
...๐ทSelamat Membaca๐ท...
Ajeng akhirnya membuka mata setelah tidur yang cukup lama pasca operasi. Ia merasa ada yang menggenggam tangannya begitu erat, setelah dilihat ternyata Cakra lah yang melakukannya. Pria itu tidur dalam posisi duduk dengan kepala rebah di atas ranjang. Wajah pria itu terlihat lelah, tapi tetap tidak mengurangi kadar ketampanannya.
"Mas..." Ajeng mencoba membangunkan kekasihnya. Walau sebenarnya kasihan melihat wajah letih itu, tapi ia sangat penasaran bagaimana kondisi bayi perempuannya.
Cakra menggeliat, ia merasa ada yang memanggilnya. Setelah matanya terbuka, ia menemukan Ajeng yang tengah menatap dirinya. "Kau sudah bangun?" tanyanya.
Ajeng mengangguk. "Mas, bayiku? Bagaimana kondisi bayiku?"
"Dia baik-baik saja, cuma harus berada di dalam inkubator untuk sementara waktu sampai berat badannya normal."
Tiba-tiba air mata Ajeng mengalir begitu saja. "Aku benar-benar tidak becus menjadi seorang ibu. Karena keteledoranku, bayiku menjadi menderita. Ia harus lahir sebelum waktunya, hiks."
Cakra mengulurkan tangan dan mengusap pipi basah Ajeng. "Ini bukan salahmu. Kau sudah menjaganya dengan baik, tapi yang namanya musibah tetap saja bisa terjadi tanpa bisa kita cegah," hiburnya.
"Wanita itu jahat, dia yang sudah membuatku celaka. Karena ulahnya, anakku harus lahir prematur. Aku mau dia dihukum, Mas. Aku tidak terima semua ini, dia bisa saja kembali melukaiku dan bayiku." Ajeng menangis ketakutan kala mengingat sikap kasar Maya. Ia cemas jika suatu hari nanti, wanita psikopat itu kembali melakukan hal yang sama.
"Tenanglah! Radi sudah berhasil menjebloskan wanita jahat itu ke penjara. Mulai sekarang dia tidak akan mengganggumu lagi. Jadi fokus saja pada kesehatanmu, bayimu membutuhkan mamanya."
"Mas Radi?" tanya Ajeng memastikan. Ia tidak percaya jika pria itu mampu menjebloskan wanita selingkuhannya ke dalam penjara.
"Iya. Kau mau bertemu dengannya? Ku rasa saat ini dia ada di ruang NICU, tempat bayi kalian berada."
"Tidak sekarang, besok saja, sekalian aku juga ingin melihat bayiku."
"Ya sudah, lanjutkan istirahatmu. Aku akan setia menemanimu di sini."
"Maaf, merepotkanmu."
"Tidak masalah, sayang. Sekarang pejamkan matamu." Cakra mengecup kening Ajeng sebagai ucapan selamat tidur.
Tak lama, Ajeng kembali terlelap. Selain kelelahan, wanita itu juga merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Dengan beristirahat, semoga sakitnya berkurang.
Tanpa mereka berdua tahu, Radi berdiri di balik pintu. Ia mendengar semuanya. Rasa-rasanya, memang sudah tidak ada harapan lagi baginya untuk kembali ke kehidupan Ajeng.
Pria itu melangkah gontai menuju ruang NICU. Dari balik kaca transparan, ia bisa melihat sosok putri kecilnya yang terlelap.
"Maafkan papa, Nak. Maaf karena sudah menyakiti mama dan maaf jika nanti ayah tidak bisa memberikan keluarga yang utuh padamu." Di tengah malam yang sunyi, Radi menangis menyesali kebodohannya.
...๐ ๐ ๐...
Cakra memilih keluar di saat Radi memasuki kamar inap Ajeng, pagi ini. Ia ingin memberikan waktu bagi pasangan suami istri itu untuk bicara berdua.
"Bagaimana kabarmu?" Radi yang sudah duduk di kursi samping ranjang Ajeng mulai membuka suara.
"Baik," jawab wanita itu sekenanya. Saat ini ia duduk bersandar di atas ranjang.
"Kau sudah melihat anak kita?" Mata Radi menatap wajah cantik Ajeng, tapi sayang wanita itu masih enggan melihatnya.
"Belum, nanti siang. Mas Cakra yang akan menemaniku."
Jawaban Ajeng membuat Radi kecewa. Kenapa nama pria itu ikut disebut saat mereka hanya berdua.
Hening, Radi sedang memikirkan hal apa yang akan diucapkannya lagi sementara Ajeng tidak berniat untuk bicara jika tidak ditanya.
"Aku sudah menjebloskan Maya ke penjara," kata Radi selanjutnya.
"Bagus, memang seharusnya seperti itu. Wanita itu pantas mendapatkannya." Kesinisan Ajeng membuat Radi terdiam.
"Sudah mendapatkan nama untuk putri kita?"
"Belum."
Radi menghela napas pelan, ia tidak menyangka jika Ajeng akan bersikap begitu dingin seperti ini. "Apa aku boleh memberinya nama? Kebetulan sudah ku siapkan nama yang bagus untuknya?"
"Nama yang kau siapkan untuk calon anakku, justru kau berikan pada anak selingkuhanmu itu. Kenapa ya, rasanya aku tidak ikhlas jika kau yang memberi anakku nama," ucap Ajeng sinis.
Deg
__ADS_1
"Kenapa kau jadi begini? Anakmu itu anakku juga!" tekan Radi tak terima. Ia kesal saat Ajeng terus menyebut 'anakku', padahal kenyataannya anak itu milik mereka berdua.
Sontak Ajeng menoleh. "Apa? Anakmu? Apa selama dia berada di kandunganku, kau peduli padanya? Bukankah kau sibuk dengan anak wanita selingkuhanmu itu?"
"Bukan aku yang tidak peduli, tapi kau lah yang menghalangiku untuk melakukan semua itu. Kemana kau selama ini, huh?" balas Radi tak terima jika terus disalahkan.
"Aku pergi. Kau pikir aku pergi karena siapa, eh? Karenamu. Dua kali kau membuatku hampir kehilangan janin yang aku kandung, tapi di mana kau saat itu? Tidak ada. Justru mas Cakra yang selalu ada untuk membantuku!"
Radi tertunduk. "Maafkan aku. Aku mengaku salah, waktu itu aku terlalu bahagia karena kelahiran anak Maya sampai mengabaikan dirimu."
Ajeng terkekeh. "Bahagia karena kelahiran anak yang bukan darah dagingmu. Ck, lucu sekali."
Radi mendongak. Ia sungguh terkejut, di mana Ajeng mengetahui semua itu. "Kau tahu?"
"Apa yang aku tidak tahu. Semua kelakuanmu, aku mengetahuinya. Kau yang lalai menjalankan kewajibanmu di perusahaan? Kau yang selama sebulan tidak pulang ke rumah? Dan kau yang menghabiskan waktumu bersama selingkuhanmu di rumah yang kau hadiahkan untuknya, aku tahu semuanya."
Deg
Radi tak bisa mengelak. Semua yang Ajeng ucapkan memang begitulah kenyataannya, kecuali rumah yang dihadiahkannya untuk Maya, itu tidak benar. Maya hanya ia tampung sementara di rumah mendiang orang tuanya itu.
"Bahkan kau tak berusaha mencari keberadaan kami," sambung Ajeng.
"Aku mencarimu," sahut Radi cepat. "Aku lalai dalam pekerjaanku itu semua karena aku sibuk mencari di mana keberadaan dirimu!"
"Oh, jika kau memang berniat mencari, kenapa sampai berbulan-bulan kau tak bisa menemukan diriku. Padahal aku bersembunyi tidaklah jauh. Kenapa, hm?"
Hening...
"Karena kau sudah menyerah. Kau sudah memiliki wanita itu dan anaknya. Jadi, kau tak membutuhkan diriku lagi." Karena Radi tak kunjung menjawab, jadi Ajeng memilih untuk menjawabnya sendiri
"Bukan seperti itu..." Radi menyanggah.
"Memang seperti itu. Kau tidak membutuhkanku lagi, sama seperti aku yang tak lagi membutuhkan DIRIMU!"
Jantung Radi seakan berhenti berdetak mendengar kalimat terakhir Ajeng. Inilah akhirnya?
"Tidak masalah," jawab Ajeng santai. "Berkat tidak kepedulianmu itu, aku bisa bertemu dengan pria baik hati yang sangat menyayangiku dan peduli pada diriku juga anak yang aku kandung."
"Ajeng..."
"Apa kau sudah menandatangani surat perceraian itu?" tanya Ajeng.
"Aku tidak ingin berpisah!"
"Aku ingin berpisah." Ajeng sudah memutuskan dan itu tak bisa dibantah lagi.
"Coba pikirkan bagaimana nasib anak kita jika orang tuanya berpisah. Dia tidak akan bisa merasakan kasih sayang lengkap dari kedua orang tuanya," bujuk Radi.
"Siapa bilang?"
"Eh?"
"Mas Cakra. dia lah yang akan menjadi ayahnya. Sama seperti saat di dalam kandungan. Hanya mas Cakra lah yang peduli pada anakku."
"Tapi aku ayah kandungnya! Tidak ada yang lebih menyayangi seorang anak lebih baik daripada orang tua kandungnya sendiri" tekan Radi mulai tersulut emosi.
"Ada. Kau saja bisa menyayangi anak yang bukan milikmu, lalu kenapa mas Cakra tidak bisa, hm? Bahkan pria itu sudah membuktikannya sendiri."
"Jeng, ku mohon. Kembalilah padaku?" Radi mencoba menggenggam tangan Ajeng, tapi langsung ditepis oleh wanita itu.
"Tidak."
"Please?" mohonnya.
"Tidak. Kembali padamu itu akan membuat diriku tersiksa perasaan. Aku sudah tidak mencintaimu lagi."
"Aku masih sangat mencintaimu..."
"Terima kasih, tapi aku sangat mencintai mas Cakra."
__ADS_1
Tubuh Radi lunglai tak bertenaga. Sepertinya sudah tidak ada lagi harapan.
"Baiklah, akan ku kirimkan surat cerai itu secepatnya." Radi berdiri dari duduknya.
"Terima kasih."
"Bolehkah aku menciummu untuk yang terakhir kalinya?" pinta Radi sendu.
Ajeng menatap suaminya itu. "Ya."
Radi mendekat, ia merangkum wajah Ajeng agar menghadapnya. Mereka berdua saling menatap untuk beberapa saat.
"Terima kasih untuk masa terindah yang sudah kita lalui bersama selama sepuluh tahun ini. Percayalah aku akan selalu mencintiamu.." Setelah mengucapkan salam perpisahan, Radi mengecup kening Ajeng lama. Pria itu menangis, air matanya jatuh tepat di pipi calon mantan istrinya. Sementara wanita itu bergeming.
"Jaga kesehatanmu!" Setelah melepas kecupannya, Radi mengelus kepala Ajeng sayang. Sepasang mata pria itu tampak merah.
"Aku pergi." Ia berbalik.
Ajeng menatap kepergian Radi dengan hati tercabik.
"Mas!" panggilnya.
Radi menoleh cepat, namun ia tidak berharap apa-apa.
"Nama anak kita, siapa?"
Pria itu tersenyum haru. "Nadira Daneen Nugraha. Namanya Nadira, karena dia adalah seseorang yang paling berharga dalam hidupku."
"Nadira." Ajeng menggumam.
Setelah itu Radi benar-benar pergi.
Setelah pintu tertutup, pecahlah tangisan Ajeng. "Maafkan mama, Dira. Mama tak bisa kembali pada papamu. Semoga suatu saat nanti kau tidak menbenci mama karena keputusan ini."
.......
Radi tak melihat keberadaan Cakra di luar ruang inap Ajeng, lalu dia memutuskan untuk melihat bayinya saja. Ternyata, pria itu ada di sana.
"Cakra," panggilnya.
"Ya?" Mata Cakra masih setia memandang bayi rapuh dalam inkubator.
"Berjanjilah untuk menyayangi Ajeng dan Nadira."
"Aku tidak akan berjanji, karena janji bisa saja diingkari. Aku akan bersumpah, bahwa sampai akhir hidupku aku akan selalu mencintai dan menyayangi Ajeng dan bayinya. Mereka adalah segalanya bagiku."
Radi tersenyum, ternyata Ajeng mencintai pria yang tepat.
"Aku percayakan mereka padamu."
Cakra menatap Radi tak percaya. Apakah pria itu akhirnya menerima keputusan Ajeng untuk berpisah?
"Aku dan Ajeng akan segera bercerai. Kau bisa bersatu dengan dia. Ku do'akan semoga kalian bahagia."
Cakra tidak bisa berkata-kata, kebahagiaannya sudah menanti di depan sana. Sontak, ia langsung memeluk Radi. "Terima kasih," ucapnya.
Radi hanya diam sembari menepuk punggung Cakra beberapa kali.
"Temuilah Ajeng!"
"Ya."
"Semoga ini yang terbaik ya, Nak..." lirih Radi sambil menatap bayinya.
...Bersambung...
...Jangan lupa Like & Comment... ๐๐ป๐...
...Terima kasih...
__ADS_1