2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Season 2 - 3. Ke Rumah Ayah


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


"Kak Dira!"


Dira yang baru saja akan menaiki mobil dikejutkan dengan sebuah suara yang memanggilnya. Ia menoleh dan melihat seorang cowok tengah berlari sembari melambaikan tangan kepadanya.


"Rayyan?" gumam Dira. Rayyan adalah adik Dira. Mereka satu ayah, tapi lain ibu.


"Kak, gue nebeng pulang, ya?" pinta cowok berkacamata itu pada Dira.


"Oh, boleh. Tumben lo nggak bawa motor?" Dira sama sekali tidak keberatan jika harus mengantarkan adiknya pulang, toh rumah mereka juga searah.


"Hm, lagi di bengkel, Kak. Kemarin gue jatuh dan rangka depannya sedikit rusak. Jadi belum sempat gue jemput," jawab cowok bernama Rayyan itu.


"Jatuh? Tapi lo nggak apa-apa, kan?" tanya Dira khawatir. Ia menelisik penampilan sang adik. Namun, tak menemukan satu luka pun.


"Gue nggak apa-apa, cuma jatuh biasa." Rayyan tersenyum mendapati jika sang kakak begitu peduli padanya.


"Syukurlah, ya udah... masuk sana! Duduk di depan sama Pak Anto!" titah Dira.


"Oke, Kak."


Rayyan memasuki mobil, lewat spion ia bisa melihat Eya yang duduk di bangku belakang, tengah sibuk bermain ponsel.


"Sibuk banget lo?" sapa Rayyan.


Hening...


Eya tidak menggubris sapaan Rayyan. Ia masih asyik dengan benda pipih di tangannya. Namun, tepat saat Dira masuk dan duduk di sebelahnya, barulah gadis itu mengangkat kepala. Ia melepas earphone bluetooth yang menyumbat kedua lubang telinganya. Pantas saja saat Rayyan menyapa gadis itu tak menyahut.


"Ngapain lo lama banget di luar, Kak?" tanya Eya pada Dira. Ia sudah cukup lama menanti di dalam mobil.


"Tuh!" Dira menunjuk Rayyan yang duduk di bangku depan dengan dagunya.


"Eh, sejak kapan lo di sini, Yan?" tanya Eya begitu melihat penampakan cowok sebayanya.


Rayyan mendengus. "Sejak lo sibuk sama tuh ponsel! Lagian liat ponsel gitu amat, lagi chat sama gebetan, ya?" celetuk Rayyan, iseng.


Eya mencebik. "Gebetan? Gue nggak lagi naksir siapapun," jawabnya.


"Oh, mau gue kenalin sama sahabat gue, nggak? Dia kayaknya tertarik sama lo!"


Eya menggeleng. "Nggak deh, makasih. Gue belum kepikiran soal cinta-cintaan. Ribet!"


Mendengar ucapan adiknya, Dira merasa sedikit tersindir. Memang benar, cinta itu ribet. Lihatlah, Eya! Hidupnya santai, aman dan tentram tanpa harus memikirkan cowok. Ia hanya fokus pada kebahagiaan dirinya sendiri.


"Jalan, Pak!" kata Dira. Jika keterusan mengobrol, mereka tidak akan sampai di rumah.

__ADS_1


Mendengar perintah anak majikannya, Pak Anto pun mulai melajukan mobil BMW hitam itu meninggalkan SMA Garda Satya. Salah satu sekolah elit yang ada di kota mereka. Hanya anak orang kaya juga anak-anak berprestasi yang bisa masuk ke sana.


...****************...


Akhirnya mereka sampai di kediaman Nugraha.


"Kakak sama Eya mau mampir dulu, nggak?" tanya Rayyan sebelum turun dari mobil.


Dira dan Aleeya saling berpandangan. "Dek, gue mampir dulu, ya. Kangen sama ayah,. Lo mau langsung pulang atau ikut sama gue?" tanya Dira yang memutuskan untuk singgah sebentar di kediaman ayah kandungnya.


"Ikut deh, Kak. Sekalian main, bosan gue di rumah mulu." Eya menjawab.


Mereka bertiga keluar dari mobil dan langsung memasuki rumah bertingkat dua tersebut. Rayyan lebih dahulu berlari masuk. Ia menyapa bundanya sepintas, lalu segera melesat menuju kamar. Biasalah, sudah tidak sabar untuk bermain game. Saking candunya, sampai harus berkacamata karena terlalu sering berada di depan PC gamingnya.


"Selamat sore Bunda..." sapa Dira dan Eya begitu menemukan Rina sedang duduk santai sembari membaca sebuah novel.


Wanita yang menggunakan kacamata baca itu segera mengangkat kepala, melihat siapa yang datang.


"Eh, ada dua anak gadis bunda. Apa kabar kalian?" Rina langsung menutup novelnya dan bangkit menyambut kedatangan Dira dan Eya.


"Kami baik, Bunda. Bunda bagaimana kabarnya?" Dira balik bertanya.


"Seperti yang bisa kalian lihat." Rina tersenyum dan mengajak dua gadis itu untuk duduk. "Sebentar ya, bunda ambilkan minum ke belakang."


Dengan cepat Dira langsung menahan tangan Rina agar tidak pergi. "Nggak usah, Bunda. Nanti kami ambil sendiri," tolaknya. Dira sering menginap di kediaman Nugraha, jadi ia sudah terbiasa. Sementara Eya dan si kembar, hanya sesekali bertandang ke rumah om mereka itu.


"Ayah belum pulang ya, Bunda?" tanya Dira.


"Apa? Ayah sakit apa, Bun? Sekarang bagaimana keadaannya?" tanya Dira panik begitu mengetahui jika sang ayah sakit.


"Kamu lihat aja sendiri, gih. Ayah pasti senang melihat kehadiranmu!" pinta Rina.


"Ya udah, aku izin ke kamar ayah ya, Bun?" pamit Dira.


"Iya, Nak. Pergilah!"


"Eya, lo temani bunda di sini, ya?" kata Dira.


"Ok."


Selepas Dira pergi, tinggallah Eya dan Rina. Karena tidak menyukai keheningan, Eya lantas bertanya.


"Mas Reyhan di mana, Bun?" tanyanya.


"Jam segini biasanya dia sudah pulang, mungkin ada urusan di kampus hingga sampai sekarang belum pulang juga," jawab Rina.


"Hm, berarti kalau ayah kerja, Rayyan sekolah dan Mas Reyhan juga ngampus, bunda tinggal di rumah sendiri dong, ya?" tanya Eya lagi.

__ADS_1


"Ya, kalau udah sendiri di rumah, bunda biasanya memilih istirahat atau mencoba resep-resep baru. Oh ya, bunda tadi membuat risoles ragout, Eya mau?" tawar Rina.


"Mau dong, Bun."


"Oke, ikut bunda ke dapur, yuk! Kita goreng lagi untuk camilan nanti," ajak Rina.


"Ayo, Bun."


...****************...


Tok... tok... tok...


Dira mengetuk pintu kamar ayahnya, Radi. Tak lama terdengar samar sebuah suara yang memintanya masuk.


Cklek


Dira membuka pintu perlahan, dan melangkah masuk. Ia biarkan pintu tetap terbuka.


"Ayah..." panggil Dira pada pria yang sedang terbaring di tempat tidur sembari memejamkan mata.


"Dira, kamukah itu, Nak?" Mendengar suara sang putri, Radi langsung membuka mata. Bibir pucat pria itu melengkung ke atas kala melihat kemunculan putri sematawayangnya.


"Iya. Ayah sakit apa? Kenapa tidak mengabariku?" Dira duduk di samping tubuh Radi.


Radi mencoba bangkit, karena sedikit kepayahan, Dira membantunya. Kini ia bersandar di kepala tempat tidur.


"Ayah nggak apa-apa, sayang. Cuma demam biasa," jawab Radi.


Dira menatap wajah sayu ayahnya. Ia merasa kasihan, andaikan ia tinggal di sini, pasti dirinyalah yang akan merawat sang ayah. "Ayah udah makan? Udah minum obat?" tanya Dira. Ia menggenggam tangan Radi dengan erat. Masih terasa panas.


"Ayah sudah makan dan minum obat, kok."


"Badan ayah masih panas, kita ke rumah sakit aja yuk, Yah!" kata Dira khawatir.


Radi menggeleng. "Nggak usah, Nak. Ayah sudah tidak apa-apa. Cuma butuh istirahat saja."


"Hm, baiklah. Sekarang ayah tiduran lagi aja. Aku akan menjaga ayah di sini."


"Terima kasih ya, sayang."


"Ayah tidak perlu berterima kasih, ini sudah kewajibanku sebagai anak." Dira mencium tangan ayahnya sebagai bentuk rasa hormat.


Radi tersenyum, ia sangat beruntung mendapatkan putri sebaik dan seperhatian Dira.


"Hm... ayah pasti akan cepat sembuh jika obat penawarnya sudah berada di sampingnya," gumam seorang pemuda yang berdiri di ambang pintu menyaksikan adegan mengharukan itu.


...Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Vote & Comment


Terima kasih sudah membaca🙏🏻😁


__ADS_2