2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Ekstra Part 2


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Sebelum makan malam, Cakra pergi melihat Dira di kamarnya. Pria itu mengetuk pintu beberapa kali, tapi tak terdengar jawaban apapun dari dalam. Merasa cemas, ia langsung menekan knop dan ternyata pintunya tidak dikunci. Ia melangkah masuk dan menemukan ruang tidur putri sulungnya gelap gulita tanpa ada pencahayaan sedikitpun. Cakra bergerak mencari saklar lampu dan menghidupkannya, seketika ruangan itu menjadi terang dan tampaklah gundukan selimut yang menyembunyikan tubuh Dira. Dihampirinya tempat tidur gadis yang mulai beranjak dewasa itu.


"Dira..." panggil Cakra. Ia duduk tepat di samping tubuh putrinya.


Tidak ada jawaban, Dira masih setia bersembunyi di balik selimut. Sesekali terlihat tubuh itu bergetar.


"Sayang, sini cerita sama papa. Apa yang terjadi?" tanya Cakra lembut.


Selimut perlaham tersingkap, Dira muncul dengan keadaan menyedihkan. Rambutnya kusut, wajahnya merah dan matanya sembab.


"Papa..." Gadis cantik itu langsung menghambur memeluk sang ayah. Disembunyikan wajahnya di dada pria yang sudah membersamainya sedari dalam kandungan. "Papa... Alvin jahat, dia punya selingkuhan di belakang aku, hiks..." kadu Dira.


Selingkuhan? Berasal dari kata selingkuh. Mendengar kata keramat itu, Cakra seperti terlempar ke masa lalu. Di mana karena kata itulah ia dan Ajeng bisa bersama. Bukan suatu keberuntungan menjadi korban perselingkuhan, tapi itu bisa membuka mata kita bahwa seseorang yang sedang bersama kita tidak layak untuk dipertahankan.


"Hatiku sakit, Pa. Aku sangat menyayangi Alvin, tapi kenapa dengan teganya dia mencari gadis lain, hiks." Dira terus mengeluarkan sesak di hatinya. Ia bercerita sambil sesekali terisak.


Cakra hanya diam mendengar keluh kesah dari putrinya yang baru pertama kali patah hati.


"Tadi... aku melihatnya di belakang gedung bioskop sedang berciuman dengan gadis lain, hiks."


Cakra tersentak. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Didorongnya pelan tubuh sang putri agar ia bisa menatap wajah duplikat sang istri.


"Dira, papa ingin bertanya satu hal sama kamu," kata Cakra. Ia menatap intens ke dalam mata putrinya.


"Hiks, tanya apa, Pa?" Dira balik menatap wajah sang ayah.


"Kamu..." Cakra terlihat sedikit ragu untuk menanyakan apa yang saat ini sedang berseliweran di kepalanya.


"Hiks, hiks... papa mau tanya apa?" Dira menjadi heran melihat Cakra hanya diam menatapnya tanpa melanjutkan apa yang ingin dia sampaikan.


"Sudah sejauh mana hubungan kamu dengan si Alvin-Alvin itu?" tanya Cakra. Ia berhasil mencari kalimat yang lebih halus dibandingkan dengan apa yang dipikirkannya sebelum ini.


Dira memiringkan sedikit kepalanya ke arah kanan, berpose seperti orang bingung. Dan itu terlihat sangat menggemaskan di mata Cakra. "Kami hanya berpacaran, Pa. Belum memutuskan untuk menikah, itu masih jauh."


Deg


Cakra terganga mendengar jawaban polos sang anak. Sepertinya Dira tidak paham dengan pertanyaan yang ia ajukan. "Ma-maksud papa bukan begitu, Nak..." Cakra jadi bingung sendiri harus menjelaskan maksud dari pertanyaannya.


"Lalu?" Isakan Dira hilang seketika, berganti dengan rasa penasaran menunggu kelanjutan pembicaraannya dengan sang ayah.


Pria beranak empat itu menghirup napas sejenak, lalu menghembuskannya perlahan. Baiklah, sekarang ia siap untuk menanyakannya lebih lanjut.


"Hm... kamu dan dia selama pacaran pernah ngapain aja?" tanya Cakra kali ini.

__ADS_1


Pikiran Dira sedikit menerawang, mengingat semua kenangan yang sudah dilewatinya bersama Alvin. "Kita pernah pergi makan, nonton, dan..." kalimat Dira terhenti dan hal itu membuat Cakra menghentikan napas. Takut jikalau kalimat selanjutnya adalah kata-kata yang tak ingin dia dengar.


"Berangkat sekolah bareng..."


What the...?


Cakra mneghela napas lega. Setidaknya ia tidak mendengar jika putrinya itu pernah ke hotel, yaitu tempat langganan yang menjadi persinggahan bagi pasangan yang ingin berbuat dosa, bagi yang belum menikah.


"Oh iya, waktu itu Alvin pernah ngajak aku ke hotel."


Deg


"Apa?" Belum semenit Cakra merasa lega, sekarang ia harus mendengar kalimat yang membuatnya seperti disambar petir. "Gila! Untuk apa si brengshake itu ngajak kamu ke hotel? Dia tidak melakukan sesuatu yang aneh sama kamu kan, Nak?" tanyanya panik.


Dira tertawa melihat wajah panik sang ayah. "Papa tenang aja, Dira menolak kok waktu dia ngajak ke hotel."


Tubuh Cakra langsung lemas, putrinya ini memang paling bisa membuatnya jantungan. "Ya Tuhan, Nak. Kamu membuat papa takut saja."


Gadis itu terkekeh. "Mungkin itulah yang membuatnya selingkuh, Pa. Dia bilang kalau aku ini cewek sok suci karena aku selalu menolak saat dia ingin menyentuhku, baik itu hanya pegangan tangan saja."


"Ingat pesan papa, Nak! Jangan pernah menyerahkan apa yang seharusnya kamu jaga pada seseorang yang tidak berhak untuk itu!" peringat Cakra. "Seorang laki-laki, jika dia benar-benar mencintai dan menyayangimu maka dia akan menjaga dan melindungimu, bukan berniat merusak seperti apa yang dilakukan oleh mantan pacarmu itu. Seharusnya kamu bersyukur bisa terlepas dari laki-laki tidak baik seperti itu," jelasnya.


Dira mengangguk. Ucapan ayahnya seratus persen benar. Perlahan, rasa sakit hatinya atas pengkhianatan Alvin mulai menguap, berganti dengan rasa lapar yang mendera perutnya yang belum sempat terisi sedari siang.


Cakra tersenyum dan mengacak surai halus sang putri. "Ayo makan! Mama sudah menyiapkan makan malam untuk kita. Benahi dulu penampilanmu, kami akan menunggu di bawah."


"Siap, Bos." Dira segera bangkit dan melesat menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.


Selepas kepergiaan si sulung, Cakra termenung sejenak. "Memiliki satu anak gadis saja rasanya sangat sulit. Lah, ini aku punya tiga anak gadis yang harus kujaga dan kulindungi dari para buaya di luaran sana. Nasib..." gumamnya.


...****************...


Semuanya sudah berkumpul di meja makan, mereka belum memulai makan malam karena masih menunggu kedatangan Dira.


"Mas, kamu yakin kalau Dira baik-baik saja? Kenapa sampai sekarang dia belum turun juga?" tanya Ajeng cemas.


"Tenang, sayang. Sebentar lagi dia juga akan turun, kok..." balas Cakra.


Benar saja, tak lama kemudian Dira memasuki ruang makan. Penampilannya terlihat segar karena habis mandi.


"Maaf karena sudah membuat semuanya menunggu..." ucap Dira. Ia menarik kursi yang berada di sebelah Aleeya dan mendudukinya.


Ajeng menatap putrinya sejenak. Wanita yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah berkepala empat itu menghembuskan napas lega. Sepertinya Cakra berhasil membujuk Dira hingga kini putrinya itu terlihat baik-baik saja.


"Tunggu apa lagi, ayo kita mulai makan. Aroma masakan ratu kita membuat air liur ini tak berhenti menetes," celetuk Cakra.

__ADS_1


"Papa lebay..." ejek Eya. Anak kedua di keluarga itu langsung menyendok nasi ke dalam piringnya, tak lupa dengan lauk ayam goreng crispy kesukaannya, berikut sambal matah sebagai pelengkap.


"Makan juga sayurnya, Eya!" pinta Ajeng. Putrinya yang satu ini adalah penggila pedas dan tidak suka sayuran. Jadi kadang ia harus dipaksa untuk memakan sayuran agar asupan seratnya tetap terjaga.


"Nggak mau, Ma. Nanti bisa merusak cita rasa makananku," elaknya.


"Lebay lu, Kak!" Arsha dengan jahil langsung memasukkan dua sendok sayur bayam ke dalam piring sang kakak.


"Arsha!" pekik Eya kesal.


"Anak-anak, jangan ribut di depan makanan. Itu tidak baik!" Cakra mengingatkan.


"Maaf, Pa." Eya dan Arsha mengucap bersamaan. Mereka sering kali diperingati, tapi sering pula melanggar. Ya, memang seperti itulah anak-anak.


Sementara di sisi lain, ada Arshi yang tengah melongo memerhatikan seseorang yang duduk di seberangnya.


"Laper banget, Kak?" tanya Arshi takjub begitu melihat piring Dira penuh dengan nasi dan berbagai macam lauk pauk. Terlihat seperti semua yang terhidang di meja makan, ada di dalam piringnya, tapi dalam versi mini.


Semua orang menatap ke arah Dira dan beralih ke piringnya.


"Wow... bukitnya tinggi sekali!" ucap Arsha ketika melihat tumpukan makanan di piring sang kakak.


Bughhh


"Aww..." rintih Arsha begitu merasakan tendangan lumayan keras pada kakiknya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan saudari tercintanya, Aleeya Queen Adibrata. "Resek lo, Kak!" ucapnya sembari melototkan mata.


"Makanlah, Nak! Jangan hiraukan adik-adikmu yang suka membuat keributan itu," kata Cakra.


"Iya, Pa." Setelah berdo'a, Dira langsung menyantap makanannya dengan nikmat. Disusul dengan yang lain.


Ajeng masih memerhatikan si sulung. "Tumben Dira makan banyak sekali, biasanya ia makan sedikit karena diet," pikirnya heran.


Dira adalah tipe perempuan yang berat badannya mudah naik. Jika pola makannya tidak diatur, maka jangan heran jika tubuhnya akan gemuk dengan cepat.


...Bersambung...


Jangan lupa Like, Vote & Comment


Terima kasih sudah membaca🙏🏻😊


Aku ingin membuat sedikit cerita tentang anak-anak tokoh yang sudah beranjak dewasa. Bagaimana jika aku tulis season 2nya di sini? Apa ada yang setuju?


Comment, please!


Dan ya, aku punya cerita baru. Judulnya SUGAR BABY. Bagi yang ingin baca, silakan lihat di profilku. Terima kasih😁

__ADS_1


__ADS_2