
...🌷Selamat Membaca🌷...
Selama dua jam berputar-putar mencari keberadaan Ajeng, Radi tak kunjung menemukan keberadaan istrinya itu. Mau menelepon pun rasanya tak mungkin, karena tas Ajeng beserta ponselnya tinggal di rumah. Pria itu pasrah, hanya bisa berdo'a semoga istrinya baik-baik saja di mana pun dia berada.
Selanjutnya, Radi mengemudikan mobilnya ke sebuah rumah kosong, tempat di mana ia menyekap Bagas. Seperti permintaan Ajeng, ia akan membebaskan mantan sahabatnya itu. Berharap dengan dilakukannya ini, Ajeng bisa memaafkan sedikit kesalahannya.
Saat masuk ke dalam sebuah ruangan, Radi bisa melihat jika Bagas masih terikat di tempat duduk. Pria berambut hitam legam itu terlihat melamun. Namun, saat mendengar suara langkah kaki mendekat, ia pun mengangkat kepala, melihat siapa yang datang.
Bagas mengangkat kedua sudut bibirnya saat melihat keadaan Radi yang kacau dan lusuh. "Bagaimana keadaanmu?" tanya Bagas. Ia penasaran, apakah Tania sudah melaksanakan tugasnya atau belum, tapi melihat wajah yang ditunjukkan Radi sekarang, Bagas yakin jika Tania telah berhasil melaksanakan tugasnya.
"Apa sekarang kau senang?" Radi tak menjawab pertanyaan Bagas sebelumnya, dia malah balik bertanya begitu berdiri di hadapan mantan sahabatnya itu.
"Senang? Hm... ya, begitulah." Jawaban enteng Bagas membuat Radi tersenyum miris. Dulu Bagas menderita karenanya dan sekarang ia lah yang menderita karena ulahnya sendiri.
Radi mendekat, perlahan dibukanya ikatan yang ada di tangan juga kaki Bagas. Setelah itu, diseretnya sebuah bangku dan duduk tepat di samping suami Tania tersebut.
Radi duduk menumpukan kedua sikunya di paha dengan kedua tangan yang jari-jarinya saling menggenggam. "Apa mereka memperlakukanmu dengan baik?" tanyanya.
Bagas yang sibuk mengelus tangannya yang merah bekas terikat, lantas menoleh. Pria itu mendengus sebelum menjawab. "Ya... seperti tawanan lainnya, dengan jatah makan dua kali sehari."
"Maaf..." ucap Radi. "Maaf untuk kesalahanku di masa lalu dan maaf juga karena aku sudah menyekapmu di sini, hingga membuat istrimu khawatir."
Bagas hanya diam, kini akan ia coba untuk mendengarkan semua yang diucapkan oleh sahabat, -ralat mantan sahabatnya itu. Baik itu berupa pembelaan maupun keluh kesah.
"Ajeng sudah tahu semuanya."
Bagas tetap diam mendengarkan.
"Ajeng mengatakan jika dia membenciku. Dia kabur. Aku sudah mencarinya kemana-mana tapi tetap tidak ku temukan."
"Gas!"
"Hm?"
"Apa salah jika aku ingin mengasuh anakku bersama Maya?" tanya Radi.
Alis Bagas menyatu, kernyitan muncul di keningnya. "Maksudmu? Kau akan hidup bersama dengan dua orang wanita, seperti itu?"
Radi menggeleng. "Jujur saja, aku tidak punya perasaan apa-apa pada Maya. Aku hanya peduli pada anakku yang baru saja dilahirkannya. Salahkah bila aku membawa anak itu bersamaku dan mengasuhnya bersama Ajeng?"
"SALAH! Tentu saja salah. Pertama, kau salah karena akan memisahkan anak dari ibunya. Kedua, kau salah karena meminta istri sahmu mengasuh anakmu dengan wanita lain. Kau bisa berpikir tidak, sih? Jangan egois!" sungut Bagas emosi.
"Kau benar," lirih Radi.
"Lagi pula, jika kau tidak punya perasaan pada wanita itu, kenapa kau menghamilinya, eh?" sindir Bagas.
"Aku khilaf..."
"Khilaf kok sampai hamil, berapa kali kau melakukannya?" Walau pertanyaannya sedikit kurang ajar, tapi Bagas ingin tahu jawabannya. Dulu sekali, mereka sering berbagi apapun jadi rasa sungkan itu sudah terbuang jauh.
"Sekali."
"Apa? Gila kau. Aku berkali-kali melakukannya dengan Tania, baru tuh jadi si Arka, entah benih dari percobaan keberapa itu," ucap Bagas.
"Kau sudah punya anak?" Radi melotot tak percaya.
"Aku lebih unggul darimu. Putraku hampir satu tahun umurnya." Bagas membanggakan diri.
"Selamat!"
Entah kenapa, dengan perbincangan yang mengalir itu, keakraban keduanya perlahan kembali.
"Sejak kapan kau bertemu dengan wanita itu?" tanya Bagas setelah hening cukup lama.
"Kurang lebih delapan bulan yang lalu..."
.......
Malam ini Radi berkendara menuju Bandung untuk mengurus bisnisnya di sana. Di perjalanan, tak sengaja dirinya melihat seorang wanita tengah diganggu oleh dua orang preman. Sebenarnya Radi ingin mengabaikan, tidak ingin berurusan dengan mereka, cuma... jiwa penolongnya meronta. Akhirnya ia turun dari mobil dan menyelamatkan wanita itu.
Syukurlah, berkat sedikit teknik bela diri yang ia kuasai, Radi berhasil mengusir dua preman cemen itu.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Radi. Dilihatnya penampilan wanita itu yang kotor dan berantakan.
"Tuan, tolong bawa saya bersama anda." Tiba-tiba wanita itu bersujud di kakinya.
"Eh? Apa-apaan ini, bangunlah!" Radi berusaha membantu wanita itu berdiri.
"Tuan, tolong aku. Aku tidak punya siapa-siapa di sini. Aku lelah, kotor dan kelaparan," pintanya dengan wajah memelas.
"Tapi-"
"Tuan...."
"Baiklah... baiklah." Melihat si wanita menitikkan air mata, Radi jadi tak tega. Membayangkan jika Ajeng lah yang berada di posisi itu dan tidak ada yang menolongnya. Oh Tuhan, dia tak sanggup.
"Siapa namamu?"
"Maya."
"Saya Radi."
__ADS_1
Radi membooking dua kamar di salah satu hotel ternama di Bandung. Ia memberi makan dan juga pakaian baru untuk si wanita bernama Maya itu
.
Keesokan harinya, Radi berangkat ke kantor pagi-pagi sekali. Ada masalah yang cukup besar terjadi di cabang perusahannya di sana.
Sorenya, ia baru kembali ke hotel. Setelah membersihkan diri, ia mengetuk pintu kamar Maya untuk mengajaknya makan malam di restoran hotel.
"Kau baik-baik saja, Tuan?" tanya Maya kala melihat wajah Radi yang menyimpan beban.
"Ada masalah di kantor, sepertinya akan membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikannya."
Maya mengangguk, dan kembali melanjutkan makannya.
Tak lama setelah itu, ponsel Radi yang ada di atas meja berbunyi. Pria itu tersenyum lantas mengangkatnya.
"Halo sayang..."
"......."
"Masalahnya cukup berat, sepertinya aku akan lama berada di sini."
"..........."
"Bisa saja aku bolak balik Jakarta-Bandung, cuma... menyetir itu membuatku cukup lelah."
".........."
"Kau tahu kan, jika aku lebih suka menyetir sendiri daripada pakai sopir."
"........."
"Ya Tuhan, aku pasti juga akan sangat merindukanmu sayang..."
"..........."
"Jangan lupa makan ya, sayang. love you..."
TIT
"Siapa?" tanya Maya. Sedari tadi ia menyimak pembicaraan pria itu di telepon..
"Istriku."
"Oh..." Tersirat nada kecewa dalam suara Maya saat pria tampan di hadapannya mengatakan jika sudah memiliki istri.
"Lihat ini!" Tiba-tiba Radi menyodorkan ponselnya pada Maya. "Wanita ini adalah istriku. Dia cantik, bukan?" Radi pamer sambil menunjukkan foto Ajeng yang ada di ponselnya.
"Cantik sekali." Maya mengakui jika istri Radi sangat cantik. Ia merasa iri. Pria itu begitu memuja istrinya.
.
rumah.
"Kau bisa tinggal di sini."
"Terimakasih, Tuan." Maya langsung memeluk Radi untuk menyalurkan rasa senangnya.
"Oh, maaf." Dengan cepat Radi melepas pelukan itu.
Wajah Maya memerah. "Maaf, Tuan."
Mereka masuk ke dalam rumah dan melihat-lihat. Setelah itu Radi pamit pergi sebentar sementara Maya tetap tinggal untuk berbenah.
Tak sampai sejam Radi kembali membawa beberapa kantong plastik. Ada bahan makanan dan juga kebutuhan sehari-hari.
"Setelah ini aku akan pulang ke Jakarta." Saat menyantap makan malam, Radi mengatakan hal itu.
"Iya." Ada rasa sedih di hati Maya saat tahu akan berpisah dengan pria baik hati yang telah menyelamatkan hidupnya.
.
Radi sangat kecewa begitu mengetahui hujan lebat disertai badai tiba-tiba terjadi malam itu. Berita di televisi juga tengah menyiarkan berita bahwa terjadi banjir di beberapa sudut kota dan itu termasuk jalan yang akan dilalui oleh Radi saat pulang nanti. Terpaksa, dengan berat hati, pria itu membatalkan keberangkatannya ke Jakarta. Padahal... hatinya sudah menggebu, ingin bertemu sang istri demi melepas kerinduan.
"Saya rasa besok keadaan cuaca akan kembali normal." Maya datang dari dapur membawa dua cangkir kopi di dalam nampan. Ia menyerahkan secangkir pada Radi. "Minum dulu kopinya, Tuan. Dingin-dingin begini memang butuh yang hangat-hangat."
Mata Radi melotot menatap Maya. Wanita itu muncul dengan menggunakan gaun malam yang sedikit seksi. Memang tidak menerawang seperti yang sering dipakai Ajeng, cuma menurutnya gaun itu terlalu pendek hingga paha mulus wanita itu terumbar gratis. Bukankah Maya mengatakan jika udaranya dingin, lantas mengapa ia malah mengenakan gaun malam yang super pendek. Tidakkah paha wanita itu kedinginan? Lagian, baju apa yang dipakainya itu? Dan dari mana dia mendapatkannya?
"Itu baju siapa?" tanya Radi setelah menyeruput sedikit kopinya. Pria itu berusaha mengalihkan matanya supaya tidak menatap tubuh molek Maya, bagaimana pun juga ia tetap pria yang memiliki nafsu jika di hadapakan dengan hal-hal berbau erotik.
"Ah... aku menemukan ini di dalam lemari. Mungkin milik penghuni sebelumnya yang sengaja ditinggalkan."
"Oh..." Radi berusaha meredam gairahnya. Tetapi, malam-malam panasnya bersama Ajeng yang terlintas, membuatnya semakin tegang. "Ajeng... aku butuh kamu." batinnya kacau.
"Ahhh..." Tiba-tiba Maya menjerit, namun di telinga Radi itu terdengar seperti suara desahan. Demi melihat apa yang terjadi, Radi menoleh ke arah Maya.
"Ada apa?"
"Aku tak sengaja menumpahkan kopinya, panasss..." Maya berdiri dan langsung membuka jubah gaun malamnya yang terkena tumpahan.
Deg
__ADS_1
Radi menelan sulit air ludahnya. Kini tampaklah pemandangan indah tubuh Maya. Ternyata, di balik jubah, ada gaun bertali tipis dengan belahan dada yang sangat rendah. Kedua bulatan sintal Maya menyembul setengahnya, dan jika ditelisik lebih jauh lagi, bisa dipastikan jika wanita itu tidak mengenakan bra di dalamnya, puncak dadanya terlihat samar.
Napas Radi memburu, hasratnya sudah melambung tinggi. Sesuatu yang tertahan di bawah sana minta segera dipuaskan. Langsung saja pria itu menerjang Maya dan pergulatan panas pun terjadi di atas sofa ruang tamu lalu berlanjut ke kamar. Maya, wanita itu tampak senang dan begitu menikmati.
"Ajeng..." Radi mengerang panjang saat mencapai puncaknya. Pria itu langsung jatuh terlelap di samping Maya setelah mendapatkan kepuasan.
.......
"SHIT! Sekarang aku tahu, kau adalah tipe pria bajingan yang tidak tahan apabila disuguhi ikan segar," umpat Bagas setelah mendegar keseluruhan cerita Radi.
"Kurang ajar..." Radi mengeplak kepala Bagas. "Kau pikir aku kucing!"
"Iya, kau memang kucing, suka menebar benih ke sembarang betina!" ejek Bagas kesal.
Radi berdecak. "Coba saja kau berada di posisiku saat itu. Aku tak yakin kau akan bisa menahannya."
"Jangan samakan aku dengan dirimu. Aku tidak akan menolong wanita itu seperti kau menolongnya. Palingan aku akan memberikannya segepok uang dan husss... pergi."
Radi mendumel. Perkataan Bagas memang benar. Tidak seharusnya ia menolong Maya sampai seperti itu. Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur, kini yang bisa ia lakukan hanyalah membuat bubur itu terasa enak sehingga bisa di makan. What?
"Apakah benar, kau cuma sekali melakukannya?" selidik Bagas.
"I Swear, aku hanya melakukannya sekali."
"Hmm..."
"Awalnya aku tidak percaya jika wanita itu hamil anakku, soalnya aku juga bukan lelaki pertamanya. Bisa saja kan dia sudah hamil terlebih dahulu sebelum melakukannya denganku?"
Kini giliran Bagas yang mengeplak kepala Radi. "Berani berbuat harus berani bertanggung jawab!"
"Iya, setelah itu aku sadar. Aku memilih bertanggung jawab. Selama berkunjung ke Bandung aku tak lagi menginap di hotel tapi menginap di tempat Maya. Tapi aku sama sekali tidak melakukan hal itu lagi dengannya, aku hanya ingin memperhatikan kandungannya. Bagaimana pun juga itu darah dagingku."
"Dan katamu tadi anak itu sudah lahir?"
"Iya..."
"Bukannya belum genap sembilan bulan?"
"Hm, entahlah. Katanya pendarahan hingga bayi itu harus segera dikeluarkan."
"Apa kau pernah menemani wanita itu periksa kandungan?"
"Tidak."
"Jadi kau hanya mendengar itu dari mulutnya saja?"
"Iya."
"Hm..."
.......
Cakra masih setia menunggu Ajeng siuman. Sudah dua jam tapi wanita itu belum juga bangun.
"Engghhh..."
Cakra terperanjat saat mendengar lenguhan Ajeng. Ia menatap wanita yang perlahan membuka matanya.
"A-aku di mana?"
"Kau di rumah sakit."
Ajeng yang mendengar suara itu langsung menajamkan pandangannya yang semula buram. "Mas Cakra?"
"Iya, ini aku. Bagaimana keadaanmu, sudah lebih baik?"
"A-aku..." Ajeng terdiam. Ia teringat sesuatu. "Mas, bagaimana dengan kandunganku?" tanyanya cemas.
"Kandunganmu baik-baik saja, cuma sangat lemah. Kata dokter kau harus menginap di sini dulu untuk tiga hari ke depan dan ya, jangan lupa kau harus bed rest," jelas Cakra.
"Iya. Apa kau yang menyelamatkanku?"
"Hm. Aku menemukanmu di jalan. Apa semuanya baik-baik saja?"
Ajeng tak menjawab. Air matanya tiba-tiba mengalir begitu saja.
"Ada apa, Jeng?" tanya Cakra panik.
"Tidak apa-apa." Ajeng terus menangis. Cakra memilih bangkit dan meninggalkan Ajeng seorang diri. Ia pikir wanita itu memang butuh sendiri saat ini. Entah apa yang telah terjadi, Cakra ingin sekali menolongnya.
Sampai di luar, Cakra duduk di bangku tunggu. Ponselnya bergetar, Silvia menelpon.
"Aku tidak pulang malam ini."
TIT
Setelah mengatakannya Cakra memutuskan sambungan tanpa membiarkan Silvia di seberang sana berbicara sepatah kata pun lagi.
...Bersambung...
...Jangan lupa Vote & Comment ya, Readers......
__ADS_1
...🙏🏻😊...
...Terima kasih...