke kamar mandi, Bu." Ajeng segera melesat pergi sembari menekan perutnya yang terasa nyeri.
Sampainya di kamar mandi, Ajeng langsung memeriksa bagian bawahnya. Terlihat jika saat ini pembalut yang dikenakannya masih bersih, tak ada noda setitik pun di sana, padahal kemarin ia kedatangan tamu bulanan.
"Kenapa tidak keluar lagi, ya? Apa haidku tidak lancar?" pikir Ajeng. Seharusnya, hari pertama dan hari kedua adalah hari di mana darah menstruasi keluar dengan volume banyak. Namun, tak ada lagi darah yang keluar setelah ia menemukan bercak merah di celana d*lamnya pagi kemarin.
"Sudah dua hari perutku kram, tapi haidku tak lagi keluar. Kenapa, ya?" Perasaan cemas menyusup di hati Ajeng. Ia takut jika ada sesuatu yang salah pada tubuhnya.
"Sebaiknya aku ke rumah sakit saja," gumamnya.
Ajeng keluar dari kamar mandi dan pergi menemui Tyas. Ia pamit izin keluar dan menitipkan sang anak pada mertuanya itu.
"Ada yang aneh dengan tingkah Ajeng, aku harus menghubungi Cakra," batin Tyas.
.... ...
Saat ini Ajeng sudah berbaring di ranjang sebuah rumah sakit yang biasa didatanginya dengan Cakra. Dokter terlihat sedang menggerakkan transducer di atas perut rata Ajeng yang sudah diolesi gel.
__ADS_1
"Bagaimana, Dok? Apa ada sesuatu yang menyebabkan kenapa haidku tidak lancar?" tanya Ajeng deg-degan. Ia berharap semoga itu bukan suatu penyakit yang berbahaya.
Dokter itu mengalihkan pandangan dari layar monitor menjadi menghadap pada Ajeng. "Selamat ya, Bu Ajeng..." ucap si dokter dengan senyum merekah.
"Selamat? Maksudnya bagaimana ya, Dok?" tanya Ajeng tak mengerti.
"Sekarang coba ibu lihat layar monitor!" pinta si dokter.
Ajeng pun menurutinya. Ia memperhatikan layar hitam yang menyala itu, seperti de javu.
"Titik kecil ini adalah calon anak Ibu. Usianya sudah 4 minggu."
Deg
Jantung Ajeng berdetak cepat. "Jadi maksud dokter saya hamil?" tanyanya memastikan.
"Iya, Bu. Anda hamil."
"Tapi, Dok... kemarin pagi saya kedatangan tamu bulanan."
Dokter terkejut. "Eh? Apa sampai saat ini darahnya masih keluar, Bu?"
Ajeng menggeleng. "Tidak, Dok. Hanya ada sedikit bercak darah pagi itu dan setelahnya tidak ada lagi. Saya pikir haid saya yang tidak lancar," jelasnya.
"Oh begitu..." Si dokter mengangguk paham. "Berarti yang keluar saat itu bukanlah darah haid melainkan flek. Apa belakangan ini Ibu sedang banyak pikiran?" tanya dokter.
Ajeng terdiam. Memang beberapa hari ini ia memikirkan banyak hal. Salah satunya adalah mengenai kehamilan. Ia takut membuat Cakra kecewa. Pria itu boleh saja mengatakan jika siap menunggu untuk memiliki anak sampai kurun waktu dua tahun, tapi Ajeng tahu jika dalam hati terkecil suaminya sudah sangat merindukan kehadiran seorang anak.
"Iya, Dok. Belakangan ini saya sedang banyak pikiran."
"Itulah yang menyebabkan munculnya flek dan juga kram di perut. Mulai saat ini usahakan agar Ibu tidak membebani pikiran dengan hal yang terlalu berat. Kehamilan di awal semester ini sangar rentan, jadi sebaik mungkin dijaga ekstra demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan," peringat si dokter.
"Iya, Dok. Saya akan mengingatnya."
"Baiklah, nanti saya akan memberikan vitamin dan juga obat penguat kandungan."
"Terima kasih, Dok."
"Sama-sama, Bu."
"Terima kasih atas anugerah ini, Tuhan..." lirih Ajeng. Ia mengelus perutnya yang masih rata. "Nak, mama tidak sabar untuk memberitahukan kabar bahagia ini pada papamu. Pasti dia akan merasa sangat senang."
...Bersambung...
Jangan lupa Like & Comment
Terima kasih sudah membaca😊
__ADS_1
In Shaa Allah besok di sambung lagi. Momen Cakra dan Ajeng.