
...🌷Selamat Membaca🌷...
Tubuh Rina bersandar lemas di belakang pintu kamarnya. Ia tak pernah menduga jika malam ini akan mendapatkan lamaran dadakan dari sang majikan.
"Kenapa harus aku?" lirihnya galau.
Jujur dari dalam hati terdalam, Rina sangat mengagumi Radi. Pria itu begitu baik dan penyayang, hanya saja... kalau mengingat apa yang pernah dilakukan pria itu terhadap istrinya terdahulu, membuat Rina trauma. Ajeng yang cantik, kaya, berpendidikan dan memiliki banyak kelebihan saja bisa dikhianati oleh Radi, apalagi dirinya yang hanya seorang perempuan kampung, berpendidikan rendah, janda dengan satu orang anak, dan berprofesi sebagai pembantu pula. Ah... apa majikannya itu tidak akan merasa malu beristrikan wanita penuh kekurangan seperti dirinya ini.
Trauma masa lalu masih membekas jelas di hati dan benak Rina, yaitu kala suaminya sendiri mengkhianatinya dan menikah diam-diam dengan seorang janda beranak dua di kota. Ia tidak ingin hal itu terulang kembali jika ia menerima pinangan Radi. Bukannya ia tidak tahu diri karena menolak lamaran majikannya, tapi sungguh... Rina tak ingin disakiti lagi. Ia juga tidak ingin Reyhan yang mulai mengerti banyak hal ikut menderita juga.
"Buna, yayah Lehan mana?" (Bunda, ayah Reyhan di mana)
Menatap wajah polos putra sematawayangnya yang terlelap tidur, Rina jadi teringat pertanyaan si kecil Reyhan beberapa waktu lalu. Bocah itu menanyakan di mana keberadaan ayahnya. Dia penasaran setelah melihat keakraban yang terjalin antara Radi dan Dira. Apalagi saat mendengar jika Radi menyebut dirinya dengan panggilan ayah setiap mengajak Dira bicara.
"Ayah Reyhan sedang pergi jauh, nanti ayah akan pulang dan membawa mainan yang banyak untuk Reyhan."
Hanya kalimat itu yang bisa diucapkan Rina sebagai jawaban atas pertanyaan sang anak, dan untung saja Reyhan tak banyak bertanya lagi akan masalah itu. Rina tidak ingin terus membohongi Reyhan dengan mengatakan kalimat manis bahwa ayahnya akan datang membawa mainan padahal sebenarnya sang ayah tidak peduli pada dirinya bahkan saat ia masih berada di dalam kandungan. Rina tidak ingin melukai hati putranya dengan mengatakan kejujuran yang menyakitkan itu.
.......
Keluarga Alfarendra baru saja selesai makan malam. Maya yang akan membereskan meja makan langsung dicegah oleh ibu mertuanya.
"May, lebih baik kau tidurkan saja Kei dan Lingga. Biar ibu yang membereskan semua ini," ucap Bu Maryam.
"Lebih baik ibu istirahat, biar aku yang membereskannya," tolak Maya. Ia tidak mungkin membiarkan mertuanya yang sudah berumur itu untuk bekerja walau hanya sekedar mencuci piring. Ia merasa seperti menantu kurang ajar. Selain itu di rumah ini tidak ada pembantu, jadi semua harus dilakukan sendiri.
Bu Maryam melirik ke arah Kei, bocah perempuan itu mengerti dan langsung mengedipkan sebelah matanya. Dua orang itu seperti merencanakan sesuatu.
"Mama, Kei ngantuk. Mau ditemani tidur sama mama dan dedek Lingga..." rengek Kei.
"Pergilah, May! Temani anak-anak tidur, kasihan mereka sudah mengantuk."
"Baiklah, Bu." Akhirnya Maya mengalah, ia tidak tega melihat Kei yang sudah menguap beberapa kali.
__ADS_1
"Ayo, sayang..." Maya menggandeng tangan Kei dan Lingga berada dalam gendongannya. Mereka berjalan menuju kamar.
Bu Maryam segera membereskan bekas makan mereka sementara Fadhil memilih untuk duduk di ruang tengah menyaksikan siaran berita di televisi.
Sepuluh menit berlalu, Bu Maryam masuk ke ruang tamu dan menghampiri Fadhil dengan secangkir kopi di tangannya.
"Nak, ini kopimu!" Wanita tua itu meletakkan kopi di hadapan sang anak.
"Terima kasih, Bu." Setiap malam, Fadhil memang suka mengonsumsi minuman berkafein itu.
"Minunlah, Nak! Setelah itu pergilah ke kamar dan beristirahat, kau terlihat sangat letih," ucap Bu Maryam. Sekilas, terlihat senyuman misterius terbit di wajah tua Bu Maryam saat Fadhil mulai menyeruput kopinya.
"Iya, Bu. "
.......
Maya terbengong saat Kei sudah terlelap tidur padahal biasanya gadis kecil itu akan memintanya membacakan dongeng terlebih dahulu baru bisa tidur. Sementara Lingga, bayi itu memiliki tabiat jika sudah menempel di bantal, maka akan langsung tertidur.
"Sepertinya mereka berdua memang sangat mengantuk," gumam Maya. Sebelum pergi, wanita itu memberikan ciuman selamat malam di masing-masing kening putra-putrinya. Lingga sengaja ia biarkan tidur di sana untuk menemani Kei. Tak lupa ia meletakkan guling di samping tubuh mereka berdua agar tidak jatuh dari atas tempat tidur.
Maya melepas seluruh kain yang melekat di tubuhnya, sebelum mengguyur tubuhnya dengan air dingin, wanita itu menatap sejenak wajahnya di cermin wastafel. Wajah putih itu tampak merona, matanya sayu, serta bulir keringat terlihat mengalir di pelipisnya.
"Ahh... aku ingin." Tangan Maya bergerak menyentuh setiap bagian tubuhnya. Wanita itu merasakan jika gairahnya melonjak dan minta dipuaskan. Maklum, sudah lama ia tidak merasakannya, dan bisa jadi saat ini ia sangat mendambaakan sentuhan itu. Maya tidak tahu kalau sebenarnya makanan yang dikonsumsinya tadi menggandung obat perangsang.
Tak jauh berbeda dengan Maya, Fadhil juga merasakan ada hal yang berbeda dengan tubuhnya. Ia merasakan libidonya meningkat pesat dan ingin segera dituntaskan. Selama bertahun-tahun ia bisa menahannya, tapi malam ini... ia sungguh menginginkan pelepasan.
"Bu, aku ke kamar duluan..." pinta Fadhil dengan suara yang terdengar berat.
"Ya, Nak. Selamat bersenang-senang!"
"Hm..." Fadhil tak mendengar dengan jelas apa yang diucapkan ibunya itu. Ia langsung berlari memasuki kamar.
Sesampainya di kamar, Fadhil tak mendapati sosok Maya. Pria itu langsung bergegas ke kamar mandi untuk mendinginkan tubuhnya yang sangat panas. Sebenarnya ia bisa saja menuntaskan hasratnya pada Maya yang berstatus sebagai istrinya, tapi mengingat jika wanita itu memiliki pria lain yang dicintainya, Fadhil memilih untuk tidak melakukannya, walaupun jujur saja ia sering tergoda melihat Maya yang memiliki tubuh sintal dan seksi.
__ADS_1
Cklekk
Deg
Mata Fadhil membulat melihat penampakan di depannya. Maya berdiri di depan wastafel tanpa mengenakan sehelai benang pun di tubuhnya.
"M-mas Fadhil?" Maya yang kaget melihat kemunculan Fadhil langsung menutupi kedua aset berharganya menggunakan tangan.
"Ma-may..." Pandangan Fadhil mulai menggelap tertutup kabut gairah. Penampilan menggoda Maya membuatnya tak sanggup lagi menahan hasrat dalam dirinya. Ia melangkah cepat ke arah Maya dan segera mendorong tubuh istrinya itu ke tembok lalu menciumnya secara kasar.
Awalnya Maya kaget mendapat serangan yang begitu tiba-tiba, tapi karena pengaruh obat yang masuk ke dalam tubuhnya, membuatnya terbuai dan berakhir dengan membalas setiap perlakuan yang diberikan Fadhil padanya.
Setelah sekian lama, pasangan suami istri itu akhirnya bisa menikmati malam pertama mereka yang tertunda.
.......
"Oma, apa Kei akan segera punya adik?"
Di dalam kamar Kei, terlihat bocah itu sedang berbincang dengan omanya.
"Iya, sayang. Kei berdo'a saja ya, agar mama dan papa bisa segera memberikan adik untukmu dan Lingga. Oh ya, akting cucu oma tadi sangat bagus, loh dan sangat meyakinkan. Saat besar nanti, oma yakin kau bisa menjadi artis terkenal," ucap Bu Maryam.
"Terima kasih, Oma... tapi saat besar nanti, Kei mau jadi bu guru, tidak mau jadi artis!"
"Iya, sayang. Oma mendukung semua cita-citamu. Sekarang Kei tidur, ya. Oma akan membacakan dongeng untukmu," kata wanita tua itu.
"Iya, Oma." Kei berbaring dan memeluk tubuh adik sambungnya.
"Maafkan ibu, May, Dhil..." batin Bu Maryam. Wanita tua itu melakukan cara ini agar hubungan anak dan menantunya itu ada kemajuan. Ia merasa muak melihat dua orang itu hidup seperti dua orang asing yang dipaksa menikah. Semoga dengan kedekatan fisik yang terjadi saat ini, bisa membuat hubungan keduanya mencair dan saling terbuka.
...Bersambung...
Jangan lupa Like & Comment
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca😊