2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Ex-Wife (Fadhil)


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


"Disa, apa kau mau menjadi kekasihku?"


"Maaf, Mas. Aku tidak bisa."


"Kenapa?"


"Aku memiliki seseorang yang aku cintai, dan aku ingin bersama dengan orang itu. Walaupun tidak menjadi sepasang kekasih, tapi kita masih bisa berteman, kok."


Itu adalah kali pertama seorang Fadhil Alfarendra ditolak. Dia yang baru pertama kali jatuh cinta, mengungkapkannya dan berakhir dengan penolakan.


.......


Saat itu, Fadhil berada di semester akhir pendidikannya di akademi kepolisian. Ia berkenalan dengan seorang gadis cantik yang merupakan mahasiswi di sebuah universitas ternama di kota mereka. Perkenalan itu terjadi disaat Fadhil menemani temannya bertemu sang kekasih. Kekasih dari teman Fadhil itu juga turut membawa temannya yang tak lain adalah gadis tersebut.


Mereka berkenalan di sana dan menjadi dekat. Fadhil menunjukkan segala bentuk perhatiannya pada si gadis, berharap dia luluh dan membalas perasaannya. Namun, tepat setelah tiga bulan kedekatan mereka, Fadhil ditolak setelah menyatakan cintanya yang selama ini ternyata bertepuk sebelah tangan. Gadis yang ditaksirnya ternyata memiliki pria idaman lain.


Setelah penolakan itu, harga diri Fadhil terasa jatuh sampai ke titik terendah. Ia sangat kecewa dengan sikap gadis itu yang ternyata sama sekali tidak menyukainya. Fadhil tentu tidak akan kecewa jika selama kedekatan mereka, gadis itu menunjukkan ketidaktertarikannya, tapi ini sebaliknya, dia bertingkah seperti seseorang yang juga memiliki rasa, membuat Fadhil berharap tinggi akan hubungan mereka. Itu benar-benar menyakitkan, ia seperti diberi harapan palsu.


Fadhil perlahan menjauh. Ia mencoba fokus menyelesaikan pendidikannya yang tinggal sebentar lagi. Dan akhirnya, setelah beberapa bulan ia berhasil menyandang gelar IPDA di depan namanya. Namun, selama itu pula bayang-bayang sang gadis tak bisa menyingkir dari pikirannya. Ia gagal move on.


Sudah lama tak bertemu, akhirnya Fadhil nekat menemui gadis yang dirindukannya itu. Sekarang motor Fadhil sudah berhenti di pelataran kampus tempat si gadis menempuh pendidikannya.


"Disa..." lirihnya. Menyebutkan nama gadis yang dicintainya.


Kini Fadhil bisa melihat gadis itu kembali, namun... pemandangan di depannya seketika membuatnya sakit hati. Gadis itu- Disa- terlihat sedang mengobrol dengan seorang pria yang bisa dikatakan sangat tampan di sebuah taman kampus, tak jauh dari tempat ia berada.


Dari motornya, Fadhil bisa melihat jika Disa begitu menyukai pria yang bersamanya, terbukti dengan tatapan cinta yang berulang kali di lemparkan gadis itu pada si pria.


Fadhil menggenggam erat stang motornya, buku-buku jarinya sampai memutih. Rasa cemburu menguasai hatinya, hingga rasanya ia ingin meninju apa saja yang saat ini ada di depannya.


Tak kuat berlama-lama ada di sana, Fadhil memutuskan untuk pergi. Ia bertekad mulai hari itu akan menghapus segala hal tentang Disa dari hatinya. Lagi pula untuk apa terus menyimpan rasa cinta pada gadis yang kini sudah bahagia bersama pria lain.


Setelah menghidupkan kembali motornya, Fadhil menoleh sejenak pada Disa untuk yang terakhir kalinya sebelum ia benar-benar pergi dan melupakan gadis itu. Tapi, apa yang dilihatnya kali ini, sungguh mengejutkan. Seorang gadis datang dan langsung menggandeng tangan pria yang tadi bersama Disa lalu pergi meninggalkannya. Bisa Fadhil lihat jika Disa menatap kedua orang yang pergi meninggalkannya itu dengan pandangan terluka.

__ADS_1


Setelah berhasil mencerna situasi yang terjadi, sebuah senyuman miring terbit di bibir Fadhil. "Ah... cinta bertepuk sebelah tangan juga rupanya."


Setelah hari itu, Fadhil bertekad untuk kembali mendekati Disa. Entah kenapa, kali ini ia ingin membuat gadis itu menjadi miliknya. Persetan dengan rasa cinta yang tidak dimiliki gadis itu untuknya, yang jelas Disa harus menjadi miliknya, apapun caranya. Cinta yang Fadhil rasakan, perlahan berubah menjadi obsesi yang menakutkan.


.......


Suatu hari, Fadhil mengajak Disa bertemu melalui sambungan telepon. Tak diduga, gadis itu ternyata menyanggupinya. Mereka memilih sebuah cafe di pusat kota sebagai tempat bertemu setelah sekian lama.


Disa sangat senang karena bisa kembali bertemu dengan Fadhil. Ia juga mengucapkan maaf atas penolakannya beberapa bulan lalu itu. Diingatkan kembali pada hal yang membuatnya sakit hati, tentu membuat Fadhil menahan geram, namun di depan Disa, ia hanya menunjukkan senyuman manis.


Iseng, Fadhil bertanya mengenai pria yang dicintai Disa. Dan tanpa sungkan, gadis itu menceritakan seperti apa pria idamannya. Mulutnya terlihat lancar saat menyebutkan semua kelebihan pria itu tanpa ada satupun yang terlewat. Terlihat sekali binar cinta di matanya kala menyebut semua hal tentang si pria. Di tempat duduknya, Fadhil hanya bisa menahan rasa cemburu, sembari tetap tersenyum menanggapi celotehan Disa.


Setelah pertemuan di cafe, Fadhil mengajak Disa untuk singgah sebentar di sebuah danau. Niatnya untuk sekedar refreshing, mencari suasana nyaman dan tenang di tengah hiruk pikuk suasana ibu kota. Disa hanya menurut saja.


Di danau, mereka berdua duduk bersantai menikmati suasana danau yang sejuk dan dikelilingi pepohonan hijau dan rindang. Fadhil juga membeli minuman dan makanan sebagai pelengkap waktu santai mereka.


Fadhil menatap Disa yang sedang meneguk minumannya dengan tatapan penuh arti. Senyuman culas hadir di wajah pria itu untuk sesaat, sampai ia melihat jika kini gadis yang bersamanya itu mulai mengantuk.


BRUKK


.......


Gadis yang terlelap itu mulai membuka mata. Hal pertama yang dilihatnya adalah cahaya lampu sebuah ruangan yang bercat putih. Tubuh gadis itu bergerak perlahan dan seketika merasa ada yang aneh.


Matanya terbelalak kala menyadari jika saat ini dia tidak mengenakan sehelai benang pun di tubuhnya. Selain itu, rasa sakit dan nyeri juga mulai terasa di sekujur tubuhnya, terkhusus di bagian inti.


"Kau sudah bangun?" Fadhil baru keluar dari kamar mandi dengan tubuh bagian bawah yang dibalut handuk. Rambutnya basah, dan tetesan air rambut itu mengalir di dadanya yang berbentuk kotak-kotak.


"Mas, ada apa ini? Apa yang terjadi? Apa yang kau lakukan padaku, Hah!" Disa menjerit. Ia mulai mengerti dengan apa yang sudah dialaminya.


"Me-mi-li-ki-mu." Fadhil menjawab santai. Ia berjalan menuju sofa dan memakai pakaiannya tanpa malu.


Disa langsung meraung hebat. Ia mengumpat dan menyumpahi Fadhil dengan amarah yang membara.


"Aku akan melaporkanmu ke polisi!" pekik Disa.

__ADS_1


Fadhil tersenyum dan menatap Disa dengan pongah. "Silakan, jika kau ingin foto dan videomu tanpa busana kusebarkan di dunia maya!" ancamnya.


Disa terdiam, gadis itu merasa dunianya benar-benar hancur saat itu.


"Dan ya, jika kau hamil, segera hubungi aku. Aku akan bertanggung jawab dan jangan pernah berpikir untuk menggugurkannya!" Setelah mengucapkannya, Fadhil keluar meninggalkan Disa yang kembali meraung.


.......


Empat puluh hari setelah kejadian itu, Disa datang dan memberitahu Fadhil bahwa ia tengah mengandung, dengan bukti dua buah testpack bergaris dua.


"Ok, kita menikah. Tak ada penolakan!" putus Fadhil.


Ya, Disa hanya bisa menurut. Beberapa minggu kemudian, mereka menikah secara agama dan dilangsungkan di rumah mempelai wanita. Sebagai anggota kepolisian, banyak syarat yang harus dilakukan sebelum menikah, jadi Fadhil memilih untuk menikah secara agama terlebih dahulu.


Kedua orang tua Fadhil dan Disa sudah mengetahui masalah yang terjadi pada anak-anak mereka. Ayah dan ibu Fadhil bahkan sangat murka begitu mengetahui perbuatan bejat sang putra, namun mereka tak bisa berbuat banyak. Hanya bisa meminta maaf pada Disa dan orang tuanya dengan kepala tertunduk.


Pernikahan Fadhil dan Disa tak berjalan lancar. Walaupun Fadhil berhasil mengikat wanita itu dengan tali pernikahan juga anak dalam kandungannya, tapi tetap saja dia tak bisa mendapatkan hati wanita yang sudah menjadi istrinya itu. Hari-hari mereka lalui bak dua orang asing. Disa berubah menjadi pendiam. Tak ada semangat yang tersisa dalam diri wanita itu. Sampai akhirnya, ia mengalami keguguran karena terlampau stress di awal kehamilan.


Fadhil merasa sedih karena kehilangan calon anaknya, terlebih Disa juga memohon untuk diceraikan karena tidak ada lagi pengikat di antara mereka. Pria itu menjadi galau. Selama sebulan ia terus berpikir dan akhirnya memutuskan untuk melepas Disa karena sudah tidak tega melihat kesedihan wanita itu.


"Sebelum aku menalakmu, bolehkah aku meminta hakku sebagai suamimu?" pinta Fadhil.


Disa tampak berpikir, lalu mengangguk setelah beberapa saat. "Baik, tapi kau harus menghapus semua foto dan video diriku yang kau simpan!" tuntutnya.


"Aku terima."


Malam itu mereka menghabiskan waktu bersama. Paginya, Fadhil langsung mengucapkan talak.


"Niken Ayudisa, mulai hari ini kau bukan istriku lagi. Aku menalakmu!"


...Bersambung...


Jangan lupa Vote & Comment


Terima kasih sudah membaca😊

__ADS_1


__ADS_2